Cinta Sejagat, Cinta Sahabat

Cinta Sejagat, Cinta Sahabat
Me Time with Mamak


__ADS_3

" Tariiii... Bangun... "


" Tariii...  Kalau gak bangun juga Mamak siram kamu pake air got. Mamak itung ya... Satu... Dua..."


" Ish ! apaan sih Mak. Aku bangun nih !" Aku bangkit dari kasurku melangkah kesal melewati tubuh Mamak di samping daun pintu dengan pandangannya yang melongo. Mungkin harusnya yang kesal Mamak, tapi ini kebalikan. Pagi ini bawaanku tidak peduli.


Aku langsung masuk kamar mandi dengan sisa kantukku mengguyur tubuhku yang layu bekas semalam berhujan air mata.


^


" Mak, hari ini mau belanja bahan kue apa aja?" Tanyaku duduk di kursi dapur dengan tangan menopang dagu di atas meja. Tatapanku kosong ke arah meja.


" Ini catatannya kan ada di kulkas udah Mamak tempel dari semalam." Jawab Mamak sambil tangannya mengeluarkan beberapa sisa bahan baku kue ke atas meja dari dalam kulkas. Aku tetap berdiam tak mengambil catatan itu.


" Ayo cepat berangkat. Ini udah jam berapa coba?"


Aku masih tak bergeming. Pandanganku masih tertuju pada meja yang terdapat bahan baku kue Mamak.


" Tari ?"


" Hm..."


" Kenapa diam aja?"


Huft ! Aku menghela nafas panjang.


" Jangan jadi pemalas. Hari ini Mamak banyak pesanan !"


" Iya Mamak. Cerewet ih !" Tukasku bangkit dari kursi mengambil secarik kertas catatan bahan kue di kulkas. Tangan dan kakiku seperti malas melakukannya. Berjalan pelan tak karuan menuju keluar pintu depan rumah.


" Tari... Awas kalau kamu belanja ada yang kurang." Pesan Mamak menyeruku. Aku tak menghiraukan ucapannya yang terkesan bawel.


Ini bukan pertama kalinya Mamak, aku belanja. Sebenarnya aku ingat semua, hanya kalau catatan tidak di bawa, Mamak akan dua kali lipat ngomelnya. Pusing aku dengarnya. Untuk hari ini aku pastikan Mamak akan lebih banyak aku diamkan. Jadi tolong Mamak jangan banyak bicara karena membuang tenaga dengan percuma. Batinku.


***


Jam tangan sudah menunjukan pukul 09.00, bahan baku kue yang di butuhkan Mamak hari ini sudah aku beli dari pasar. Memang tidak butuh waktu lama mencari bahan, karena Mamak sudah punya langganan tempat Mamak cari bahan. Dua plastik sedang di tanganku cukup merepotkan, karena bebannya juga tidak ringan. Namun Hilir mudik orang-orang belanja di pasar membuatku sulit untuk berjalan melewati keramaian. Dengan sikap hati-hatiku membawa barang bawaanku agar tetap aman dan tidak terjatuh, akhirnya dengan kelihaian tubuh menyalip, tubuhku bisa keluar juga dari keramaian. Aku hanya berjalan sedikit menuju pangkalan angkot yang antre di pinggiran pasar. Saatnya pulang naik angkot.

__ADS_1


" Pak, tolong antarkan saya ke jalan Agricolla." Ucapku saat di dalam angkot berhimpit-himpitan dengan Ibu-ibu yang belanja juga.


" Baik neng." Supir menyahut menjalankan mesin mobilnya dan berlalu dari pasar itu.


Sesampainya di tempat tujuanku, aku menurunkan belanjaanku dan mengeluarkan uang untuk membayarnya. Setelah selesai pembayaran, angkot itupun pergi.


Aku membawa plastik belanjaanku di tangan, berjalan dengan keringat bercucuran. Udara di dalam angkot memang panas sekali apalagi banyak sekali penumpangnya. Gang rumahku cukup sepuluh meteran lagi, aku berjalan menuju rumahku.


Dalam perjalananku yang cukup santai, hp di tasku berdering, aku mengeluarkannya dengan menurunkan satu plastik belanjaanku. Saat aku mengangkat tanpa melihat siapa yang menelepon, aku terhenyak saat seseorang menabrak tubuhku membuat aku terhuyung jatuh ke jalanan aspal dan menghempaskan hp-ku dari tanganku. Aku terbelalak sadar seorang wanita sama-sama terjatuh. Ia memakai sweater pink, dan wajahnya tak terlihat karena  tertutup topi dan pakai masker.


" Maaf-maaf. Aku sedang terburu-buru ! Kalau kita ketemu lagi, nanti aku ganti rugi !" Ucapnya bangkit berdiri dan seperti ia sedang di kejar-kejar hantu, kepalanya menoleh panik ke arah sebelumnya ia berlari. Dengan cepat ia lari dari hadapanku yang termangu sendirian. Setelah tubuhnya menghilang dari balik rimbunan daun-daun bergumul, dua laki-laki dewasa berlari-lari dari arah perempuan itu menabrakku. Mereka menghampiriku dengan keringat bercucuran. Aku yang baru saja bangkit langsung di todong pertanyaan.


" Dek, kamu lihat ada gadis gak lewat sini?"


