Cinta Sejati Amelia Achiel

Cinta Sejati Amelia Achiel
Chapter 16


__ADS_3

Hari sudah malam, Achiel sudah berada di rumah sejak tadi. Dia terus-menerus menatap handphone sambil tersenyum-senyum, itu adalah foto pertama Amelia dan Achiel yang berpose lucu. Willy yang sedari tadi memperhatikan kakaknya berbaring di lantai teras rumahnya merasa terheran-heran. Willy pun menghampiri Kakaknya, ingin tahu apa penyebab Kakaknya tersenyum-senyum.


"Datang dari reuni kok senyum-senyum? Kak Achiel CLBK ya sama teman sekolah?" tanya Willy yang kini duduk di samping Achiel.


Seketika Achiel bangun dari tidurnya, dia terkejut melihat adiknya yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.


"Apa sih Dek, bisanya cuma goda Kak Achiel terus. Tugas rumah dari sekolah sudah selesai belum? awas saja kalau belum ya!" gertak Achiel pada adiknya.


Namun Willy tak takut dengan gertakan tersebut karena dia tahu bahwa Achiel sedang bercanda sat menggertak nya.


"Malah ikut senyum-senyum! udah gak takut ya kalau Kak Achiel gertak?" tanya Achiel dengan mata melotot.


"Gak dong, kan Kak Achiel sedang jatuh cinta pasti gak bisa marah!" ucap Willy.


"Kalian Kakak adik sedang ngobrolin apa sih? kok kelihatannya seru?" tanya Helena yang baru saja datang dari rumah tetangga yang mengadakan acara kecil-kecilan di rumahnya.


"Bu, tahu gak Kak Achiel udah punya pa,,,Mmmm" Achiel menutup mulut adiknya saat ingin membocorkan rahasianya kepada Helena. Willy yang merasa pengap meronta-ronta berusaha membuka tangan Achiel yang mendekap mulutnya.


"Hahh...Hahh!" Willy berusaha mengatur nafasnya kembali setelah tangan Achiel terlepas dari mulutnya itu.


"Achiel, ingat adik kamu memiliki sakit Asma, awas saja nanti kumat lagi!" Helena memperingati Achiel.


"Iya Bu maaf!" ucap Achiel yang merasa bersalah.

__ADS_1


"Habisnya dia mau ngadu yang bukan-bukan sama Ibu, Achiel kan jadi refleks tangannya buat nutup mulutnya Willy!" ucap Achiel membela diri setelah meminta maaf kepada sang ibu.


"Tetap saja kamu salah Achiel, kamu yang lebih tua harusnya lebih bisa berfikir sebelum bertindak!" ucap Helena yang kekeh menyalahkan Achiel.


Helena selalu bersikap tak adil antara kedua anaknya, harus Achiel yang mengalah saat mereka rebutan. Namun Achiel tidak pernah mempermasalahkan itu semua, dia berusaha untuk menerima situasinya.


"Udah Bu jangan marahin Kak Achiel lagi, itu emang salah Willy kok sembarangan bicara!" Willy segera membuka suara untuk membela sang kakak karena merasa bersalah.


"Tuh, kamu contoh Willy. Dia saja masih bisa bela kamu meskipun kamu salah!" kata Helena yang mulai membandingkan kedua anaknya.


"Tapi Achiel gak sepenuhnya salah Bu!" ucap Achiel lemah, dia berharap Helena tak lagi membandingkan dirinya. Achiel juga seorang anak yang ingin di perhatikan oleh Ibunya. Seorang anak yang ingin dipenuhi keinginannya, bukan hanya mengalah terhadap sang adik. Tapi semua itu Achiel pendam, dia tidak mau keadaannya semakin sulit dan semakin di salahkan.


"Kamu kalau salah harus akui Chil, jangan membela diri terus!" kini Helena meninggikan suaranya karena Achiel masih membela dirinya yang menurutnya itu kesalahan Achiel.


"Iya Bu, maaf aku salah!" ucap Achiel menundukkan kepalanya di depan Helena.


