Cinta Sejagat, Cinta Sahabat

Cinta Sejagat, Cinta Sahabat
Bertemu Liona


__ADS_3

Aku dan Bumi masih berada di kelas, duduk menunduk dengan pikiran masing-masing. Setelah melepaskan Reina, langkah selanjutnya aku menyerahkan pada Bumi. Aku menoleh ke arahnya, ia mulai memegang kepalanya seperti pusing.


" Bumi, gimana ini?"


Bumi hanya mengusap wajahnya dengan kasar.


" Masih ada beberapa orang di sekeliling kita yang aku yakini dia pelakunya." Ucap Bumi menghela nafas.


Pikiranku jadi tertuju pada Dian. Aduh... Aku jadi sedih lagi gimana perlakuan Dian padaku. Setelah dia memutuskan persahabatan gara-gara ini, dia sudah tak terdengar kabarnya lagi. Padahal aku ingin sekali mendengar kabarnya. Gimana kondisi Bapaknya sekarang ? Apa dia sekarang sedang sedih atau bahagia, aku tak tahu. Tapi kalimat terakhir Bumi... Kenapa aku berpikir Dian pelakunya? Tapi itu tidak mungkin. Dia kan sedang izin tidak masuk. Gak mungkin dia terlibat.


" Tar... Ayo kita pulang." Ajak Bumi kemudian.


" Tapi... Gimana dengan besok?" Aku bertanya lagi.


" Hari ini aku akan mengungkapnya !"


" Apa Mama mu juga dapat surat?"


" Iya. Tadi pagi Mamaku nanya seperti Mamakmu."


" Terus?"


" Aku bilang datang aja. Biar Mamaku tahu."


"APA ?! Kenapa kamu bilang gitu. Namanya bunuh diri tahu !" Mataku membelalak mendengar jawabannya yang nyeleneh.


" Kenapa emangnya? Kalau aku punya tujuan lain biar Mamaku gak usah berusaha dekati aku dengan si Liona."


Aku berdiri menolehnya.

__ADS_1


" Oh gitu ?! Jangan-jangan ini akal-akalan kamu lagi ! Sebenarnya kamu pelakunya dari penyebaran foto editan itu kan? Kamu sengaja mengorbankan aku untuk tujuanmu, Sementara aku di buat malu dan seluruh murid membullyku !!!" Ucapku meninggi.


Bumi mengernyitkan dahi. Ia juga berdiri dari duduknya.


" Apa sih Tar? Kenapa pikiranmu jadi kemana-mana? Aku hanya berpikir kalau pada akhirnya Mamaku tahu masalah ini, Ini juga jadi peringatan Mamaku untuk berhenti berurusan dengan Liona. Lagian kalau aku pelakunya, ngapain aku mesti yang jadi model dalam foto itu?"


" Ya itu jebakanmu sama aku ! Kamu nyuruh orang untuk ngambil foto saat kita di taman belakang, terus kamu minta edit biar kita seolah-olah lagi kiss kan? Kamu jahat Bumi... Jahat !" Aku memukul-mukul bahunya di barengi deraian air mataku yang tiba-tiba runtuh.


" Kamu apa-apaan ? Kenapa pikiranmu ngaco ? Aku tahu kamu frustasi karena rasa takutmu tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya menyimpulkan dan menuduh orang lain bahkan aku adalah pelakunya." Ucap Bumi sambil menahan tanganku untuk berhenti memukul.


" Berpikir realistis Tari !" Tegasnya.


" Teganya kamu ! Masih mengambil keuntungan dari kejadian ini. Hiks !"


Tanganku berhenti memukulnya. Derai air mataku sudah mengalir tersedu-sedu. Aku duduk kembali menunduk dengan pikiranku yang kalut. Bumi mendekatiku dengan menggeser kursinya menjadi lebih dekat. Kepalanya mendekat sepuluh senti dengan wajahku, memiringkan kepalanya untuk bisa melihat mataku. Tiba-tiba tangannya mengangkat kepalaku, menghadap. Ia letakan Ibu jari tangannya mengusap bulir air mataku.


" Dengarkan aku Tari... Ini jelas bukan akal-akalan aku. Apakah kamu selama ini mendengar aku pernah berbohong?"


" Apa selama ini Kata-kataku tak pernah ku tepati? Kalau memang kebenaran itu belum terungkap, tapi namanya kebohongan tak akan bertahan lama. Percaya padaku aku akan mengungkap siapa pelakunya. Jika sudah ketemu, aku pastikan dia ku suruh bertekuk lutut di hadapanmu meminta maaf di lapangan sekolah. Kamu jangan takut." Tegasnya menenangkanku.


