Cinta Sejagat, Cinta Sahabat

Cinta Sejagat, Cinta Sahabat
Kesibukan


__ADS_3

Setelah kejadian di ruang BK yang menyebabkanku di skorsing satu minggu, hari-hariku hanya di lalui dengan membantu Mamak buat kue. Dulu aku hanya membantu Mamak buat kue di beberapa bagian yang Mamak minta, sekarang aku sudah melakukannya sendiri. Dari yang mulai belanja ke toko bahan kue, lalu menyiapkan di meja dapur, mengikuti olahan resep Mamak, sampai pada tahan oven dan packing semua aku yang kerjakan. Sementara Mamak bagian telepon beberapa pelanggan, dan Mamak seperti hanya jadi pengawas saja saat aku bekerja. Mungkin dengan cara ini Mamak menghukumku, tapi bagiku ini menjadi pelajaran yang paling berharga. Suatu nanti di masa depan, usaha Mamak ini akan aku kembangkan. Dan aku ingin mengelola semuanya, agar Mamak cukup beristirahat saja. Begitu mimpiku.


" Mak hari ini, kue yang ku bikin akan di kirim kemana ?" Tanyaku sambil mempacking beberapa jenis kue kering ke dalam toples kecil. Ada lima jenis kue yang ku buat hari ini, ada nastar keju, kukis ulat, kuker putri salju,semprit susu kres dan brownis cookies.


" Rumah di jalan Dahlia IV. Kamu udah benar sesuai pesanan ?" Tanya Mamak balik.


" Iya Mak, kan tadi Mamak udah cek."


" Ya sudah sip. 10 toples kecil ini kamu tata yang rapi di box kotak ini ya. Mamak mau nelepon yang pesannya." Mamak menyodorkan dua tingkat box dari bahan duplex untuk aku tata kue dalam toples. Aku mengangguk menerimanya. Mamak melangkah ke ruang tamu menelepon pemesannya.


Setelah semua selesai di tata, aku membungkusnya dengan plastik besar agar mudah saat di bawa. Mamak menghampiriku melihat hasil kinerjaku.


" Kata pemesannya, sore ini jam 04.00 kamu antar ya. Mamak udah minta tolong Pak Sukri tukang ojek depan gang buat anterin kamu."


" Iya Mak."


" Inikan masih siang, aku mau istirahat ya Mak. Masih dua jam aku mau tidur dulu."


" Ya sudah. Cepat istirahat. Tapi beresin meja dapurnya dulu. Itu mixer kotor sama wadahnya cuci dulu. Nih coklat bubuk juga, sisanya karetin. Rapikan, simpan di lemari biasa." Ucap Mamak cerewet.


"Iya Mak." Jawabku Malas. Hm, Mamak jadi semakin banyak menyuruhku kalau aku di rumah. Tapi gak apa-apa deh, yang penting bisa mengobati kecewa Mamak minggu lalu.


^


Akhirnya aku bisa istirahat dengan tenang. Sore nanti aku tinggal mengantar pesanan. Hari ke-empatku membantu Mamak cukup melelahkan. Sebelum tidur aku mengecek media sosialku, Iseng-iseng aku stalk profilnya Kak Bintang. Aku ingin tahu perkembangan terakhirnya apa saja setelah beberapa hari ini aku kena skors. ku tarik layar ke bawah di profilnya Kak Bintang, ada satu postingan foto siluet wajah seorang perempuan berambut panjang. Namun dalam foto tersebut tidak menyertakan sebuah judul tentang maksud foto itu. Pikiranku mulai melayang mencari maksud dari postingan kak Bintang.

__ADS_1


' Apa dia sedang jatuh cinta? dengan siapa?' Batinku.


Aku mulai teringat saat aku pulang sekolah setelah acara lomba puisi, kak Bintang sedang berpelukan di persimpangan jalan tak jauh dari sekolah. Tapi saat itu wajah perempuan itu tak begitu jelas karena tertutup rambutnya yang tergerai ke samping wajahnya.


Apa jangan-jangan perempuan itu yang ada di foto kak Bintang ? Aku menarik layar lagi ke bawah, tak ada postingan baru lagi. Aku menstalk siapa saja yang menyukai postingan kak Bintang yang mendekati siluet perempuan itu. Tapi tak ada yang mirip.


Dalam lubuk hatiku yang paling dalam, ada sedikit goresan yang cukup menandai hati bahwa aku seperti terlambat mengambil langkah. Aku terlalu percaya diri kalau kak Bintang tidak begitu dekat dengan perempuan manapun. Padahal kenyataannya, justru kak Bintanglah yang menunjukkan kalau ia sedang dekat dengan perempuan. Walaupun masih misterius.


