
Setelah pulang dari rumah pohon, Achiel segera menuju ke permandian umum untuk mandi dan mencuci pakaiannya. Dia tidak sempat mengabari Amelia dari pagi hingga pulanh kerja. Namun Achiel percaya bahwa Amelia tidak akan menuntutnya untuk mengabarinya setiap jam.
"Kak Achiel biar aku saja yang cuci bajunya, Kak Achiel mandi saja!" ucap Willy adiknya.
"Ya udah deh, nanti Kak Achiel kasih kamu upah. Lagipula Kak Achiel capek," sahut Achiel.
Meskipun keduanya bersaudara, namun sikap saling menghormati dan membantu di antara keduanya masih terjaga. Itu selalu di ajarkan oleh orang tua mereka sedari mereka kecil.
"Gak usah Kak, aku cuma mau main game bareng sama Kak Achiel nanti!" Ucap Willy.
"Oke, bisa di atur. Kakak temenin, tapi gak sampai malam!" ucap Achiel berjanji kepada adiknya.
"Iya Kak, kalau begitu aku cuci dulu ya!" kata Willy.
Achiel dan Willy pun berpisah, Achiel masuk ke kamar mandi sedangkan Willy ke tempat pencuci baju.
...****...
"Capek banget seharian kerjain pekerjaan rumah, mana Kak Achiel belum sempat balas pesan lagi. Coba deh aku cek sekali lagi, siapa tahu sudah di balas!" ucap Amelia pada dirinya sendiri di dalam kamar.
Amelia membelalakkan matanya ketika melihat foto Achiel dan Yunita berboncengan. Foto tersebut di kirim oleh Stev yang di foto saat Achiel dan Yunita akan pergi mengambil motor Yunita.
"Kak Achiel kenapa bisa sama Kak Yunita? Mereka ada hubungan apa?" gumam Amelia.
Foto yang di lihatnya dapat menimbulkan rasa sakit di dalam hatinya yang belum pernah dia rasakan. Pikiran negatifnya mulai muncul satu per satu, terlebih lagi dia belum melihat notif Achiel sejak pagi.
"Apa karena ini Kak Achiel gak balas chat aku? tapi kenapa? Apa yang mereka lakukan sebenarnya di belakang aku?" tanya Amelia.
Amelia pun melemparkan handphonenya di atas kasur, dia masih menenangkan dirinya. Tetapi semakin di tenangkan justru semakin sakit rasanya. Amelia akhirnya memutuskan untuk bertanya secara langsung dengan Achiel tanpa meneruskan foto mereka.
Amelia terus menunggu notif dari Achiel hingga dia lelah menunggu karena sudah 15 menit chat belum di balas. Padahal kemarin malam Achiel sudah sempat bilang akan shift pagi hari ini.
"Waktu sudah menunjukkan jam 5 sore, seharusnya Kak Achiel sudah sampai di rumahnya. Apa Kak Achiel masih senang-senang ya sama Kak Yunita?" gumamnya lagi.
Karena kesal menunggu, Amelia pun menelepon Achiel.
"Halo, ada apa Amelia?" tanya Achiel ketika telepon sudah terhubung.
"Kak Achiel lagi dimana? tumben panggilannya bukan sayang?" tanya Amelia berbasa-basi agar tidak mudah emosi.
"Aku lagi di rumah," sahut Achiel.
"Oh pantesan panggil aku seperti itu, kirain aku di luar sama cewek!" kata Amelia yang mulai memancing.
"Ya enggaklah Mel, kamu negatif thinking terus!" Sahut Achiel dengan santai tanpa merasa bersalah.
__ADS_1
"Kak Achiel kemana saja? Kok tumben gak balas chat aku? Sibuk ya?" tanya Amelia yang berusaha memancing inisiatif Achiel untuk menjelaskan semuanya.
"Iya nih, tadi ada urusan sebentar soalnya gak sempat ambil hp!" Sahut Achiel.
"Oh gitu ya!" Jawab Amelia singkat.
"Kak jadi kan main game-nya, aku udah selesai cuci pakaian Kakak nih!" teriak seseorang yang sedang memanggil Achiel menggunakan kata Kakak.
"Itu siapa Kak?" tanya Amelia yang mendengar suara tersebut.
"Itu adik aku. Aku tadi udah janji sama dia untuk main game bareng, gak apa-apa ya aku matiin sekarang?" ucap Achiel.
