
Seperti sebuah kalimat sakti. Setiap ucapan Bumi padaku selalu tak pernah ia ingkari. Ia selalu menepatinya walaupun ia tak pernah mengatakan kata 'sumpah' atau kata 'Janji' di awal ucapannya.
Pukul 04.00 sore Bumi mengajakku ke suatu tempat yang tak jauh dari tempat tinggalku. Hanya saja aku memang tidak pernah ke tempat itu sebelumnya. Pemandangannya sangat menakjubkan. Memang tempat kalau sudah di kelola oleh para pemilik usaha ternama akan menjadi sesuatu yang bernilai. Kawasan itu memang letaknya dekat dengan hunian dan perkantoran. Daerah tempat tinggalku memang sudah di sulap menjadi kawasan elit dan indah.
Aku mengedarkan mataku ke sekeliling tempat saat Bumi memarkirkan motornya. Dari tampak depan di desain seperti Mall namun tiap tenantnya tak di batasi dinding. seperti sebuah taman rekreasi dan bersantai. Karena di dalamnya terdapat minimarket, foodcourt, bioskop, playground bahkan sebuah danau yang cantik. Aku hanya berdecak kagum kenapa aku sampai sebesar ini tak hafal tempat ini. Ya memang ini seperti lebih banyak orang kaya dan pegawai kantoran yang datang kesini hanya untuk minum kopi atau bersantai di pinggir danau. Sementara aku lebih banyak di rumah menghabiskan waktu bantu Mamak bikin kue.
Bumi menuntunku ke sebuah danau bersih dan menyejukkan. Tempat duduk berderet si beberapa tempat yang jarak antara kursi satu dan lainnya sekitar lima meter. Kami mendudukan pantat kami di sebuah kursi panjang. Mata kami memandang ke arah danau itu.
Sore itu suasana cukup ramai. Banyak sekali yang duduk di kursi sekitaran danau. Ada wanita yang sendirian main hp sambil minum kopi khas barista masih memakai jas kantornya, ada pula laki-laki anak kuliahan yang main game dengan hebohnya, bahkan ada satu keluarga kecil terdiri seorang Bapak dan Ibu beserta anak usia empat tahun sedang ber-swafoto bersama dengan tersenyum, perasaan mereka seolah mengalirkan kehangatan untukku.
"Tari..." Bumi tiba-tiba menyadarkan lamunanku.
"Ah, iya. Maaf..." Aku gelagapan saat tersadar.
" Kamu lagi merhatiin siapa?" Tanya Bumi melirik mataku mengarah kemana. Dengan segera aku langsung mengalihkan mataku menatapnya.
" Um..Maaf, aku... Hanya melihat pemandangan sebuah keluarga yang bahagia."
" Apa mereka benar bahagia?" Tanya Bumi seolah ingin membahas yang ku maksud.
"Aku gak tahu. Tapi dari mereka berfoto bersama sambil tersenyum membuatku rindu." Jawabku menunduk.
"Um, maaf sebelumnya. Aku kan emang kenal Mamakmu, tapi aku tidak melihat Ayahmu ?" Tanya Bumi pelan meraba ekspersiku.
"Ayah? Mamak selalu menyebutnya Abah. Abah udah meninggal dari aku lahir." Ucapku trrsenyum tipis dengan mata memandang ke arah danau yang luas.
"Oh maaf... Apa kamu pernah melihat fotonya ?"
Kepalaku menoleh ke arahnya. Aku menghela nafas dalam.
"Pernah. Tapi hanya di KTP saat Abah umur 27 tahun dan KTP Abah yang terakhir sebelum ia meninggal."
"O-Oh begitu... Aku turut berduka cita Tar. " Bumi menyentuh tanganku.
Aku tersenyum menatapnya mengangguk.
"Bisakah kita cerita ke topik yang lain?" Ucapku mengalihkan pembicaraan agar aku tak semakin sedih dan kesepian.
" Eh, iya. Kita kan kesini bukan untuk bersedih Tapi untuk bahagia." Bumi tergugup.
"Um... Bumi... Soal kejadian tadi di sekolah, aku mau nanya soal cewek yang kamu sebut Liona itu siapa?" Tanyaku memulai ke intinya.
