
Dalam satu hari, Amelia dan Achiel berbincang dengan sangat aman karena tidak ada yang mengganggunya lagi. Tentu saja itu akan menjadi kenangan yang paling indah untuk mereka.
Obrolan mereka terhenti ketika kedatangan shift 2 yaitu Stevan dan Yunita. Mereka tampak canggung, tidak ada yang berani berbicara saat itu.
"Kita duluan ya!" ucap Amelia kepada Yunita dan Stevan.
"Ya, hati-hati!" sahut Yunita.
Yunita dan Stevan mulai melakukan apa yang harus di kerjakannya. Mereka juga tidak saling berbicara seperti biasanya. Ini membuat Yunita menyesali perbuatannya.
'Apa Stevan sudah tahu ya kalau aku yang membuat Achiel membencinya?' batin Yunita yang merasa sedikit menyesali perbuatannya.
Dia menyesal karena perilakunya tidak sesuai dengan ekspektasinya. Yang berharap Stevan akan melupakan Amelia justru malah sebaliknya.
"Stevan kamu tumben diem terus? Ada masalah apa?" tanya Yunita memberanikan diri untuk bertanya ketika Stevan sudah duduk di lantai.
"Gak usah sok baik deh lo, Lo kan yang hancurin hubungan gue sama Achiel?"
"Aku... Aku... Aku minta maaf deh Stev," kata Yunita kepada Stevan terbata-bata karena merasa sangat bersalah.
"Maaf kata Lo? Kalau bukan karena lo mungkin gue sudah bahagia sama Amelia dan pertemanan gue sama Achiel juga baik-baik saja!" ucap Stevan dengan nada tinggi.
"Emang kamu gak bisa apa lupain Amelia? Kenapa kamu gak pernah mandang orang yang suka sama kamu?" tanya Yunita yang ikut menggunakan emosinya berbicara kepada Stevan.
"Siapa orang yang suka sama gue?" tanya Stevan yang langsung merubah ekspresinya menjadi bingung. Karena selama ini dia tidak pernah tahu kalau Yunita menyukainya.
"Aku. Aku suka sama kamu!" sahut Yunita dengan nada melemah.
__ADS_1
"Lo suka sama gue? Lo sahabat gue Yun, kenapa lo bisa suka sama gue?" tanya Stevan yang tak menyangka.
"Apa salahnya sahabat suka sama sahabatnya sendiri? Kenapa aku gak boleh suka sama kamu sedangkan wanita lain yang tidak tahu apa-apa tentang kamu boleh?" tanya Yunita yang sedikit demi sedikit matanya meneteskan air membuat pipinya menjadi basah.
"Ya, lo gak salah. Tapi gue gak suka sama lo Yun, kita udah sering main bareng dan gue juga sudah kenal lo sejak lama," kata Stevan yang mulai mereda emosinya.
"Aku tahu kamu akan jawab seperti itu, makanya aku benci mengakui hal ini. Tapi aku gak akan menyerah gitu aja, aku pasti akan buat agar kamu jatuh cinta sama aku!" ucap Yunita sambil menghapus air matanya.
"Yun, jangan nangis lagi. Gue gak pantas buat lo tangisin, lo berhak dapat yang lebih baik dari gue Yun!" ucap Stevan sembari menghapus air mata Yunita yang sudah membasahi pipinya.
Ini pertama kalinya Stevan melihat Yunita menangis, biasanya mau sebesar apapun masalahnya Yunita tidak akan menangis dan tidak akan selemah ini. Namun karenanya, temannya menangis. Stevan merasakan sangat bersalah, tapi jika dia berbohong dan menerima cintanya itu akan membuat Yunita tambah sakit hati.
"Maaf Stevan, aku jadi terlihat cengeng di mata kamu!" ucap Yunita menghapus air matanya.
"Lo gak usah pura-pura kuat di depan gue Yun, lo gak seharusnya bersikap seperti ini di depan gue. Gue tahu lo suka sama gue, dan meskipun kita gak pacaran kita masih bisa seperti dulu. Selalu bercerita saat ada masalah!" ucap Stevan menenangkan hatinya Yunita.
