
Siangnya, saat Yunita sudah sampai di toko dia melihat Achiel yang tengah melayani pelanggan. Yunita diam-diam untuk naik ke lantai atas menemui Bu Rita karena sebelumnya dia sudah menghubungi Bu Rita.
"Selamat siang Bu," sapa Yunita dengan sopan kepada Rita yang sedang merebahkan badannya di kasur lantai.
Melihat kedatangan Yunita, Rita bangkit dari tidurnya dan merapikan daster yang di kenakannya.
"Ada apa Yunita? Kenapa tiba-tiba kamu mau bertemu saya?" Tanya Rita santai sambil mengarahkan Yunita untuk duduk di kursi yang ada di sekitar sana.
"Jadi begini Bu, tujuan saya datang menemui Ibu saya ingin resign Bu!" ucap Yunita gugup.
"Ini surat pengajuan resign saya Bu!" Imbuhnya sambil menyerahkan sebuah map yang ada di tangannya.
"Kenapa tiba-tiba mau resign?" tanya Rita terkejut setelah mendengar pernyataan Yunita.
"Iya Bu, saya ingin mencari pengalaman yang lebih luas di luaran sana. Mohon untuk Ibu menyetujuinya," kata Yunita kemudian.
"Apa kamu sudah pertimbangkan baik-baik untuk resign di sini?" tanya Rita.
"Sudah Bu!" Sahut Yunita singkat.
"Baiklah, tapi sesuai aturan toko kamu bisa berhenti bekerja setelah saya mendapat penggantinya maksimal 10 hari setelah pengajuan resign," jelas Rita.
"Baik Bu, saya bersedia untuk menunggu 10 hari lagi," kata Yunita dengan mantap.
"Tapi saya masih boleh libur gak Bu? Hari ini ada keperluan penting soalnya," tanya Yunita.
"Boleh, tapi tidak lebih dari 1x, kalau melebihi saya akan potong gaji kamu," ucap Rita.
"Baik Bu terimakasih," ucap Yunita.
Setelah selesai mengatakan hal tersebut, Yunita pun kembali untuk turun ke tangga.
'Masih ada waktu sepuluh hari untuk bertemu Stevan, semoga aku kuat!' batin Yunita.
"Eh Yun, kapan naiknya? Kok aku gak lihat kamu masuk ke toko?" tanya Achiel setelah Yunita turun dari tangga.
"Barusan Chil," sahut Yunita sambil berjalan ke arah Achiel yang ada di kasir.
"Kamu ngapain ke atas? Di panggil sama Bu Rita ya?" tanya Achiel.
"Aku mau resign Chil," sahut Yunita dengan raut wajah yang sedih.
__ADS_1
"Hah? Yang benar saja kamu. Jangan bercanda ah, gak lucu!" Ucap Achiel yang menganggap semua itu candaannya Yunita.
"Mana ada aku bercanda Chil, aku mau resign," sahutnya mengulangi perkataannya.
"Tapi apa masalahnya? Kenapa tiba-tiba?" tanya Achiel kebingungan.
"Ada pokoknya, nanti aku cerita. Setelah ini kamu sibuk gak?" tanya Yunita.
"Ga ada sih, mau jalan-jalan?" tanya Achiel menawarkan diri.
"Boleh, sambil aku cerita perihal kemarin. Tapi makasih ya kemarin sudah bantu aku bolos," ucap Yunita.
"Iya sama-sama, untung saja Bu Rita tidak terlalu curiga soalnya kemarin Bu Rita datang kemarin,"
"Bukannya Bu Rita kemarin ke luar kota ya?" tanya Yunita dengan ekspresi wajah yang terkejut.
"Kata siapa? Cuma suaminya saja yang keluar kota, Bu Rita sih masih tetap stay di sini!" Sahut Achiel.
"Oh kirain Bu Rita ikut,"
'Stevan benar-benar melakukan segala cara, bahkan dia ingin menghancurkan pekerjaanku. Aku benar-benar tidak ada harganya di mata Stevan,' batin Yunita dengan hati yang penuh luka.
30 menit kemudian, Stevan sudah datang. Suasana menjadi sangat canggung, Achiel dan Yunita membereskan barangnya dan bersiap untuk pergi.
"Eh iya hampir lupa, makasih Chil udah ingetin!" ucap Yunita.
