Cinta Sejati Amelia Achiel

Cinta Sejati Amelia Achiel
Chapter 19


__ADS_3

"Amelia lumayan menarik!" ucap Ferdi pada dirinya sendiri saat mengingat wajah Amelia.


"Tidak biasanya tuan muda Azka senyum-senyum sendiri menatap layar handphine!" ucap Baskara yabg merupakan sahabat masa kecil Azka Ferdi.


"Lo kenal cewek ini gak?" tanya Ferdi memperlihatkan foto Amelia.


"Gak sih, emangnya kenapa? tumben lo simpan foto cewek di handphone, biasanya juga sekali nanya cewek lo cuma bisa kasih foto anime favorit lo!" kata Baskara mengejek Ferdi yang memang tidak pernah tertarik dengan wanita manapun sebelumnya.


Hari ini Ferdi memperlihatkan foto wanita tentu saja itu membuat hatinya senang karena masih ada harapan bahwa Ferdi bisa jatuh cinta pada manusia, bukan hanya anime yang biasa dia tonton.


"Banyak bicara lo!" balas Ferdi mengatai temannya yang kini duduk di sebuah kursi yang sama di ruang kamarnya.


"Lo suka kan sama wanita itu?" tanya Baskara berusaha menyelidikinya.


"Kepo lo! urus saja urusan lo sendiri!" sahut Ferdi.


"Ada urusan apa lo ke sini?" tanya Ferdi dengan cepat mengubah topik pembicaraan.


"Mau pinjam catatan laporan selama lo magang, hehe!" kata Baskara senyum sambil bertingkah sok imut, membuat Ferdi geli melihatnya.


"Lo mau nyontek ya?" tanya Ferdi tanpa basa basi lagi.


"Iya, gak apa kan? toh juga kita teman masak tega sih lo bikin gue susah mikir?" rengek Baskara.


"Emangnya lo gak bisa apa kerjain sendiri? kalau masalah PR sekolah gue bisa kasih, tapi ini laporan. Mana ada laporan orang bisa sama?" kata Ferdi menolak permintaan temannya itu.


"Tempat magang kita kan sama, siapa tahu guru mengira kita melakukan pekerjaan yang sama di tempat magang!" sahut Baskara mencari alasan yabg tepat untuk Ferdi.


"Haih, lo punya otak dengan IQ yang rendah itu tidak masalah selama lo punya uang. Kenapa lo gak suruh aja orang untuk buat laporan lo, dengan begitu laporan lo selesai tanpa perlu banyak mikir!" Ferdi memberikan saran yang tepat dan cepat untuk Baskara namun itu cara yang sesat.

__ADS_1


Meskipun sesat, Baskara tidak menolak dengan saran yang du berikan oleh sahabatnya itu. Daripada dia harus capek-capek mikir, lebih baik mengikuti jalan tikus.


"Oke Fer, makasih sarannya. Gue pulang dulu, sampai ketemu besok!" ucap Baskara melambaikan tangannya dan keluar dari kamar Ferdi.


'Gue berharap gak ketemu lebih banyak teman b0d0h seperti lo Bas!' batin Ferdi.


Ferdi menarik nafas panjang dan merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Ferdi tinggal bersama seorang pembantu yang mengurusnya sedari kecil. Orang tuanya sibuk bekerja dan jarang pulang ke rumah karena urusan pekerjaan di luar kota. Namun kehidupan Ferdi di kelilingi dengan barang-barang mewah. Dari kecil apapun yang dia inginkan selalu di penuhi oleh orang tuanya.


Ferdi Azka adalah pewaris tunggal dari orang terkaya di negara S. Namun meskipun dia memiliki gelar seperti itu, Ferdi tetap menyembunyikan identitasnya di sekolah. Dia tidak peduli dengan gelar tersebut, baginya semua kekayaan yabg dia punya tidak ada artinya. Ferdi lebih menyukai hidup sederhana dengan keluarga yang selalu utuh di rumahnya.


"Main game dulu ah!" gumam Ferdi kemudian bangkit dari tempat tidurnya menuju ke meja tempat komputernya di taruh.


Selain pintar di sekolah, Ferdi juga pintar dalam bermain game. Dengan otak yang jenius seperti itu tak jarang ada banyak wanita yang mendekatinya. Namun Ferdi menolaknya dengan mentah-mentah, dia lebih menyukai tokoh wanita yang ada di anime tersebut.


...****...


