Cinta Sejagat, Cinta Sahabat

Cinta Sejagat, Cinta Sahabat
Tragedi Ponsel hilang#1


__ADS_3

Glek !


Garuk-garuk kepala yang tak gatal.


Aku memutar bola mata menjauhkan kepalaku dari Mamak.


" Aku masih kelas satu SMA Mak... Masih jauuuhh.... Sekali !"


" Ya makanya kamu gak usah kuliah lah, nikah aja. Percuma Nak, kuliah tinggi-tinggi kalau akhirnya kamu di dapur juga."


Hm, pemikiran kolot. Batinku.


" Mak, emang salahnya dimana kalau yang kuliah  akhirnya ke dapur juga? Kan kuliah buat menuntut ilmu, kalau di dapur melaksanakan kewajiban melayani."


" Lagipula jadi Ibu rumah tangga juga, kita harus berpendidikan Mak. Kalau tidak ? Gimana dengan nasib anak aku kedepannya Mak. Bukannya kita harus punya generasi yang lebih baik?"


Mamak menatapku dengan menaikan kedua alisnya.


" Benar juga sih apa katamu, Nak. Tumben kamu pintar ?" Mamak berdiri tergelak.


"Hem..." Aku memutar bola mataku bangkit dari kursi.


" Biarpun begini, aku masih masuk sepuluh besar di kelasku Mak. Jadi aku gak bodoh-bodoh amat." Ucapku berlalu ke kamar. Mamak terkekeh mendengar kalimatku.


Aku berlalu masuk kamar. Merebahkan badan yang sudah sangat lelah. Sore ini aku mengantar dua pesanan, dan satu pesanan lagi Mamak yang antar, karena rumah pemesannya dekat.


Selama terkena skors, hariku di kuras untuk bantu Mamak. Baru juga lima hari bantu Mamak, aku merasakan capek yang luar biasa. Memang tumben sekali saat aku sedang seperti ini, pesanan Mamak selalu ada saja setiap hari. Memang sih satu bulan lagi puasa sebentar lagi, orang-orang persiapan minta di buatkan kue cukup banyak. Ah, tidak sia-sia juga aku di skors. Ternyata sekolah mengasihani Mamak untuk aku membantunya di rumah. Anggaplah ada hikmahnya dibalik ini semua sebagai hiburanku saja. Walaupun rasa sakitnya belum sembuh, sementara sudah cukup membuat Mamak menghukumku dengan cara baik.


Otot dan tulang-tulang dalam tubuhku yang mengeras kembali ku lenturkan agar melunak. Saatnya kalian istirahat ya, usap-usap pijatku ke bagian tubuh yang pegal.


Hoamm...


Kantukku tak terelakan. Akhirnya Akupun tertidur.


***


Jadwal pengantaran kuepun di lakukan sore ini, aku mengemas dua boks pesanan ke dalam plastik. Di bahuku tas kecil sudah terselempang yang isinya nota dan uang kembalian. Dan Pak Sukri seperti biasa menunggu di depan sebagai pemilik kendaraan yang siap mengantar sampai tujuan.


" Pak, ini ada dua boks. Kita antar ke yang jauh dulu ya."


" Siap neng..." Pak Sukri meng-gas motornya, cuuss kami berangkat.


" Neng, pulangnya saya turunin lagi di rumah itu gak?" Tanya Pak Sukri keluar dari gang menunjuk dengan mulutnya ke arah rumah kemarin yang ku pinta.


" Gak usah Pak. Udah gak ada urusan lagi."


" Oh... Kirain, ada seseorang yang neng samperin !"


" Ih, apaan sih Pak !"

__ADS_1


" Udahlah neng, saya tahu. Apalagi dari pangkalan ojek mah kelihatan neng dari sini."


" Wah... Pak Sukri diam-diam ngintai saya ya Pak? Jangan-jangan suruhan Mamak lagi ?!"


" Enggak lah neng, buat apa. Kasihan sama neng nya, yang penting mah jaga diri baik-baik neng."


" Iya sih Pak ! Ya sudah fokus bawa motornya. Biar cepat sampainya." Aku menepuk bahu Pak Sukri.


" Siap neng... Gass terusss..." Pak Sukri mempercepat laju motornya.


Begitulah percakapan Pak Sukri denganku. Ternyata dia tahu hubunganku dengan Bumi bagaimana. Tapi Pak Sukri tidak tahu kalau kami hanya bersahabat. Biarlah penilaian orang lain dengan pikirannya masing-masing.


***


Sesampainya di tempat tujuan pertama, seperti biasa memberikan nota tagihan dan barangnya. Lalu pelanggan Mamakpun menerima dan membayarnya. Setelah pesanan pertama selesai, aku dan Pak Sukri melanjutkan ke rumah berikutnya. Tiba-tiba di perjalanan pikiranku mulai tersadar. Ada sesuatu yang aku lupakan.


" Pak Sukri ! Stop ! Stop ! Stop !"


Motorpun menepi di pinggiran jalan yang aman dengan melihat situasi di jalanan tersebut.


" Ada apa neng?" Kepala Pak Sukri menoleh ke samping.


