
Hari yang ku takuti terjadi. Sekitar jam 10.00 pagi Mamak datang ke sekolah untuk memenuhi panggilan dari pihak sekolah. Saat itu memang jam istirahat pertama, aku melangkah mengendap-endap melihat Mamak masuk ke sebuah ruang BK. Tapi aku tidak tahu Mama nya Bumi apakah sudah datang atau belum. Di tanganku tergenggam hp-ku yang sedang melakukan panggilan ke nomor Bumi. Namun ku lihat layar, panggilan selalu teralihkan. Kemana dia hari ini? Mengapa di saat genting seperti ini aku belum melihat keberadaannya, bahkan panggilanpun terus di alihkan.
Hey, Tari ! Jangan-jangan dia sengaja pergi menghindar dari sekolah. Dia tidak perlu bertemu Mamanya dan hanya aku yang terkena eksekusi di ruangan itu. Aku yang hanya merasakan ketegangan dan interogasi dari Mamak dan Pak Ismail. Ah, bodohnya aku ! Kenapa aku harus menghadapinya sendirian sementara Bumi di luar nongkrong ?!
Suara hatiku berkecamuk merutuki diri yang bodoh. Lalu langkahku berbalik dari tempat itu. Aku berjalan keluar gerbang menuju warung tempat tongkrongannya. Saat aku di sana menanyakan keberadaannya, teman-teman yang mengenalinya semua mengatakan tak bertemu Bumi hari ini. Dia bolos lagi, tapi pergi kemana?
Aku menghela nafas panjang berbalik masuk ke dalam sekolah lagi, langkahku pelan tak bertenaga. Sepicik itu Bumi menghindari hari ini. Kakiku menuju ke kelas, tiba-tiba Ridwan teman sekelasku memanggilku dari arah ruang guru. Aku menoleh ke arahnya.
" Ada apa Wan?" Tanyaku.
" Lu di panggil Pak Ismail ke ruang BK." Jawabnya dengan nafasnya yang tersengal.
"Ap-apa ?!"
" Iya. Cepat di tunggu tuh."
" I-iya Wan makasih." Kakiku seperti berat melangkahkan ke arah sana. Dengan pikiran yang kalut, aku harus menghadapinya sendirian.
Gimana ini? Tuhan... Tolong aku !
Pelan-pelan melangkah memegang pegangan daun pintu ruang BK, aku membuka sedikit memastikan keadaan di dalam.
" Masuk !" Suara dari dalam menyeru. Dengan Jantung yang hampir meloncat aku mengelus-elus dada berusaha untuk menenangkan. Aku membuka perlahan pintu sampai tubuhku bisa memasukinya. Aku berdiri mematung saat ku lihat Pak Ismail bersama Pak Warsuki selaku Wali kelasku dan Pak Wildan sepertinya Wali kelasnya Bumi. Mereka duduk di sofa dengan sikap tegap dan tatapan menakutkan. Sementara Mamak sudah duduk di sofa bersama seorang Ibu-ibu yang seumuran dengan Mamak namun dengan tampilan yang lebih glamour, paras Ibu itu juga masih terlihat awet muda dengan polesan make-up yang tebal. Jika ku sadingkan dengan Mamak, jauh sekali tampak tampilan Orang tua sederhana. Apakah Ibu itu Mamanya Bumi ? Sepertinya Ibu itu menatapku dengan rasa tidak suka.
" Tari." Gumam kecil Mamak.
" Mentari, mari duduk di sini." Pak ismail mempersilahkanku duduk di antara sofa yang masih kosong. Aku duduk dekat dengan Mamak, raut wajah Mamak tampak sendu.
__ADS_1
' Mak, maafkan aku !'
" Di mana Bumi ?" Bisik Mamak.
Aku menggeleng lesu. Hanya helaan nafas yang terdengar di ruang itu.
" Baik saya mulai, di sini sudah ada Orang tua dari Mentari dan Orang tua Bumi ya ?" Pak Ismail memulai.
" Bisa di percepat gak Pak? Anak saya bikin masalah apa sebenarnya ?" Potong Ibu itu cepat tak sabar.
" Ekhem, jadi begini Bu..." Pak Ismail memulai.
" Tunggu Pak !" Seseorang masuk membuat yang duduk di sofa mengalihkan ke arahnya.
' Bumi !'
" Maaf Pak, saya terlambat." Ucap Bumi sambil duduk di sebelah Mamanya. Pak Ismail mempersilahkan. Aku melirik sebentar Mamanya mengusap-usap rambut anaknya itu dengan mata sendunya. Sementara Bumi memasang wajah serius.
Suasana menegangkan mulai terasa. Aku hanya mampu menunduk dan meremas jemariku.
