
Saat aku pulang sekolah, aku buru-buru pulang sendiri tanpa mengajak Dian. Aku tidak ingin bertemu dengan laki-laki itu. Langkahku di percepat sampai akhirnya tiba di rumahku.
Aku langsung masuk menyalami tangan mamak lanjut ke kamar merebahkan badan yang sangat lelah sekali. Seperti biasa mataku selalu tertuju ke tempat favorit : langit-langit atap rumah. Pikiranku menerawang hampa menembus langit.
Kepalaku terasa sedikit pening, jariku pelan-pelan memijit di sekitar pelipis sampai dahi.
Tiba-tiba aku teringat dengan hp-ku. Aku mengambilnya di atas meja belajar. Aku mulai membuka salah satu aplikasi anak muda. Menjelajahi sosial media. Jariku menyentuh dan melewati banyak status kata-kata di beranda. Ada keluhan, kata-kata motivasi, kata-kata tidak jelas, pamer foto, iklan penjualan barang sampai segala macam tersaji. Aku tidak terlalu peduli dengan urusan orang, yang aku pedulikan yaitu mengintip profilenya sang pujaan hati. Dia bikin status gak ya? kenapa jarang sekali posting-posting sesuatu? apa dia tidak terlalu tertarik dengan dunia maya, yang mana anak-anak muda menggilai dan merasa bergantung dengan ketenarannya di sosial media ?!. Kalau pribadiku sendiri, aku juga jarang posting sih. status maupun foto. Fokusku hanya ke dia : Kak Bintang ! Titik ! aku tersenyum bahagia kalau ingat dia terus. Padahal hubungan kami sebenarnya hanya stuck di tempat saja. Tak ada pergerakan dariku. Aku memang hanya mampu mencintainya diam-diam. mengagumi pribadinya dari kejauhan. Mungkin terlihat seperti perempuan bodoh, mencintai dengan membuang waktu berlama-lama. Tapi aku bertekad, setelah lulus sekolah aku ingin menunjukkan perasaanku yang sebenarnya pada dia, Aku tulus mencintainya. Aku hanya perlu bersabar dalam penantian.
'Kakak, tunggu aku ... Biar aku pantas untukmu dulu.' Gumamku dalam hati.
Setelah berkutat dalam lamunan, aku merasa sangat lelah, aku membiarkan tubuhku tertidur pulas. Nanti malam aku mau buat puisi, satu hari lagi persiapan lomba hari Kartini.
***
Tok tok tok.
"Tariiii...?" panggil mamak mengetuk di balik pintu.
Aku menggeliat, mataku terbuka menatap sekitar. Pelan-pelan mataku melihat jelas langit-langit rumah.
"Jam berapa ini ?" gumamku sesekali menguap. Tanganku mencari-cari benda yang ku maksud. Tapi tak di dapat. Mataku masih sedikit terkantuk.
"Tariiii...?" mamak menyahut lagi. Aku terperajat bangkit menuju daun pintu.
Ceklek
" Iya mak, ada apa?" tanyaku malas.
"Jam berapa ini? kamu sampai melewati jam maghrib. tidur udah kayak kebo aja." jawab mamak berisik.
" Emang sekarang udah jam berapa mak?"tanyaku lagi.
"Tuh lihat !" mamak menunjuk jam dinding yang terpasang di dinding ruang tamu. Aku menengok ke arah jam.
" Aduh mak ! Jam tujuh malam?" Aku melotot kaget.
" Cepat sekali jam berputar, padahal aku masih ngantuk mak." rengekku sambil menggaruk garuk kepala.
Rambutku berantakan, selepas pulang sekolah tadi aku lupa ganti baju, hanya buka kerudung dan sepatu. Tas saja aku lempar ke sembarang tempat.
Mamak tampak masam melihat penampilanku.
"Cepat kamu mandi ! Temuin tuh teman cowokmu di depan rumah !" titah mamak.
__ADS_1
" Cowok?" tanyaku kaget. seperti bertanya pada diri. Dahiku mengernyit.
" Siapa mak? aku gak punya teman cowok!" jawabku tegas.
"Mamak gak tahu. kamu samperin aja tuh ! Tadi dia bilang, dia teman sekolah kamu. Hati-hati... Kalau gak kenal, jangan di tanggapi. Langsung masuk lagi." mamak berpesan sambil melengos masuk ke kamarnya.
Aku mengangguk. Otakku langsung berpikir, siapa laki-laki yang di depan? lalu aku melangkah mengendap-endap mengintip di balik tirai.
Mataku terbelalak. Tak di sangka seseorang tengah duduk di kursi rotan sambil main hp.
"Aduh ! Dia lagi !" gumamku pelan.
"Ternyata dia gak main-main sama omongannya." Aku mengusap bulu kudukku, bergidik.
Aku langsung berbalik masuk kamar. Di dalam kamar aku mulai memutar otak.
Apa yang harus aku lakukan saat menghadapinya? apa aku biarkan dia duduk aja di depan, Aku pura-pura tidur lagi, tapi... dia pasti mengetuk pintu dan mamak membuka pintu lagi. Nanti mamak yang marah sama aku karena gak sopan ada tamu aku cuekin. Aaahh... Tapi kalau aku harus menemuinya, pasti dia yang sok akrab mulai usil menjahiliku.
Tiba-tiba hp-ku berbunyi. Ku lihat nomor baru. seperti aku ingat nomornya tapi gak tahu siapa. Aku angkat.
"Hallo?" sapaku.
"Temui aku di depan ! Atau aku akan terus mengganggumu !" suara dari ujung telepon.
