Cinta Sejagat, Cinta Sahabat

Cinta Sejagat, Cinta Sahabat
Kejujuran #1


__ADS_3

Di sekolah tampak seperti biasanya, tetapi beda dengan suasanaku yang tidak semangat. Hari ini juga aku tidak melihat Dian, tumben sekali. Apa dia sakit? setelah seharian kemarin jadi panitia lomba. Kak Bintang juga tidak aku jumpai, mungkin mataku yang tak fokus atau memang dia sedang sibuk persiapan ujian sekolah. Aku berjalan gontai menuju lorong kelas. Pikiranku teringat semalam yang meneleponku, jadi saat pagi aku tersadar mengecek riwayat panggilan terakhir. Ternyata nomor yang belum tersimpan sampai hari ini. Aku memang hapal bagian nomor terakhirnya, akhirnya aku simpan juga pagi itu dengan nama "Cowok nyebelin".


Hari ini sesuai janji aku akan menemuinya di taman belakang. Aku melangkah menuju kesana. ku edarkan pandanganku mencari sosok Bumi tapi tidak ada. Aku inisiatif untuk menunggunya di tempat duduk sekitar taman tersebut. Tak berselang lama seseorang berdiri di sampingku, aku tersadar mendongak ke atas.


"Maaf udah bikin kamu nunggu." Ucapnya dingin sambil duduk.


"Eng-enggak apa-apa kok." Jawabku pelan


"Maaf juga semalam aku ganggu kamu tengah malam."


"Um...Kalau itu kebetulan aku lagi terbangun juga sih." Ucapku senyum sangsi.


"Kenapa matamu bengkak?"wajahnya mendekat melihat mataku. Ia masih memasang tampang dingin tapi tidak dengan matanya.


"Euuu...enggak kenapa-napa. Cuma kurang tidur kayaknya." Jawabku menghindar kontak mata dengannya.


Lumayan lama kami membisu. Bumi hanya fokus ke depan, sementara aku menunduk.


"Bu-bumi... A-Aku ma-mau jujur sama kamu." Ucapku gugup.


"Ya..terus" Bumi merespon dingin.


Ake meremas jemariku yang mulai berkeringat, tapi hati mendorongku untuk berani menjelaskan.


Aku menghela nafas dalam lalu ku hembuskan pelan.


"Bumi...Aku minta maaf karena... sebenarnya...aku tahu kenapa kemarin kak Bintang pergi dari aula, dan...kenapa kamu mengucapkan kata-kata seperti itu, aku sadar aku sudah melakukan kesalahan. Aku kira kalian tidak akan tahu, dan sekarang aku merasa sangat malu." Bicaraku hati-hati. Tiba-tiba air mataku sudah tak terbendung lagi.


"Kamu tahu siapa Kahlil gibran?"


Aku mengangguk dan menunduk tak berani menatap matanya.


"Seharusnya kamu tidak melakukan hal itu tar. mengambil karya orang lain untuk kamu akui menjadi karyamu. Kamu tahu bahwa aku dan Bintang sangat kecewa, mungkin teman-temanmu yang tidak suka puisi tidak akan tahu siapa kahlil gibran. Saat kamu tampil mereka sangat takjub denganmu. Saat itu juga kamu sudah menipu dirimu." Ucapnya dengan nada meninggi. Mendengar bicaranya, emosiku tak tertahan.


"Aku-aku sebenarnya waktu kemarin itu gak sempat bikin puisi, dan aku memang tak begitu mahir....." Huuuuu..... tangisku pecah sesenggukan


"Aku minta maaf... Aku juga sampai melakukan itu.. karena...karena..." ucapku terpotong sesaat tangannya meraih kepalaku untuk di sandarkan ke bahunya. Aku hanya diam menurutinya, saat itu hatiku tidak menolaknya.


'Aku melakukan itu karena demi ikut lomba puisi bareng kak Bintang' gumamku dalam hati.


"Sudah...sudah... Aku sudah maafin kamu. Mungkin kedepannya kamu harus belajar hargai setiap karya siapapun. Masalah Bintang biar aku yang jelasin sebenarnya." Ucapnya mengusap-usap lembut jilbabku.

__ADS_1


Setelah itu aku mulai tersadar dengan sikap Bumi yang berlebihan. Aku menjauhkan kepalaku dan melepaskan tangannya. Bumipun menyadarinya langsung meminta maaf. Aku melihat ke sekeliling taman itu takut ada yang memperhatikan.


Aku mengelap mataku yang mulai mengering. Menghela nafas dalam, perasaanku mulai lega setelah aku jelaskan semuanya pada Bumi. Urusan kak Bintang, mungkin biar Bumi yang bicara dan aku cukup menjaga jarak dulu sementara.