" Dia gadis pakai sweater pink, topi hitam, rambutnya panjang di ikat, terus dia pakai masker. Tinggi badannya di atas badanmu lebih dikit." Keduanya bertanya saling melengkapi dengan kepanikan.


Aku melihat raut wajah mereka seperti ciri-ciri orang jahat. Tadi aku memang tertabrak oleh perempuan yang persis di tanyakan kedua laki-laki ini.


" Cepat jawab ! Kamu lihat gak?!" Tanyanya meninggi.


Aku tergagap saat nada mereka semakin menekanku.


" Halah... ngomong dong dari tadi. Lama ! Ayo Gun kita cari lagi !"


" Kemana Bos ?"


" Ke arah sana !" Tunjuk salah satu dari mereka. Aku mendengar percakapan mereka sepertinya mereka orang suruhan. Berarti perempuan itu dalam bahaya. Untung saja kedua laki-laki itu berlari ke arah berlawanan dari perempuan tadi.


'Syukurlah... Dia tadi berlari ke arah rimbunan daun bergumul itu, semoga ia selamat, Amin.' Batinku mengarah ke tempat perempuan itu menghilang.


" Ah, sudahlah. Kenapa aku harus memikirkan orang lain. Pikirkan diriku yang terlalu lama berdiri di sini !" Aku memungut bungkusan plastik yang tergeletak hampir berantakan, dan aku mengaitkan di kedua tanganku.


" Aku harus segera pulang. Mamak pasti bakal ngomel-ngomel. Aduuuhh... Ampun Mak !" Gumamku berlari kecil mempercepat langkahku masuk gang.


Sesampainya di rumah, Mamak sudah berkacak pinggang di teras rumah, aku muncul dari jalanan gang dan masuk pintu pagar. Wajah Mamak sudah memasang tampang kesal.


" Emang kamu habis dari planet mana hah?! " Nada suaranya cukup menggelegar masuk ke telingaku. Ingin sekali aku menggosok telingaku yang seperti terkena petir.

__ADS_1


" Ma-maaf Mak, tadi ada sedikit masalah." Jawabku gugup masuk rumah tanpa menghiraukan wajah Mamak yang menakutkan. Mamak mengikutiku dari belakang.


" Emang ada masalah apa?" Tanya Mamak penasaran.


" Ah, pokoknya panjang ceritanya. Nanti aja Mak, ceritanya. Udah siang tuh !" Tunjukku ke arah jam dinding di dapur. Mata Mamak juga ikut melihat ke arah jam.


" Ayo Mak di mulai bikin kuenya. Katanya banyak pesanan." Imbuhku mengalihkan Mamak.


" Halah... Semua inikan gara-gara kamu bangun kesiangan !"


" Di suruh berangkat aja tadi Mamak lihat malas gitu... Makanya jangan biasain tidur larut malam, jadinya gini kan... Bla... Bla... Bla..." Mamak ngomel kesana kemari. Sementara tanganku sibuk mengambil wadah, menaburkan bahan baku ke dalam wadah untuk membuat adonan. Aku hanya perlu menyiapkan telingaku dengan baik saja. Sesuai dengan niat pagiku tadi, aku tak akan menghiraukan ucapan Mamak. Nanti juga Mamak cape sendiri.


***


" Huh ! Akhirnya selesai juga buat kue pesanan orang." Ucapku menghela nafas. Aku meletakan tanganku di atas meja, menidurkan kepalaku di meja juga. Tak habis pikir, Mamak dari tadi membiarkan aku mengerjakan semuanya. Padahal pesanannya ini sampai tiga orang. Tapi Mamak dari tadi hanya jadi pengawas dan menelepon para pelanggannya.


Aku mendengus kesal saat Mamak tiba-tiba berucap " Mamak kayaknya udah mulai cape bikin kue, Nak." Mamak ikut duduk di samping meja.


" Apa Mak? Terus Mamak mau berhenti?" Tanyaku panik.


" Ya nanti kalau kamu udah lulus SMA."


" Tapi kan Mak, aku juga ingin kuliah."


" Ya cari duit sendirilah, masa masih Mamak aja yang biayain."


" Ya nanti aku juga kuliah sambil kerja Mak. Tapi aku belum tentu bisa ngasih Mamak uang kebutuhan makan." Jawabku memonyongkan bibir.


" Umur Mamak udah lima puluh tahun Tar... Fisik Mamak udah gak kaya dulu lagi. Sementara pesanan semakin hari semakin banyak." Mamak menunduk seperti memikirkan umurnya yang tak lagi muda. Aku tersadar menatapnya lekat, gurat keriputnya makin terlihat. Walaupun perawakan Mamak sedikit gemuk tapi tetap tak menutupi staminanya yang berkurang.


" Sabar ya Mak. Anak Mamak satu-satunya ini akan berusaha sekeras mungkin untuk membahagiakan Mamak. Aku ingin Mamak melihatku sukses nanti. Dan Mamak bisa menikmatinya." Ucapku tersenyum mengusap lembut lengannya.


" Tapi Mamak juga ingin kamu cepat menikah. Mamak ingin menimang cucu." Mamak menolehku berseri.


Glek !


Garuk-garuk kepala yang tak gatal.

__ADS_1


***


__ADS_2