Cinta Sejati Amelia Achiel

Cinta Sejati Amelia Achiel
Chapter 24


__ADS_3

Yunita sudah sampai di depan sebuah kafe bertuliskan 'Chiros'. Dia kembali mengecek kembali maps yang tertera di handphonenya.


"Sepertinya ini deh tempatnya, apa aku langsung masuk aja ya?" Tanyanya pada dirinya sendiri.


Karena rasa khawatirnya yang mendalam, tanpa basa-basi lagi Yunita langsung masuk ke kafe tersebut dan menuju ke ruangan tempat Stevan berada.


"Maaf Mba, mau kemana ya? Di sana adalah tempat VIP jadi tidak bisa sembarangan orang bisa masuk ke sana," ucap pelayan tersebut dengan sopan.


"Iya Kak, saya mau cari teman saya yang ada di ruangan tersebut, kalau Kakak tidak percaya bisa langsung tanya pada orang yang bersangkutan!" Sahut Yunita yang berusaha tenang.


Karena Yunita sudah berbicara seperti itu, pelayan tersebut mengizinkan Yunita untuk masuk. Pelayan tersebut takut menyinggung tamu dari pelanggan VIP-nya.


"Stevan, kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Yunita sembari mendorong pintu.


Tetapi dia sangat terkejut karena Stevan berada dengan teman-temannya. Semua temannya juga terkejut melihat kedatangan Yunita.


"Benar ternyata kata lo Stev, cewek ini bahkan rela jemput lo ke sini malam-malam tanpa takut bahaya!" Kata seorang teman yang memuji Stevan.


"Jadi, gue menang taruhan ya. Mobil merchandise yang lo janjikan milik gue sekarang!" Ucap Stevan senang tapi tidak mempedulikan Yunita.


"Bentar dulu dong, kalau lo bisa bikin dia untuk tinggal di sini temenin kita minum baru bisa!" Sahut temannya.


Stevan hanya diam sebentar tetapi teman-temannya mengatakan bahwa dia ragu dan takut. Tentu saja perkataan dari teman-temannya membuat dia malu, namun dia juga tidak takut Yunita akan menolaknya karena dia percaya kalau Yunita akan menuruti perkataannya.


Stevan menengadahkan wajahnya dan melirik ke arah Yunita yang sedang berdiri di depan pintu.


"Kenapa masih diam saja? Kamu gak dengar apa kata mereka?" Ucap Stevan dengan ekspresi yang sedikit kesal.


"Tapi aku harus kembali bekerja Stev, tadi karena kamu bilang mabuk makanya aku buru-buru datang ke sini. Tapi ternyata kamu baik-baik saja dan ada banyak teman kamu juga di sini!" Ucap Yunita dengan menahan malu di depan teman-temannya Stevan.


"Mana, katanya sayang sama aku masa berkorban dikit saja tidak bisa?".


Stevan mulai berbicara dengan nada tinggi, dia tidak mau di permalukan di depan teman-temannya. Bagaimanapun juga dia harus mendapatkan hadiah taruhan yang di janjikan oleh teman-temannya.


'Tapi bukannya dengan begini sama saja kamu mengolok-olok ku?' batin Yunita sedih.

__ADS_1


Yunita tidak menyangka Stevan akan menjadikannya sebagai taruhan, di matanya Stevan bahkan sebuah mobil lebih penting daripada Yunita.


"Kenapa masih diam? Atau kamu sudah tidak sayang lagi sama aku?" tanya Stevan yang semakin kesal melihat Yunita tanpa pergerakan.


"Iya deh aku tinggal di sini, tapi gimana nanti kalau Bu Rita datang ke toko?" tanya Yunita yang masih ragu-ragu.


"Tidak akan. Aku dengar-dengar Bu Rita sedang ke liar kota, tidak mungkin dia datang ke toko!" ucap Stevan.


Yunita pun duduk di samping Stevan menyetujui permintaan Stevan karena dia sangat mencintai pria yang duduk di sampingnya.


"Boleh juga nih cewek," ucap temannya Stevan.


"Nih, kamu minum. Tunjukkan ke mereka kalau kamu sayang sama aku," kata Stevan sembari menyodorkan segelas alkohol kepada Yunita.


