Cinta Sejagat, Cinta Sahabat

Cinta Sejagat, Cinta Sahabat
Perkenalan


__ADS_3

Hallo, Namaku Oktaviana Mentari, biasa di panggil Tari. di tahun 2014 ini umurku 16 tahun, tepat di bulan Oktober. Zodiakku Libra. Aku sekarang duduk di kelas X IPA. Aku seorang gadis pendiam kalau di sekolah, dan cuek kalau di luar alias jarang peka terhadap lingkungan. Kesukaanku baca novel, nonton film komedi romantis , tambahan bonus favorit, mendengarkan puisi dari suara suara merdu yang selalu di siarkan radio di penghujung malam sabtu. Oiya, Aku paling takut ketinggian, tapi aku penyuka tantangan. Aku gadis biasa saja, rumahku biasa saja, aku tinggal bareng ibuku, Bapakku sudah lama meninggal sekitar seusiaku. tampangku juga tidak begitu cantik, hanya sedikit imut kalau lagi tersenyum, Itu sih kata teman-temanku, entah bohong atau tidak. Tapi aku selalu menganggap wajahku jelek. Lalu aku selalu bercermin di cermin lemari bajuku sambil berkata "aku cantik gak sih?"tanyaku bicara sendiri. Hampir selalu aku bertanya pada cermin dengan kalimat yang sama ketika aku sedang tidak percaya diri. Tapi tetap tidak pernah ada jawaban.


Sampai aku iseng gila berteriak di cermin sekali lagi "aku cantik gak sih?"


"Iya kamu cantik" tiba tiba muncul jawaban suara dari luar jendela.


Aku terdiam menatap cermin. Siapa yang sore begini ada di sekitar rumahku? Aku berjalan mendekati arah suara. Ku buka sedikit jendela, tanpa pemberitahuan muncul sesosok kepala laki-laki teriak mengagetkan.


Whoaaa...


Puk ! Puk ! Tanganku replek memukul kepala itu.


Auwww... kepala itu bereaksi menghindar sambil tertawa. Mataku menatap tajam.


"Kamu ?! Kenapa kamu ada disini ?! Kamu coba mengintip kamarku ya?!" Teriakku.


Kepala itu menyundul menemukan wajahku. Mata kami saling beradu. 'Laki-laki yang sok akrab tadi pagi?' Tanyaku dalam hati.


Hahaha...ia tertawa tanpa penjelasan. Ku pukul lagi kepalanya. Ia kesakitan menyerah minta ampun.


"Maaf,maaf aku tidak sengaja. Aku bukan mau ngintip kamarmu, tapi mau ngintip kamu ganti baju! Hahaha..." tertawanya usil.


"Kurang ajar...! Aku laporkan kamu ke mamakku!" Teriakku mengancam sambil tanganku terus memukul kepalanya.


Ia mulai menutupi kepalanya pakai kedua tangannya.


"Tidak ! Aku hanya bercanda. Jangan serius !"cegahnya


"Aku kesini hanya kebetulan lewat rumahmu, lalu saat aku berjalan, aku dengar suara teriakkan...


'cermin, katakan padaku bahwa aku adalah gadis yang paling cantik di muka bumi ini!" Jawabnya dengan lantang sambil melirikku usil, lalu ia tertawa dengan ucapannya.


Aku melotot tak terima. Ia membuat bualan yang bikin telingaku sakit. Keterlaluan memang dia,menyebalkan !


"Tidak ! Aku gak bilang begitu ! Pergi sana !" Usirku tak terima.


"Heyy... jangan terburu-buru mengusirku...harusnya kamu malu bicara sendirian di cermin. Lama-lama kamu bisa gila kalau seperti itu terus" ia menyeringai.


"Isshh... dasar laki-laki nyebelin ! Pergi kamu ! Atau aku bilang ke mamakku!" Ancamku.


"Coba saja kalau kamu berani, yang ada kamu bakal di tanyain ...'siapa laki-laki yang di kamarmu?'hahaha" tantangnya mengejek tak mau kalah.


"Mau mu apa hah?! Kenapa sore sore gini kamu iseng ke sini !" Selidikku kesal. Aku menyilangkan kedua tanganku di dada.


Ia menatapku tajam sambil tersenyum, aku terpana. Lalu aku palingkan wajahku yang bersemu merah.

__ADS_1


'Aduh kenapa dia menatapku seperti itu?'gumamku bikin gugup.


"Jangan takut. Aku cuma pengen kenalan sama kamu !"


Deg


Ia ulurkan tangannya masuk di antara jendela. Aku terpaku. Glek ! Aku menelan ludah.


"Kenalin, namaku Raksa Bumi Sadewo. Panggil saja aku Bumi."


Aku tetap bisu dan tak membalas uluran tangannya.


"Aku tahu namamu. Men-ta-ri ! Kamu kelas X IPA kan?"lanjutnya mengeja namaku sambil tersenyum.


Aku masih bisu.


