Cinta Sejagat, Cinta Sahabat

Cinta Sejagat, Cinta Sahabat
Kesalahan fatal


__ADS_3

Lomba Peringatan hari Kartini berlangsung hari ini. Dian sebagai panitia tampak sibuk membantu panitia-panitia yang lain dalam menyelenggarakan beberapa perlombaan. Aku mengedarkan pandangan mencari sosok yang ingin aku lihat di acara ini. Aula sekolah sudah di penuhi murid-murid yang antusias menyaksikan perlombaan. Sekolah juga membebaskan gerbang sekolah terbuka, hari ini semua di bebaskan tidak belajar.


"Kak Bintang kok belum ada ya? padahal acara baca puisi tinggal setengah jam lagi." gumamku bingung. Mau bertanya sama Dian, ia sangat sibuk sekali. Tak lama dari kejauhan sosok yang di tunggupun tiba. senyumku mengembang menatapnya berjalan ke arahku, dari arah belakangnya seseorang yang ku kenal menyentuh pundaknya, mereka saling berbicara satu sama lain seperti sudah kenal lama sebelumnya.


Deg


'Bumi dan Kak Bintang'


Mataku terbelalak mereka berdua jalan ke arahku. Aku meremas jemariku saat mereka semakin dekat, keduanya menyapaku. Kak Bintang duduk di kursi sebelahku, sementara Bumi duduk di barisan belakangku. Tubuhku seketika terkunci, bibirku seperti tertutup rapat. Coba kamu tebak bagaimana rupa wajahku berada di antara laki-laki tampan?


Sudah seperti kepiting rebus yang siap di makan.


"Kamu udah siap tar puisinya?" Tanya kak Bintang menyadarkan dari kebisuan.


"Ah, eh i-iya kak. Aku udah siap !" Jawabku lantang. Aku menutup mulutku menyadari suaraku cukup keras. Aku reflek minta maaf dan langsung menunduk. Aku benar-benar tak berani menatap mata kak Bintang yang berada di sampingku. Seharusnya aku senang bisa duduk sebelahan dengan kak Bintang, tapi jantungku tak bisa di ajak kompromi, meloncat kesana kemari dan berdetak lebih kencang dari biasanya. Aku harus menyembunyikan rasa gugupku sebelum kak Bintang dan Bumi menyadarinya.


"Hey...Boleh aku lihat puisimu!" Bumi merebut cepat kertas puisi yang ku pegang. Aku tergagap menyadari Bumi membungkukkan Badannya ke arah samping tubuhku.


"Ja-jangan!" Cegahku merebut kembali. menyembunyikan.


Bumi tersenyum menyeringai.


"Kenapa memangnya? kamu pelit banget!" Tanya Bumi penasaran.


"Eng-enggak ken-kenapa-napa !" jawabku menggeleng kepala.


"Padahal aku cuma pengen tahu gimana puisimu." ucap Bumi kecewa.


"Aku Malu." Gumamku pelan menunduk. Semoga mereka tak mendengar ucapanku yang ini.


Kak Bintang yang melihat tingkah kami menyudahi untuk tidak berdebat. Tibalah salah satu siswa sebagai MC mulai memanggil satu persatu peserta yang ikut lomba puisi. Akhirnya kami kembali fokus ke depan menyaksikan tiap peserta baca puisi karya sendiri. Aku meremas jemariku, telapak tanganku lumayan berkeringat. Aku melirik Bumi fokus ke hp seperti tidak mempermasalahkan kejadian tadi, dan kak Bintang mengamati setiap peserta yang membacakan puisi.


Tibalah saat MC memanggil kak Bintang. Ia bangkit dengan percaya diri naik ke panggung kecil. Kemudian ia benarkan posisi mic-nya lalu dengan wajah tampannya membuat para murid perempuan riuh bertepuk tangan. Tak lama beberapa detik suasana hening, bibir pujaan hatiku masih tertutup. Lalu ia menghela nafas dan membuangnya di dekat mic, hingga suara helaan nya yang lembut membuat para perempuan ikut terhanyut. Aku menatapnya dengan seksama tak sadar aku menelan ludah. Tak lama ia langsung membuka mulutnya membaca puisi dengan penuh penghayatan.


Puisi


Kartini Sang Bidadari


Karya Bintang Maulana Ibrahim


 


Wahai Namamu,


Wahai Ibumu,


Kumohon dengarkan aku


sang pujangga ini sedang kesepian


Angin tepi laut menyapu di sepanjang pantai


nyiur bergoyang menikmati irama


Rindu bergejolak menginginkan dirimu

__ADS_1


Wahai, namamu


Wahai Ibumu


Kemanakah seorang perempuanku ini ?


kemanakah perempuan pemberani ini?


mengapa saat ini,


aku sudah tidak menemukannya


angin tepi laut menyapu di sepanjang pantai


nyiur bergoyang menikmati irama


Namamu Kartini


sang bidadari di hati


hingga kita mati


"Terimakasih." ucapnya mengakhiri melempar senyum. Satu aula berdiri memberikan tepuk tangan yang meriah tak terkecuali aku. Kak Bintang memang luar biasa. Aku selalu merasa dia yang paling hebat yang akan aku perjuangkan saat waktunya tiba. Dia turun dari panggung lalu menghampiriku duduk di kursi dia sebelumnya.


"Hebat lu bro, Selamat !" Bumi menyalami dan menepuk bahu kak Bintang dengan mata yang takjub. Ia mengangguk menerima penghormatan dengan rendah hati. Aku menolehnya dengan rasa bangga.


