Cinta Sejagat, Cinta Sahabat

Cinta Sejagat, Cinta Sahabat
Tragedi Ponsel hilang#2


__ADS_3

Aku terus berusaha mencari ke semak-semak yang dekat dengan jalanan itu. Yang aku ingat saat aku menempelkan hp-ku di telinga, benda itu terpental sampai beberapa meter. Semoga saja tidak ada yang menemukan. Karena hp itu pemberian dari Mamak. Kalau hilang, uang dari mana aku bisa membelinya lagi.


Langit semakin gelap, beberapa orang dan kendaraan yang lewat melihatku terheran-heran. Ada beberapa orang yang iseng bertanya, aku jawab saja kehilangan hp-ku. Tanpa menghilangkan fokus mataku untuk terus mencari.


" Kamu lagi cari apa?" Suara seorang laki-laki bertanya di belakangku yang sedang jongkok. Aku berbalik badan dan mendongak ke atas siapa yang berdiri. Aku menyelipkan anak rambutku di belakang daun telingaku agar tak menghalangi penglihatanku di malam hari.


" Bumi... Ak-aku lagi cari... cari hp-ku." Jawabku pelan berdiri menghadapnya.


Kenapa dia bisa ada disini?


" Emangnya terjatuh di sini?"


Aku mengangguk. Mataku masih berpencar mencari ke arah lain.


" Ini udah malam, walaupun dekat dengan rumahmu. bahaya juga banyak kendaraan yang lewat." Ucapnya menatapku.


" Tapi... Aku harus menemukannya."


" Kalau gak ketemu gimana?"


" Ya aku berusaha dulu. Mungkin di semak-semak. Semoga aja masih rezeki."


" Udah coba di telepon?"


" Udah, tapi nomornya gak aktif aja."


" Ya itu sih udah ada yang ngambil."


" Yaah... Gimana dong?" Tanyaku seperti bicara pada diri sendiri.


" Udah, kamu pulang ya. Ini udah malam, Mamakmu pasti udah nunggu kamu. Jangan bikin khawatir."


Aku menunduk menggigit bibirku. Aku yang justru khawatir takut di marahi Mamak.


" Aku gak bisa. Aku harus menemukannya."


" Mau sampai kapan?"


Sejenak berpikir.


Memang percuma aku mencari sampai kapanpun juga, kalau hp itu sudah ada yang ambil. Apalagi di jalan umum ini. Tapi, bagaimana menghadapi Mamak?


" Tar...?"


" I-iya.."


" Ayo pulang. Aku antar kamu sampai depan rumah."


" Um, gak perlu. Aku bisa pulang sendiri masih belum terlalu malam juga. Makasih untuk tawarannya." Cegahku tersenyum.


Aku berbalik badan, Bumi menahan tanganku. Aku menolehnya berhadapan " Kenapa lagi?"

__ADS_1


" Aku akan tetap mengantarmu sampai depan rumah."


Aku melepaskan pegangannya " Maaf gak perlu. Lagian juga dekat."


" Kenapa?"


Dahiku mengernyit " Kenapa apanya?"


" Kenapa kamu menghindar dariku?" Tanyanya.


Deg ! Wajahku pias. Aku memalingkan wajah ke arah lain.


" Bukan urusanmu lagi." Jawabku menekan.


" Kenapa?" Bumi terus mengulang tanya.


" Apa sih?!" Jawabku kasar.


" Apa karena alasan Liona kamu menghindar?"


Aku menaikan satu ujung bibirku.


" Bukannya kamu yang bilang kemarin? Karena alasan Liona kan kita gak usah berhubungan lagi? Apa kamu lupa?" Tanyaku mengembalikan fakta yang ada.


Sekarang wajahnya yang pias.


" Kemarin aku ngomong hanya di depan Liona. Agar dia tidak ganggu kamu dan nyakitin kamu lagi Tar." Jawabnya pelan.


" Tapi ini ada hubungannya dengan masalah foto fiktif itu Tari..." Suara  Bumi menekan. Aku terdiam.


" Aku sedang berusaha mengungkapnya Tar ! Aku yakin ini ada hubungannya dengan Liona ! Aku gak mau kita ada salah paham, aku ingin semuanya gak ada masalah di kemudian hari. Liona itu cewek licik ! Makanya aku lagi sandiwara jadi pacarnya dia. Biar kebenaran cepat terbuka, aku juga gak mau menghilangkan kepercayaan terhadap Orangtua kita. Percaya sama aku ! " Bumi menggerak-gerakan tanganku. Tubuhku hanya mematung menatapnya seksama.


Di lihat dari kedua matanya, ucapan Bumi sepertinya benar.


" Hm." Baiklah Aku percaya, batinku. Memutar bola mataku, membalik badan melanjutkan langkahku pulang.


"Tunggu !" Bumi menahanku lagi. Aku berhenti tanpa menolehnya.


" Aku antar kamu." Lanjutnya mendekat.


" Terserah." Gumamku.


Akhirnya kami berjalan beriringan. Kami tampak saling membisu di perjalanan. Sebelum mencapai pintu pagar rumahku, aku menghentikannya.


