
Saat menjelang malam, Daniel menelepon Amelia bertanya mengapa sampai malam dia belum pulang ke rumah. Perkataannya sangat kasar dan keras sehingga Nenek Li yang pendengarannya masih bagus merebut handphone Amelia.
"Kamu ini anak tidak pulang sampai malam bukannya di cariin dari tadi. Anakmu sudah makan atau belum pasti kamu tidak tahu kan? dia di sini aman sama aku, kamu tidak perlu khawatir lagi!" ucap Nenek Li memarahi menantunya.
"Nek udah, jangan emosi!" ucap Amelia menenangkan Nenek Li.
"Oh Amelia ada di rumah Ibu ya, syukurlah kalau begitu!" ucap Daniel melemahkan suaranya ketika mertuanya yang menjawab.
"Ya. Kamu bagaimana sih mendidik anak? kenapa bisa tidak akur? bahkan sering membuat masalah untuk cucuku!"
"Keyla juga cucu Ibu. Lagipula mereka bersaudara jadi wajar saja kalau mereka bertengkar!" ucap Daniel berusaha meredakan emosi mertuanya.
"Memang wajar, tapi yang gak wajar kalian sebagai orang tua yang tidak bisa melerai pertengkaran itu. Justru kalian menyudutkan Amelia, seakan Amelia lah yang bersalah. Kalian sebagai orang tua malah pilih kasih," sahut Nenek Li.
"Bu bukan seperti itu, mungkin...,"
"Sudah, sudah! Aku tidak mau tahu kalau sampai Amelia tersakiti lagi di rumahmu itu, Ibu akan ajak Amelia untuk tinggal di sini!" ucap Nenek Li lalu mengembalikan handphonenya kepada Amelia dan menyuruhnya untuk mematikan panggilan.
"Nek jangan marah-marah lagi, tidak baik untuk kesehatan nenek," ucap Amelia menenangkan Nenek Li.
"Mereka terlalu kejam sama kamu, kenapa kamu tidak tinggal saja sama Nenek?" bujuk Nenek Li.
"Amelia tidak mau merepotkan Nenek. Nanti kalau Amelia sudah mendapat pekerjaan pasti Amelia akan tinggal sama Nenek!" kata Amelia.
"Kamu sebaiknya tamat sekolah cari pekerjaan di kota saja, agar tahu luasnya dunia sekaligus untuk melatih kamu agat bisa mandiri!" kata Nenek Li menasehati cucunya.
"Baik Nek, sekarang sudah malam kita lebih baik tidur!" ucap Amelia.
...***...
__ADS_1
Keesokan harinya, Amelia berangkat ke tempat magang dari rumah Nenek Li. Dia berangkat tanpa tas hanya handphone yang daya baterainya tinggal 30% yang dia bawa.
"Nek, aku berangkat dulu ya Nek!" pamit Amelia kepada Neneknya.
"Iya hati-hati Amel!" ucap Nenek Li.
Amelia membawa 1 kantung plastik juga di tangannya, itu adalah camilan yang di berikan oleh Nenek Li. Nenek Li takut cucu tersayangnya akan kelaparan dan tidak sempat membeli makanan.
Sedangkan di rumah Amelia...
"Bu, aku balik ke kota dulu ya! kapan-kapan kalau libur aku pulang lagi!" kata Keyla berpamitan kepada kedua orang tuanya.
Tentu saja itu membuat kedua orang tuanya sedih terutama Kumala. Dia baru saja bertemu dengan putri pertamanya tetapi sekarang dia sudah harus pergi.
"Hati-hati ya Key, jaga diri baik-baik di sana!" ucap Kumala.
"Iya Bu. Oh ya, didik yang benar Amelia kapan-kapan aku pulang aku gak mau dia merusak moodku lagi!" kata Keyla kesal saat menyebut nama adiknya.
"Ya udah aku berangkat ya Bu, Pak!" ucap Keyla lalu mengendarai sepeda motornya dan meninggalkan rumahnya.
"Bu, sebaiknya kita jangan terlalu pilih kasih antara mereka deh Bu!" ucap Daniel yang merasa tidak enak hati dengan Amelia.
"Pilih kasih gimana sih Pak, kita cukup adil kok sama mereka. Lagipula sebelum dia bisa menghasilkan uang, kita gak usah terlalu manjain dia!" ucap Kumala kekeh.
"Tapi Bu, dia masih sekolah sebentar lagi akan lulus pasti cari kerja. Apa Ibu tidak takut saat dia sudah bisa mencari uang dia akan lupa sama kita?" tanya Daniel berdebat dengan sang istri.
"Kalau dia lupa, mari kita ingatkan bersama-sama. Udah Pak, Ibu capek Ibu mau istirahat dulu!" kata Kumala lalu pergi meninggalkan Daniel.
'Kumala, kapan kamu akan menyayangi Amelia? Dia sudah cukup baik untuk kita, dia anak yang paling peduli sama kita saat ini tapi malah kita sia-siakan. Aku jadi merasa bersalah sama Amelia!' batin Daniel.
__ADS_1
Amelia dari kecil memang terbilang kekurangan kasih sayang orang tua. Dia selalu di kalahkan oleh kakak-kakaknya untuk mencari perhatian Daniel dan Kumala. Tanpa di sadari, kedekatan antara Amelia dan orang tuanya menjadi terhalang karena kedua kakaknya.
Bahkan dia seperti orang asing di rumahnya sendiri, apalagi ketika melihat kedua saudaranya sedang bercanda gurau bersama orang tuanya. Amelia sempat berfikir untuk tidak lahir ke dalam keluarga ini, dia merasa tidak ada ruang untuk dirinya di sini. Tetapi hebatnya Amelia, dia mampu menyembunyikan kesedihannya dari hadapan orang banyak.
...***...
"Hai pacar!" sapa Amelia kepasa Achiel yang sedang menaruh jaket di tempat yang sudah di sediakan.
"Hai juga pacar!" sahut Achiel dengan senyuman manis.
"Semangat banget berangkatnya, oh ya katanya kamu ada kejutan. Kejutan apa emangnya?" tanya Amelia menagih janji yang di berikan kepada Achiel kemarin di chat.
"Oh ya sampai lupa, hari ini kita shift pagi hanya berdua. Gimana? senang gak?" tanya Achiel yang tak mampu menyembunyikan ekspresi senangnya.
"Kok bisa? emangnya Lestari libur haru ini?" tanya Amelia terkejut sekaligus senang.
"Iya, katanya ada acara!" ucap Achiel.
"Oh begitu, syukurlah. Jadi kita gak canggung untuk ngobrol di depan dia hehe!"
Amelia dan Achiel mengerjakan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum melanjutkan pembicaraannya. Mereka bekerja dengan penuh semangat dan semakin cepat agar dapat waktu bersantai.
"Amel, kamu bantu bersihkan jendela ya!" ucap Achiel kepada Amelia yang sudah hampir selesai menyapu lantai.
"Oke Kak!" sahut Amelia sambil mengacungkan jempolnya ke arah Achiel.
Dengan cepat Amelia bergerak untuk membersihkan jendela. Dia ingin berbicara banyak dengan Achiel jika tidak ada pekerjaan nantinya karena saat ini mereka jarang berkomunikasi lewat handphone.
'Kak Achiel, aku ingin menceritakan banyak hal dan masalah di rumah. Tapi aku takut kamu malah menjauh dari aku!' batin Amelia bimbang.
__ADS_1
Amelia tidak berani menceritakan semua masalahnya, takut hanya menjadi boomerang saja.