Cinta Sejagat, Cinta Sahabat

Cinta Sejagat, Cinta Sahabat
" Bumi tak akan pernah menyesali ketika Mentari bersinar untuknya "


__ADS_3

Dua hari istirahat di rumah, tubuhku lumayan membaik. Pagi ini aku bergegas berangkat sekolah tanpa di jemput Bumi. Aku memang sengaja tidak mengabarinya karena beralasan untuk tak jalan bersama dulu, melihat situasi sekolah yang mana aku pasti akan mendapat tekanan dan ejekan yang lebih parah jika aku masih terlihat bersama dengan Bumi. Aku juga tidak tahu gimana kondisi Bumi di sekolah setelah aku cerita kejadian hari itu. Apa dia menghindarinya atau menghadapinya. Karena kalau di biarkan lama, masalah ini akan menjadi besar dan melibatkan sekolah. Semoga itu tidak terjadi, batinku berdoa di sepanjang jalan menuju sekolah.


Dari mulai aku masuk gerbang, beberapa murid yang mulai mengenali wajahku, mereka langsung menghindar tak mau jalan beriringan denganku. Aku terus memberanikan diri masuk menuju kelas. Tatapan teman-temanku cukup menakutkan. Suara bisik-bisikpun terjadi bahkan seperti sengaja ingin di dengar olehku, mereka ingin aku tidak ada di kelas itu. Tapi hatiku menguatkan agar aku tetap di kelas walaupun aku di asingkan oleh mereka.


" Ternyata masih ada ya yang punya muka gak tahu malu ini." Ucap salah satu temanku dengan nada sedikit keras, Reina namanya, Murid cantik di kelasku mendekat duduk di meja seberang kursiku. Beberapa temanku yang lain ikut mendekat ke Reina. Tampang mereka seakan di buat seperti ingin mencincangku.


Aku hanya menunduk melihat kuku-kuku tanganku, berusaha santai walau jantungku sebenarnya sedang marathon.


" Apa kita perlu beri dia pelajaran Rein? Secara peringatan aja gak mempan. Hari ini dia masih berani masuk." Teman di belakangnya ikut menimpali.


" Gak perlu. Kita lebih baik mengadu ke wali kelas aja. Biar muka udiknya langsung terpampang di dalam toilet cowok." Reina memotong.


" Kita pasti kena sama ketua kelas kalau sampai ngadu ke wali kelas." Timpal yang lain.


" Gak usah berisik. Si Randi ketua kelas sok banget itu gak usah di peduliin. Lagian si udik ini gak ada gunanya juga buat kelas ini. Cuma ngotorin nama baik kelas X IPA." Seru Reina berapi-api.


Aku sadar di kelas ini memang bukan bintang kelas yang aktif, pintar dan populer di sekolah. Keberadaanku hanya seperti pelengkap saja di kelas ini. Aku juga tidak berpengaruh di kelas maupun di sekolah setiap ada kegiatan apapun. Niatku hanya belajar, menyelesaikan masa SMA, lalu setelah itu aku akan bekerja untuk menjadi tulang punggung keluargaku yang hanya berdua saja bersama Mamak.


Tiba-tiba air mataku mengalir begitu saja, aku tak bisa menahannya lagi. Sebenarnya bukan sedih dan takut karena ucapan sarkas mereka, bukan. Tapi lebih kepada menjaga diri ini untuk tidak menambah masalah di sekolah, dan tidak melibatkan ini sampai ke Mamak.


Karena keadaan kelas yang mulai ramai meluapkan emosi mereka dengan hujatan kata-kata kotor padaku. Aku tak bisa tahan berada disitu lagi. Akhirnya aku keluar kelas membawa tas berlari menuju ke arah toliet, beberapa murid kelas lain yang tak sengaja tersenggol bahunya saat berpapasan denganku, mereka seperti mengibas-ngibaskan bekas tersentuh olehku.


Kemudian aku meluapkan emosiku menangis tersedu-sedu di sebuah toilet perempuan. Hatiku begitu sakit. Sakit sekali. Rasanya semakin di hantam bertubi-tubi perasaan merutuki diri yang tidak mampu melawan mereka. Menjelaskan pada mereka bahwa aku tidak pernah melakukan itu. Ini jebakan orang ! Tapi aku gak tahu siapa dia.


Huuu... Hiks !


Tangisku makin mengeras. Aku harap di toilet ini tidak ada orang lagi selain aku. Sampai pada akhirnya aku merasa lelah menangis sendiri, aku mengeluarkan hp dari dalam tasku dan menelepon Bumi. Tak lama panggilan itu terhubung juga.


" Halo Bu-Bumi.." Suara serakku menyapanya.


" Halo... Tari. Kamu kenapa?"


" A-aku gak kenapa-napa. Aku ha-hanya merasa ha-rus pu-pulang ke rumah." Jawabku sesenggukan.

__ADS_1


" Kamu sekarang di mana?" Tanya Bumi khawatir.


" Ak-aku ddi toilet."


" Aku kesitu sekarang. Tunggu di luar." Serunya mengakhiri.


Dengan segera akupun keluar toilet itu. Selang tak berapa lama sosok Bumi muncul. Dia langsung menarik tanganku menjauh dari sekolah. Saat di cegat pak Satpam motor Bumi langsung meloloskan diri. Memang jam saat itu sebentar lagi jam masuk. Aku menutup setengah wajahku yang sembab dengan jilbabku.


" Kamu mau pulang?" Tanya Bumi saat di perjalanan. Tapi aku tidak menjawabnya. Aku berpikir ulang kalau aku pulang sepagi ini bisa-bisa Mamak curiga. Apalagi dalam keadaan wajah sembab dan mata bengkakku. Aku pasti di todong berbagai macam pertanyaan.


