
Pulang dari sekolah, Amelia menelepon Achiel. Dia ingin mengajaknya jalan-jalan sesuai permintaan temannya.
"Sayang, hari minggu ini bisa pergi jalan-jalan gak?" tanya Amelia ketika panggilan sudah di jawab.
"Gak ada sih, emang mau jalan-jalan kemana?" tanya Achiel.
"Belum di rencanain sih, soalnya sama teman-teman ku juga. Mereka semua bawa pacar masing-masing," sahut Amelia memberitahu Achiel siapa saja yang akan ikut.
"Sama teman-teman kamu? Gak deh. Kirain berdua sama kamu aja!" tolak Achiel begitu tahu.
"Ya katanya mereka ingin double date gitu," ucap Amelia.
"Jangan deh, takutnya mereka suka sama kamu!" ucap Achiel yang tanpa di sadarinya sudah mulai ada rasa cemburu dengan Amelia.
"Gak lah, mana mungkin dia suka sama aku," sanggah Amelia.
"Pokoknya gak mau kalau ada mereka!" ucap Achiel yang sudah memiliki keputusan yang bulat.
"Ya udah deh kalau gitu, nanti aku bilang ke mereka!" kata Amelia kepada Achiel.
"Mending kita yang jalan-jalan aja, kan lebih seru kalau berdua!" ajak Achiel.
"Jalan-jalan kemana?" tanya Amelia.
"Ke taman hiburan, katanya akan ada konser di sana dan juga acara lainnya, mau gak?"
"Boleh deh kalau gitu!" ucap Amelia menyetujui.
Setelah membuat keputusan, Amelia mematikan teleponnya. Dan Achiel pun lanjut untuk bekerja.
"Harus cepat-cepat pulang nih biar Ibu sama Bapak gak curiga," kata Amelia yang masih dalam perjalanan pulang.
Amelia pun mengendarai motornya kembali dengan kecepatan 80km/jam. Syukurnya jalanan sepi jadi dia lebih cepat untuk sampai di rumah.
Sampai di rumah, Amelia masuk ke dalam kamar tanpa mempedulikan orang tuanya yang duduk di ruang tamu. Amelia menutup pintu kamarnya, dia ingin mendapat ketenangan dari bangunan yang di anggapnya sebagai rumah.
__ADS_1
'Akhirnya sampai di rumah, lelah banget seharian di sekolah!' batin Amelia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Betapa nyamannya tubuh Amelia setelah merebahkan tubuhnya seakan ingin tidur terlelap. Tapi keringat yang ada di tubuhnya membuat dia merasa gatal dan akhirnya dia memutuskan untuk mandi.
Amelia keluar dari kamarnya, dia masih melihat orang tuanya yang asik menonton televisi tanpa menghiraukannya. Tentu saja Amelia juga tidak peduli, dia lanjut berjalan menuju ke kamar mandi.
Amelia mengguyur badannya di mulai dari rambut hingga ujung kaki agar dia bisa kembali segar dan rileks.
...***...
Hari menjelang malam, waktu sudah menunjukkan jam 7:30 malam terlihat Achiel yang sedang asik berbincang dengan Yunita membahas tentang Stevan.
Yunita meminta maaf kepada Achiel karena telah membuat hubungan mereka retak. Yunita merasa bersalah, setelah dia mengakui perasaanya kepada Stevan Yunita memiliki sikap yang semakin baik.
"Justru aku makasih banyak, karena berkat kamu aku jadi tahu sifatnya dia. Kamu gak usah merasa bersalah, lagipula aku bikin kesepakatan dengan Amelia kok untuk menguji dia!" ucap Achiel menenangkan Yunita.
"Sekali lagi aku minta maaf ya Chil!" ucap Yunita.
"Iya aku maafin, aku tahu kok kamu suka sama Stevan makanya kamu lakuin ini agar aku jadian kan sama Amelia?" Achiel menebak isi pikiran sahabatnya kala itu.
Yunita masih belum tahu bagaimana agar Stevan tertarik dengannya. Dia tidak ingin menggunakan cara kotor lagi, dia ingin Stevan tulus mencintainya tanpa paksaan karena baginya itu sama saja bohong.
