
Setelah peristiwa di ruang tamu tadi, di dalam kamar aku hanya mondar-mandir tak karuan. Pikiranku belum menemukan titik terang gimana caranya agar Mamak tidak sampai datang ke sekolah. Aku harus cari cara sebelum Mamak benar-benar tahu masalah yang sebenarnya. Sekarang aku hanya sendiri, tidak ada Dian yang jadi pendukungku. Pilihan terakhir aku harus segera mendesak Bumi untuk mengungkapnya.
Tapi tentang Reina? itu kunci dari Mamak, karena dialah yang mengirimkan surat itu. Apakah dia yang menjebakku? Tapi untuk apa? Lagipula kalau dia mau menjebakku, secara dia harusnya dari awal melakukan terang-terangan. Tapi foto editan itu sudah tersebar dan dia menunjukan diri hanya pada Mamak di saat keadaan semakin mendesak. Apa yang dia inginkan dariku, dari segi fisik lebih cantik Reina daripada aku, segi materi dia termasuk orang yang cukup berada. Dia juga populer di sekolah untuk tingkatan kelas sepuluh. Masalah dengan Bumi kah? Tapi apa hubungannya ! Sementara Bumi tempo hari baru ke kelasku. Dan memang sosoknya jarang aktif di dalam sekolah. Tapi... Apa jangan-jangan dia sebenarnya sudah menjadi penguntit Bumi selama ini ? Memperhatikannya diam-diam. Mungkin dia menyukai Bumi, dan saat tempo hari itu Bumi ke kelas ternyata memanggilku, Reina tidak terima dan akhirnya melakukan itu untuk mempermalukanku? Terus dia langsung ngadu ke sekolah. Seperti yang dia bilang akan lapor ke wali kelas.
APA ?! Hipotesa yang bagus. Ya, aku menemukan benang merahnya. Tapi... Apa aku tidak salah menduga? Aaaahh.... Aku pusiiiing....
Aku mengacak-acak rambutku, ku jatuhkan tubuhku di tempat tidur. Tanpa pikir panjang aku mengambil hp-ku di meja belajar dan langsung mencari kontak Bumi 'Cowok nyebelin'.
" Halo?" Suara dari seberang sana mengangkat setelah terhubung panggilan.
" Bumi... Mamakmu dapat surat panggilan Orangtua dari sekolah gak?"
" Aku gak tahu. Kenapa emangnya?" Tanya Bumi.
" Mamakku dapat. Tadi Reina teman sekelasku yang ngasih." Jawabku cepat.
" Oh, ya? terus Mamakmu nanya apa aja sama kamu?"
" Aku punya masalah apa di sekolah. Tapi aku pura-pura gak tahu. Cuma lusa Mamak dipastikan datang Bumi... Soalnya Mamakku kayak udah curiga gitu sama aku. Apalagi... Sekarang aku udah mulai di larang..." Ucapku terhenti saat mengingat kata Mamak yang melarangku dekat dengan Bumi lagi.
" Di larang apa Tar?" Bumi menyadarkanku.
" Um... Di-dilarang... Bikin masalah yang aneh-aneh, Bumi." Jawabku beralasan. Hampir saja kalimat dari Mamak itu terucapkan.
" Oh..."
" Tapi Bumi, aku menduga ini adalah jebakan Reina, temanku... Karena dia yang mengantarkan surat itu ke rumahku. Tapi sebenarnya aku gak pernah punya masalah sama dia sebelumnya. Lalu setelah foto editan itu beredar, Reina jadi lebih banyak membully ku daripada yang lain."
" Lalu kenapa kamu menuduhnya?"
" Jadi gini Bumi..." Aku menceritakan hipotesaku yang tadi ada dalam benakku. Yang mungkin bisa jadi petunjuk kebenaran.
" Gimana menurutmu Bumi ?"
__ADS_1
Sejenak suara di seberang sana tak ada sahutan. Sepertinya Bumi mulai mempertimbangkan kemungkinan yang ku ceritakan.
" Besok aku akan ke kelasmu. Aku ingin tahu yang namanya Reina. Biar kita bisa ngomong baik-baik sama dia." Sahutan dari ujung sana mulai terdengar lagi.
Aku menghela nafas.
" Baiklah. Kebetulan juga besok hari Jum'at waktunya cukup longgar. Aku akan tunjukan saat jam pulang sekolah."
" Oke. Kamu yang tenang ya. Jangan takut..." Lirihnya lembut di ujung telepon.
" Iya Bumi..." Jawabku tersenyum mendengar suaranya yang menenangkan. Panggilan itupun di akhiri.
***
Hari pertemuan Bumi dan Reina pun terjadi. Sebelumnya Saat bel pulang sekolah berbunyi, semua murid berdoa untuk pulang. Lalu berhamburan keluar kelas dengan perasaan lega. Hari itu teman-teman memang masih mengasingkanku, Reina juga tak menggangguku lagi. Pikiran detektifku mengarah kalau Reina tak menggangguku lagi karena hari eksekusiku dari sekolah akan terjadi esok hari. Mungkin baginya ini akan jadi kemenangan untuknya. Tapi sebelum itu terjadi aku akan membawanya pada Bumi untuk di interogasi.
