Cinta Sejati Amelia Achiel

Cinta Sejati Amelia Achiel
Chapter 18


__ADS_3

Pergantian shift siang, Amelia menjadi sangat canggung saat bertemu dengan Stevan. Terlihat wajah Stevan yang mengeluarkan ekspresi marah ketika Amelia menatapnya.


Suasana menjadi sangat canggung terlebih lagi saat Achiel datang. Achiel merasa sedikit bersalah karena pertemanannya dengan Stevan menjadi rusak. Begitupula dengan Yunita yang melihat sikap Achiel dan Stevan berbeda tak seperti biasanya.


Hanya Lestari yang tersenyum melihat pemandangan di depan matanya. Dia senang melihat pertengkaran tersebut terlebih lagi penyebab itu semua adalah Amelia. Sehingga Amelia banyak yabg membencinya.


Jam pulang untuk shift pagi sudah tiba, Amelia dengan langkah yang tetap tenang melewati Stevan yang berdiri di depan kasir.


'Haiisss entah kenapa di sini aku seperti wanita yang jahat, tapi ini bukan sepenuhnya salahku,' batin Amelia.


Sesampainya di rumah, Amelia tidak mengharapkan suasana hati yang bahagia seperti biasanya. Amelia melihat Keyla yang sedang merebahkan tubuhnya di kamar Amelia. Tentu saja Amelia marah karena baginya kamar adalah salah satu ruangan yang privasi. Artinya tidak semua orang bisa sembarangan masuk ke sana.


"Kenapa kamu tidur di kamarku? memangnya kamarmu kenapa?" tanya Amelia dengan nada suara yang tak suka.


Keyla memalingkan pandangannya ke Amelia yang tadinya sibuk menatap layar handphonenya.


"Hah? kamarmu? aku gak salah dengar. Emangnya ini kamu yang bangun?" tanya Keyla dengan nada meremehkan.


Amelia semakin hari semakin tak suka Keyla berada di rumah, dia lebih suka tinggal sendiri bersama orang tuanya daripada di temani saudaranya itu.


"Memang bukan aku, tapi ini kamar yang di berikan sama Bapak!" sahut Amelia.


"Lagipula kamu sudah punya kamar sendiri untuk apa tidur di sini? oh ya lupa, kamu kan jarang bersih-bersih di sana pasti banyak tikus ya?" kata Amelia lagi mengejek Keyla.


"Apa urusannya sama kamu? aku mau tidur dimana ya suka-suka aku. Lagipula aku sudah bisa hasilkan uang, pasti Bapak sama Ibu akan mendengarkan ku!" sahut Keyla dengan penuh percaya diri.


"Kenapa ya, banyak orang menganggap uang bisa memecahkan semua masalah. Di bandingkan punya uang, aku lebih memilih mempunyai attitude yang baik!" balas Amelia yang amarahnya sudah memuncak.


Untunglah Kumala datang melerai pertengkaran di antara mereka berdua.

__ADS_1


"Ada apa sih kalian kok ribut-ribut?" tanya Kumala yang mendengar pertengkaran kedua putrinya itu.


"Ini Bu, masak aku tidur di kamar ini di larang sama dia. Emang sejak kapan dia membangun kamar ini? dan kapan dia menyumbang uang untuk kamar ini?" tanya Keyla kepada sang Ibu yang baru saja datang ke kamar tersebut.


"Aku emang tidak menyumbang uang, tapi aku menyumbang tenaga. Tidak seperti kamu, sudah kerja tapi memberi uang pun tidak sanggup. Memberi tenaga juga tidak, jadi aku lebih berhak atas kamar ini daripada kamu!" balas Amelia.


Kumala merasa stress mendengar perdebatan kedua putrinya, dia pun menegur Amelia.


"Amelia, sopan sedikit dengan Kakakmu! lagipula kamar ini milik kita bersama, mau ini kamar kakakmu, kamar kamu itu sama saja tidak ada perbedaan di antara keduanya!" ucap Kumala dengan nada tinggi tanpa sengaja memarahi Amelia.


"Tapi Bu, ini bukan sekedar kamar tapi ini juga ruangan yang bersifat privasi. Aku gak suka ada orang lain sembarangan masuk ke kamarku!" keluh Amelia kepada Kumala yang tak pernah mengerti dirinya.