Willy mendekat ke kakaknya yang dilihatnya murung, dalam hatinya dia merasa sangat bersalah karena kedua orang tuanya terus-menerus berpihak kepada dirinya. Bahkan Willy masih ingat saat Olivia kakak perempuannya masih tinggal di rumah, Achiel tak pernah di perhatikan. Justru Achiel harus mengalah kepada Olivia dengan alasan Olivia lebih tua darinya jadi Achiel harus menghormatinya.


"Kak Achiel, aku minta maaf ya. Karena aku, Kak Achiel jadi kena marah sama Ibu!" ucap Willy merasa bersalah dengan sang Kakak.


"Gak apa, sudah biasa kok Will!" sahut Achiel tanpa menoleh ke arah Willy yang duduk di sampingnya.


Achiel berusaha menerima keadaannya, bahwa menjadi anak tengah harus kuat. Tidak ada ruang untu bercerita dengan kedua orang tuanya, tidak ada perhatian yang di tujukan kepadanya bahkan mereka tak pernah bertanya apa keinginan Achiel. Masih banyak lagi yang membuat Achiel putus semangat menjalani hidup. Kata orang, rumah adalah tempat singgah yang paling nyaman dan memberikan ketentraman, namun ternyata itu hanya berlaku bagi seseorang yang memiliki keluarga yang penuh perhatian dan tidak pilih kasih.

__ADS_1


"Kakak mau ke kamar dulu Will, sebaiknya kamu juga tidur agar tidak di marahi sama Ibu!" ucap Achiel.


Dengan raut wajah yang tak mampu menyembunyikan kesedihan itu, Achiel berjalan menuju kamarnya. Tidak ada yang perlu di sesali lagi karena kehidupannya sudah di atur.


Willy yang melihat langkah kakaknya pergi merasa ikut bersedih. Achiel telah berkorban banyak untuk dirinya dan juga kakak perempuannya. Willy bisa merasakan bagaimana rasanya di perlakukan tidak adil antar saudara.


'Kenapa Ibu sama Bapak tidak pernah melihat Kak Achiel, padahal kalau ada masalah apa-apa Kak Achiel yang paling pertama bergerak. Tapi mereka justru memperlakukan Kak Achiel layaknya orang dewasa yang tak butuh perhatian sama sekali,' batin Willy.


...***...


"Mel keluar kamar dulu, di kamar terus udah tahu kakaknya datang!" teriak Kumala yang berdiri di depan pintu Amelia.


"Emang apa spesialnya dia datang sih?" tanya Amelia tanpa membuka pintu kamarnya.


"Itu Kakak kamu loh yang datang, jarang-jarang dia bisa pulang sikap kamu malah seperti ini!" kata Kumala marah kepada Amelia.


"Udah Bu, biarin saja! anak yang tahunya pacaran saja gak usah di hiraukan!" kata Keyla yang berada di ruang tamu bersama adik laki-lakinya dan Daniel.


"Aku pacaran tapi setidaknya prestasiku masih bagus dan tidak pernah tinggal kelas seperti Kakak!" sahut Amelia yang langsung menusuk ke dada Keyla.


Keyla sangat marah karena malu terhadap perkataannya, Keyla memang pernah tinggal kelas saat kelas 1 SD, dia juga sering bolos saat sekolah tanpa sepengetahuan Daniel dan Kumala. Bahkan nilai mata pelajaran pin Keyla mendapat merah di rapotnya. Namun meskipun seperti itu Keyla tetap sombong di depan Amelia, merasa paling hebat karena menjadi kakak yang paling tua. Padahal bagi Amelia, Keyla hanyalah beberapa sampah yang mencoba menjadi berlian di depan orang-orang.


"Amelia keluar kamu, kalau tidak Bapak akan tarik kembali sepeda motor yang pernah Bapak berikan sama kamu!" teriak Danie yang kini berdiri di samping istrinya.

__ADS_1


Amelia terkejut mendengar perkataan Daniel, dia tak mau sepeda motornya di tarik kembali oleh Bapaknya jadi dengan terpaksa Amelia keluar dari kamarnya. Dengan wajah cemberut dan malas Amelia membuka pintu kamarnya dan dilihatlah kedua orang tuanya sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Ada apa sih Pak? Amelia mau tidur besok berangkat pagi-pagi ke tempat magang!" ucap Amelia menatap malas Daniel.


__ADS_2