
Keesokan harinya, Yunita terbangun dan mendapatkan dirinya berada di ruangan yang sangat asing. Dia mendapati dirinya yang tanpa busana sehelai pun, dan akhirnya baru mengetahui apa yang terjadi semalam setelah melihat sebuah surat dan cek di atas meja.
"Stevan, kenapa kamu jahat sama aku? Padahal kamu tahu aku suka sama kamu, tapi kamu justru memanfaatkan perasaanku!" ucap Yunita dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Aku sudah tidak suci lagi, lalu apa gunanya aku hidup? Aku bahkan telah di permalukan oleh orang yang aku sayang. Aku sungguh bodoh, bahkan rela di permalukan oleh orang lain!" Kata Yunita menyesali perbuatannya.
Yunita mengambil pakaiannya dan mengenakannya, beruntung para lelaki itu tidak merusak pakaiannya dengan begitu Yunita bisa langsung keluar.
"Aku harus menghubungi Stevan!" Ucap Yunita setelah keluar dari hotel.
Yunita merogoh tasnya untuk mengambil handphonenya, dan menghidupkan kembali.
"Untungnya baterai ku masih, ini pasti ulah teman-temannya Stevan dia sengaja mematikan teleponku agar tidak ada yang bisa menghubungiku" kata Yunita kesal.
"Ada apa Yunita?" tanya Stevan ketika telepon sudah terhubung.
"Kamu masih nanya ada apa? Kamu merasa gak bersalah sedikitpun setelah apa yang kamu lakuin?" tanya Yunita yang langsung menyemprot Stevan dengan kata-katanya.
"Lalu apa? Itu semua atas kemauan kamu!" ucap Stevan enteng.
"Atas kemauan aku? Memang betul itu atas kemauan aku, rela minum alkohol dan bahkan rela bolos dari tempat kerja. Tapi aku tidak pernah ada kemauan untuk membiarkan teman-teman kamu merenggut kesucian yang aku jaga selama ini Stev!" ucap Yunita dengan emosi yang meledak-ledak.
"Itu salah kamu kenapa kamu mabuk dan tidak sadarkan diri. Tentu saja mereka akan memandang mu berbeda dengan melihat kamu seperti itu!" sahut Stevan yang tampak tidak peduli sama sekali dengan perasaan Yunita.
"Lagipula kata mereka bukankah sudah memberikan cek senilai 5 juta? Jadi tidak ada masalah dong. Kamu termasuk beruntung mendapat bayaran yang tinggi daripada cewek di luaran sana!" kata Stevan.
"Sudahlah, percuma juga aku bicara sama kamu. Makasih atas semuanya, aku menyesal telah kenal kamu dan bahkan pernah jatuh cinta sama iblis seperti kamu!" ucap Yunita lalu mengakhiri teleponnya dengan Stevan.
__ADS_1
Dia berusaha menahan tangis meskipun ingin sekali berteriak dan memaki Stevan. Namun apa daya, dirinya terlalu malu untuk menangis di depan umum.
Yunita akhirnya memutuskan untuk pulang naik taxi yang dia pesan secara online.
'Sekarang aku sudah suci lagi, aku takut hamil aku harus cari kemana mereka? Lalu apa yang harus aku katakan dengan orang tua ku nanti? Mereka pasti sangat marah,' ucap Yunita dalam hati.
Dia menarik nafas panjang dan membuangnya secara kasar. Menahan air mata sungguh sangat tidak mengenakkan. Rasa sakit bahkan semakin dalam, Yunita tidak tahu harus pulang kemana dengan suasana hati yang kacau seperti ini.
Rumah sudah semakin dekat, Yunita berulang kali berkaca di layar handphonenya memastikan matanya tidak sembab karena sempat menangis di hotel tadi. Setelah memastikannya, Yunita turun dari mobil tersebut dan membayarnya.
Mobil kembali berjalan, tinggal Yunita yang masih berdiri di depan pintu rumahnya. Dia masih mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam rumah. Berulangkali menarik nafas panjang lalu membuangnya kembali, setelah di rasa tenang Yunita masuk ke dalam rumah.
"Yunita, akhirnya kamu pulang juga Nak," ucap Ibunya Yunita yang sangat khawatir kepada anaknya.