"Ohiya kalau kamu gak keberatan,aku kasih tahu rumahku" ia tak menghiraukan aku yang tiba-tiba bisu. Ia lalu menunjukkan letak rumahnya dengan jarinya. Mataku seperti ikut terhipnotis mengikuti telunjuknya yang mengarah ke seberang jalan menunjuk ke rumah besar tingkat dua . Dari kejauhan terlihat rumah nuansa biru langit yang berpagar cat hitam, didalamnya terparkir satu mobil warna hitam.


Aku melongo. 'Kenapa rumah si cowok menyebalkan ini dekat dengan rumahku ?! Ishh gak terima' gumamku dalam hati.


Ia tetap fokus menatap wajahku dengan tersenyum usil. Membuat aku sedikit risih.


"Lalu,kenapa kamu bisa ada di sini? Sementara rumahmu di seberang jalan?"tanyaku sinis. Akhirnya kebisuanku tiba-tiba hilang berubah menjadi keingintahuan.


Ia tersenyum usil lagi. Buat ku ingin menjitaknya.


"Hah? Emang ada?"aku balik tanya.


Setahuku di belakang rumahku cuma ada rumahnya pak brewok yang anaknya masih kecil.


"Ada" jawabnya singkat.


"Heh, emang aku bisa di bohongin ! Ngomong aja kalau kamu mau main ke rumahku ! Di gang barisan sini yang sepantaran aku gak ada. Cewek ataupun cowok. Adanya anak masih kecil, anak pak brewok. Kalau gak sebelahnya lagi rumah bu rukminah, ibu-ibu lanjut usia." Katakku sinis.


Ia tertawa lagi. 'Gila ni cowok.' Kataku dalam hati.


"Oh begitu, yasudah berarti aku main ke rumahmu!" Katanya sambil tergelak.


Ishh.. menyebalkan. Umpatku. Aku pukul kepalanya lagi. Ia menghindar minta ampun tanpa pergi dari jendelaku.


Tiba-tiba dari arah pintu mamak memanggil.


"Tariiii... kamu lagi bicara sama siapa?"


Aku kaget buru-buru ku tutup jendela tanpa menghiraukan si kepala yang terlempar kejedot.

__ADS_1


Auwww... ringisnya tak ku gubris.


"Awas kau cewek galak! Ku beri pelajaran nanti. Tunggu aja" suara ancaman dari luar jendela. senyum seringainya masih melekat di bibirnya sambil berlalu.


Tanda bahaya mulai mendekat.


***


Mamak?!" Tanyaku dag dig dug saat ku buka pintu kamar.


Mamak menatap curiga. "Kamu ngobrol sama siapa di dalam?"


"Um...ak-aku...gak ngobrol sama siapa-siapa kok mak !" Jawabku garuk garuk kepala yang gak gatal.


Mamak masuk celingak celinguk mencari seseorang ke kamarku.


"Tadi mamak dengar ada suara di kamar, jangan-jangan kamu menyembunyikan orang tidak jelas ya?!"selidik mamak sambil berjalan ke arah jendela yang sedikit terbuka. Aku langsung jalan cepat mencegahnya.


"Eh eh mamak...gak ada apa-apa. Bukan siapa-siapa kok !" sergahku cepat menghadang mamak membuka jendela.


Jantungku berpacu cukup cepat. Takut ketahuan kalau ada si laki-laki menyebalkan di luar.


"Kenapa kamu begitu takut?"tanya mamak selidik


"Jangan bohongi mamak. Kalau kamu tidak menyembunyikan seseorang, kamu tidak akan bersikap seperti ini."


"Umm...mak ! Aku serius gak bohong. Gak ada yang aku sembunyikan. Tadi...tadi aku lagi ngobrol sama cermin, hehe" dalihku nyengir kuda. Mamak mengernyit belum percaya.


"Oiya mak ! Bukannya mamak punya pesanan kue dari langganan mamak ya? Ayo aku bantuin mak." Aku mengalihkan pembicaraan memegang kedua lengan mama mengajak ke dapur.


Raut wajah mamak berubah tampak seperti kembali ingat sesuatu. Dan lupa dengan penyelidikannya. Ia menepuk jidatnya.


"Aduh...untung kamu ingetin mamak ! Mamak baru ingat kue yang di oven. Jangan-jangan gosong lagi." Jawab mamak buru-buru keluar menuju dapur.


Aku menghela napas lega. Akhirnya selamat juga. Aku lihat ke luar jendela, sudah tidak ada si laki-laki sok akrab itu.


"Syukurlah...dia sudah pergi" gumamku mengelus dada. Ku tutup lagi jendela, langit sudah menunjukkan lentera kuning tanda maghrib. Akupun beranjak siap-siap menuju kamar mandi ambil wudhu.


"Tariii buruan sholat ! Habis itu bantuin mamak bikin kue !" Teriak mamak dari dapur.


"Ia maaakkk... "jawabku sambil keluar kamar.


***


Semangat pagii teman-teman... mohon bantu aku semangat berkarya di sini. Aku mohon vote, like, komen. Apapun komentar kalian akan menjadi koreksi tulisannku ke depannya. silahkan yang mau ngasih solusi atau ide cerita. aku tampung disini.

__ADS_1


SELAMAT MEMBACA.... SALAM SEMANGAT DARI AUTHOR. MUACHHH


__ADS_2