"Gak ada orang yang akan bisa menggantikan kamu di hati aku Stevan, aku gak akan bisa lupain kamu. Sama halnya kamu dengan Amelia," kata Yunita keras kepala.
"Makasih Yun lo udah suka sama gue. Gue minta maaf karena gak bisa balas cinta lo, tapi gue harap lo gak akan membenci gue!"
"Gak akan Stevan, aku gak mungkin bisa benci kamu. Aku pasti akan selalu menunggu kamu di sini sampai kamu lelah mencari wanita di luaran sana dan kembali sama aku!" ucap Yunita dengan ekspresi wajah yang serius.
Stevan tak menyangka temannya memiliki tekad yang kuat. Tekad itu membuat Stevan menjadi takut karena tidak bisa membalas cintanya. Bagaimana kalau dia menemukan pasangan yang cocok untuknya? Apakah Yunita akan menghalanginya dan melakukan segala cara untuk memisahkannya?.
Memang horor kalau di cintai oleh orang yang seperti Yunita, itu membuat Stevan was-was akan pasangan kedepannya.
*****
__ADS_1
Achiel yang baru sampai di rumahnya sudah di kejutkan dengan keramaian yang ada di rumahnya. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi, sampai akhirnya Willy menghampirinya dan menyuruhnya untuk duduk di samping para tamu yang duduk di teras rumahnya.
"Bapak dimana sama Ibu?" tanya Achiel berbisik kepada adiknya.
"Dalam perjalanan pulang!" sahut Willy.
"Ini ada acara apa? Kenapa semua orang berkumpul di rumah kita?" tanya Achiel lagi dengan suara yang lebih pelan.
"Emang Bapak gak kasih tahu Kak Achiel? Hari ini kan ada acara syukuran kecil-kecilan di rumah Pak Bagas!"
Achiel terkejut karena dia tidak tahu apa-apa mengenai hal itu, terlebih lagi itu pamannya.
Beberapa menit kemudian orang tuanya Achiel datang. Mereka meminta maaf karena sudah membuat menunggu terlalu lama dan bahkan mereka masih menggunakan pakaian yang kotor.
"Tidak apa-apa Pak, lagipula janjinya jam 3 tapi kami sudah di sini jam 2, harusnya kami yang minta maaf!" ucap salah satu tamu yang hadir.
Biasanya orang pada umumnya akan terlambat jika melakukan perjanjian waktu, tetapi warga di desa Achiel berbeda. Mereka akan datang lebih dulu sebelum jam, itu sebagai tanda bentuk kehormatan mereka.
"Tunggu sebentar ya Pak, saya mandi dulu!" ucap Edwin.
Edwin bergegas ke kamar mandi mengambil ember yang berisi sabun dan segala perlengkapan mandi lainnya beserta handuk untuk di bawa ke permandian umum. Sedangkan istrinya mandi milik pribadinya, ini bertujuan agar para tamu yang hadir tidak lama menunggu.
Lagipula stok air di rumah Achiel memang sedikit karena jarang sekali airnya mengalir ke rumahnya. Achiel dan keluarganya sering membawa galon ke tempat penampungan air jika air tidak mengalir ke rumahnya. Bahkan air di rumahnya hanya cukup untuk mandi dan minum saja.
Untuk keperluan lain seperti mencuci, mereka harus pergi ke permandian umum. Meskipun begitu, mereka sangat senang karena selain pekerjaan mereka tuntas mereka juga bertemu dengan banyak orang di sana.
Beberapa menit kemudian, Edwin telah datang dari permandian umum sedangkan istrinya sudah duduk di antara para tamu.
__ADS_1
Edwin pun masuk ke dalam kamar untuk mengenakan pakaian yang lebih bersih. Setelah itu mereka pun sama-sama berangkat ke rumah Pak Bagas.