
"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Ferdi sembari mengendarai mobilnya.
"Tentu saja tidak. Emang ada apa dengan aku?" tanya Amelia balik seolah-olah tidak merasakan kesedihan itu.
"Aku tahu, dia pacar kamu kan? Itu terlihat jelas saat wanita itu datang menghampiri pria tadi!" ucap Ferdi tanpa menolehkan wajahnya ke arah Amelia.
"Mmm," Amelia hanya menjawab dengan anggukan kepala saja.
"Aku tidak tahu kalau kamu bisa membawa mobil, padahal kamu masih di bawah umur!" ucap Amelia mengalihkan pembicaraan.
"Yah,, sebenarnya aku dari keluarga yang cukup berada. Dan, perpustakaan itu juga milikku," sahut Ferdi.
"Tidak heran kalau kamu bisa pinjam buku perpustakaan itu," kata Amelia.
"Yah, aku harap kamu tidak akan menjauhiku," Ferdi berharap banyak dengan Amelia.
"Kenapa? kamu orang yang baik bagi aku!"
"Yah, semoga saja seperti itu selamanya!" sahut Ferdi yang membuat Amelia bingung.
Selama ini Ferdi tidak pernah memiliki teman sejenis ataupun lawan jenis. Satu-satunya teman yang bisa dia percaya adalah Brayen. Mereka tidak pernah berpisah selama di sekolah dan bahkan di tempat mereka magang.
"Makasih ya, sudah antar aku sampai rumah!" ucap Amelia yang masih berada di dalam mobil.
"Iya sama-sama," sahut Ferdi.
"Kamu beneran gak mau singgah sebentar?" tanya Amelia memastikan kembali.
Ferdi menggeleng sambil tersenyum, Amelia yang sudah paham izin turun dari mobil dan menyuruh Ferdi untuk hati-hati di jalan.
Hari masih siang, Amelia sampai di rumah pukul 14.00 dia bingung mau melakukan apa.
Amelia duduk di atas ranjangnya, dia tidak melihat Ibu atau Bapaknya di rumah.
"Ada pesan dari Putri," gumam Amelia sambil memeriksa handphonenya.
Amelia menepuk dahinya, dia lupa kalau sepeda motornya masih di rumah Putri. Jika tidak membaca pesan dari Putri mungkin Amelia akan lupa sampai besok.
Amelia kemudian menelepon Putri untuk membicarakan masalah yang di anggapnya tidak sepele itu.
"Halo Put, kamu kira-kira jam berapa pulang?" tanya Amelia dengan rasa khawatir.
__ADS_1
"Sekitar jam 5 sore lah. Nanti aku jemput kamu aja ya, jangan khawatir!" sahut Putri menenangkan sahabatnya.
"Benar? Tapi kamu kan gak tahu rumah ku dimana," ucap Amelia.
"Kamu tinggal shareloc saja, nanti aku ke sana!" ucap Putri.
"Oh iya deh, maaf ya ngerepotin dan ganggu waktunya. Kalau begitu aku tutup, selamat bersenang-senang!" ucap Amelia.
Amelia akhirnya tenang setelah mendapatkan solusinya, dia merebahkan badannya di atas ranjang. Beberapa menit kemudian, handphonenya berbunyi kembali. Amelia sudah tahu siapa yang mengiriminya pesan, karena dia memasang notifikasi yang berbeda.
'Kenapa dia chat? Kira-kira dia bilang apa ya? tapi aku malas balasnya!' batin Amelia geram dengan dirinya sendiri.
Tidak bisa menahan rasa penasarannya, Amelia memutuskan untuk membuka pesan tersebut.
[Maaf sayang, kamu pasti marah soal tadi!]
Achiel mengiriminya pesan singkat, itu membuat Amelia merasa semakin geram. Tak lama setelah pesan di baca, Achiel meneleponnya. Namun Amelia masih kesal dan tidak ingin berbicara dengan Achiel.
Achiel menghubunginya beberapa kali namun Amelia tetap menolaknya, dia memilih untuk mengirim pesan singkat.
[Kita ketemu besok saja. Kamu bisa bicara apa yang akan kamu sampaikan setelah aku pulang sekolah].
...****...
"Baik anak-anak, sampai di sini materi kita hari ini kalian boleh istirahat!" ucap seorang guru Bahasa Indonesia mengakhiri pembelajarannya.