"Kamu dari mana saja Yunita? Kami khawatir sama kamu, di hubungi tidak bisa tanya Stevan juga dia bilang gak tahu keberadaan kamu!" kata Bapaknya Yunita.
"Maaf Bu, kemarin handphone kehabisan baterai dan juga motor aku mati di jalan untung saja aku ketemu teman, jadi aku nginap di rumahnya!" Kata Yunita berbohong.
"Syukurlah kamu tidak apa-apa Nak," ucap sang Ibu yang matanya sudah sembap karena menangis.
"Maaf ya Pak, Bu sudah bikin kalian khawatir!" Ucap Yunita.
"Gak apa-apa, kamu tidak terjadi suatu hal saja kami sudah senang! Kamu anak satu-satunya tentu saja kami ingin menjaga kamu dengan baik!" Ucap sang Ibu tampak sangat menyayangi Yunita.
"Ya udah Bu, aku mau ke kamar dulu ya. Aku siap-siap ke toko," ucap Yunita.
"Bukannya kamu sekarang shift siang Yun? Kenapa tiba-tiba ke toko? Atau jangan-jangan kamu kangen ya sama Stevan?" tebak Ibunya yang mulai menggoda anaknya.
__ADS_1
Yunita sering bercerita tentang Stevan dengan orang tuanya, bahkan dia mengaku suka dengan Stevan kepada orang tuanya. Orang tuanya Yunita tidak mengekang hal itu, mereka justru mendukung Yunita.
"Gak Bu, aku mau resign dari pekerjaan itu. Mau cari pekerjaan lain dan menambah pengalaman!" Ucap Yunita.
"Kita sudah bilang kamu gak perlu kerja, toh juga kami berdua masih bisa menghasilkan uang!" kata Bapaknya Yunita.
"Gak ah, aku terlalu manja sama kalian. Aku ingin mandiri mulai sekarang dan rencana mau cari pekerjaan di luar kota biar pengalamanku luas nantinya!" Kata Yunita berpura-pura semangat.
"Ke luar Kota? Itu sangat jauh sayang, dan kita akan berpisah. Lebih baik kamu mencari pekerjaan di sini saja," ucap Sang Ibu yang tidak rela anaknya pergi dari rumah.
"Gak apa-apa Bu, namanya juga cari pengalaman ya harus jauh sekalian. Lagipula itu ada baiknya juga buat dia," kata Bapaknya Yunita.
"Tapi Pak, dia tidak bisa tinggal sama kita lagi nanti. Kalau terjadi apa-apa gimana?" kata Ibunya yang masih khawatir.
"Tidak akan terjadi apa-apa Bu, percaya sama aku. Toh juga nanti kalau aku nikah, aku bakalan pergi juga dari rumah ini kan?" Ucap Yunita berusaha meyakinkan Ibunya.
"Tapi coba kamu pikir baik-baik dulu sebelum memutuskan pergi, kamu ini manja tiap hari ada keperluan apa selalu cari Ibu sama Bapak nanti di sana kamu tinggal sendiri siapa yang akan kamu cari?"
"Iya Bu, tapi kalau keputusanku sudah bulat Ibu harus setuju ya?"
Ibunya Mengangguk meski dengan terpaksa, dia juga tidak ingin menghalangi kebahagiaan anak tunggalnya.
"Nanti Bapak belikan rumah saja di sana, dengan begitu kamu bisa menabung dan hanya memikirkan biaya makan saja!" Ucap Bapaknya.
"Iya Pak, makasih ya Pak. Bapak sama Ibu memang yang terbaik deh," kata Yunita memeluk kedua orang tuanya.
"Kamu siap-siap gih, katanya mau ke toko!" ucap Ibunya mengingatkan.
__ADS_1
"Ya udah deh Bu, aku ke kamar dulu ya!"
Yunita kembali ke kamarnya, dia sangat bahagia memiliki kedua orang tua yang sayang padanya. Namun sangat sedih karena mungkin jika dia hamil akan mempermalukan mereka. Untuk mencegah hal tersebut terjadi, Yunita memutuskan untuk pergi jauh dari orang tuanya. Dia tidak mau orang tuanya tahu kalau dia hamil di luar nikah nantinya.