Cinta Sejagat, Cinta Sahabat

Cinta Sejagat, Cinta Sahabat
Surat Panggilan Orang tua


__ADS_3

"Nih, buatmu !" Tangan kanan Bumi menyodorkan satu cup es krim rasa coklat. Dan tangan satunya lagi ia memegang es krim yang sama untuknya. Mataku membelalak.


" Makanlah ! Jangan cuma di lihat, nanti mencair." Lanjutnya. Tanganku menerimanya.


" Makasih." Ucapku sambil membuka penutup cup es krim itu. Dan pelan-pelan mengecapnya, rasa manis dan aroma coklat mendominasi. Tanpa pikir panjang aku melahapnya, menikmati tiap sendoknya yang lumer di mulut berpadu sensasi dingin menyegarkan.


" Gimana rasanya ?" Tanyanya kemudian setelah ia juga memasukan beberapa sendok es krim ke mulutnya.


" Rasanya manis, aku suka. Ini enak banget !" Jawabku menaikan kedua bibirku sambil mata membulat. Ia tersenyum berseri. Hm, senyumnya seperti rasa es krim ini.


" Tahu gak? Kalau kita makan es krim sama orang yang kita suka itu bisa menaikkan mood."


" Emang iya?" Tanyaku penasaran. Tiba-tiba aku memutar bola mataku menoleh padanya.


" Maksudmu, kita?" Lanjutku memastikan.


Bumi hanya mengangguk tersenyum. Menoleh ke arahku yang mulai salah tingkah.


" Apa sih kamu gak jelas!" Ucapku memukul bahunya. Dia hanya tertawa. Aku menyaksikannya tidak mengerti.


" Aku cuma bercanda Tar. Kamu kayak percaya gitu, Hahaha... Terus mukanya merah lagi." Dia mengejekku ternyata. Ku pukul lagi bahunya beberapa kali karena aku merasa gak terima.


" Aku cuma ingin hibur kamu, Tar." Imbuhnya setelah tertawanya sudah berhenti.


" Iya, iya makasih." Balasku judes. Memalingkan wajahku ke arah lain. Aku meliriknya seperti dia curi-curi pandang mau meledekku lagi. Cuma aku pura-pura pasang wajah serius. Kebiasaannya ini selalu menjadi hobinya, ketika aku menganggap suatu hal serius, ternyata ia hanya bercanda. Aku cukup berlapang dada saja.


" Gimana sekarang perasaannya?" Tanyanya kemudian setelah es krimnya sudah habis, sementara aku masih beberapa suapan lagi. Matanya fokus memandang ujung danau yang jauh.


" Perasaan apa?" Tanyaku panik menoleh wajahnya. Aku hati-hati mencerna kata-katanya yang suka menjebakku membuatku suka ke-geer-an.


Dia menghela nafas, aku masih memperhatikan raut wajahnya, apakah dia sedang serius atau bercanda.


" Ya setelah kamu ke danau ini, dan makan eskrim bersamaku?" Imbuhnya.


" O-oh ..." Aku menghela nafas.


" Aku merasa lebih baik." Jawabku cepat.


" Baguslah." Ucapnya.


" Bagus apanya?"


" Ya bagus. Kalau aku berhasil bikin kamu gak sedih lagi." Ia menolehku tersenyum. Dua binar matanya seirama dengan segaris senyumnya.


" Makasih ya Bumi... " Balasku tersenyum lega mendengar kata-katanya yang manis. Selama ini memang kalau di pikirkan, perlakuannya padaku selalu istimewa. Hanya saja aku tidak boleh salah mengartikan, karena aku ingin terus bersahabat dengannya. Aku juga harus menjaga hati ini untuk kak Bintang. Iya, hanya dia, Bintang hatiku.


^

__ADS_1


Setelah kami menyelesaikan makan es krimnya, aku mulai ingin bicara serius padanya. Aku menoleh ke arahnya yang lagi sibuk main game.


"Bumi..."


" Iya..." Matanya masih tertuju di layar hp-nya.


" Kamu udah cari tahu siapa yang menjebak kita?"


Ia terdiam sejenak, lalu menghentikan game-nya dari hp-nya. Ia menoleh ke arahku serius.


" Aku tahu. Tapi... Dia gak mau ngaku."


" Siapa?" Tanyaku penasaran.


" Liona."


Mataku membulat sempurna.


" Kamu yakin?"


Bumi mengangguk.


" Aku yakin karena dia gak ada sangkut pautnya sama kamu, tapi dia menyangka kamu ada hubungan sama aku. Padahal sebenarnya kita sahabatan. Cuma aku belum nemu bukti yang akuratnya. Kita gak bisa nuduh dia sembarangan, karena aku udah tahu gimana dia dulu. Apapun akan dia lakukan demi mencapai tujuannya."


Aku meremas jemariku.


"Memang benar, ini pasti ada hubungannya dengan Liona. Karena sebelum ada dia, aku tidak pernah tersangkut masalah apapun dengan orang lain." Batinku.


Aku mengangguk tersenyum mempercayainya. Ya aku memang tidak bisa berbuat apa-apa, menyerahkan semuanya pada Bumi. Apalagi ini menyangkut Liona.


" Kalau gitu gimana kalau kita pulang." Ucapnya kemudian.


