Cinta Sejagat, Cinta Sahabat

Cinta Sejagat, Cinta Sahabat
Nasi uduk campur sari


__ADS_3

Jam masuk sekolah sudah di mulai. Semua murid berbondong-bondong masuk ke kelasnya masing-masing.


Aku yang sedang berkumpul dengan Dian dan beberapa teman perempuan lainnya, ikut membubarkan diri dari tempat duduk taman sekolah. Aku masuk ke kelas IPA, dan Dian masuk ke kelas IPS. Aku dan dia saling melambaikan tangan tanda kami harus berpisah sementara waktu, masuk ke kandang dulu, canda kami, nanti dilanjut saat jam istirahat.


Pelajaran pertamapun dimulai. di kelasku hari ini, mata pelajaran yang akan di bahas adalah pelajaran Bahasa Indonesia, di pandu Ibu guru berjilbab namanya bu Laila yang cantik jelita. Murid laki-laki hari itu semangat semua, Mereka selalu tersenyum merekah kalau bagian pelajaran bu Laila. Memang bu Laila ini guru muda primadona sekolah. Umurnya saja baru 23 tahun, Ia masih lajang. Banyak murid dan guru laki-laki yang masih lajang suka menggodanya dan berusaha mendekatinya. Tapi sepertinya aku melihat bu Laila cuek saja.


"Murid-murid, selamat pagi..." sapa bu Laila memulai dengan senyum manisnya.


"Pagiii buuu..." semua murid menyahut dengan gembira.


"baiklah, hari ini mari kita buka buku pelajaran halaman 112. Disitu ada materi tentang langkah-langkah membuat lamaran kerja atau kita sering menyebutnya CV(Curriculum Vitae), apakah di sini ada yang bawa contoh surat lamaran kerjanya?" tanya bu Laila melempar senyum khasnya. Matanya mengedarkan mencari siapa yang berani maju.


Aku melihat senyum bu Laila yang cantik membuatku terpesona, padahal aku seorang perempuan. karena menurutku memang perempuan cantik itu selalu indah untuk di pandang. Tapi kembali ke diriku, menyadarkan diriku kalau aku tak secantik bu Laila. jadi mungkin aku tak indah untuk di pandang. Bu Laila sedikit membuatku iri, Aku cuma menunduk lesu.


"Saya bawa bu ! " jawab salah satu murid laki-laki. membuat lamunanku buyar dan kembali wajahku mendongak ke depan.


"iya boleh tunjukkan"pinta bu Laila berjalan mendekati murid tersebut, yang ternyata si Ridwan.


"Tapi bu, sebelum saya menyerahkan, ibu harus terima dulu ya.." tawarnya.


murid laki-laki lain bersahutan mengejek Ridwan kalau dia cuma modus.


Ah, dia sih suka bertele-tele buat candain bu Laila. Sudah biasa Ridwan melakukan trik-trik aneh kalau berhadapan dengan bu Laila. Lumayan buat hiburan di kelas kalau dia sudah beraksi.


Bu Laila mengangguk, mengulurkan tangannya meminta Ridwan menyerahkan surat lamaran.


"ayo mana buruaaann..." Pinta bu Laila tak sabar.


Ridwan nyengir kuda.


"Sabar ibu cantikku... Ibu udah gak sabar ya..." Goda Ridwan. Beberapa teman laki-laki bersuit-suit seperti mendukung aksi Ridwan.


"Sebenarnya ini bukan surat lamaran kerja bu, tapi...surat lamaran nikah buat ibu dari saya..." Lanjut Ridwan tertawa cengengesan.


Hhuuuuu...


Satu kelas menghujaninya dengan sorakan dan gebrakan meja. membuat suasana kelas riuh.


Bu Laila tersenyum masam, menutup telinga. ia tahu muridnya ini suka bercanda.


"Ssstt... sudah-sudah. jangan berisik. Kembali ke buku kalian masing-masing!" perintah bu Laila menyudahi keriuhan satu kelas gara-gara Ridwan menggodanya.