" Antar sampai sini aja. Makasih." Ucapku datar.


Ia mengangguk tersenyum, tapi aku tak membalasnya. Aku lanjutkan langkahku masuk  membuka pintu pagar tanpa menoleh lagi ke arah tempatnya berdiri.


" Selamat Tidur Mentari." Ucapnya kemudian.


Aku mematung hendak menolehnya, tapi kaki ini seakan di buat terkunci oleh pikiranku. Sejenak aku menghela nafas, aku berbalik lagi menoleh ke tempatnya berada, ia sudah tak ada. Dia sudah pergi.

__ADS_1


" Tari?"


Aku menoleh ke sumber suara.


" Mamak !"


" Masuk !" Seru Mamak . Aku mengangguk mengikuti langkah Mamak.


Setelah di dalam rumah, aku berbicara jujur bahwa hp-ku sudah tak bisa di temukan lagi. Akan tetapi Mamak merespon biasa saja dan membiarkannya. Sikapnya jauh dari apa yang aku pikirkan.


" Cepat tidur. Besok kamu harus bekerja menebus hp-mu yang hilang itu !" Ucap Mamak setelah aku mencuci muka dari kamar mandi. Aku hanya menelan ludahku.


Baiklah enak di depan, gak enak di akhir. Itulah Mamakku.


Kalau gitu aku turuti saja. Tapi malam ini sebelum tidurku, aku membuka tirai jendela menyampaikan salamku lewat langit malam.


" Selamat tidur juga, Bumi !" Hehe... Semoga selamanya kita akan jadi sahabat.


***


Setelah tragedi ponsel hilang, sisa hari-hariku di skors aku selalu habiskan membuat kue pesanan dan mengantarkannya. Selain dari itu kegiatanku juga hanya tidur dan makan. Cukup bosan tapi masuk sekolah sebentar lagi. Aku sudah di informasikan dari pemberitahuan surat edaran sekolah, ujian akhir sekolah untuk kelas XII akan di laksanakan mulai hari senin sampai kamis besok. Aku juga harus lebih banyak belajar di rumah, karena setelah ujian akhir kelas XII, para murid yang di bawahnya akan menyusul juga.


Ah, jadi anak sekolah memang kadang melelahkan kadang menyenangkan. Tapi aku harus menjalaninya dengan baik demi masa depan yang cemerlang.


Baiklah, karena besok aku sudah mulai masuk sekolah, hari ini aku khususkan untuk menelepon beberapa teman sekelasku yang masih mau berteman denganku, aku menelepon mereka lewat hp jadul Mamak menanyakan beberapa tugas dan catatan yang selama seminggu ini aku tinggalkan. Mereka hanya memberi tahuku nomor halaman-halaman LKS yang harus aku isi dan menyerahkannya besok. Mamak juga tak merecokiku dengan meminta bantuan mencetak kue. Beliau membiarkannya karena aku akan kembali sekolah.


" Kerjakan dengan baik, Nak. Mulai sekarang tunjukkan sama Mamak kalau kamu anak yang baik dan rajin. Gampanglah soal jadi anak pintar, yang penting rajin dan mau belajar. Itu aja pesan Mamak." Nasihat Mamak sambil tangannya beberes.


" Iya Mak. Do'ain aja." Jawabku.


" Namanya Orang tua, tiap detik tiap menit tiap sholat Mamak selalu do'akan kamu Nak." Imbuh Mamak lembut. Kalau lagi ngomong ke hal-hal yang buat kemajuanku, Mamak selalu mengatakan yang baik-baik. Aku mendengarnya terharu.


" Makasih ya Mak udah jadi Mamak terbaik aku. Dan maafin Tari belum bisa jadi anak yang baik." Balasku menyentuh tangannya. Mamak tersenyum sendu. Kami saling berpelukan erat.


Tiba-tiba suara hp Mamak mengagetkan kami berdua dan saling melepaskan pelukan. Aku melihat layar hp, siapa yang menelepon. Di lihat sebuah nomor baru. Aku menoleh Mamak, Mamak hanya mengarahkan matanya untuk mengangkat.


" Halo?" Sapaku.


" Halo, apa benar ini dengan nomor hp Orang tuanya Oktaviana Mentari ?"


Deg ! Suara perempuan masih muda menanyakan namaku. Mamak yang berada di situ ikut menanyakan siapa yang meneleponku lewat mulutnya tanpa suara. Aku hanya mengisyaratkan telunjuk di bibirku untuk tak bertanya dulu. Mamak mengangguk paham dan mengamatiku bicara.


" Maaf sebelumnya ini siapa?" Tanyaku curiga.


" Aku... Aku Luna. Maaf ini dengan siapa?"


Dia berbalik nanya. Aku harus jawab jujur atau bohong ya? Aku takut sekali jika sudah ada nomor tak di kenal dan ternyata melakukan penipuan. Aku sudah paranoid duluan, mengingat banyak kejadian yang sudah di alami orang lain.


" Sebelum saya jawab, kenapa kamu tahu nomor ini orang tuanya atas nama Oktaviana Mentari?" Tanyaku selidik.


***

__ADS_1


__ADS_2