
Setelah pesanan selesai di antar, sesuai permintaanku Pak Sukri menurunkanku dekat rumah blok A-20. Rumah yang pertama kali aku mengirimnya pesanan kue. Dan ini menjadi kedua kalinya aku mendatangi rumah ini. Rumah yang ku yakini adalah rumah Bumi.
Langkahku sedikit ragu-ragu. Sebenarnya aku bingung gimana cara aku menemui Bumi, sementara aku sangat malu sekali sudah beberapa hari tak saling kontak. Kalau tiba-tiba dia ada disini aku akan lebih malu lagi. Untuk tujuan apa coba aku kesini, akan sangat aneh jika menjawab dengan alasan mengikuti kata hati. Ya padahal kenyataannya itu sih.
Rumah tingkat dua yang cukup megah itu memang cocok untuk kawasan elit di sini. Sebenarnya aku sangat minder kalau aku bisa berteman dengan Bumi. Dari ukuran rumahku dan rumahnya saja jika di bandingkan, mungkin rumahku seukuran ruang tamunya saja.
Berdiri lama-lama dan terpaku di depan gerbang rumah orang akan membuat orang curiga, namun aku ingin sekali hari ini bertemu dengan Bumi. Di perjalanan tadi aku sudah menyusun kata-kata. Ada beberapa yang ingin aku sampaikan, diantaranya ingin minta maaf soal sikap Mamakku, bertanya kenapa dia sudah tak mengabariku, bertanya gimana sikap Mamanya setelah kejadian itu, dan ada kemajuan tidaknya mengungkap masalah siapa dalang di balik jebakan foto asusila itu.
Terpaku dalam lamunan, jiwaku tersadarkan saat sebuah mobil di depan memberi klakson. Mataku tertuju pada mobil hitam hendak masuk ke gerbang yang terhalang olehku. Aku menyingkirkan tubuhku dari depan gerbang itu. Dari arah dalam rumah, seorang penjaga keluar berlari membuka kunci gerbang dan membukanya. Mobil itu masuk tapi berhenti setelah melewati gerbang. Posisiku mematung seperti sedang menonton acara mobil masuk melewati gerbang rumah. Tiba-tiba seseorang dari pintu kemudi membuka pintunya, sosoknya menyita perhatianku. Ternyata orang yang ku tunggu dari sejak tadi. Dengan pakaian kemeja biru yang terbuka penuh menampilkan dalaman kaos putih santai dan celana jeans robek robek di lututnya, sepatunya juga sangat sporty. Dia menghampiriku semakin dekat, aku menatapnya terpana. Bumi dengan tampilan seperti ini membuat jantungku berdegup kencang. Ah, perasaan apa ini.
Tanpa ku sadari seorang perempuan di belakang Bumi menyusul keluar dari pintu sampingnya lagi. Tampak berjalan anggun dengan tampilan pakaiannya sangat fashionable. Gadis itu memakai kacamata hitam, rambut curly, dan dress cantik sepahanya. Saat kacamatanya di buka, aku tersadar siapa yang ada di depanku saat ini.
" Tari... Kenapa kamu di sini?" Tanya Bumi menemuiku keluar gerbang.
Mulutku menganga membisu. Mau menjawab mataku terfokus siapa yang berada di samping Bumi sekarang.
" Sayang... Kenapa ada cewek jelek kesini?" Ujung matanya mendelik melihat tampilanku dari ujung kaki sampai ujung kepala.
" Berhentilah memanggilku seperti itu Liona !" Gumam kecil Bumi menekan. Aku sedikit mendengarnya kalau Bumi seperti sedang menutupi sesuatu.
" Ma-maaf Bumi... Ak-aku kesini hanya kebetulan lewat aja. Ma-maaf tadi aku tidak sadar menghalangi mobilmu." Jawabku menunduk mencoba menutupi gugupku.
" Memangnya kamu habis dari mana?"
" Ak-aku habis... An-antar kue."
" Aduh... Bumi... Ayo kita masuk. Ngapain kamu ngeladenin cewek jelek ini ! Males berurusan sama orang miskin." Sela Liona.
" Diam Liona !" Bentak Bumi menoleh tajam ke arah samping Liona. Wajah liona mengkerut.
__ADS_1
" Apa ? Kenapa kamu bentak aku ? Karena ada dia?" Cih !