"Sekarang enggak siapa tahu beberapa hari lagi hatinya luluh. Hati manusia gampang berubah-ubah Yun, kalau kamu beneran suka sama dia kamu harus sabar menunggu," Achiel memberikan saran kepada Yunita.
Tentu saja itu membuat Yunita tambah semangat untuk menunggu Stevan.
'Aku sudah mendambakan nya selama beberapa bulan, jadi apa salahnya kalau aku mencoba menunggu sebentar lagi,' batin Yunita.
"Makasih ya Chil, sudah memotivasi aku!" ucap Achiel.
"Sama-sama, kamu santai saja. Lagipula kita sudah berteman hampir satu tahun, jadi apa salahnya mendukung teman!" kata Achiel sambil tersenyum ke arah Yunita.
'Seandainya aku bisa mendapatkan Stevan pasti hidupku akan bahagia. Sama seperti Amelia bisa mendapatkan Achiel,' batin Yunita.
Tiba-tiba handphone Yunita berdering, setelah di lihat Stevan yang meneleponnya. Tentu saja Yunita sangat senang, dia pun segera menjawab panggilan tersebut sedangkan Achiel acuh tak acuh.
__ADS_1
"Halo Stevan ada apa?" tanya Yunita.
"Yun, bantu aku! Aku lagi mabuk gak bisa pulang," kata Stevan di dalam telepon.
Dari suaranya dapat di prediksi situasinya sedang tidak baik-baik saja. Ini membuat Yunita panik, tapi dia sendiri juga masih bekerja.
"Tapi aku masih kerja Stev," ucap Yunita.
"Kamu bisa bolos sebentar saja Yun, lagipula Bu Rita jarang datang ke toko kan?" ucap Stevan membujuk Yunita.
"Aku gak ada teman selain kamu, kamu tahu kan aku sama Achiel udah bermusuhan. Lagipula katanya kamu sayang sama aku, mana tunjukkin dong," kata Stevan yang terus membujuk Yunita.
"Ya udah kamu kirim alamatnya ya sebentar lagi aku jalan ke sana!" ucap Yunita dengan raut wajah yang penuh dengan kekhawatiran.
"Makasih banyak Stev, aku tutup ya dan kirim lokasinya!" ucap Yunita.
Setelah telepon di tutup, Yunita menerima sebuah pesan yang berisikan sebuah lokasi. Untungnya dia tahu tempat tersebut, meski jauh dan di sana rawan dengan orang mabuk Yunita tetap bertekad ke sana.
"Chil aku minta tolong ya, aku mau bolos jemput Stevan. Dia mabuk gak bisa pulang, tolong ya kalau Bu Rita datang bilang aja aku istirahat makan!" ucap Yunita memohon kepada Achiel.
"Kamu yakin? Ini udah hampir malam loh, dan juga lokasinya jauh dan bahaya. Atau gak kenapa pas pulang kerja aja ke sana? Aku bantuin jemput!" ucap Achiel memberikan saran karena tidak tega seorang perempuan datang ke tempat berbahaya sendirian.
"Aku yakin Chil, aku gak mau repotin kamu. Dah ya aku pergi dulu, makasih ya Chil!" ucap Yunita yang langsung pergi setelah mengambil tasnya.
"Gak pakai jaket? Udara di luar dingin!" teriak Achiel mengingatkan Yunita.
"Gak Chil, biar Bu Rita gak curiga!" kata Achiel.
'Stevan ada-ada saja, setahuku dia punya banyak teman. Kenapa harus menyusahkan Yunita?' batin Achiel yang merasa khawatir.
Achiel tak berani jamin dia bisa menjaga rahasia, tetapi dia akan berusaha agar bisa membiarkan Yunita bolos tanpa ketahuan dari Bu Rita.
"Semoga saja Bu Rita tidak ada niatan datang hari ini, mana Yunita sudah dapat SP1 pula," gumam Achiel.
Achiel masih terpikirkan dengan keadaan Yunita, dia berharap kedua temannya selamat sampai di rumah. Terlebih lagi daerah yang akan di datangi Yunita itu rawan begal. Bahkan Achiel sendiri tidak akan berani datang ke sana sendirian jika tidak ada keperluan mendesak.
__ADS_1
Tapi di samping itu juga dia kagum dengan cinta Yunita, dia bahkan rela menembus bahaya demi orang yang di cintainya.