"Peserta berikutnya, mari kita panggil Oktaviana Mentari dari kelas X IIIIIPPAAAA..."


Deg. Mc memanggilku. Bagaimana ini? Aku berdiri mematung, sebuah tangan menyentuhku lembut, Aku meliriknya.


APA?! Kak Bintang menyemangatiku? aku menoleh ke arah Bumi, ia juga seperti melakukan hal yang sama menyemangatiku sambil tersenyum. Aku seperti mendapat berkali-kali lipat kekuatan dari luar namun di dalam relung hatiku ada rasa ketakutan. Aku melangkah naik ke panggung mendapat sambutan tepuk tangan dari para murid, meskipun tak segemuruh saat kak Bintang tampil. Tak lama, suasana aula semakin hening menyisakan helaan nafasku yang semakin sesak. Aku mencoba percaya diri, aku harus menganggap ini hanya perlombaan biasa. ku arahkan pandanganku ke arah penonton.


Puisi


Cinta yang Agung


"Karya Oktaviana Mentari"


 


Adalah ketika kamu menitikkan air mata


dan masih peduli terhadapnya


Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih


menunggunya dengan setia


Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain


dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku


turut berbahagia untukmu..’


Apabila cinta tidak berhasil

__ADS_1


Bebaskan dirimu


Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya


dan terbang ke alam bebas lagi


Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya


Tapi ketika cinta itu mati


kamu tidak perlu mati bersamanya


Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu


menang


MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika


mereka jatuh


"Terima kasih." Ucapku menyalakan keriuhan tepuk tangan. Aku tersenyum lega, ku edarkan pandanganku ke arah kursi ka Bintang, ia tidak ada di tempatnya. Hanya ada Bumi dengan tatapan dingin. Aku turun dari panggung menuju kursiku, Bumi tak memberikan ucapan selamat seperti dia melakukannya ke kak Bintang. Aku meremas jemariku, tubuhku bergetar. Aku sedikit merasa mengakui kalau mereka tahu aku telah melakukan kesalahan. Tapi aku tidak tahu apa benar dugaanku atau memang kak Bintang keluar karena sedang ada keperluan.


Bumi menghela nafas kesal, ia bangkit dari duduknya membisikkan ke telingaku.


"Harusnya kamu bisa menjadi dirimu sendiri." Ucapnya berlalu. Aku terperanjat menyaksikan hal ini.


Aku langsung keluar aula mencari kak Bintang. Aku harus menemuinya, mencari tahu tentang sebuah penjelasan.


Aku mencarinya di beberapa lorong kelas tidak ada sosoknya. Aku cari lagi sampai ke tiap sudut sekolah tetap tak menemukannya. Aku menghela nafas pasrah. Mungkin dia sudah pulang.


Aku berjalan gontai menuju gerbang sekolah, mataku kosong tak tentu arah. Saat langkahku mengarah jalan pulangku, aku melihat ada sebuah mobil hitam terparkir di pinggir jalan, tak sengaja mataku menangkap seseorang tengah memeluk kak Bintang. Langkahku terhenti, kaku tak bertenaga, mataku nanar apa yang aku saksikan. kak Bintang berpelukan dengan seorang perempuan berambut panjang. Siapa dia ?


Saat itu juga aku langsung berlari melewati mereka dengan langkah dan perasaan kalut. Aku tidak mengerti kenapa aku harus bersikap seperti ini. Aku tahu aku mencintainya diam-diam, tapi aku tidak terima saat kak Bintang tak menolak berpelukan dengan perempuan berambut panjang itu !


Aku masuk ke rumahku dengan air mata yang sudah merembes kemana-mana. Ingatan tentang kak Bintang berpelukan membuatku menangis tersedu-sedu. Kenapa hari ini aku melewati hari yang menyesakkan. Aku menjatuhkan tubuhku, wajahku menelungkup pada bantal yang basah karena air mata. dari luar pintu mamak sedang menggedor-gedor pintu yang terkunci. Ia menanyakan keadaanku tapi aku tak hiraukan. Akhirnya mamak menyerah merasa tidak berhasil membuatku keluar kamar.


Aku yang dari Sore menangis sesenggukan, malamnya aku merasa kelelahan. Otakku lelah akupun tertidur.


***


Entah kenapa tengah malam aku terbangun, aku melihat ke sekeliling kamar seperti ruangan yang hampa. Ku lihat pakaian sekolahku masih tertempel di tubuhku. saat ku lewati cermin, kantung mataku mengembung membuat lingkaran hitam di bawah. Aku mengganti bajuku dengan malas. Aku tidak akan cuci muka, lebih baik aku lanjutkan tidurku. Tiba-tiba hp di meja berdering, aku mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelpon.


"Hallo?" sapaku malas.


"Besok kita bertemu di taman belakang sekolah!" suara dari ujung telepon dan langsung dimatikan.


Aku mengernyit mendengar suara sebentar langsung di tutup tanpa permisi. Siapa yang tengah malam menyempatkan meneleponku. Benar-benar tidak ada kerjaan. Gumamku meletakkan hp lalu ku rebahkan tubuhku.


Aku melanjutkan tidurku.


***


Semangat pagii teman-teman... mohon bantu aku semangat berkarya di sini. Aku mohon vote, like, komen. Apapun komentar kalian akan menjadi koreksi tulisannku ke depannya. silahkan yang mau ngasih solusi atau ide cerita. aku tampung disini.


SELAMAT MEMBACA.... SALAM SEMANGAT DARI AUTHOR. MUACHHH

__ADS_1


__ADS_2