Cinta Sejati Amelia Achiel

Cinta Sejati Amelia Achiel
Chapter 37


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Achiel masih memikirkan screenshot chat yang di kirim oleh Lestari. Dia terus menunggu agar Amelia menjelaskan semuanya tanpa bertanya. Beberapa hari ini juga Amelia jarang mengabari katanya ada tugas yang banyak, namun dia selalu Online di akun Whatsapp-nya.


Ini membuat Achiel menjadi semakin curiga, bukti sudah ada namun penjelasannya masih belum.


"Arghh, aku pusing kalau mikirin ini terus! Tapi kalau aku langsung bertanya aku malu!" ucap Achiel pada dirinya sendiri.


Achiel membuka lemari yang sudah tidak di gunakan, dia melihat sebuah gitar yang dulu dia beli. Namun karena dia terlalu bosan untuk memainkannya dia menyimpannya di dalam lemarinya.


"Debunya banyak sekali," ucap Achiel sambil mengelap gitarnya dengan selembar kain.


Setelah membersihkan gitar, dia menghafal kunci yang sempat dia pelajari.


"Ternyata masih ingat aku kunci-kunci gitar ini," ucap Achiel.


Achiel mulai menyanyikan sebuah lagu, sesekali melihat kunci gitar ke layar handphonenya yang dia letakkan di atas pahanya.


Achiel sangat menghayati lagunya, dia tidak tahu kenapa setelah menyanyi pikirannya bisa menjadi lebih tenang.


Entah itu karena dia bisa mengeluarkan suara tingginya atau karena itu hobinya.


Setelah selesai menyanyi, Achiel kembali menaruh gitarnya di atas ranjang. Dia ikut berbaring di samping gitarnya.


...***...


"Aduh tugasnya banyak sekali, aku sampai bingung mau kerjain yang mana," ucap Amelia dengan dirinya sendiri.


"Kamu kenapa Mel? Kok dari tadi menggerutu sendiri?" tanya Danie menghampiri anaknya yang duduk di meja belajarnya.


"Amelia lagi bikin tugas Pak, cuma bingung mau selesain yang mana soalnya banyak sekali tugas yang di kasih sama guru-guru di sekolah," ucap Amelia.


"Kamu lihat saja jadwalnya yang mana lebih dulu di kumpulkan tugasnya. Nah yang duluan itu di buat dulu tugasnya, yang lain bisa menyusul!"


Daniel memberikan sebuah saran kepada anaknya. Amelia adalah satu-satunya anak yang memiliki prestasi. Jadi Daniel cukup bangga dengan Amelia.


"Benar juga ya, makasih ya Pak!" ucap Amelia.


"Iya, sama-sama. Kamu lanjut belajar dulu, Bapak sama Ibu mau keluar sebentar beli kebutuhan dapur!" ucap Daniel.


Amelia lanjut mengerjakan tugasnya, sesekali dia chatingan dengan Ita dan Putri untuk berdiskusi. Mereka bahkan sudah membuat grup untuk diskusi agar lebih mudah.


"Huhh, kalau seperti ini mungkin menguras waktu yang lama. Dan banyak membuang waktu, atau gak aku ajak aja kali ya mereka ketemu di suatu tempat untuk mengerjakan tugas?" tanya Amelia pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Setelah memikirkan ide-nya kembali, Amelia memutuskan untuk mengajak mereka belajar bersama.


Putri dan Ita pun langsung setuju karena kebetulan mereka juga merasakan hal yang sama dengan Amelia.


Beberapa saat kemudian, Amelia pergi menuju ke rumah Putri. Mereka sepakat untuk mengerjakan tugas di rumah Putri. Dengan membawa tugas yang berbeda-beda.


TOK! TOK! TOK!


Amelia mengetuk pintu rumah Putri, yang ternyata di samping pintu sudah ada bel rumah yang bisa di tekan.


"Sebentar!" ucap seorang wanita dari dalam rumah.


Beberapa saat wanita yang menyahut itu keluar dari rumah membukakan pintu untuk Amelia.


"Kamu temannya Putri ya?" tanya wanita tua itu.


"Iya Bu, saya temannya Putri yang mau belajar bersama di rumah Ibu!" sahut Amelia se-sopan mungkin.


"Silahkan masuk, Putri ada di kamarnya nanti kamu masuk saja ya!" Ucap wanita itu yang merupakan Ibu Putri.