"Sama-sama!" Sahut Achiel.
Setelah selesai, Achiel dan Yunita keluar dari toko. Achiel kebingungan karena di tempat parkir hanya ada sepeda motor dirinya dan Stevan.
"Motor kamu di mana Yun?" tanya Achiel.
"Aku lupa kalau aku naik ojek di sini, motor aku ketinggalan di kafe kemarin," kata Yunita yang telah melupakan satu hal penting.
"Ya udah aku bonceng kamu aja ya, kita ambil motor kamu!" ucap Achiel.
'Apa mungkin kemarin yang dia bawa motor Stevan ya? Dan kenapa tadi mereka tidak saling sapa?' batin Achiel yang penasaran, namun masih berusaha dia pendam hingga Yunita menceritakan semuanya.
Achiel dan Yunita menggunakan satu motor untuk menuju ke lokasi kafe kemarin. Saat Yunita di bonceng oleh Achiel mereka tampak seperti orang yang sedang pacaran.
"Makasih ya Chil udah repotin kamu," ucap Yunita setelah sampai di parkiran kafe tersebut.
__ADS_1
"Tidak apa, untung motornya gak hilang!" Sahut Achiel.
Tanpa banyak berbincang lagi, Yunita mengajak Achiel untuk menuju ke suatu tempat yang menurutnya lumayan tenang. Achuel hanya membuntuti motor Yunita dari belakang karena dia tidak tahu tempat yang di maksud.
15 menit dari kafe Chiros akhirnya Yunita dan Achiel sampai di tempat yang dimaksudkan oleh Yunita. Ternyata itu adalah sebuah rumah pohon, yang dimana sesuai namanya rumah-rumah tersebut di buat di atas pohon. Namun ada juga rumah yang di buat di atas tanah, di tujukan untuk orang yang takut ketinggian seperti Achiel.
Meskipun rumahnya di bawah namun pemandangannya juga sangat bagus untuk di lihat.
"Kita beli camilan dulu yuk Chil!" Ajak Yunita ketika melihat warung di sekitar sana.
"Boleh! Aku tunggu di rumah itu ya!" Sahut Achiel sembari menunjuk ke arah rumah yang di bawah rumah pohon.
"Oke!" Sahut Yunita sambil menyatukan jari telunjuk dan ibu jari menjadi bentuk O.
Achiel berjalan sendirian ke arah rumah tersebut, dia menikmati pemandangan yang ada di sana. Sangat tenang dan nyaman dan pas untuk bersantai.
"Hei, bengong aja!" ucap Yunita menepuk bahu Achiel.
Achiel hanya tersenyum tipis dan membiarkan Yunita untuk duduk di sampingnya.
"Aku sampai lupa kalau kamu sudah pacar, kita pergi berdua seperti ini apa dia gak cemburu?" tanya Yunita yang telah melupakan Amelia.
"Nanti aku jelasin!" sahut Achiel.
Achiel percaya klau Amelia akan mengerti situasinya.
"Kamu sama Stevan kemarin gimana? Kenapa tadi tidak saling sapa?" tanya Achiel.
"Dia pria br*ngsek ternyata, gak sebaik yang aku kira!" ucap Yunita sambil memandangi pemandangan yang ada di depannya.
"Kenapa?" tanya Achuel yang masih bingung.
Yunita menceritakan semuanya secara detail kepada Achiel untuk melampiaskan kesedihannya. Yunita juga menangis dan meminjam pundak Achiel untuk bersandar.
Tentu saja Achiel mengizinkannya karena merasa tidak enak hati, lagipula dirinya tidak ada perasaan yang istimewa di hatinya. Achiel tidak akan terpengaruh dengan suasana ini.
"Jadi karena itu kamu resign dari pekerjaan?" tanya Achiel memastikan.
Yunita hanya bisa mengangguk, dia tidak bisa lagi untuk menahan air matanya yang terus-menerus mengalir membasahi pipinya.
"Aku tidak menyangka Stevan akan sekejam itu sama kamu, aku semakin tidak suka dengan pria seperti itu!" Ucap Achiel.
__ADS_1
Yunita hanya terdiam tak membalas perkataannya Achiel.
'Aku harus memberi Stevan pembelajaran!' batin Achiel.