
Sabtu kemudian...
Beberapa hari terakhir Amelia tidak pernah membalas atau menjawab telepon dari Achiel. Achiel penasaran apa yang membuat Amelia marah sampai tidak ingin berbicara dengannya.
Achiel terus menerus menelepon Amelia sampai Amelia tak tahan akhirnya dia menjawab telepon dari Achiel.
"Halo, ada apa?" tanya Amelia kesal.
"Kamu kenapa? Kok tiba-tiba marah?" tanya Achiel to the point.
"Keme kenepe kek tebe-tebe mereh?" Amelia mengulangi kalimat Achiel dengan nada mengejek sekaligus kesal.
"Pikir saja sendiri!" ucap Amelia kesal.
"Masalah telepon kan aku udah minta maaf, waktu itu adik aku yang matiin aku udah janji ajak dia main game!" ucap Achiel.
"Kenapa gak kamu telepon balik setelah selesai main game dan jelasin? Kenapa pas saat aku yang minta baru kamu jelasin?" tanya Amelia dengan nada kesalnya.
"Ya aku kira kamu bisa paham situasi aku, makanya aku langsung tidur karena capek juga!" Sahut Achiel.
"Capek ngapain? Capek ya jalan sama cewek lain?" tuduh Amelia dengan amarah yang sudah meledak-ledak.
"Kan aku kerja Amelia sayang," sahut Achiel.
"Oh kerja toh, ya udah sekarang kenapa telepon? Emang gak capek habis pulang kerja?" tanya Amelia dengan tujuan menyindir kembali Achiel.
"Ya capek, tapi beberapa hari ini kamu marah tanpa alasan yang jelas bikin aku tambah capek lagi makanya aku mau kelarin hari ini juga!" ucap Achiel.
"Aku marah tanpa alasan ya? Ya udah kita selesaiin saja hari ini dengan cara kamu tidak perlu peduli lagi sama aku. Bukannya kamu bilang aku marah tanpa alasan?" ucap Amelia dengan nada tinggi.
"Jangan gitu dong, atau enggak besok kita ketemuan. Besok janjinya jalan-jalan kan? Jadi gak?" tanya Achiel berusaha menahan emosinya agar pertengkaran tidak semakin runyam.
"Gak jadi, aku ada janji sama teman-teman aku!" sahut Amelia yang masih saja emosi.
"Ya udah deh kalau gitu, terus kapan kita jalan-jalan?" tanya Achiel memastikan.
"Supaya aku bisa cari cuti!" imbuhnya kemudian.
"Gak tahu, nanti aja aku kabarin kalau aku bisa!" ucap Amelia.
"Oh ya udah deh, cuti aku lagi 2 besok udah terlanjur bilang mau libur. Nanti kabari aja ya!"
__ADS_1
"Besok kamu libur, emang mau kemana?" tanya Amelia penuh curiga.
"Ya di rumah aja, bukannya kamu bilang mau jalan sama teman-teman kamu?" jawab Achiel santai.
"Bener di rumah aja? Gak pergi jalan sama cewek itu?" tanya Amelia.
"Cewek yang mana sih? orang aku besok di rumah aja paling!" Sahut Achiel.
"Ya udah deh, kalau begitu aku tutup teleponnya. Bye!" ucap Amelia lalu menutup telepon.
Achiel semakin bingung dengan sikap Amelia, padahal sudah berhari-hari lewat tapi masih saja marah. Dia berniat untuk putus dengan Amelia namun hatinya tidak memperbolehkannya. Hatinya selalu berkata jika Amelia bukan wanita yang pemarah seperti itu.
'Entah apa yang membuat Amelia marah? kenapa dia menuduhku jalan dengan wanita lain? Ah sudahlah hati wanita memang susah di tebak' batin Achiel.
"Kak Achiel, ada Kak cleo tuh di rumah lagi nyariin Kak Achiel!" ucap Willy.
"Ya udah sebentar lagi Kak Achiel keluar!" sahut Achiel.
Sahabat kecilnya muncul lagi mencarinya, Achiel keluar dari kamarnya untuk menemuinya dan menyambutnya dengan ramah.
"Ada apa Cleo?" tanya Achiel.
"Besok ada waktu gak? Kita jalan-jalan yuk!" ajak Cleo tanpa basa-basi.
"Gimana Achiel? Mau gak? Adik kamu udah semangat gitu masa kamu tolak!" ucap Cleo mengharapkan jawaban Achiel.
