Cinta Sejagat, Cinta Sahabat

Cinta Sejagat, Cinta Sahabat
Kabar baik


__ADS_3

" Oh, ya maaf. Jadi gini, kemarin aku menemukan hp tergeletak di jalan agricola, aku bermaksud menghubungi orang yang dekat dengan pemiliknya. Jadi aku menghubungi nomor ini. Maaf juga, aku tidak ada niatan jahat. Aku hanya ingin mengembalikan saja." Penjelasan dari ujung sana membuatku tertegun.


Hp-ku ada yang menemukannya? Apakah masih ada orang baik di dunia ini?


" Halo?" Suara di ujung sana menyadarkanku.


" Eh, iya maaf. Saya, saya pemilik hp itu !" Jawabku gelagapan antara senang, bingung, dan tidak percaya menjadi satu.


" Yasudah, mau di antarkan atau kamu yang ambil ?"


Sejenak aku berpikir baiknya gimana. Kalau dia yang mengantar kesini, akan lebih banyak tidak enaknya, dan aku belum bisa menebak sikap Mamak jika tahu hp-ku ada di tangannya, tapi kalau aku yang mengambilnya, ini bukan jebakan kan?


" Halo? Adakah seseorang yang mendengar?" Suara di sana seperti tidak sabar.


" Um, ada. Gimana kalau kita ambil jalan tengahnya aja, kita ketemuan di mana gitu biar lebih nyaman." Jawabku sambil otakku berpikir mencari tempat yang pas.


" Besok aku bisa. Tapi setelah aku ujian sekolah."


Apa? Dia anak sekolah !


" O-oh begitu. Gimana kalau kamu ke sekolah saya aja. Tapi di luarnya setelah ujianmu selesai. Nanti saya kabarinya lewat hp ini."


" Sekolahmu di mana?" Tanyanya lagi.


" Di SMA DARMA. Kamu tahu?"


" Ah iya tahu aku. Baiklah aku setuju.  Sampai bertemu, bye Oktaviana Mentari." Balasnya mengakhiri tanda sepakat. Dia mengucapkan kalimat terakhir seolah ia sudah akrab denganku sebelumnya.


Aku menghela nafas setelah panggilan itu di tutup.


" Siapa yang menelponmu?" Tanya Mamak yang sejak tadi memperhatikan, tapi tidak mendengar percakapanku.


" Seseorang yang menemukan hp-ku Mak !" Balasku sumringah.


" Ya Allah Syukurlah... Ketemu juga. Masih rezeki kamu itu Nak." Balas Mamak ikut senang juga.


" Iya Mak. Alhamdulillah..." Aku memeluk Mamak menggerak-gerakkan tubuh Mamak karena kegirangan. Mamak yang merasa sesak sulit bernafas memaksa membuka dekapan tanganku.


" Udah ! Udah ! Mamak engap !" Huh ! Huh ! Hah ! Mamak membuang nafasnya yang tersengal. Aku minta maaf karena tak sadar berlebihan.


" Karena hp-nya ketemu, kembali ke bukumu lagi tuh ! Belajar !" Mamak menunjuk dengan matanya mengingatkan.


" Siap bos !" Balasku menaikan tangan kananku memberi hormat pada Mamak. Mamak hanya menggeleng kepala melihat tingkahku.

__ADS_1


Hari ini benar-benar kabar yang baik. Semangat sekolah lagi !


***


Hari yang di tunggupun tiba juga, aku bisa menikmati belajar dengan baik lagi. Walaupun tidak begitu padat seperti hari biasanya, setidaknya mendapat catatan-catatan baru dari guru untuk persiapan ujian akhir semester, kurasa cukup.


Lingkungan sekolah dan sikap teman-teman dua minggu yang lalu masih sama dan sedikit menjaga jarak. Namun ada beberapa dari temanku juga yang seperti sudah melupakan kejadian itu begitu saja. Sekarang aku merasa sudah tak setegang waktu itu. Aku sudah bisa menikmati gimana menghadapi mereka.


Sesuai dengan janji, hari ini aku akan bertemu seseorang. Aku mengirim pesan ke nomor yang kemarin meneleponku.


Kamu udah selesai belum ujiannya?


Ting ! Tak lama balasan masuk.


Aku udah di dekat sekolahmu


Apa? Mataku terbelalak mengetahui dia lebih dulu tiba di sekolahku.


Oke. Gimana kalau kita ketemu di warung dekat sekolah.


Baiklah.


Akhirnya kakiku langsung keluar gerbang menuju warung yang sudah di sepakati. Semoga tidak ada Bumi di sana. Karena aku harus menjaga jarak sementara demi mengikuti permainan Bumi.


Sesampainya di sana, memang keberadaan Bumi hari ini tidak ada di sana, hanya beberapa temannya saja yang sedang merokok dan minum kopi. Aku duduk di antara deretan bangku warung itu sambil mataku mengedarkan ke beberapa arah, mungkin saja perempuan di telepon itu sudah berjalan di sekitar sini.