" Oh, Iya. Aku hampir saja betah di sini, padahal di hp udah nunjukin jam 01.00 siang. Gak terasa ya ! Ya sudah, Ayo." Ajakku bangkit dari dudukku di kursi itu di ikuti Bumi juga.


Huh ! Hampir setengah hari berdua di situ, meluapkan kesedihan di dalam hati, lalu menuai kedamaian di danau yang tenang. Akhirnya pulang juga ke rumah dan akan mengaku kalau habis pulang sekolah, seperti tidak terjadi apa-apa.


***


Sesampainya di depan rumah, Bumi berpamitan padaku dan melajukan motornya berlalu. Aku memasuki rumah dalam keadaan hati yang tenang. Aku menyalami Mamak yang sedang bersantai nonton tv di ruang tamu. Tubuhku langsung mengarah menuju kamarku, namun tertahan dengan kalimat Mamak.


" Kamu habis dari mana?"


" Sekolah Mak. Emang pakai baju seragam gini dari mana?" Jawabku berbalik badan menghampirinya duduk di sofa sebelahnya Mamak. Aku perhatikan raut wajah Mamak seperti kurang suka dengan jawabanku. Tumben sekali hari ini raut wajah Mamak sedikit di tekuk.


" Kedepannya kamu gak usah ketemu lagi sama si Bumi itu. Jangan mau di ajak main kemanapun." Lanjut Mamak membuat dahiku mengernyit.


" Kenapa Mak?"

__ADS_1


" Pokoknya gak boleh ya gak boleh !" Jawab Mamak meninggi membuat mataku mengerjap.


" Ya alasannya apa Mak... " Aku memegang tangan Mamak mencoba mencerna maksud Mamak.


" Aku dan Bumi baik-baik aja Mak. Dia juga gak macam-macam sama aku, dia orang baik Mak..." Rajukku menjelaskan sikap Bumi yang selama ini tak pernah bermasalah. Lagipula bukannya Mamak tempo hari itu begitu akrab di ruang makan sama Bumi. Kenapa tiba-tiba jadi bicara seperti ini.


" Ini apa?" Mamak melemparkan amplop panjang ke arah meja. Mataku terbelalak. Menebak isi dalam amplop itu, jangan-jangan Mamak sudah tahu.


" M--Mamak dapat dari siapa itu?"


Mamak memalingkan wajahnya ke arah lain dengan bibir kecutnya.


" Mamak dapat dari temanmu di sekolah." Ucap Mamak membuat jantungku terhenyak.


" Kenapa kamu ketakutan seperti itu?" Tanya Mamak menyelidik.


" Kamu bikin masalah apa di sekolah, Hah?" Lanjut Mamak menekan.


Pikiranku mencerna ucapan Mamak yang terakhir, apa Mamak belum tahu aku buat masalah apa? Kalau benar, berarti yang di dalam amplop itu bukan yang aku maksud di pikiranku. Namun, sebenarnya aku takut sekali menyentuhnya.


Dengan ragu-ragu aku menyentuh benda di meja itu, apa benar di sini tidak ada foto-fotoku bareng Bumi? saat mulai ku buka perekatnya, jantungku berpacu cukup cepat. Aku takut apa yang ku khawatirkan ternyata benar adanya. Aku memejamkan mataku sambil sedikit mengintip, saat ku keluarkan ternyata hanya berupa satu lembar kertas terlipat. Tidak ada apa-apa lagi di dalam amplop itu. Mamak memperhatikan gelagatku yang membuat Mamak semakin curiga.


" Baca isinya." Perintah Mamak.


Aku mengikuti ucapan Mamak, ku buka lipatannya.


" Surat panggilan Orang tua." Ucapku. Aku terbelalak.


Apa ini maksudnya? kenapa Mamak sampai harus di panggil. Apa masalah foto itu? Tidak. Mamak jangan sampai terlibat. Kenapa masalah ini bisa cepat sekali menyebar. Aku melihat wajah Mamak yang dari tadi di tekuk memberikan kesimpulan kalau Mamak bicara agar aku menjauhi Bumi, berarti seseorang itu sudah cerita hal-hal aneh dan... Dan dia yang sengaja mengirim surat dari sekolah ke sini.


" Mak... Tadi yang ngantar surat ini siapa? Mamak tahu namanya?" Tanyaku buru-buru.


Mamak menatapku penuh selidik. Segera aku menundukan wajahku agar Mamak tak bisa membaca raut wajahku.


" Tadi yang ngantar ke sini namanya Reina." Jawab Mamak. Aku mengernyitkan dahi.


APA? Reina. Kenapa dia bisa terlibat? Untuk apa dia memfitnahku seperti ini. Lalu yang di bilang Bumi, Liona?


" Mamak, dia ngomong apa aja sama Mamak?"


" Kenapa sikapmu jadi seperti ini Nak?"


" Eng-enggak kenapa-napa Mak." Jawabku lemas.


"Awas ya, kalau sampai kamu bikin masalah besar di sekolah, Mamak gak segan-segan menghukummu !" Ancam Mamak bangkit dari duduknya melangkah ke kamar.


" Mak... Tapi Mak... Tolong dengar aku." Mamak melambaikan tangan menolak. Sepertinya Reina sengaja ke sini, meracuni Mamak dengan mengataiku apa saja. Aduh, aku harus gimana lagi ini.

__ADS_1


Pikiranku Buntu. Aku menghela nafas panjang. Pasrah.


***


__ADS_2