" Tar...!" Seru Bumi tiba-tiba menyadarkan lamunanku.


Aku terperangah.


" Eh, iya. Um maksudku kita mending gak usah pulang. Aku takut Mamak curiga..."


Ya Allah Maafin hamba udah berani nutupin ini dari Mamak, udah berani bolos sekolah juga. Batinku berdoa.


" Kemana ?" Tanyaku.


" Pokoknya tempat yang kamu sukai." Serunya fokus mengendarai motor.


Aku hanya menghela nafas dengan rasa penasaranku, kemana Bumi akan membawaku.


^


Tibalah kami di tempat yang di maksud Bumi. Kami turun dari motor, dia membuka jok motornya, ia mengeluarkan sweater hitam dan menyerahkannya ke tangaku.


" Pakailah." Perintahnya.


" Untuk apa ?" Tanyaku.


" Lihat dirimu, pakai seragam sekolah. Kamu pikir orang gak macam pikirannya. Ini masih pagi soalnya." Lanjutnya. Sementara ia memang sudah memakai jaket jeans saat di parkiran sekolah tadi.

__ADS_1


Oh, Aku mengangguk paham. Akupun menurutinya. Kemudian aku mengedarkan pandangan. Ah, Bumi memang selalu menepati. Dia membawaku ke danau yang banyak angsanya ini. Senyum terukir di bibirku, wajah murungku seperti tertarik ke atas memberikan perubahan suasana yang lebih tenang.


Danau ini memang membuatku lebih tenang. Pagi ini pengunjung belum ada, hanya ada beberapa petugas kebersihan yang sedang bekerja. Aku menarik nafas dalam lalu pelan-pelan aku menghembuskannya, selama beberapa kali sampai hatiku mulai merasa lega.


" Makasih Bumi, kamu udah ajak aku kesini." Ucapku menoleh wajahnya yang selalu tersenyum. Aku tidak mengerti kenapa Bumi masih bisa bersikap santai sementara masalah menerpa dirinya juga.


" Bumi... Boleh aku tanya?" Aku memberanikan diri untuk menanyakan sikapnya yang seperti ini.


" Iya, boleh."


" Kenapa saat lagi ada masalah kayak gini, kamu masih bersikap santai? apa kamu gak kepikiran. Karena ini ngefek ke orangtua kita kalau kita gak selesain."


Ia hanya menaikan satu alis seperti berpikir tapi tidak serius.


" Aku hanya ingin membuat diriku lebih nyaman aja Tar. Jadi aku gak menganggap masalah itu begitu pelik sampai aku harus murung, tertekan, sedih." Jawabnya sambil memandang danau yang luas.


"Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Setiap soal ujian pasti ada jawabannya. Cuma satu yang harus kita lewati, Nikmati apapun itu. Ketemu batu besar kita cukup menghindarinya aja. Ya bisa dengan melompat, bergeser atau mengangkatnya kalau bisa. Ketemu air dalam ya kita cukup jadi perenang yang hebat agar tidak tenggelam. di bikin mudah aja. Aku sesantai ini bukan gak kepikiran, bukan malas berpikir juga, tapi karena aku gak mau terbebani aja. Yang bikin kita mentok di situ-situ aja."


Sejenak ia menghela nafas. Aku mendengar dan menatap dirinya, dia benar-benar dewasa pemikirannya. Seusia kami sebenarnya masa-masa labil. Di mana kami saling ingin menunjukan jati diri kami, memiliki selera yang kadang-kadang bisa berubah. Kalau bicara suka meledak-ledak. Tapi ada yang beda dengan pembawaan Bumi yang bisa di katakan jauh dari kata 'childish'. Padahal dia termasuk anak yang suka nongkrong, merokok, jarang masuk kelas. Ku pikir Bumi memilih jadi murid seperti itu karena pikiran 'childish'-nya ini, yang ingin selalu senang-senang.


" Dulu mungkin aku sepertimu, setiap ada masalah kecil atau besar, aku merasa orang sudah tidak peduli padaku. Aku sering mengutuk diriku yang bodoh dan lemah. Tapi ternyata aku salah, karena sebenarnya masih banyak orang yang peduli dan sayang pada kita."


" Pokoknya kamu jangan khawatir... Aku akan selalu ada untuk kamu." Tegasnya tersenyum menatap mataku yang bengkak. Aku tertunduk malu di perhatikan seperti itu.


" Makasih ya Bumi. Kamu udah bikin aku merasa tenang dan berpikir jernih lagi. Jangan pernah menyesal jadi sahabat aku ya." Ucapku menyentuh tangannya.


Ia mengangguk membalas tanganku dengan menepuk tanganku. Tangan kami saling menyentuh. Mata kami beradu penuh senyuman.


" Bumi tidak akan pernah menyesali ketika Mentari bersinar untuknya. Karena Bumi selalu merindukan pagi supaya cepat bertemu dengannya, dan akan bersedih saat Ia tenggelam. Tapi Mentari tidak pernah mengecewakan Bumi karena ia masih memberikan warna indahnya saat petang hari. Dan selalu menyapa Bumi saat pagi hari dengan warna indahnya juga. Makanya Bumi yang harus berterima kasih pada Mentari." Bumi mengkiaskan kata-katanya dengan begitu indah. Aku mendengarnya takjub. Ia tahu gimana caranya menghibur hati perempuan.


Sungguh aku merasa bersyukur bertemu dengan Bumi, dan dia mau jadi sahabatku sampai hari ini. Berkali-kali ku ucapkan dalam hati rasa terimakasih ku pada Bumi. Semoga kita selamanya seperti ini. Imbuhku dalam hati menambahkan.


***

__ADS_1


__ADS_2