Achiel sudah bilang kalau besok akan di rumah saja dan tidak keluar rumah. Tapi jarang-jarang Achiel ajak Willy untuk pergi jalan-jalan, ini adalah pilihan yang sedikit sulit bagi Achiel karena dia tidak ingin berbohong.
'Lagipula kalau aku pergi sebentar tidak mungkin juga kan bertemu dengan Amelia?' pikir Achiel dalam hati.
"Ayo dong Kak, aku mau pergi ke perpustakaan yang baru di buka itu loh!" rengek Willy.
"Kakak juga mau ke sana loh Will, ayo dong Chil sekalian kita jalan-jalan nanti!" bujuk Cleo tak sabaran.
"Ya udah deh, besok jam 10 kita berangkat ya!" ucap Achiel setuju.
Cleo dan Willy bersorak senang, tujuan mereka untuk membujuk Achiel tercapai.
"Udah di tentukan ya, kalau gitu aku pulang dulu!" ucap Cleo.
"Kamu ke sini untuk bilang itu aja? Kenapa gak lewat telepon aja?" tanya Achiel heran melihat perilaku sahabatnya.
__ADS_1
"Kalau aku lewat telepon mungkin kamu gak akan mau, makanya aku lebih baik datang ke sini!" ucap Cleo.
"Dasar kamu, ya udah hati-hati di jalan ya!" ucap Achiel.
Cleo pun masuk ke dalam mobil setelah sopirnya membukakan pintu mobil. Setelah Cleo pergi, Rehan yang merupakan paman Achiel menghampirinya.
"Itu pacar kamu Chil? Dalam satu bulan sudah datang 3 kali ketemu kamu!" ucap Rehan.
"Gak Pak, itu teman Achiel waktu sekolah SD kemudian terpisah lama karena dia sekolah di luar kota," sahut Achiel.
"Kamu suka sama dia?" tanya Rehan yang masih berusaha untuk menyelidiki.
"Gak lah Pak, Achiel sudah punya pacar!" sahut Achiel.
"Tapi sepertinya wanita itu suka sama kamu Chil, dari tatapannya ke kamu saja sudah bisa di baca!" sahut Rehan.
"Gak mungkin lah Pak, kita cuma teman biasa saja!" sahut Achiel yang masih menyangkal perkataan pamannya.
"Jangan kasih dia harapan kalau kamu tidak suka Chil, dan juga jaga perasaan pacar kamu. Jangan sampai membuat pacar kamu cemburu," Rehan memberikan nasehat pada ponakannya.
"Iya Pak, makasih nasehatnya!" sahut Achiel.
'Yang di katakan paman ada benarnya juga, mungkin aku harus jaga jarak dengan wanita lain. Tapi kalau aku jaga jarak dengan wanita lain apakah Amelia akan melakukan hal yang sama?' batin Achiel yang masih ragu-ragu untuk mengambil keputusan.
"Kak Achiel kalau udah punya pacar kenapa gak aja sekalian besok?" usul Willy yang sedari tadi duduk di samping Achiel.
"Dia ada acara sama teman-temannya jadi gak bisa ikut!" sahut Achiel.
"Oh ada acara, awas loh Kak nanti pacar Kak Achiel selingkuh," kata Willy yang membuat Achiel menjadi ragu.
"Gak mungkinlah, pacar Kak Willy itu setia sama Kak Achiel!" sahut Achiel.
"Beneran? Gak seperti mantan Kak Achiel lagi kan? emangnya sudah di tanyakan dia pergi sama teman cewek apa cowok?" Willy memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi yang membuat Achiel gemas terhadapnya.
"Ini sebenarnya yang pacaran Kakak atau kamu sih? Kenapa kamu yang lebih khawatir?" ucap Achiel mencubit pipi tembab adiknya.
"Ya kan buat jaga-jaga Kak biar gak terulang lagi masa lalu Kak Achiel. Lagipula Kakak sebagai pacarnya gak masalah kok sekedar tahu dia jalan sama siapa saja," sahut Willy sambil melepas tangan Achiel dari pipinya.
"Kak Achiel bukan tipe pria yang seperti itu, biarin saja lah dia bebas lagipula apa yang menjadi milik kita pasti akan kembali ke kita!" sahut Achiel.
"Awas nanti menyesal loh kak!" Sahut Willy.
__ADS_1
Achiel menarik nafas panjangnya, dia berusaha untuk tidak terhasut dengan perkataan adiknya.
'Lagipula aku saja jalan dengan Cleo untuk apa aku bertanya atau bahkan melarang dia jalan dengan pria lain?' batin Achiel.