"Mel, kantin bareng yuk!" ajak Ita yang di iringi dengan Putri.
"Boleh!" sahut Amelia tersenyum kepada kedua sahabatnya.
Mereka berdua pun ke kantin bersama-sama dan memesan menu yang sama. Sambil menunggu makanan datang, mereka membicarakan masalah kemarin tentang Amelia.
"Mel, kamu gak apa-apa kan?" tanya Ita secara tiba-tiba.
"Maksudnya? Emang aku kenapa?" tanya Amelia bingung.
"Maaf Mel, kemarin aku cerita sama Ita masalah yang kemarin!" ucap Putri yang menjawab rasa bingung Amelia.
"Oh itu, tentu saja. Aku baik-baik saja kok!" sahut Amelia sambil tersenyum.
"Kenapa kamu bisa setenang itu? padahal pacar kamu jalan-jalan dengan wanita lain tanpa sepengetahuan kamu, dan bahkan dia tidak mengenalkan kamu sebagai pacarnya!" ucap Ita perhatian.
__ADS_1
"Ya aku tahu, tapi untuk apa aku berfikir terlalu banyak. Itu membuatku semakin kesal," sahut Amelia.
"Hebat. Kamu satu-satunya wanita yang tahan dengan itu Mel," puji Putri.
"Gak kok. Masih banyak wanita yang di luaran sana berfikir seperti aku atau bahkan lebih hebat dari aku?" Amelia menyangkal pujian yang di berikan oleh Putri.
Makanan yang di pesan mereka telah datang, Putri dan Ita memutuskan untuk tidak membahas hal itu lagi. Putri merapikan rambutnya dengan menyanggul bersiap untuk makan. Soal makan dia tidak ingin ada yang mengganggu karena dia sudah terbiasa menikmati makanan dengan perasaan.
Amelia dan Ita hanya tersenyum melihat kebiasaan sahabatnya.
Ketika perut ketiga siswa itu kenyang, mereka memutuskan langsung kembali ke kelas tanpa memesan makanan lainnya.
Saat di depan kelas,mereka memalingkan perhatiannya ke arah Lestari dan Danu yang sedang bertengkar.
Seluruh siswa di kelas itu tahu kalau Danu cinta mati dengan Lestari. Dia terus-menerus mengungkapkan perasaannya namun selalu di tolak mentah-mentah. Amelia dan kedua sahabatnya menjadi sangat prihatin terhadap Danu.
"Kasihan ya si Danu di rendahkan terus sama Lestari, padahal dia hanya mengagumi kecantikannya saja!" ucap Putri yang prihatin melihat keadaan Danu yang merupakan teman sekelasnya.
"Ya benar, padahal apa salahnya sih bicara baik-baik tanpa menghina!" sahut Ita.
Danu terus mengejar Lestari sembari mengatakan bahwa dia sangat mengangumi Lestari.
"Ihhh jangan pegang-pegang gue, J*jik tahu!" ucap Lestari menghempaskan tangan Danu ketika Danu hendak memegang tangannya.
"Meskipun lo siswa kaya di sekolah ini, gue gak akan pernah mau pacaran sama Lo. Sial banget sih hidup gue di gentayang-in sama lo!" Ucap Lestari lalu pergi dari hadapan Danu.
Danu hanya terdiam melihat Lestari yang telah pergi dari hadapannya. Dia tak berani lagi mengejar wanita yang di sukainya.
Melihat situasi seperti itu, Amelia pun menghampiri Danu. Berharap Danu tidak terlalu sedih dengan penolakan Lestari.
"Danu kamu jangan menyerah ya. Mmm.. aku boleh kasih kamu saran gak?" tanya Amelia dengan sopan.
"Saran apa?" tanya Danu dengan raut wajah yang sedih.
"Kamu ubah penampilan kamu, mulai sekarang berjalan seperti laki-laki pada umumnya. Dan juga suara harus tegas," ucap Amelia.
"Benar yang di katakan Amelia, kamu jangan mau di hina terus menerus oleh Lestari. Besok kamu buktikan kalau kamu juga bisa setampan pangeran," imbuh Ita yang datang menghampiri Amelia bersama Putri.
"Semangat ya!" ucap Amelia menepuk bahu Danu.
'Yang di katakan Amelia benar, mungkin dengan merubah penampilan sikap semua orang akan berbeda,' batin Danu.
__ADS_1