__ADS_1


Sedikit demi sedikit sorakkan kami menghilang dan kembali fokus ke pelajaran.


Sampai akhirnya satu mata pelajaran pertama selesai, di lanjut dengan pelajaran lain. Gurunya pun berganti.


***


Bel istirahat berbunyi.


seluruh siswa berhamburan dengan suka cita. mereka sudah tidak sabar ingin segera ke kantin. mengisi perut-perut mereka yang kelaparan. Lima jam mereka berkutat melihat buku dan membahasnya dengan guru, rasanya ingin muntah saja. Karena sudah menjadi jadwal ketetapan dari sekolah, menjadi biasa karena terbiasa, belajar lima jam tak jadi beban berat. Hanya saja, sebenarnya mungkin dalam satu hari setiap siswa hanya mampu menangkap materi guru di sepuluh menit pertama, Berikutnya sudah buyar bersama lamunan nasi uduk, gorengan,cilok dan es bubble. Otaknya di pakai untuk berpikir makanan, ketika makanan masuk ke perut menambah kekuatan untuk otak berpikir tentang makanan lagi. begitu terus seperti pola rantai makanan.


Akupun sama seperti yang lainnya, perutku sudah tidak terkendalikan, meronta-ronta untuk di isi.


Dian muncul di depan pintu kelasku, tersenyum melambaikan tangan.


"Ayo ke kantin" Ajaknya ceria.


Aku yang di barisan kursi ketiga bagian pojok kelas menyahutinya dan mengangguk. Aku segera bangkit dari dudukku dan menghampirinya. Kami berdua beriringan sambil cerita tentang kejadian di kelas kami masing-masing dan mengeluarkan keluhan tentang banyak tugas yang di berikan oleh guru.


Sesampainya di kantin, aku dan Dian memesan makanan. Dian membeli mie ayam, sementara aku membeli nasi uduk. Sesiang ini malah aku makan nasi uduk, karena tadi pagi tidak sempat sarapan. Kalo nasi belum masuk, rasanya perutku gak bisa menerima yang lain. Kami duduk sebelahan di meja, berdua menikmati makan siang sambil di selingi obrolan dan tawa. Aku melihat beberapa kakak kelas ikut makan di barisan panjang meja kantinku.


Tangan Dian menyikutku, aku terperangah bertanya ada apa. Dian membisikkan pelan di telingaku, aku mendengarnya lalu aku mengedarkan pandangan, mataku berhenti tepat tertuju ke meja di seberang pojok, Kak Bintang ! dia bareng teman-temannya sedang minum es dan snack di selingi obrolan dan canda tawa. aku menatapnya dari kejauhan, kak Bintang fokus dengan teman-temannya. Ia tak begitu peduli dengan sekitar, apalagi aku yang sedari tadi memandanginya karena di beritahu Dian ada sosok kak Bintang di kantin.


Mataku berlama-lama menatapnya, pikiranku menerawang tentang kesenangan, Dian menatapku kacau yang bengong seperti orang kesambet.


"Tar ! Tari sadar ! hey" bisik dian sambil menyikut.


Aku tergagap, kembali sadar. aku menoleh pada Dian bertanya ada apa.


"kalau natap orang, biasa aja dong... makanya jangan cuma berani di jauh, dekat menciut. kalau suka, kejar. jangan cuma diem mengamati. entar giliran kak Bintang di ambil orang, tahu rasa kamu." Dian memperingati.


Aku memonyongkan bibirku menanggapi ucapan Dian yang tidak berpihak padaku.


"Aku bingung sih yan, gimana cara aku memulainya ! Aku benar-benar malu kalau aku yang duluan mengejarnya. Lagian juga sebenarnya aku cukup aman bersikap seperti ini, agar hubunganku dengan kak Bintang selalu baik-baik saja. Aku merasa bahagia walaupun aku hanya mengaguminya dari kejauhan. Aku cukup melihat sosmednya dan kegiatannya di sekolah" paparku berbisik.