Amelia masuk ke dalam rumah mengikuti langkah kaki Ibunya Putri.


"Kamu naik tangga saja langsung ya, nanti di sana ada kamar yang paling pojok nah ketuk saja pintunya, itu kamar Putri!" ucap Ibunya Putri kepada Amelia.


Amelia sangat kagum dengan rumah mewah yang di miliki Putri. Ini pertama kalinya dia memasuki rumah sebesar dan semewah ini. Tidak heran jika Amelia sangat terpesona dengan rumahnya Putri.


Amelia berjalan sesuai dengan petunjuk yang di berikan oleh Ibunya Putri.


'Padahal mereka orang kaya, tapi mereka tidak mewaspadai orang asing yang baru pertama kali masuk ke rumahnya. Mereka sungguh memiliki pikiran yang positif,' batin Amelia.


Sampai di depan pintu kamar yang di tunjukkan oleh Ibunya Putri Amelia mengetuk pintu kamar tersebut.


Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Ternyata itu bukan kamar Putri melainkan Kakak laki-lakinya yang bernama Putra.


Tentu saja itu membuat Amelia sangat malu, ekspresi wajah Putra juga seperti terlihat bingung dengan kedatangan wanita asing.


"Cari siapa ya?" tanya Putra yang hanya menggunakan kaos biasa dan celana pendek.


"Ma-maaf, saya temannya Putri. Saya di suruh langsung masuk ke kamar Putri, kamar Putri di mana ya?" tanya Amelia gugup.


"Kamar adik saya ada di sebelah sana," ucap Putra sembari menunjukkan kamar Putri yang ada di pojok kanan.

__ADS_1


"Oh iya, terimakasih ya Kak," kata Amelia langsung pergi meninggalkan Putra.


'Dasar Amelia, harusnya tadi pikir dulu pojok yang mana,' batin Amelia menyalahkan dirinya sendiri.


Amelia kembali mengetuk pintu yang di tunjukkan oleh Putra. Berharap kamar tersebut tidak akan salah lagi.


"Eh Amelia sudah datang, masuk Mel," ucap Putri menyambut temannya.


Di sana ternyata sudah ada Ita dengan buku-buku yang berserakan di atas ranjang.


"Put, yang di sebelah itu kamar Kakak kamu ya?" tanya Amelia kepada Putri mengenai Pria tadi yang dia temui.


"Iya Mel, kenapa? Kamu salah masuk kamar ya?" tanya Putri.


"Iya, aku malu banget tahu," ucap Amelia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Gak usah malu, Ita pertama kali ke rumah aku juga gitu kok!" kata Putri sambil menolehkan wajahnya ke arah Ita.


"Beneran Ta?" tanya Amelia memastikan.


"Iya, untung saja waktu itu aku sudah punya pacar. Kalau belum,mungkin aku sudah kepincut sama kakaknya Putri," kata Ita tersenyum.


"Pacaran terus yang kamu pikirin Ta. Udah yuk kerjain tugas masing-masing," ajak Putri.


"Boleh! Aku sesuai kesepakatan sudah bawa tugas Matematika," ucap Amelia.


"Ya aku tugas Bahasa Indonesia," kata Ita sambil mengangkat buku yang bertuliskan Bahasa Indonesia.


"Dan aku Bahasa inggris!" sahut Putri.


Mereka kemudian mengerjakan tugas masing-masing. Namun meskipun mata pelajaran yang di pegang berbeda-beda mereka masih bisa berdiskusi.


Salah satu dari mereka yang memiliki kendala bisa meminta bantuan dengan yang lainnya. Namun jika mereka bertiga belum mendapat jawaban, mereka akan melewatinya terlebih dahulu.


Beberapa menit kemudian....


"Aduh perutku lapar!" ucap Putri.


"Baru 15 menit belajar sudah lapar saja kamu Put," kata Ita terheran-heran dengan nafsu makan Putri.


"Aku kalau stress bawaannya pingin makan, aku ambil camilan dulu ya," kata Putri bergegas ke luar mengambil camilan di dapur.

__ADS_1


"Ada-ada saja Putri," ucap Ita.


Tak ada respon dari Amelia karena dia sedang fokus mengerjakan tugas matematikanya. Amelia tidak bisa di ganggu saat belajar, jadi Ita juga tidak akan mengganggunya dan kembali mengerjakan tugasnya sampai Putri datang membawa camilan.


__ADS_2