
"Kakak kamu datang 1 jam yang lalu, bahkan kamu tak menyapanya. Begitu yang Bapak ajarkan kepada kamu? Hah?" tanya Daniel dengan emosi yang meluap-luap.
"Aku ingat yang Bapak ajarkan, hormati orang yang lebih tua dari aku. Tapi emang yang duduk di sana orang? bukannya dia sampah ya?" ucap Amelia dengan nada mengejek menunjuk ke arah Keyla yang sedang duduk.
"Kamu bilang aku sampah Hah?" teriak Keyla yang langsung menghampiri Amelia dengan muka geramnya.
"Lalu? apa kamu pantas di sebut anak dari Ibu Kumala dan Bapak Daniel? aku rasa sih tidak. Lagipula di luar sana orang pada berlomba-lomba membela Ibunya saat di buat lelucon, Tapi apa yang kamu lakukan dengan saudara laki-laki mu itu? justru membuat lelucon menggunakan nama Ibu di depan pama-paman dan Bibi mu. Apa itu pantas?" tanya Amelia yang langsung memberikan serangan mematikan untuk Keyla.
"Dan Bapak, saat itu Bapak ada di sana. Bahkan Bapak ikut tertawa bukan membela Ibu, Bapak justru menambahan kata lelucon yang berkaitan dengan Ibu. Bapak tidak melihat ekspresi Ibu saat itu yang berusaha untuk tidak malu, syukurnya Bapak tidak memiliki istri yang sifatnya seperti aku. Kalau aku yang di perlakukan seperti itu mungkin aku akan mempermalukan saudara Bapak yang ikut tertawa itu!" ucap Amelia dengan emosi.
Amelia tidak terima dengan kejadian 1 tahun yang lalu saat keluarga mereka mengadakan acara kumpul-kumpul dengan paman dan Bibinya.
Saat itu Kakak laki-laki Amelia yabg bernama Dicky membuat lelucon dengan menggunakan kelemahan Kumala yang merupakan wanita yang melahirkannya.
Di tengah-tengah pembicaraan, Dicky berkata bahwa sang ibu mudah lupa dan setiap pekerjaan yang di lakukan tidak pernah terselesaikan dengan baik. Keyla juga berkata hal yang sama, mengatakan bahwa Ibunya bisa marah cuma karena piring yang tidak di cuci. Mereka berdua terus membicarakan segala kekurangan Kumala di depan paman dan bibinya. Tanpa mereka ketahui, ibunya telah bersusah payah bangun pagi untuk membuatkan mereka sarapan sebelum berangkat sekolah.
Menjadi seorang Ibu memang cukup merepotkan, bahkan waktu bersantai pun kurang rasanya. Tetapi Kumala memilih diam daripada menjelaskan satu persatu, hati Kumala sakit mendengar perkataan anaknya.
Meskipun sikap Dicky dan Keyla buruk terhadapnya, Kumala justru lebih menyayangi mereka berdua daripada Amelia. Sampai-sampai Amelia merasa bingung, Amelia berusaha untuk menunjukkan bakatnya di depan kedua orang tuanya berniat mencuri kasih sayang yang seharusnya dia dapatkan lebih daripada saudara-saudaranya. Tetapi itu tidak berhasil, Amelia merasa dirinya lelah jika terus menerus bersaing dengan saudaranya.
Akhirnya Amelia tidak lagi menunjukkan bakat hebatnya, dia tetap belajar seperti biasa tidak perlu terllau berprestasi yang penting paham apa yang akan di lakukan kedepannya.
"Amelia cukup! jangan membuat keributan lagi. Kamu telah merusak suasana hati Ibu, kedatangan Keyla adalah kebahagian Ibu tapi kamu malah menghancurkannya!" kata Kumala memarahi Amelia.
__ADS_1
Bukannya bersyukur karena Amelia masih berniat untuk membelanya, justru Kumala memarahinya. Ini membuat hati Amelia sakit, rasanya semua pengorbanan dan perlawanan dia terhadap Bapak dan saudaranya sia-sia.
"Oke, Amelia tidak akan mencari keributan lagi seperti kata Ibu. Tapi kalian juga jangan mencari masalah denganku!" ucap Amelia lalu kembali masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Amelia memutar musik yang kencang di handphonenya agar tidak mendengar teriakan Ibunya. Dia sudah lelah menghadapi keluarga yang seperti ini, bahkan tidak ada yang pernah mendukungnya yang dia terima hanyalah hinaan dan mereka selalu meremehkan Amelia.