Suara tangisku sudah mulai mereda, mataku mendongak menatapnya. Tangannya memegang bahuku tersenyum tipis memberi isyarat bahwa semua akan ada waktunya. Aku membalas senyumnya dengan memaksa menarik bibirku ke atas.


Setelah perasaanku mulai menjadi tenang, Bumi mengajakku keluar. Kami melewati lorong kelas yang mulai sepi. Hanya ada beberapa murid dari anggota OSIS yang akan masuk ke ruang keanggotaan mereka.


Tiba-tiba dari arah balik tembok seseorang seperti sedang mengarahkan hp-nya ke arah kami berjalan. Bumi yang juga menyadarinya meliriknya yang kemudian di sadari oleh orang tersebut. Sosok orang memakai sweater biru, memakai topi dan memakai masker di mulutnya itu menghilang dengan segera. Bumi seketika langsung mengejarnya meninggalkan aku yang mematung. Sudah sekitar lima menit lebih Bumi belum juga muncul. Aku tidak tahu apakah Bumi menemukannya atau tidak.


Aku melangkahkan kakiku menuju tempat duduk di depan kelas yang berderet. Dengan terkejut seseorang mengagetkanku. Mataku membulat sempurna begitu tahu siapa di hadapanku.


" Li-Liona ?!"

__ADS_1


Buk !


Tubuhku terhuyung ke belakang saat tangan Liona mendorongku. Namun aku tidak sampai terjatuh, Bumi ternyata langsung menopang tubuhku. Dia baru saja tiba dan langsung menahan tubuhku mengembalikanku berdiri kembali.


" Liona ! Apa-apaan kamu ?! Kenapa kamu ada di sini ?!" Pekik Bumi emosi.


" Kenapa emangnya? Ini sekolahku juga. Jadi aku bebas berkeliaran di sini !" Liona melipat tangannya di dada dan memalingkan wajah kecutnya.


" Jangan pernah ganggu Tari. Berhenti juga untuk menggangguku !!!


Liona menoleh Bumi dengan tatapan tajam.


" Aku gak ganggu si cewek jelek ini ! Tapi dia yang udah ganggu milikku ! Makanya aku kasih dia pelajaran, biar jadi cewek harus tahu diri. Dasar lu cewek gatel ! Udah jelek, kampungan, sok-sok'an lagi mau ambil Bumi dari gue !" Telunjuk Liona menunjuk-nunjuk keningku, namun segera di tepis Bumi.


Di hadapan dua orang yang sedang emosi ini aku hanya bisa mematung membisu seperti boneka.


Cih !


Bumi meludah ke samping menatap Liona dengan amarahnya. Lalu dengan cepat tangannya segera menarik tangan Liona dengan cenngkramannya menjauh dari hadapanku. Liona tampak meringis kesakitan.


Aku tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka diskusikan. Aku hanya meratapi perasaanku yang lemah dan tak punya harga diri. Kalimat Liona yang mengataiku sungguh mengiris hatiku. Rasa sakit dan sedih bercampur. Kenapa aku harus terlibat dengan orang-orang yang justru lebih unggul dariku. Aku menghela nafas panjang, menoleh lagi bagaimana Liona yang tersenyum pada Bumi setelah tadi mereka meluapkan amarah lalu seperti berdiskusi hebat. Pada akhirnya aku menyaksikan mereka membuat kesepakatan yang tidak aku ketahui. Sementara senyum Liona terukir namun sebaliknya dengan Bumi.


Mereka berpisah setelah itu, Liona pergi ke arah lain dan Bumi kembali menghampiriku. Aku melihat di pelipisnya keringatnya bercucuran dan tampang masam yang terpasang. Ada apa dengan mereka? Emosi Bumi juga seperti sudah mereda.


" Bumi..." Panggilku pelan membaca raut wajahnya. Bumi hanya mendongak lalu tangannya menarikku menuju parkiran motor. Melihat sikapnya yang berubah dingin membisu, membuatku tak bertanya lebih jauh lagi. Aku membiarkannya kali ini. Mungkin aku tak perlu ikut campur dulu untuk masalahnya dia dengan Liona. Sekarang aku sudah merasakan gimana Liona benar-benar bisa melakukan segalanya. Ia bahkan bisa membuat tampang Bumi berubah seketika. Segitu psycho-nya Liona terhadap Bumi.


Kami berduapun pulang. Di atas motor kami saling membisu sampai aku tiba di gang rumahku. Bumi juga tak bertanya lagi kenapa aku ingin di turunkan di dekat gang saja. Moodnya benar-benar sedang tak baik. Dan aku langsung memasuki gang takut di ketahui Mamak kalau aku masih jalan dengan Bumi. Sementara Bumi langsung berlalu begitu saja.


***

__ADS_1


__ADS_2