"Bumi, kalau gitu aku masuk ke kelas lagi. Sebentar lagi pelajaran terakhir di mulai." Ucapku mengakhiri dan bangkit dari duduk.


Bumi menatapku dan mengangguk tersenyum.


"Jangan pernah merasa sungkan cerita apapun padaku. Aku akan selalu ada untuk kamu." Ucapnya sebelum aku pergi.


Sementara Bumi masih duduk di kursi itu, ia mengeluarkan hp-nya. Entah apa yang ia ketikkan.


(Tanpa di sadari tak jauh dari tempat duduk mereka, seseorang sedang mengamati dan mengabadikan beberapa momen Tari dan Bumi lewat hpnya. Ia tersenyum menyeringai seolah-olah merencanakan sesuatu).Author


***


"Halo yan?"


"Iya ada apa Tar?" Suara Dian di ujung telepon


"Kamu kemana hari ini? " tanyaku


"um baik-baik aja Tar. Tadi pagi aku emang gak masuk soalnya Bapakku lagi sakit."


"Kata dokter sih Bapak DBD. makanya musti di rawat. untuk sementara aku izin gak masuk sekolah dulu." katanya menjelaskan


"Ya Allah,,, Semoga cepet sembuh buat Bapakmu yan, besok aku mau jenguk kesitu."


"Gak perlu Tar, disini cukup Ibu dan aku kok. Aku gak mau ngerepotin kamu."


"Kenapa kamu ngomong gitu yan? aku kan sahabatmu, kamu juga kan selalu bantu aku di saat lagi kesulitan. Aku juga ingin yan..." Bujukku.


Terdengar suara helaan nafas di ujung sana.


"Baiklah... Hati-hati aja di jalannya Tar."


"Iya yan. Kalau gitu aku tutup teleponnya ya." Ucapku mengakhiri obrolan.


"Oke." Balasnya.


Aku meletakkan hp-ku di meja. Kaki ku melangkah ke arah dapur menemui mamak yang sedang sibuk membuat kue pesanan.

__ADS_1


"Mak, mana yang mau aku bantu?" Tanyaku melihat mamak serius mengeluarkan kue dari oven dengan hati-hati.


"yah mumpung kamu lagi ada disini, tolong kamu mixer itu adonan yang sudah mama campur di wadah." Jawab mamak.


Aku menurutinya dan memulai menyalakan mixer dan mengaduknya di wadah yang sudah terisi bahan. Mamak memang spesialis membuat kue basah dan kering tergantung orang yang memesannya.


"Mak, besok aku mau jenguk Bapaknya Dian ke rumah sakit." Aku memulai obrolan lain


mamak mendongak, " emang Bapaknya sakit apa?"


"kata Dian DBD mak."


"Oalah, kasian banget keluarga Dian. Semoga Bapaknya cepat sembuh."


"Iya mak."


"Lha terus kamu kesananya mau sama siapa? mamak gak bisa ikut nengok soalnya lagi banyak pesanan kue."


"Iya mak gak apa-apa. nanti aku naik angkot aja."


"Tapi kamu ingat, hati-hati dan jaga diri." Mamak mengingatkan.


"Iya mak" Ucapku.


"Kalau gitu mamak titipin kue coklat buat bawaan kamu ke rumah sakit ya !"


"Eh, benarkah mak?"tanyaku sumringah. Mamak mengangguk tersenyum.


"Kalau gitu sekalian juga kamu bantuin mamak bikin kuenya." Ucap mamak tertawa.


"Siap mak... Apasih yang enggak buat mamak. hehe... Aku sayang mamak." Semangatku mencium pipinya dan memeluknya.


Sore sampai malam kami habiskan untuk membuat kue sambil tertawa. Sejak tadi pagi meluapkan perasaan salah pada Bumi, seperti beban di pundak sudah ringan.


Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam, bagi para remaja yang sedang di mabuk cinta mungkin sedang keluar menikmati masa berdua. Apalagi di akhir pekan merasa setiap anak sekolah bebas menghabiskan waktu untuk melakukan apapun di rumah maupun di luar. Sedangkan aku cukup menyibukkan bersama mamak membuat kue. Dan...


Malam itu aku lupa mendengarkan acara radio kesukaanku : Senandung rasa bersama Bintang.


***


Semangat pagii teman-teman... mohon bantu aku semangat berkarya di sini. Aku mohon vote, like, komen. Apapun komentar kalian akan menjadi koreksi tulisannku ke depannya. silahkan yang mau ngasih solusi atau ide cerita. aku tampung disini.

__ADS_1


SELAMAT MEMBACA.... SALAM SEMANGAT DARI AUTHOR. MUACHHH


__ADS_2