Bumi terdiam tanpa ekspresi. Ia hanya menghela nafas dan seperti malas membahasnya.
"Nanti aku jawab. Tapi kamu tunggu dulu, aku mau membelikan minum di minimarket itu." Bumi bangkit menunjuk sebuah toko minimarket.
Mataku berputar. Huh ! Seperti biasa selalu di buat menunggu dan penasaran.
Selang tak berapa lama, Bumi kembali membawa dua botol minuman jeruk dan beberapa camilan di plastik.
__ADS_1
"Katanya beli minuman, kenapa beli camilan juga?" tanyaku saat Bumi menyodorkan satu botol untukku.
"Aku takut kamu lapar. Kan gak enak kalau ngobrol tanpa ngemil." Ucapnya sambil duduk di tempat semula dan meletakan plastik isi camilan di antara kami.
"Iya sih. Cuma kamu boros banget. Tiap kemana aja jajan. Aku kan jadi gak enak di bayarin terus di beliin kamu terus." Ucapku nyerocos.
Bumi meletakkan botol minumnya dan menoleh ke arahku.
" Aku paling gak suka ada cewek mempermasalahkan apa yang udah aku beri. Cewek manapun itu. Yang terpenting kamu gak kecewa kalau jalan sama aku." Ucapnya membuat pikiranku sedikit mengarah maksud lain.
" Hm... Aku udah ke berapa cewek yang sering kamu jajani?" Tanyaku iseng menelisik.
Sejenak ia seperti serius berpikir sambil menghitung jarinya.
" Mungkin... yang ke seratus."
"APA?!" Mataku terbelalak.
Sesaat dia tertawa terbahak-bahak membuatku sedikit mengernyit.
" Kamu mau aja di bohongi sama aku. Hahaha.." Bumi tertawa lagi dengan kepolosanku.
"Ish ! Aku serius. Kenapa kamu tertawa ?" Tanyaku mendengus kesal mengalihkan badanku membelakanginya.
"Hey lihat aku kesini ! Mentari sebentar lagi akan tenggelam..." Ucapnya mencoba menarik lenganku tapi selalu ku tepis.
"Apa maksudmu ? dari tadi kamu mainin aku ! Cara bercandamu itu tidak lucu !" Kepalaku menoleh ke arahnya dan memberi ibu jari terbalik ke bawah mengejek sikap bercandanya. Ia tetap menertawakanku dengan senangnya
" Terus apa maksudnya kamu bilang Aku bentar lagi bakal tenggelam? apa kamu sengaja ajak aku kesini untuk melemparku ke danau ini Hah? aku kan gak tahu kalau kamu punya niat jahat sama aku." Tanyaku meledak-ledak.
Hahaha...
Ia tertawa lagi? hobi sekali mengejekku. Semakin membuatku mengepalkan tanganku siap meninjunya.
"Tari... Tari... Kamu tuh polos banget. Aku seperti berpikir kalau aku salah memilih sahabat. Hahaha..." Ia tergelak lagi menahan perutnya.
Dan dengan satu tinju mengenai pipi kanannya, satu lagi mengenai pipi kirinya. Aku menjambak rambutnya habis-habisan. Ia tersadar menahan tanganku yang meninjunya dengan kesal. Dia bertanya aku kenapa melakukan itu, tak ku gubris dengan emosiku yang memuncak. Badan Bumi tetap tertahan di kursi itu, ia akhirnya menghentikan tanganku yang bergerak ke arahnya sambil mulutnya tak henti memanggilku.
"Tar.. Tari sadarlah! Apa kamu sedang kesurupan?"
"Hey, jaga bicaramu Bumi ! Berapa kali kamu bikin ucapan yang membuatku marah." Ucapku dengan suara meninggi.
" Tari ! Berhenti ! Lihat aku !" Ucapnya penuh tekanan. Kedua tangannya memegang tulang pipiku dengan kuat membuatku tak berkutik dan menurutinya.
" Aku minta maaf kalau setiap aku bercanda membuatmu marah. Hanya aja, gak semua ucapan siapapun itu di masukan ke dalam hati. Entah itu orang bercanda atau serius. Belajarlah cara membaca sikap dan ucapan orang." Tegasnya melembutkan suaranya.