"Sebentar, jangan di...matiin dulu," Belum selesai Amelia berbicara telepon sudah terputus.
Ini membuat Amelia semakin kesal dan semakin negatif thinking dengan Achiel.
'OK kalau itu mau kamu, gak apa-apa. Aku akan cuekin kamu sampai kamu mohon-mohon sama aku!' batin Amelia sungguh kesal.
Sedangkan di sisi lain, Achiel tampak sedikit kesal karena Willy tiba-tiba mematikan telepon kakaknya dengan niat jahil.
"Cieee Kak Achiel sudah punya pacar ya?" goda Willy.
"Diem, anak kecil jangan ungkit masalah pacaran!" ucap Achiel.
"Bagus kalau udah SMK kalau udah tamat langsung cari pekerjaan untuk meringankan beban Ibu sama Bapak!" ceramah Achiel.
"Ya udah yuk kita main game aja, malah di ceramah-in!" Ucap Willy sedikit cemberut.
Achiel dan Willy pun mabar di handphone masing-masing. Achiel tampak masih memikirkan Amelia yang sambungan teleponnya tiba-tiba terputus.
'Semoga saja Amelia tidak marah,' batin Achiel.
"Ayo maju kak, serang. Kok malah ke sana sih?" teriak Willy memandu kakaknya.
"Harusnya Kakak yang mengarahkan kamu, kamu ke sana dulu hancurkan rumah musuhnya biar Kakak di sini yang handle mereka!" ucap Achiel kembali fokus ke dalam Game.
"Will, sini Will bantu Kakak. Kakak kewalahan di sini!" ucap Achuel yang masih fokus dalam game.
"Katanya bisa handle sendiri," ejek Willy.
"Ya kan tadi musuhnya sedikit, sekarang malah nambah!" Sahut Achiel tak mau kalah bersilat lidah dengan adiknya.
"Dasar Kak Achiel!"
10 menit kemudian....
__ADS_1
"Nah kan menang, berkat Kakak ini!" ucap Achiel menyombongkan diri.
"Mana ada, ini juga berkat aku kan kita satu team!" Sahut Willy yang tidak mau kalah.
"Ya Kakak lah, orang kamu cuma hancurkan rumahnya aja kok yang lebih banyak hadang musuh kan Kakak!" Sahut Achiel.
"Kalian ini ribut apa sih? Itu hanya game kenapa di ributkan seperti itu sih?" ucap Helena yang baru datang dari ladang sambil membawa perlengkapannya.
"Bantuin Ibu Will" ucap Achiel dengan cepat.
Willy pun segera bangkir dari tempat duduknya dan membantu ibunya menurunkan barang-barang yang di bawa oleh ibunya.
"Iya Bu, kita juga cuma becanda aja kok Bu!" ucap Achiel.
"Chil, tolong beli lauk dulu ya. Ibu mau mandi dulu sebentar, badan Ibu sudah kotor ini!" Perintah Helena kepada Achiel sambil menyodorkan beberapa lembar uang.
"Iya Bu!" Sahut Achiel.
"Aku ikut ya Kak?" ucap Willy.
"Kamu di rumah saja, nanti kalau Bapak sudah datang buatkan kopi!" Sahut Achuel melarang adiknya untuk ikut dengannya.
"Iya deh Kak!" Sahut Willy patuh.
Tak lama setelah Achiel pergi, Edwin pun datang dengan sepeda motor bututnya.
"Sudah pulang Pak?" tanya Willy sekedar basa-basi.
"Belum nih, Bapak masih di pompa bensin!" ucap Edwin dengan nada bercanda.
"Ah si Bapak ini, gak tahu namanya orang lagi basa-basi apa!" Sahut Willy.
"Kamu sih basa-basi nya gitu amat. Lebih baik bikinin Bapak kopi sana, Bapak haus banget" perintah Edwin
"Haus mah minum air Pak, bukan kopi!" ujar Willy.
"Kopi juga di seduh pakai air kan?" sahut Edwin.
"Tapi kan panas Pak," kata Willy sambil menuangkan air panas ke dalam gelas.
"Kalau dingin bukan di seduh namanya Wil,"
"Udah ah, Willy gak pernah menang kalau ngomong sama Bapak!" Sahut Willy menyerah.
"Lagipula kamu ada-ada saja, masa mau melawan master," kata Edwin cekikikan melihat Willy yang cemberut.
__ADS_1