" Pak, kayaknya hp-ku ketinggalan Pak?"


" Ketinggalan di mana?"


" Lah... Saya sih gak tahu neng. Tadi gak begitu merhatiin. Emang neng yakin kalau neng keluarin hp di sana? Takutnya di rumah."


" Kalau emang yakin, saya serius nih balik lagi. Coba ingat-ingat dulu." Pak Sukri bertanya serius memastikan.


Dalam keadaan cukup panik menyadari hp-ku tak ada di tas kecilku, aku di pinta berpikir memastikan. Aku memang tak benar-benar yakin mengeluarkan hp-ku di tempat rumah tadi, karena yang aku sadari hanya selembar nota dan uang kembalian saja. Tapi kalau tidak memastikan balik lagi kesana, mungkin ikut terjatuh atau gimana gak akan tahu. Tapi ini sudah setengah jalan menuju rumah pesanan satunya lagi.


" Neng, saya putar balik lagi ya, kali aja masih rezeki neng. Sayang hp-nya neng." Pak Sukri menawarkan.


" Tapi Bapak gak keberatan kan?" Tanyaku. Aku jadi tidak enak sama Pak Sukri.


" Sama Bapak mah, gasss teruss neng..." Jawabnya sambil menancapkan gas motornya berbalik ke tempat sebelumnya.


^


" Pak, saya minta maaf ya, udah ngerepotin Bapak." Di perjalanan arah pulang setelah mencari hampir ke semak-semak dekat rumah itu. Tapi tak ada benda apapun yang mirip hp-ku. Tak mau membuat curiga orang lain yang lewat di jalanan itu, aku meminta Pak Sukri menyudahi pencariannya dan kembali ke arah jalan rumah pesanan kedua.


" Gak apa-apa neng, saya mah tulus kok. Yang penting neng udah usaha nyari biar gak penasaran. Mungkin aja hp-nya di rumah."


" Iya kali ya Pak. Tapi saya tidak ingat." Ucapku lemah dan kecewa.


Pikiranku mencoba mengingat-ingat keberadaan hp-ku jika memang di rumah. Tapi aku dari semalam tak merasa menggunakan hp-ku. Dan aku tak ingat terakhir aku menggunakannya di mana. Aku meyakini hp-ku di bawa hari ini karena selalu di simpan dalam tas ketika melakukan pengantaran kue. Ah, semoga benar ada di rumah.


Sesampainya di rumah, aku menyerahkan uang pelunasan seperti biasa pada Mamak. Kakiku langsung menyeret tubuhku ke kamar, mencari hp-ku di beberapa tempat.

__ADS_1


Aku menyingkap sprei kasur, bantal, mencari di meja belajar, beberapa sudut ruangan kamarku yang lain, namun aku tak menemukan keberadaan hp-ku.


" Hp... Hp... Di mana kamu?" Gumamku sambil tanganku mencari di area ruang tamu dan dapur. Mamak yang tampak beberes, menatapku yang kebingungan.


" Kamu cari apa?"


Aku tidak menghiraukan pertanyaan Mamak sampai Mamak mengulang dua kali, aku baru menyadarinya.


" Um... Aku cari hp-ku Mak."


" Emang kamu taruh di mana?"


" Aku gak tahu. Makanya aku cari di area sini. Kali aja ada."


" Coba kamu misscall."


Ting ! Ide Mamak pinter juga. Aku yang begitu bodoh tak terpikir kesana karena kepanikanku. Mamak menyerahkan hp kecilnya ke tanganku. Aku memencet nomorku melakukan panggilan.


Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi. Tut !


Beberapa kali aku mencoba melakukan panggilan tetap informasinya sama.


" Sudah ketemu?" Tanya Mamak keluar dari kamar. Aku menggeleng kepala. Dahi Mamak mengernyit.


" Kamu yakin tidak jatuh di mana gitu?"


Aku memejamkan mata, fokus mengingat terakhir aku gunakan hp-ku. Sejenak belum menemukan ingatan terakhir di mana aku memakainya. Aku mulai merunut aktifitasku dari semalam. Aku mulai ingat hp-ku semalam di gunakan memutar musik lagu-lagu galauku. Lalu setelah itu.... Ah, ya ampun aku ingat sekarang !


" Mak, hp-ku tadi pagi terakhir aku pakai saat aku pulang dari pasar."


" Terus ?"


" Aku tidak sengaja menjatuhkannya di jalanan depan arah sini, saat aku tertabrak seorang gadis yang lari dari orang jahat Mak..."


" Maksudnya gimana?" Tanya Mamak belum paham. Akhirnya aku menceritakan kejadian sebenarnya pada Mamak.


'Berarti hp-ku masih di sana atau sudah raib ya, ada yang menemukannya?' Batinku bertanya-tanya.


Tanpa banyak melamun, aku segera berjalan cepat keluar rumah.


" Kamu mau kemana?" Tanya Mamak menyeru.


" Aku mau cari hp-ku !"


" Hey... Nak. Bentar lagi malam..."


" Sebentar aja Mak.Semoga masih ada di sana Mak." Seruku menjauh dari rumah.


***

__ADS_1


__ADS_2