Liona menunjuk diriku dengan nada menghina. Jarak tubuh kami terpaut dua meteran sementara aku tetap menunduk tak berani menatap mereka.
" Ma-maaf aku udah ganggu kenyamanan kalian, permisi." Ucapku membalik badan.
" Sana lu pergi ! Jangan datang ke rumah ini lagi, jijik gue lihat lu ! Hus !" Usir Liona. Aku hendak melangkah pergi namun tanganku tertahan oleh cengkraman Bumi. Liona yang melihat tindakan Bumi, berusaha melepaskan cengkramannya dari tanganku, namun tidak bisa. Bumi tetap mengabaikannya.
" Tar... Untuk saat ini kita jangan berhubungan dulu ya. Aku minta maaf udah bikin kamu kecewa."
Kepalaku menolehnya, aku melirik sebentar reaksi Liona yang menatapku tajam. Terdengar ia mendengus kesal. Aku melihat sikap Bumi hari ini sudah menjawab semua tanyaku kenapa ia tak mengabariku beberapa hari ini. Dengan lembut aku melepaskan cengkraman tangan Bumi.
" Iya gak apa-apa Bumi... Aku juga minta maaf atas sikap Mamakku waktu itu. Semoga kamu bahagia setelah aku tahu ini." Ucapku tersenyum dan kembali mengarah jalanan utama. Di seberang sana gang rumahku sudah terlihat.
" Tar..." Lirihnya.
" Permisi." Akhirnya aku melangkah jauh dari tempat itu dan tidak menoleh ke belakangku lagi. Langkahku lebih di percepat, aku ingin segera sampai rumah. Aku tidak mau tahu apakah Bumi masih berdiri mematung di sana atau sudah di gandeng Liona ke dalam rumahnya.
***
Sesampainya di rumah, setelah memberikan uang pelunasan dari pesanan orang pada Mamakku, aku langsung menuju kamarku dengan perasaan yang ingin aku luapkan.
Huuuu... Hiks !
Aku menangis sesenggukan meluapkan emosiku. Aku tidak tahu perasaan apa ini yang membuatku menangis saat terbayang Bumi dan Liona dalam satu mobil. Mengingat ucapan Bumi waktu itu katanya tak memiliki hubungan apapun. Tapi hari ini mereka menunjukkan seolah punya hubungan. Bahkan Liona menyebut panggilan 'sayang'. Apa mereka sebenarnya sudah pacaran dari sejak dulu? Aku memang tidak berhak terhadap kehidupan Bumi, dengan siapa dia berhubungan. Harusnya aku sadar, Bumi lebih dulu mengenal Liona daripada aku. Aku juga harus sadar siapa aku di mata Bumi. Hanya seorang sahabat.
Ingat itu Tari... Huuu... Hiks.
Aku menangis sejadi-jadinya. Menelungkupkan wajahku ke bantal agar suara tangisku tak terdengar Mamak di dapur. Sekarang aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Aku terasingkan oleh orang-orang yang ku sayangi. Rasanya ingin sekali aku menghilang dari muka Bumi ini.
__ADS_1
^
Malam semakin larut. Tubuh yang terpakai untuk menangis telah terkulai lemah di pinggiran kasur. Kakiku beringsut menggeser ke arah jendela membuka tirainya. Wajahku mendongak menuju Langit kelam yang dipenuhi bintang-bintang. Di atas sana satu bulan bersinar terang. Mereka jadi temanku malam ini dan malam-malam berikutnya.
" Tuhan... Kapan aku di cintai oleh seorang laki-laki yang baik yang mau menerimaku apa adanya?"
Di hp, aku membuka aplikasi pemutar musik. Aku pasang earphone di telingaku memutar lagu-lagu kesukaanku. Malam ini aku putar lagu Sheila on7- Berhenti Berharap, yang akan menemaniku sampai aku tertidur lelap. Dan esok semoga lekas pulih dari kesedihanku.
Aku pulang...
Tanpa dendam...
Ku terima... Kekalahanku
Rebahkan kalbumu
Lepaskan kau perlahan
Kau akan mengerti semua
Aku berhenti berharap
Dan menunggu datang gelap
Sampai nanti suatu saat
Tak ada cinta ku dapat
" Selamat tidur kekasih orang lain..."
__ADS_1
Tes ! Air mataku terjatuh.
***