"Udah deh gak usah lebay kamu, kita ini keluarga sederhana gak usah pakai privasi-privasi segala!" Kumala tak henti-hentinya memarahi Amelia yang tidak bersalah itu.


"Udahlah Bu, emang susah bicara sama orang yang pendidikannya rendah!" ucap Amelia lalu membalikkan badannya dan pergi setelah melempar tas ke atas kasur.


"Siapa yang kamu bilang pendidikannya rendah?" teriak Kumala kepada Amelia yang sudah berjalan ke pintu keluar.


"Memang kamu yang paling pengertian Key!" puji Kumala kepada putri pertamanya.


Sedangkan Amelia mengendarai sepeda motornya dan masih menggunakan seragam sekolah. Tapi dia tidak peduli tentang itu lagi, keinginannya saat ini hanyalah sebuah ketenangan. Di tempat magang dia tidak bisa mendapat rasa tenang karena memiliki banyak musuh, dan bahkan sampai rumah pun tidak bisa mendapat ketenangan.


Keluarga yang seharusnya memberikan tempat terhangat dan tempat untuk berkeluh kesah justru membuatnya merasa gusar.


'Seandainya aku bisa berpindah keluarga, mungkin aku akan keluar dari keluarga ini. Aku sudah tidak tahan dengan sikap mereka yabg selalu menyalahkan ku dan bahkan selalu meremehkan apapun yang aku lakukan!' batin Amelia.


Amelia memarkirkan sepeda motornya di sebuah tempat wisata. Namun saat ini wilayahnya masih sepi, dan suasananya lumayan tenang cocok untuk Amelia yang membutuhkan ketenangan. Karena tempat itu memang untuk di datangi oleh orang-orang yang menginginkan ketenangan.


Amelia mencari tempat duduk yang pengunjungnya tidak ramai, dia duduk di sana menghadap ke pantai yang terlihat dari kejauhan. Betapa indahnya pemandangan yang ada di depannya, hingga dia tak sadar seorang pria datang dan berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Hai, bolehkah aku duduk di sini?" tanya pria yang bertubuh lebih tinggi dari Amelia.


"Silahkan!" ucap Amelia sopan meskipun sebenarnya dia enggan di temani oleh orang lain.


"Kamu ada masalah apa? kenapa wajahmu tampak murung?" tanya pria tersebut.


"Ada sedikit masalah keluarga," sahut Amelia hang tidak ingin bercerita kepada siapapun.


"Kenalin, nama aku Ferdi. Aku masih sekolah, dan umurku 17 tahun!" ucap pria tersebut mengulurkan tangannya kepada Amelia.


"Aku Amelia, umur kita sama ya!" ucap Amelia menyeringai.


"Oh ya? kamu sekolah di SMA mana? siapa tahu kita satu sekolah!" ucap Ferdi antusias.


"Yah, aku sekolah di SMK 1 Selatan. Kamu sendiri sekolah dimana?" tanya Amelia balik.


"Kita satu sekolah loh ternyata, tapi kenapa aku tidak pernah ketemu kamu ya?" kata Ferdi senang.


"Aku jarang keluar kelas soalnya!" sahut Amelia.


Mereka pun saling mengenal satu sama lain, dan dari percakapan mereka ternyata Ferdi mengambil jurusan komputer yang saat ini magang di perusahaan yang terkenal. Namun setiap jurusan memiliki masa magang yang berbeda-beda sesuai ketentuan sekolah.


Ferdi menjalani masa magang 3 bulan, sedangkan Amelia menjalani masa magang hanya 2 bulan. Itu artinya Amelia akan lebih dulu selesai magang daripada Ferdi.


"Aku boleh minta WA kamu gak?" tanya Ferdi di tengah-tengah perbincangan mereka.


Karena merasa sudah sedikit akrab dan Ferdi pun lumayan baik menurut Amelia, jadi dia memberikan nomor WA-nya. Mereka akan menjadi teman baik kedepannya di sekolah.


"Aku duluan ya Amelia, ada yang harus aku kerjakan di rumah. Kamu semangat jangan sedih-sedih, nanti cantiknya hilang!" ucap Ferdi lalu pergi meninggalkan Amelia.

__ADS_1


Amelia merasa malu saat Ferdi memujinya, dia melihat punggung pria tampan itu yang sudah berjalan sedikit jauh dari tempatnya duduk.


__ADS_2