
Point of View Author
Drrtt...Drrtt...Drrt...
"Halo?"
"Tariii... Balas pesanku sekarang?!" Seru dari ujung telepon dengan nada khawatir.
"Halo?" Suara dari sana bertanya.
"M--maaf, Bumi... Saya sudah lancang angkat panggilan hp Tari dari kamu. Ini Dian."
"Apa? Oh ! Tari kemana?" Tanya Bumi dingin.
"Ta-Tari lagi tidur." Dian menjawab gugup.
"Oh gitu. Baiklah kalau dia sudah bangun tolong beritahu dia kalau saya menelponnya."
"I-iya Bumi. Ada lagi yang mau di sampaikan?" Dian bertanya pelan.
"Tidak ada, cukup. Makasih Dian." Suara dari ujung telepon mengakhiri.
^
" Kenapa hp-nya di pegang Dian ?! masak dia gak kerasa atau terdengar suara telepon yang berkali-kali dariku ! " Di tempat lain di sebuah ruang tamu rumah yang cukup luas, Bumi terlihat gelisah dan khawatir. Ia hanya mondar-mandir menunggu Tari menghubunginya.
Huh !
"Apa aku susul aja kali ya daripada harus menunggu tak tentu gini ! Tariiii... Kamu selalu bikin aku khawatir... Bisa-bisanya lagi dia tidur di Rumah Sakit ! Dia pikir tempat itu rumahnya kali. Huh ! Benar-benar Tari bikin aku pusing nungguin kamu mau di jemput jam berapa." Bumi menggerutu keras.
"Sayang... Kamu kenapa ? kok kayaknya gelisah gitu?" Seseorang datang mendekatinya.
"Eh, Mamih !" Bumi menyapa sambil memeluknya sebentar lalu melepasnya.
"Kamu kenapa? Kok mamih liat dari pintu sampai sini kamu tampak uring-uringan?" Tanya mamihnya.
"Ah, enggak mih. Aku... Aku.." Jawab Bumi terhenti sambil mengacak-acak rambut lurus belakangnya.
"Ayo cerita sama mamih. Sini duduk sayang." Ajak mamihnya menepuk-nepuk sopa.
"Ehem mih, kayaknya aku musti berangkat deh. Aku baru ingat lagi punya urusan lain. Nanti aja kapan-kapan aku cerita sama mamih." Ucap Bumi menghindar sambil membawa jaket kulitnya yang tergeletak di sopa yang lain.
"Lho sayang... Kok mamih di tinggal sih." Seru mamih memandang Bumi keluar rumah. terdengar suara motornya keluar gerbang.
Mamihnya hanya menghela nafas kecewa. Tak lama teleponnya berdering lalu ia mengangkatnya dari sebuah nama yang tertulis di kontaknya.
"Ya." Mamih menanggapi.
" Kami sudah menemukannya nyonya." Suara seorang laki-laki dewasa memberi informasi.
"Oke. Kalau gitu kamu bawa dia ke rumah. Seret kalau dia gak bisa di atur ! "
"Baik nyonya." Jawaban dari ujung sana menanggapi.
Tut. Bunyi panggilan di putus dari tangan Mamih Bumi. Matanya menatap tajam ke arah depan, ia mengepalkan tangan seolah menahan emosi.
__ADS_1
"Jangan main-main kamu dengan mamih, sayang... " Gumamnya menekan gertak giginya.
***
Sementara di sebuah Rumah Sakit yang di kunjungi Tari hari ini, Dian mencoba membangunkannya beberapa kali. Tapi sepertinya Tari sangat nyenyak tidur menyamping di kursi ruang tunggu. Alhasil, Dian hanya pasrah menyerah. Lebih baik menunggunya terbangun sendiri. Ia masih memegang hp-nya Tari. Terlihat jam menunjukkan pukul 03.00 sore. Mungkin Tari sebelumnya kurang tidur, jadi ia kelelahan sampai tertidur lelap. Memang sejak terakhir mereka saling bercanda, mengolok tentang hubungan dengan Bumi, sampai mengobrol ke hal remeh-temeh membuat mereka terlalu asyik, tapi tetap menjaga suara agar tak berisik. Hal itu dilakukannya untuk menghibur Dian.