'Kenapa Ibu dan Bapak tidak pernah memandangku? padahal aku berusaha menjadi anak yang lebih baik dari saudaraku sendiri. Dibandingkan dengan kedua saudaraku, prestasiku lebih bagus dan juga sikapku lebih baik daripada mereka. Hanya saja saat ini aku belum bisa menghasilkan uang seperti mereka, tetapi apakah kalau aku bisa menghasilkan uang semua akan berubah?' batin Amelia.
Dia terus memikirkan cara agat mendapat kasih sayang yang lebih saat kedua saudaranya datang, bukan hanya saat kedua saudaranya tidak di rumah.
Rasanya menjadi anak terakhir bagi Amelia hanyalah sebuah pelampiasan dari kedua orang tuanya, saat mereka rindu dengan dua saudaranya maka kedua orang tuanya akan memberikan kasih sayang yang penuh. Tapi saat kedua saudaranya datang, Amelia seperti menjadi anak tiri.
Dalam tangisnya, Amelia terlelap dalam tidurnya. Sebelumnya dia berencana untuk mencari pekerjaan sehingga dia bisa menghasilkan uang untuk tabungannya.
Hari sudah pagi, Kumala mengetuk pintu kamar Amelia. Amelia yang sudah bersiap untuk berangkat membuka pintu kamar dan mendapati ibunya berdiri kembali di depan pintu kamarnya.
Dengan mata sembab, Amelia keluar dari kamarnya tanpa mempedulikan sang Ibu yang menyuruhnya untuk sarapan. Amelia bergegas menuju sepeda motornya dan langsung pergi mengendarai sepeda motor. Tak peduli seberapa kencang teriakan Ibunya yang memanggil, Amelia masih sakit hati dengan kejadian kemarin.
Karena berangkat terlalu awal toko masih tertutup, Amelia harus menunggu beberapa menit lagi sampai seniornya datang untuk membuka toko. Amelia tidak tahu siapa yang akan bertugas shift satu sekarang, dia harap bukan Stevan.
"Sudah dari tadi Amelia?" tanya seorang wanita berjalan kaki menghampiri Amelia.
"Sudah Kak Yunita!" sahut Amelia.
__ADS_1
Yunita langsung membuka pintu toko yang terkunci itu, dan mengajak Amelia masuk.
Saatnya mereka untuk berberes dan membersihkan lantai sebelum tulisan Close berubah menjadi Open. Mereka membagi tugas supaya pekerjaan cepat selesai.
Beberapa menir kemudian, Lestari datang mengendarai sepeda motornya. Dia berjalan ke arah Amelia dan Yunita sambil memegang tas mewah yang di gandeng di samping kiri.
"Tas baru Les?" tanya Yunita yang kini sudah berada di sampingnya.
"Iya dong!" sahut Lestari sombong, namun sikapnya sedikit dingin terhadap Yunita setelah dia tahu yang membuat Amelia dan Achiel jadian adalah dia.
"Ya udah, kamu tolong lap jendela ya. Kita bagi tugas supaya cepat selesai!" perintah Yunita.
"Malas ah, kamu saja yang kerjain nanti aku bayar 100 ribu deh!" ucap Lestari yang angkuh.
"Gak boleh gitu dong Les, kita kan magang di sini. Gak semuanya bisa di bayar dengan uang!" ucap Amelia menegur sikap Lestari.
"Yakin Kak Yunita? aku tambahin 300 deh!" kata Lestari berusaha menyuap Yunita.
Yunita yang mata duitan itu tentu saja menerima tawaran Lestari, kapan lagi dia mendapat uang 400rb sehari hanya membersihkan jendela. Lestari mengeluarkan uang berwarna merah 4 lembar dan memberikannya kepada Yunita.
"Gimana Mel? bisa di selesaikan dengan uang kan? makanya jadi orang kaya jangan jadi miskin terus!" ejek Lestari.
Amelia yang mendengar perkataan sombong Lestari hanya bisa menggelengkan kepalanya karena merasa heran dengan temannya.
__ADS_1
'Lestari terlalu sombong, percuma juga kalau aku berbicara banyak sama dia. Lebih baik aku diam, nanti dia juga tahu akibatnya terlalu mengandalkan uang untuk menyelesaikan masalah!' batin Amelia yang tak mau ribet.