Aku menghela nafas dalam, ku putar kejadian yang sudah lewat. Luka kalau di korek akan semakin melebar. Seperti halnya tak terima dengan kenyataan namun aku memaksa diri untuk membuka mata lebar-lebar bahwa seseorang yang ku cintai sudah memiliki tanda kepemilikan orang lain, dan itu bukan aku.


Aku menenggelamkan diri dalam khayalan tidurku. Seolah-olah kak Bintang datang menyatakan cinta padaku. Aku menerimanya dengan bahagia.


" Tari maukah kamu menikah denganku?" Senyum kak Bintang terpancar begitu nyata. Tanpa menunggu aku jawab " Iya kak. Aku mau." Mata kami saling beradu dekat sekali. Saling membaca diri dengan dua binar matanya yang bercahaya. Lalu kami berperlukan sangat erat seolah tak ingin melepaskan satu sama lain.


" Kak, jangan pernah pergi dariku ya."


Senyum terkembang di wajahku dengan mataku yang terpejam. Bermimpi itu memang indah dan bebas. Tapi Otakku menyadarkanku bahwa aku harus menelan kecewa lagi. Sadarlah Tari, kembali ke dunia nyatamu. Jangan mengkhayal.


Bulir air mata tak terasa keluar begitu saja, mataku tetap terpejam, namun otaku masih terjaga. Istirahat ini tak membuat otakku juga ikut istirahat.


Bayang-bayang Bumi dan Dian tiba-tiba hadir melewati mataku. Mereka hanya menatapku dengan ekspresi dingin. Dengan cepat mataku terbuka. Teringat sesuatu.


Ah, aku hampir melupakan mereka. Tapi Bumi semenjak panggilan terakhirnya tak ku angkat saat kejadian di skors itu, sampai hari ini dia sudah tak mengabariku lagi.


Apa kabar Bumi? Hatiku berdesir jika menyebut namamu. Ada rasa rindu yang hanya di sadari lubuk hatiku yang paling dalam. Beberapa hari ini tak bertemu seperti hati ini tak bertuan, entah pulang ke arah mana. Bumi memanglah orang yang selalu ada untukku, mengisi hari-hari persahabatan dengan keceriaan dan kejahilannya.

__ADS_1


'Bagaimana dengan sikap Mamanya ya setelah sikap Mamak begitu, apa tak ada i'tikad baik untuk bisa saling menyapa lagi? Bukankah mereka bersahabat dari dulu?' Gumamku dalam hati.


Pikiranku yang melayang jauh, mendekatkan kantuk yang mulai merasuki wajahku.


"Ahh... Daripada aku pusing, lebih baik aku istirahat." Ucapku menyesuaikan posisi tidurku dengan nyaman. Pelan-pelan aku tertidur juga.


***


Pukul setengah 04.00 sore, Mamak membangunkanku. Walaupun tidurku kurasa belum cukup, tapi aku harus mengantarkan pesanan Mamakku. Setelah beberes mandi, aku mengganti pakaianku dan menyisir rambutku. Oya, sedikit menjelaskan diriku, bahwa di sekolah aku memang memakai jilbab. Karena aturan sekolah yang membuatnya. Sementara di rumah maupun di luar aku tidak memakai jilbab. Mungkin belum dapat hidayah sepertinya, jadi belum siap menerapkan jilbab setiap ke manapun. Biarlah itu jadi urusanku. Hehe...


" Mak aku berangkat." Pamitku menjinjing satu plastik besar berisi kue pesanan. Aku memasukan nota tagihan dan hp-ku ke dalam tas kecil. Melangkah keluar gang bertemu dengan Pak Sukri yang siap mengantarku ke tempat tujuan.


" Pak, nanti pulangnya Bapak turunin aku di seberang jalan situ ya." Tunjukku mengarah ke sebuah rumah warna biru. Nomor rumah A-20.


" Kenapa turuninnya di situ neng?" Tanya Pak Sukri.


" Aku lagi ada perlu. Tapi Bapak jangan cerita ke Mamak ya."


" Emang kenapa neng?"


" Ish, udah. Bapak pokoknya ikutin aja apa kataku. Nanti ongkosnya aku tambahin, yang penting Bapak jangan kasih tahu Mamak. Oke?"


" Oke." Pak Sukri menyetujui.


'Nah, gitu dong Pak. Jangan banyak nanya. Kan enak kalau bisa di ajak kerjasama." Batinku sedikit mengkel.

__ADS_1


***


__ADS_2