Tak berselang lama suara sepatu mulai terdengar keras mendekat. Dian mendongakan wajahnya ke arah tubuh yang berdiri dekat di depan Tari.
'Bumi lagi'.
Bumi segera jongkok mendekati sosok tubuh yang terbaring menyamping. Raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran, Dian bisa melihatnya itu dan cukup memperhatikan apa yang dia lakukan pada sahabatnya ini.
Bumi tanpa ragu menyentuh dahi dan leher Tari, seperti memastikan suhu badannya. Akan tetapi tak masalah yang ia rasakan normal saja. Ia menatap mata yang terpejam itu lalu menepuk-nepuk pipinya.
" Tari, bangunlah !" Bisiknya pelan. Yang di bisiknya tetap tak bergeming, malahan merubah posisi tidurnya jadi terlentang. Bumi yang menatapnya dari arah dekat semakin terpana dan tak sengaja menelan ludah. Kemudian ia menyadarkan dirinya untuk tidak berpikir hal yang tidak-tidak.
Iapun mencari cara lain untuk membangunkannya, ia jepit hidung tari dengan dua jarinya lalu ditahan sedikit menarik selama beberapa detik baru ia lepaskan .
Tiba-tiba yang sedang tidur merasa pengap tak bisa bernafas. Iapun seperti mengambil nafas dan mengeluarkannya cepat-cepat. Dan langsung terbangun sambil membalik badan ke arah Bumi menghadap. Untungnya dengan sigap Bumi menangkapnya yang sudah posisi jongkok.
"Ah ! Siapa kamu?!" Mata Tari terbuka saat melihat seseorang yang menangkapnya. Ia terbangun berdiri cepat dan menghindar dari pangkuan Bumi.
Dian yang menyaksikan ikut terperanjat juga saat Tari terbangun dari pangkuan Bumi. Bumi juga ikut berdiri menenangkan Tari yang nyawanya belum terkumpul.
"Hey ! Hey Tari !" Dian menarik tangan Tari lalu memegang bahunya.
"Dia Bumi Tar !" Dian menunjuk Bumi yang berdiri ikut kaget dengan tingkah Tari yang sigap bangun. Dia mungucek matanya memperjelas pandangannya.
"Huh ! Kirain aku siapa." Ucap Tari menghela nafas lega.
Tari mengernyit menoleh ke arah Dian yang masih memegang bahunya.
"Apa aku tadi tertidur?" tanyanya polos.
"Bahkan kamu sampai tidak menyadarinya ya. Padahal tidurmu cukup lama hampir 2 jam." Dian memutar bola matanya.
"Apa ?! Aduh ! Sekarang dimana aku ? Hah masih di Rumah Sakit ?" Tari bicara sendiri sambil mengedarkan pandangan ke arah sekitar. Lalu matanya tertuju pada Bumi yang berdiri tersenyum menatapnya.
"Bumi ? kenapa kamu disini? bukannya kamu udah pulang tadi sama Ibunya Dian?" Tanya Tari seperti orang ****.
"Haduh.. Tari.. Kebiasaan deh suka amnesia akut." Dian menimpali dengan menepuk jidat.
"Masih belum selesai mimpinya?" Tanya Bumi ikut menimpali. Tari menatapnya lagi dengan kepolosan.
'Lama-lama aku bisa gila karena kelakuanmu, Tari.' Gumam Bumi dalam hati.
"Ayo kita pulang." Bumi menarik tangan Tari yang terpaku.
"Eh, eh sebentar..." Tari menahannya.
"Apalagi...?" Tanya Bumi menoleh.
"Ak-Aku belum pamit sama Dian."
Bumi menghela nafas dalam. Tangannya mempersilahkan.