"Sudah cukup lama aku di sini, perutku juga lapar. Tapi aku malas pulang ke rumah, apa aku menginap di rumah nenek ya?" ucap Amelia pada dirinya sendiri.


"Daripada pingsan di sini, lebih baik ke rumah Nenek saja!" ucap Amelia lalu bergegas menuju ke tempat parkir.


Tak butuh waktu lama, Amelia sudah sampai di rumah neneknya. Melihat kedatangan cucu kesayangannya, wanita yang biasa di panggil Nenek Li menghampiri cucunya dengan senang hati.


"Nenek!" seru Amelia yang berlari ke arah wanita tua tersebut dan langsung memeluknya.


Sudah lama sejak Amelia mulai magang, dia tidak pernah datang mengunjungi Nenek Li. Mereka berdua melepas rindu yang telah di pendam selama berminggu-minggu ini.


"Apa yang membuatmu kemari cucuku sayang?" tanya Nenek Li melepas pelukannya.


"Aku ada masalah di rumah Nek, Kak Keyla datang hari-hariku akan semakin buruk jika aku tinggal di rumah. Bolehkah aku tinggal di sini beberapa hari?" tanya Amelia menceritakan semua ketidaknyamanannya berada di rumah.

__ADS_1


"Tentu saja boleh, pintu rumah Nenek akan selalu terbuka untukmu!" ucap Nenek Li.


"Terimakasih Nek! Nenek memang paling baik sama aku!" ucap Amelia.


"Ya udah kamu makan dulu ya, kamu pasti lapar!" ucap Nenek Li.


Nenek Li meskipun sudah tua dan kakinya sudah tak kuat berjalan dengan cepat, namun masih semangat untuk mengambilkan cucu kesayangannya makanan. Amelia merasa tak enak hati, dia membantu Neneknya mengambil makanan yang di simpan di dapur.


"Nek aku mau makan sepiring bersama Nenek!" ucap Amelia manja.


"Kamu dari dulu tidak berubah, masih saja tidak mau pisah piring kalau makan!" kata Nenek Li yang mengingat kebiasaan cucunya.


"Hehe!" Amelia hanya tersenyum kepada sang Nenek.


'Ketenangan dan kebahagiaan inilah yang selalu aku dambakan. Aku tidak pernah merasakan kesedihan berada di rumah ini, Nenek sangat menyayangiku. Dulu ketika Nenek masih mampu berjalan menuju ke rumah, Nenek selalu memarahi Ibu dan Bapak. Nenek juga selalu mendukungku di depan keluargaku! Selain Nenek tidak ada yang menyayangiku lagi!' batin Amelia.


Amelia bersyukur karena di dunia ini masih ada orang yang begitu menyayanginya. Amelia tidak mau kehilangan satu-satunya orang yang memberikan kasih sayang penuh. Dia selalu berdoa agar Nenek Li panjang umur, sehingga Amelia bisa merasakan kasih sayang yang panjang bersama Neneknya.


"Kamu makan yang banyak, lihat badanmu semakin kurus setiap datang ke rumah Nenek. Apa Ibu dan Bapakmu tidak memberi kamu makan?" tanya Nenek Li marah melihat Amelia lebih kurus dari yang sebelumnya.


"Masakan Ibu tidak seenak masakan Nenek!" puji Amelia sekaligus menjawab pertanyaan Neneknya.


"Kalau begitu kamu tinggal saja di rumah Nenek, kamu bisa puas makan masakan Nenek setiap hari!" ucap Nenek Li.


Namun setiap diajak untuk tinggal bersama, Amelia selalu menolak. Amelia melihat Nenek Li semakin tua, jika dia tingfal bersama neneknya itu akan membuat Nenek Li menambah beban untuk biaya hidup. Apalagi Amelia tidak memiliki pekerjaan yang menghasilkan uang.


"Kenapa tidak Nenek saja yang tinggal di rumah?" tanya Amelia.


"Kamu tahu sendiri terakhir menginap di rumah irang tuamu, Kakek mu marah besar sampai mencari Nenek lewat mimpi!" kata Nenek Li mengingat suaminya yang telah meninggal 3 tahun yang lalu.

__ADS_1


"Iya juga sih, kasihan Nenek tinggal sendiri di sini. Tapi kalau aku di sini, pasti Ibu sama Bapak marah!"


"Kamu dengarkan saja apa kata mereka, kalau mereka berani macam-macam sama kamu bilang sama Nenek!" kata Nenek Li berusaha melindungi cucunya.


__ADS_2