" Ma-maaf Bumi.. Mungkin aku masih datang bulan. Jadi bawaannya sensitif terus." Ucapku menunduk malu. Tersadar sikapku yang tadi berlebihan.
Tiba-tiba suara bersuit-suit muncul dan beberapa orang di sekitar kami menyeru kami.
__ADS_1
" Udah jadian aja. Kalian cocok." Ucap mereka heboh menggoda kami yang saling bersitatap bingung.
Dengan sadar Bumi melepaskan tangannya dari kedua pipiku. Kami saling membenarkan posisi salah tingkah. Karena orang yang melihat kami salah duga. Mereka menganggap sejak kami bertengkar lalu baikan seperti orang pacaran kebanyakan. Padahal kami meributkan hal konyol yang tidak ada manfaatnya. Karena malu akhirnya Bumi mengajakku mengelilingi pinggiran danau. Suara orang sekitar yang menggoda kami semakin tidak terdengar.
Aku curi-curi meliriknya yang berada di sampingku.
"Bumi... Maaf ya gara-gara sikap berlebihku membuat kita jadi canggung seperti ini." Ucapku sambil menunduk.
Langkahnya berhenti, aku pun mengikutinya. Ia menghadap ke arahku. Sorot mata kami saling beradu.
"Aku maafin kamu." Balasnya hangat.
"Aaah.. Makasih Bumi. Kamu emang sahabat terbaikku seperti Dian." Ucapku memejamkan mata. Tampak kilau cahaya matahari sore yang semakin naik menyorotiku.
" Siluet wajahmu yang terkena matahari membuatku terpesona." Gumamnya pelan hampir tak terdengar.
"Apa ?! Kamu tadi ngomong apa?" Tanyaku membuka mata.
" Eh, enggak ! Lihat mentarinya bentar lagi akan tenggelam." Jawabnya menyadari ucapannya dengan mengalihkan mataku ke arah matahari yang di tunjuknya.
Aku tersenyum simpul.
Hm, sepertinya kamu pintar bersilat lidah. Batinku tertawa.
Kami berjalan-jalan lagi sambil berbagi camilan. Tak lama serombongan angsa di pinggir danau sedang menyeberang. Mereka beruntun ke belakang dengan teratur berjalan. Tak ada yang saling mendahului. Aku terpukau menatapnya.
"Bumi... Lain kali kita bisa kesini lagi ya. Aku suka tempat ini ! Danau ini dan angsa ini." Ucapku sumringah.
" Iya. Terserah. Setiap pulang sekolah kita kesini juga aku siap kok."
" Serius?" Mataku membulat.
Ia mengangguk senyum.
" Ye... Makasih Bumi..." Ucapku berputar-putar di tempat. Bumi hanya mentertawaiku.
^
'Huh, Bumi... Bumi... Cuma sama kamu dan Dian yang memperlihatkan sifatku yang ceria ini. Selebihnya aku kembali menjadi gadis pendiam dan cuek.' Gumamku pelan menatap langit atap kamarku.
" Aduh sepertinya aku melupakan sesuatu?" Gumamku memutar mataku untuk fokus berpikir. Sejenak belum ku temukan apa yang masih mengganjal di pikiranku. Tiba-tiba mataku membelalak menepuk jidat.
"Ah, aku melupakan jawaban dari Bumi 'Siapa Liona' ?!"
Dasar Aku ! Kebangetan. Hal yang penting malah di lupakan. Sementara tadi di danau aku dan Bumi menghabiskan waktu dengan bercanda. Ah, Ya sudahlah. Esok masih bertemu.
Aku merebahkan tubuhku dan beristirahat. Besok sekolah jangan sampai kesiangan. Tekadku.
***
__ADS_1
Semangat pagii teman-teman... mohon bantu aku semangat berkarya di sini. Aku mohon vote, like, komen. Apapun komentar kalian akan menjadi koreksi tulisannku ke depannya. silahkan yang mau ngasih solusi atau ide cerita. aku tampung disini.
SELAMAT MEMBACA.... SALAM SEMANGAT DARI AUTHOR. MUACHHH