__ADS_1
"Dian..." Ucap Tari mendekat.
"Eh, Iya. Ta-Tari." Tiba-tiba Dian tersadar dari lamunannya yang menyaksikan tangan Bumi seperti keseringan menyentuh tangan Tari tanpa sungkan.
Tari melongo. " Kok kamu ngelamun yan?"
"Ah enggak. Mungkin aku hanya sedikit kelelahan aja Tar. Tapi... Kamu tenang aja, Ibuku habis maghrib kesini kok gantian. Hehe." Jawab Dian nyengir kuda sambil meyakinkan agar Tari tidak khawatir kondisinya.
"Kamu yakin?" Tanya Tari memastikan.
Dian mengangguk senyum. Tari membaca mata Dian memastikan lagi sambil membalas senyumnya.
"Baiklah, kalau gitu aku pulang ya. Hati-hati jaga kesehatan kamu juga yan. nanti kalau ada waktu pulang sekolah aku sempetin kesini lagi." Ucap Tari menyudahi. Dian hanya mengangguk.
"Hey, ayo." Ajak Bumi menggerak-gerakan tangan Tari. Tanpa di sadari sejak tadi tangan mereka masih saling menggenggam seolah tak ingin melepaskan.
Tari mengangguk mengikuti langkah Bumi, tangan merekapun tanpa diminta saling melepaskan setelah menyadari.
Keduanya melangkah berbelok di antara lorong dan menuju lift. Belum sampai masuk lift, dari arah belakang ada yang berlari dan berteriak memanggil Tari. Tari dan Bumi yang hendak masuk batal setelah membalik badan dan tahu siapa yang berteriak-teriak.
"Dian ada apa?" tanya Tari khawatir setelah Dian mendekat dengan tergopoh-gopoh.
"Kamu kenapa Dian?" Bumi ikut khawatir.
Dian belum menjawab, ia masih mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Terlihat dari sakunya, tangannya mengeluarkan sebuah hp yang tak lain milik Tari. Ia langsung menyodorkannya.
"Oalah Dian... Hp ku ketinggalan yak. Makasih ya. Untung kamu ingetin." Tari mengambil hp-nya dari tangan Dian dan memasukkannya ke dalam tas kecilnya.
Bumi yang menatap Dian dengan tajam langsung di sadari Dian.
"Tar maafin aku yak. Tadi aku lancang ambil hp kamu di tas saat Bumi menelepon." Dian mencoba menjelaskan sambil matanya melirik sekilas tampang dingin Bumi. Membuat Dian bergidik.
"Apa ?!" Tari terbelalak melirik ke arah Bumi.
"Iya tadi aku menanyakanmu. Makanya aku sampai menjemputmu." Jawab Bumi masam. Tari menarik matanya ke arah Dian yang tak memberi respon apa-apa.
.
"Ayo, jadi pulang atau engak?" Bumi mengingatkan keduanya untuk tidak berlama-lama dekat depan lift. karena menghalangi orang keluar masuk.
"Yan, sekali lagi makasih yah. Sekarang kamu kembali ke ruang Bapakmu, kasian gak ada yang jaga." Tari menepuk bahu Dian.
" Iya Tar. Kamu hati-hati ya. Salam buat mamakmu."
Tari mengangguk senyum.
Akhirnya keduanya berbalik badan masuk dalam lift menyisakan Dian yang mematung. Kemudian Ia tersadar setelah orang tak sengaja menyenggolnya sedikit. Iapun kembali ke ruang rawat Bapaknya.
Point of View Author End.
***
Semangat pagii teman-teman... mohon bantu aku semangat berkarya di sini. Aku mohon vote, like, komen. Apapun komentar kalian akan menjadi koreksi tulisannku ke depannya. silahkan yang mau ngasih solusi atau ide cerita. aku tampung disini.
SELAMAT MEMBACA.... SALAM SEMANGAT DARI AUTHOR. MUACHHH
__ADS_1