" Tapi kan, kamu belum tahu kegiatannya di luar. Lagian yang suka sama dia pastinya gak cuma kamu. Kalau kak Bintang ternyata udah punya pacar? apa kamu akan terus menyukainya dari kejauhan?" tanya Dian memberi pilihan jawaban lain.


"Aku yakin kak Bintang belum punya pacar ! karena aku gak pernah lihat dia dekat dengan perempuan. Dia cukup menjaga jarak dengan lawan jenis. Dia hanya kumpul bareng teman-temannya. Aku stalk di sosmednya aja gak pernah posting foto cewek, atau status tentang cinta." Tegasku percaya diri.


Dian mengangguk paksa menerima kata-kataku, seperti tidak ingin berdebat denganku lagi, menyudahi makan dan mengajaknya kembali ke kelas.


Kami bangun dari duduk, tiba-tiba saat aku keluar dari meja kantin, aku membalik badan, Aku tak sengaja menabrak seseorang.

__ADS_1


Brukkk...


Tubuh kami bersentuhan terpental sedikit kebelakang sebagai reaksi tabrakan tapi tak sampai terjatuh. Seseorang mengaduh.


"Aduh, maaf-maaf aku tidak sengaja." Ucapku mengawali sambil mengatupkan kedua tangaku di wajah, mataku terpejam tidak berani menatap.


Seseorang di depanku diam saja, tak ada reaksi. Aku sedikit membuka mata mengintip, kenapa orang di depanku tak merespon.


Saat mataku terbuka jelas, pandangan kami saling beradu. Ia menatapku tersenyum menyeringai. Aku melototkan mataku.


"Hai, Tari... ketemu lagi kita." sapanya tanpa menggubris permintaan maafku.


Dian menyikutku, berbisik menanyakan siapa dia. Aku menoleh mengedipkan mataku.


"Kamu kenapa sih, dimana-mana selalu ada kamu ! pleasee... jangan ganggu aku terus. Aku mau masuk ke kelas." Ucapku mendorongnya. Aku langsung menarik tangan Dian untuk pergi dari tempat itu.


Dia menahan lenganku. Aku melototinya. Berani sekali dia menyentuhku. Aku berusaha mengibaskannya, tapi tak bisa. cengkramannya kuat.


Ish ! gerutuku meringis.


Lalu dia merasa sadar atas perlakuannya sedikit membuatku sakit, diapun melepaskannya. Mata kami masih saling beradu, aku memicingkan mata tajam. dia tetap tersenyum gila lalu wajahnya mendekat ke wajahku. Melihat dia begitu, mataku reflek terpejam ngilu. Ada suara di telingaku.


"Pulang sekolah, Aku temuin kamu di rumah" bisiknya lirih menyeringai.


Aku membuka mataku melihat ke arah sekitar. Tidak tahu bagaimana reaksi Dian dan orang-orang di sekitar melihat tingkah dia.


Wajahku memerah bercampur malu, sebal, dan salah tingkah. Dengan perasaan campur aduk, aku bergegas menarik tangan Dian melewati tubuh si laki-laki menyebalkan ini.


Dian gelagapan, aku tarik tanganya tanpa bicara. Di lorong depan kelas, Dian bertanya penasaran tentang hubunganku dengan laki-laki itu. Tapi aku diam saja langsung masuk ke kelas. Dian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkahku.


Aku duduk di kursi. wajahku berubah tak karuan. Kenapa di setiap tempat selalu bertemu dia, membuatku naik darah aja.


"Bumiii.... si laki-laki menyebalkan. pergi kamu dari otakku !" gumamku pelan sambil memukul-mukul kepalaku.


Aku tak akan pernah menemuinya saat pulang sekolah. Janjiku.


***


Semangat pagii teman-teman... mohon bantu aku semangat berkarya di sini. Aku mohon vote, like, komen. Apapun komentar kalian akan menjadi koreksi tulisannku ke depannya. silahkan yang mau ngasih solusi atau ide cerita. aku tampung disini.


SELAMAT MEMBACA.... SALAM SEMANGAT DARI AUTHOR. MUACHHH

__ADS_1


__ADS_2