"Tapi aku gak bisa minum," bisik Yunita kepada Stevan.


"Udah, jangan membuatku malu lagi. Minum segelas gak akan bikin kamu mati!" Kata Stevan dengan suara pelan namun terkesan marah.


Lagi-lagi Yunita menggunakan perasaannya, dia pun minum alkohol yang tertuang di dalam gelas tersebut.


Yunita pun tak sadarkan diri, dia tersandar di bahu Stevan.


"Cuma segini doang kemampuan cewek lo Stev?" tanya temannya Stevan dengan nada merendahkan.


"Ini bukan cewek gue, mana kunci mobilnya gue mau pulang sekarang!" Ucap Stevan.


"Perhatian juga ya lo sama cewek ini, jangan-jangan lo suka lagi sama cewek ini?" Tuduh temannya sambil melempar kunci mobil ke arah Stevan


"Gak lah, gue pulang sendiri. Kalian mau apakan dia juga terserah kalian asal jangan bikin dia mati saja!" Ucap Stevan.


Setelah mengatakan hal tersebut, Stevan pergi meninggalkan teman-temannya dan juga Yunita. Dia menidurkan Yunita yang masih tak sadarkan diri di tempat duduknya.


"Stevan benar-benar teman yang baik, cewek secantik ini malah di berikan ke kita!" Ucap Udik temannya Stevan.


"Dik, gimana kalau kita bawa ke hotel lo aja. Lo tahu lah apa yang kita pikirkan, lumayan gratis daripada di luar 300rb cuma dapat satu jam!" usul temannya Udik.

__ADS_1


"Benar juga, mumpung belum sadar. Kalian berdua ikut gak?" tanya Udik pada teman-teman lainnya.


"Gak deh, gue mending sama cewek gue lebih wow daripada nih cewek!" Sahut salah satu temannya.


"Gue juga gak deh, gue gak mau kena masalah nanti!" Sahut yang lainnya.


"Berarti Gue sama Diki aja nih?" Tanya Udik memastikan.


Teman-temannya menjawabnya dengan anggukan, tentu saja jawaban mereka membuat Udik senang karena semakin sedikit orang akan semakin bagus.


...****...


Di sisi lain, Achiel nampak khawatir dengan Yunita yang belum kembali ke toko. Karena seharusnya jika tidak ada halangan butuh waktu satu setengah jam untuk sampai di toko setelah mengantar Stevan. Namun sekarang sudah jam 9 malam Yunita belum kembali.


"Achiel, Ibu minta tolong belikan obat ya kepala Ibu sakit suami juga masih keluar kota!" Kata Bu Rita tiba-tiba datang.


'Mampus! Bu Rita malah datang ke sini, aku harus bagaimana mencari alasan?' batin Achiel panik.


"Anu Bu, si Yunita masih istirahat katanya perutnya lapar!" kata Achiel mencari alasan.


"Loh, bukannya 15 menit lagi tutup toko ya? Kenapa dia malah istirahat?" Tanya Bu Rita yang keheranan melihat perilaku Yunita.


'Anak ini padahal saya sudah kasih peringatan, tetapi kenapa dia masih belum jera juga ya?' batin Bu Rita kesal.


"Namanya juga perut lapar Bu, kalau gak di izinin makan takutnya sakit maag!" Kata Achiel berusaha menenangkan Bu Rita.


"Ya udah deh kalau gitu saya suruh adik saya saja, kalau nunggu Yunita datang nanti keburu jam pulang!" kata Bu Rita.


"Maaf ya Bu sekali lagi," ucap Achiel kembali lega.


"Tidak apa, lagipula adik Ibu juga mau ke sini. Ya udah kamu lanjut bekerja saja ya!" kata Bu Rita lalu pergi meninggalkan Achiel.


"Baik Bu!" Sahut Achiel.


'Huh, untung saja Bu Rita tidak curiga. Tapi gak tahu apakah Yunita akan aman-aman saja atau gimana dengan pekerjaannya,' batin Achiel.

__ADS_1


Achiel mencoba untuk menelepon Yunita namun handphonenya mati. Achiel hanya bisa mengirim pesan kepadanya untuk menyuruh Yunita langsung pulang setelah mengantar Stevan.


__ADS_2