" Baiklah karena semua sudah hadir, Begini, Bu. Saya mendapat laporan dari para murid bahwa anak Ibu sudah melakukan tindakan asusila di sekolah yang menyebabkan tidak kondusifnya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Beberapa penyebaran foto asusila telah terjadi di lingkungan ini bahkan sampai ke media sosial. Apalagi ini menyangkut nama baik sekolah, maka untuk saudara Tari dan Bumi ini kami berikan sanksi berupa skorsing selama satu minggu terhitung dari mulai Senin besok. Jadi mohon untuk Ibu dari Tari dan Bumi ini untuk memberi pembinaan anak-anaknya dengan baik. Keputusan ini tidak bisa di ganggu gugat, karena ini menyangkut psikologis para murid yang lain." Tegas Pak Ismail. Pak Ismail menunjukan bukti foto-foto aku dan Bumi. Mamak dan Mamaknya Bumi terbelalak. Mamak menolehku dengan wajah tanpa ekspresi. Mamak yang seperti ini justru membuatku lebih takut.
" Maaf Pak, yang Bapak maksud saya melakukan tindakan asusila di sekolah itu tidak benar ! Dan penyebaran foto itu adalah editan !" Potong Bumi dengan suara mulai meninggi.
" Bumi... Kamu tidak bisa mengelak lagi, kejadian ini meresahkan para murid sekolah ini. Bahkan beberapa Orangtua murid yang lain sudah mengadukan masalah ini. Kamu dengan Tari kami kembalikan sementara, untuk dilakukan pembinaan di rumah kalian masing-masing." Pak Wildan ikut bicara.
" Saya gak terima ! Karena saya dan Tari tidak pernah melakukannya ! Apa Bapak sudah mencari tahu kebenaran foto itu? Apa Bapak sudah menanyakan pada saya dan Tari tentang masalah ini ?!" Telunjuk Bumi menunjuk-nunjuk Pak Wildan. Emosi Bumi mulai meluap. Mamanya tampak menahan tubuh Bumi mengelus-elus dadanya untuk tetap tenang.
__ADS_1
Hawa panas semakin memuncak. Aku yang melihat sikap Bumi yang emosi cukup membuatku bergidik. Dia bahkan berani membentak guru-guru di depan.
" Mohon maaf untuk Ibunya Tari dan Bumi kami tidak bisa membiarkan murid yang bermasalah tidak mendapat sanksi. Kami ingin semua murid di sekolah ini tertib, di siplin dan menjaga norma di sekolah. Jadi sudah jelas bahwa sanksi skorsing berlaku untuk anak Ibu." Tegas Pak Ismail.
" Pak, saya mohon... Biarkan anak saya tetap ikut belajar seperti biasanya di sekolah. Biar saya didik lagi di rumah. Tapi mohon pertimbangkan ini Pak." Mamak mulai bersuara dengan memohon.
" Pak, apakah Bapak sudah mencari kebenarannya? Anak saya tidak mungkin melakukan itu. Saya yakin itu ! Kenapa Bapak tidak mencari dulu siapa yang sengaja menyebarkan foto itu ?!" Mamak Bumi mulai bersuara juga. Kami semua memperhatikan Mamanya berbicara lantang.
" Kalau Bapak-Bapak di depan hanya mementingkan nama baik sekolah, sementara penyelidikan belum di lakukan artinya Bapak bersikap sepihak. Saya juga selaku Orang tua malu kalau anak saya harus bermasalah tapi Bapak tidak melakukan penyelidikan. Saya tidak terima dan akan membiarkan anak saya tetap masuk sekolah dan belajar seperti biasanya !"
" Mohon maaf Bu, ini sudah kesepakatan dengan para guru. Kami tidak bisa merubahnya. Sekarang begini Bu, kalau kami membiarkan masalah ini, maka akan ada banyak para murid yang melakukan tindakan asusila ini. Kami tidak bisa menerima itu. Jadi mohon bekerjasamalah." Pak Warsuki ikut bicara.
" Pak, saya akan buktikan bahwa foto itu bohong ! Dan saya akan bawa pelakunya ke ruangan ini. Kalau pelakunya sudah tertangkap saya ingin Bapak yang mengeluarkannya dari sekolah !" Tegas Bumi berapi-api.
" Baik-baik Bumi... Mohon tenang ya. Ini jadikan pelajaran buat kalian. Ketetapan ini tetap tidak bisa di ubah. jadi mohon maaf sekali, jika kamu ingin membuktikannya silahkan, kami akan menindak tegas siapa yang salah di sekolah ini." Pak Ismail menengahi.
" Baik Pak. Terimakasih. Tari, Ayo ikut Mamak pulang ! Di sini sudah tidak ada keadilan." Mamak bangkit dan menarik tanganku membawa keluar ruangan itu. Ekspresinya datar saja. Aku hanya menurut.
" Sayang. Kita juga pulang dari sini. Mamih sudah muak berada di sini."
" Iya Mih." Bumi bangkit juga meninggalkan para guru yang sedang mengusap wajah kasarnya.
Ketidakpuasan akan keadilah membuat kami menerima sanksi skors itu, tapi dengan kepercayaan kami telah menghilang terhadap sekolah.
Kalau Bumi sudah benar-benar mengungkapnya, aku yakin pihak sekolah telah bersikap ceroboh terhadap kami yang tak bersalah.
***
__ADS_1