Aku menepuk jidat. Kenapa aku sampai berurusan dengan orang aneh bin menyebalkan.
Akhirnya aku berinisiatif mengirim pesan padanya.
Tunggu aku 15 menit. Aku mau mandi.
Tring ! satu balasan masuk
lewat satu menit, aku akan tetap mengganggumu.
Aku terbelalak membacanya. Apa-apaan dia sok mengatur hidupku.
Aku serius. Aku mulai menghitung dari terakhir aku mengirim pesan ini.
Dia masih mengancamku. huh ! aku ikuti permainanmu ! kamu pikir kamu siapa? Buru-buru aku langsung lari ke kamar mandi. seperti biasa mandi bebek.
***
" Kamu mau bawa aku kemana?" tanyaku ketus di atas motor. yang bawa motor hanya tersenyum licik saja tanpa menjawab. Aku melihat wajahnya dari kaca spion. Aku merengut tak di respon. Hanya helaan nafas sebal yang keluar di sepanjang jalan.
__ADS_1
Setelah sebelumnya aku menemuinya di depan rumah, dia melakukan taktik konyol yang membuatku mau ikut dengannya naik motor. Aku cukup menahan diri untuk memberi kesempatan apa maunya dia. Aku akhirnya meminta izin pada mamak bahwa aku keluar sebentar. Mamak cuma berpesan hati-hati saja. Aku mengangguk. Berangkatlah aku dengan si laki-laki menyebalkan ini yang bernama Bumi !
Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Alasanku hanya agar si laki-laki nyebelin ini tidak akan menggangguku lagi ke depannya.
***
Bumi memarkirkan motornya di bagian parkiran khusus motor. Aku menatapnya saat ia menurunkanku di sebuah cafe. Aku tidak bisa menebak apa yang akan di lakukannya di sini. Tak lama dia menghampiriku, mengajakku masuk ke dalam cafe tersebut. Aku hanya mengikutinya saja tanpa memberi jawaban.
kami duduk di meja di antara banyak para pengunjung. Jam 08.00 malam cafe tersebut lumayan rame. mungkin tempatnya yang nyaman, ruangannya cukup sejuk di tambah dekorasi artistik luar biasa seperti mural di beberapa bagian dinding, dan dinding lainnya ada beberapa figura kata-kata bijak. Aku yakin pemiliknya ini punya jiwa seni yang luar biasa dan intelektual yang tinggi. Aku tersenyum memandangi sekitaran ruangan itu membuatku nyaman berada di sana.
Bumi menyadarkan ketakjubanku, aku terperangah dan menatap wajahnya. Ia melempar senyum membuatku terpana. dia ini memang seperti punya jurus jitu, yaitu senyum maskulinnya yang selalu ia tunjukkan.
Dari jauh datanglah seorang pelayan pria menyapa lalu menyodorkan dua buku menu. yang satu untuk Bumi, satunya lagi aku terima. Pelayan itu menawarkan beberapa menu makanan unggulan dan minuman favorit di cafe itu. Aku tergugup. kalau aku memesan siapa yang akan membayarnya? aku tidak punya uang banyak. Aku membaca harga per-menu saja sudah menguras uang jajanku selama dua hari, itupun tergantung kalau mamak lagi banyak pesanan kue. kalau lagi sepi, aku hanya jajan sedikit saja paling mampu beli cilok.
" Pilih saja, aku yang bayar." ucap Bumi menjawab semua isi pikiranku. Seperti tahu apa yang aku pikirkan.
Aku menatapnya malu. memang sih dia yang ajak aku ke cafe. Wajar saja dia yang membayarnya, kan maunya dia kesini. Tapi kelihatan sekali kalau aku gak punya uang buat bayar makan disini.
"kenapa masih belum memesan? kamu gak mau aku bayarin?" tanyanya tidak sabar.
"Mas, tolong ulangi lagi apa aja menu unggulan disini ! beri tahu dia, mungkin gak dengar." Lanjutnya sambil meminta pelayan pria di samping kami untuk mengulangi menyebutkan menu-menu unggulan.
Pelayan pria itu terkesiap dan ia mulai membuka mulutnya untuk mengulanginya.
"Stop ! Iya aku bakalan pesen kok." potongku.
Pelayan itu akhirnya tidak jadi meneruskan. Aku menatap mata Bumi.
' Benar-benar laki-laki di depanku ini menyebalkan' gumamku dalam hati.
Ia menatap balik dan tersenyum. Ia merasa mendapat kemenangan. Aku lalu memesan makanan dan minuman yang kurasa masih lumayan murah harganya. Aku mencari aman kalau saja dia bohong untuk membayar makananku, aku tidak begitu malu di cafe ini. uang yang ku bawa dalam tas kecilku masih bisa membayarnya.
Akhirnya pesanan makanan sudah selesai, dan datanglah pelayan pria membawa makanannya ke meja kami. dari tadi selama menunggu makanan, kami hanya membisu. akan tetapi yang membuatku risih, matanya selalu tak pernah berpaling dariku. Aku merasa salah tingkah.
"ehm,,,Bu-bumi..." ucapku memulai obrolan.
"Apa aku bo-boleh tahu? apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku? "tanyaku gugup menatapnya ragu-ragu.
***
Semangat pagii teman-teman... mohon bantu aku semangat berkarya di sini. Aku mohon vote, like, komen. Apapun komentar kalian akan menjadi koreksi tulisannku ke depannya. silahkan yang mau ngasih solusi atau ide cerita. aku tampung disini.
SELAMAT MEMBACA.... SALAM SEMANGAT DARI AUTHOR. MUACHHH
__ADS_1