Aku memperhatikannya saat teman gengnya mendahuluinya. dia seakan menjadi orang terakhir di kelas bersamaku. Yes ! Thanks God it's Friday. Aku melihat ke arah jendela kelas, Bumi sudah muncul. Akupun melambaikan tangan agar Bumi bisa masuk. Reina bangkit dari duduknya membawa tas jinjingnya. Sampai di pintu dia di hadang Bumi.
" Hey... Lu ngapain halangi jalan gue !" Reina mendorong Bumi keluar dari pintu itu. Tapi tangan Bumi kuat menahan bagian kusen pintu.
Aku menghampirinya menarik tangan Reina menuju kursi paling depan. Kududukan dia dengan paksa. Reina tampak heran kenapa aku dan Bumi menahannya keluar kelas.
" Kalian mau apa, Hah?!" Tanya Reina melepaskan tanganku dengan kasar.
" Rein... Tujuan kamu apa mengantarkan surat panggilan dari sekolah untuk Orangtuaku?" Tanyaku mulai interogasi.
" Apa maksudnya?" Tanya Reina balik.
" Lu gak usah mengelak lagi Rein. Jawab jujur sebenarnya lu punya masalah apa sama kita?" Bumi mulai menekan Reina. Matanya tajam menatap Reina.
" Apa sih gue gak ngerti !" Reina sepertinya bingung. Tubuhnya berusaha bangkit keluar dari lingkupan tanganku dan Bumi, tapi ia tidak bisa.
" Kenapa? Lu pura-pura gak ngerti ? Apa maksudnya lu ambil foto kita di taman belakang, terus lu edit kalau kita lagi melakukan kiss di sana. Padahal itu kebohongan besar. Dan kemarin lu juga yang bully Tari sampai dia nangis di toilet. Setelah itu lu sengaja ngasih surat dari sekolah buat Mamaknya. Apa lu sebenci itu sama Tari? Salah dia apa?" Suara Bumi meninggi semakin memojokan Reina. Sementara Reina hanya mengernyit dahi mendengar semua tuduhan Bumi.
__ADS_1
" Lu ngomong apa sih?! Gue benar-benar gak ngerti. Lu tanya gitu semakin gue gak paham arah omongan lu. Dan lu Tari? Gue emang benci sama lu setelah gue tahu lu yang pendiam di sekolah ternyata berani juga lu kissing sama nih pacar lu !" Suara Reina meninggi dan mengarahkan kalimat terakhirnya ke arah wajah Bumi.
Aku dan Bumi saling berpandangan. Isi kepalaku mungkin satu pikiran dengan Bumi. Kenapa Reina benar-benar seperti orang yang tidak tahu apa-apa. Tapi dari informasi Mamak tentang surat yang di terima dari Reina. Kenapa Reina gak mau ngaku juga. Wajahnya juga tak memperlihatkan seperti sedang berbohong.
Aku menghela nafas panjang. Mencoba untuk memperbaiki suasana yang menegang. Aku duduk di kursi sebelahnya Reina, menyamping menghadap tubuh Reina.
" Rein..." Ucapku menyentuh tangan Reina berusaha selembut mungkin.
" Tolong kamu jujur, Sebenarnya kamu yang pasang foto editan aku dan Bumi yang di mading dan media sosial kan?"
" Tari... Untuk apa gue sebar foto lu yang begituan? mau editan atau asli juga sebenarnya gue gak peduli. Lu pacaran nakal di luar juga gue gak peduli. Tapi kalau di sekolah, lu tahu sendirikan konsekuensinya? Nama baik sekolah yang jadi pertanggung jawabannya. Lagian gue sebenarnya masih ragu kebenaran foto itu juga." Jawab Reina menjelaskan. Satu titik terang seperti mulai ditemukan. Reina bahkan meragukan kebenaran foto itu.
" Gue ngerasa aneh soalnya lu tuh di sekolah termasuk murid pendiam, tapi setelah dia muncul di sekolah ini, dan dia mulai dekati lu, lu bisa senekat itu ngelakuin hal kayak gitu !" Lanjut Reina.
Bumi terkejut saat Reina mengucap Maksud 'dia', Reina menatap Bumi.
" Kalian semua salah paham. Aku dan Bumi gak pacaran. Kami hanya bersahabat baik karena rumah kami juga dekat. Dan di foto itu semuanya gak benar. Tapi apa kamu benar tidak mengirim surat dari sekolah untuk Mamakku?" Tanyaku memastikan.
Reina menggeleng.
" Tapi kamu ngadu juga ke wali kelas?"
Reina menggeleng lagi.
" Gue kemarin cuma nakut-nakuti lu aja. Gue dan teman-teman sebenarnya kemarin kasihan pas lu keluar dari kelas dalam keadaan nangis." Ucap Reina.
Aku membelalak tak percaya. Aku mendongak menatap Bumi yang juga sadar arah mataku. Aku seolah bicara lewat mataku dengar memutar mata ke samping ' Gimana ini dengan Reina'.
Sejenak kami saling membisu.
" Oke kalau benar lu gak bohong, gue lepas lu ! Tapi kalau lu pelakunya, gue gak segan-segan bikin hidup lu gak tenang." Ancam Bumi penuh penekanan. Reina mengkerut seperti ketakutan. Aku yang mendengarnya saja membuat bulu kudukku merinding. Aku tahu kalau Bumi bicara selalu tak pernah ingkar. Aku meremas jemariku. Semoga apa yang di katakan Reina benar. Dia bukan pelakunya.
Lalu siapa?
__ADS_1
***