Pikiran burukku terus berseliweran. Tapi logikaku selalu menangkis pikiran negatif itu untuk alasan ' Semoga benar dia orang baik'.


Sampai akhirnya aku memesan minuman dingin untuk menambah kesabaranku di situ. Saat aku sedang meneguknya, seseorang menepuk pelan meja tempatku duduk. Aku terperanjat menoleh seseorang yang berdiri di sampingku.


" Kamu yang namanya Oktaviana Mentari?"


Seorang gadis dengan paras cantik. Rambutnya yang terurai panjang dan kulitnya yang bersih, senyumnya juga manis membuatku sebagai perempuan menjadi seperti terpaksa di pukul mundur.


" Aku duduk di sini ya. Maaf kenalin aku Luna yang kemarin nelepon kamu."


" Hah? Eh, maaf. Iya aku Oktaviana Mentari. Panggil saja Tari." Aku tergugup menunduk membenarkan posisi duduk yang kurang nyaman.


" Kamu udah nungguin lama banget ya di sini?"


" Lumayan, hehe..."


" Tadi aku ada keperluan mampir ke sekolah ini."

__ADS_1


Aku perhatikan perempuan ini bukan seperti orang yang baru aku lihat. Seperti pernah melihatnya tapi di mana, aku tidak begitu jelas waktu dan tempatnya.


Aku mencoba memberanikan diri bertanya.


" Maaf sebelumnya, apa kita pernah kenal sebelumnya, aku kayak pernah ketemu kamu, tapi aku kayak lupa gitu tempatnya di mana."


" Masa kamu lupa? Kita memang pernah ketemu saat aku gak sengaja nabrak kamu di jalan arah perumahan."


Mataku membulat memastikan. Dia menatapku dengan menaikan alis sambil tersenyum.


" Jadi gini ceritanya, aku memang minta maaf sekali udah nabrak kamu waktu itu bikin belanjaanmu berantakan. Aku sebenarnya lagi di kejar orang-orang suruhan, mereka ingin mengurungku di sana aku tidak mau. makanya aku kabur. Dan saat aku bersembunyi  di semak-semak aku melihat kamu di datangi dua orang laki-laki itu. Aku yakin pasti mereka menanyakan ke arah mana aku pergi. Dan syukurnya kamu tidak memberitahuku. Aku sangat berterimakasih sama kamu." Paparnya tersenyum.


Aku hanya membalas senyum ketir.


" Oya, terus saat aku kembali ke jalan itu lagi kamu udah gak ada. Padahal aku mau minta maaf dan ngucapin rasa terimakasihku. Dan tak sengaja aku menemukan hp-mu yang sudah rusak karena mungkin terbanting. Akhirnya inilah salah satu caranya aku bisa ketemu kamu lagi dan mengembalikan hp-mu." Dia mengeluarkan hp milikku. Dan menyodorkannya di meja.


" Tapi kenapa kamu tahu namaku?" Tanyaku mengkerutkan dahi.


" Ooh itu ! Haha... Jadi gini, aku dapat namamu dari id number kamu lewat telepon operator sim card kamu. Sekalian aku servis hp-mu karena udah rusak. Ini semua gara-gara aku, jadi aku mohon maafin aku ya...?" Ucapnya memohon dengan sendu.


Aku hanya menatapnya membisu. Bagaimana aku bersikap pada perempuan yang sebenarnya sok akrab ini. Dia menemukan hp-ku, berterimakasih dengan menservisnya, setelah bertemu dia meminta maaf karena udah menabrakku. Aku sampai tak berpikir ke arah sana, kalau perempuan ini benar-benar jujur dan tulus.


" Tari ?" Ia menyadarkankanku.


" Ya... Aku maafin kamu." Jawabku tersenyum.


" Kamu serius?" Matanya membulat. Aku mengangguk.


" Yeahhhh... Makasih Tari... !" Serunya sambil kedua tangannya mengepal ke udara.


" Kalau gitu, biar aku yang traktir kamu hari ini. Kamu bebas mau beli apa aja di sini."


" Eh, gak perlu. Makasih." Tolakku dengan halus.


Ia berhenti dari sikap hebohnya, tiba-tiba matanya berubah sendu.


" Kenapa? Ini sebagai permintaan maafku."


" Bukan, bukan maksudku begitu, kamu kan sudah jauh-jauh datang kesini untuk ngembaliin hp-ku. Kamu juga udah benerin hp-ku. Jadi ini terlalu berlebihan kalau aku masih di traktir olehmu." Jawabku merasa tidak enak hati.


Dia menghela nafas dengan pandangan lurus ke depan, lalu menolehku serius.


" Kalau gitu, gimana kalau aku traktir hari ini sebagai tanda awal pertemanan kita?" Ucapnya.

__ADS_1


APA ? Dia mau jadi teman baruku?


***


__ADS_2