
"Iya buk,itu sudah kuwajiban saya untuk membuat Nisa bahagia,karena kebahagiaan Nisa juga kebahagiaan kami juga." ucap ku dengan senyum di bibir ku
"Tapi saya salut sama mas Tristan,walaupun mas Tristan orang lain bukan saudara kandung mbak Nisa,tapi mas Tristan bener bener memperlakukan mbak Nisa seperti adik kandung sendiri." ucap pembantu
"Iya buk,saya hanya mengikuti hati nurani saya,karena saling membantu itu indah." ucap ku
Setelah mengobrol dengan 2 pembantu itu,aku pun segera menuju keluar,karena sudah waktu nya untuk kembali ke kontrakan ku,Nisa juga sepertinya sudah tidur,masalah dia ngambek atau marah sama aku,itu biar di di fikirin besok lah,sekarang bukan waktu nya mikirin itu.
Sesampai nya di kontrakan,tepat saat aku mau membuka pintu kontrakan ku,hp ku berdering,setelah aku melihat nya,ternyata Izal yg menelfon ku,aku pun segera menjawab nya.
"Halo Izal,ada apa ya malam malam gini telfon." ucap ku
"Mas tadi ketempat Nisa ya." ucap Izal
"Iya Zal,emang kenapa ya." ucap ku
"Tadi bibi telfon aku,kata nya Nisa lagi sedih teringat nenek nya,tapi bibi juga ngomong kalau mas Tristan juga di situ,maka nya aku nggak jadi ke situ." ucap Izal dari seberang telefon
__ADS_1
"Iya,tadi Nisa nangis teringat nenek nya,tapi sekarang dia sudah tidur." ucap ku
"Sekarang mas masih di tempat Nisa." ucap Izal
"Aku udah di rumah Zal,emang kenapa." ucap ku
"Kirain masih di sana,ya udah kalau gitu mas,oh iya mas,Kata nya tadi pagi ada orang PT ke proyek ya mas,ada masalah apa." ucap Izal penasaran
"Proyek sementara di tutup Zal,mereka mau memperbarui perlengkapan keselamatan kerja dulu kata nya." ucap ku dengan penuh frustasi
"Ya mungkin ada yg sengaja memberi tau mereka tanpa sepengetahuan kita Zal." ucap ku sambil membuka pintu
"Kok bisa sih,ini perlu di selidiki juga mas." ucap Izal dengan nada kesal
"Nggak perlu Zal,toh semua nya juga sudah terlanjur,dan para pekerja sudah di pulang kan tadi siang." ucap ku menenangkan kan Izal
"Masak para pekerja sudah di pulang kan mas,Terus ayah sudah tau belum mas." ucap Izal dengan nada khawatir
__ADS_1
"Kalau masalah itu aku belum tau Zal,karena aku mencoba menghubungi pak Alex dari tadi nggak bisa." ucap ku
"Ini bisa gawat mas kalau ayah tau,bisa bisa ayah marah besar,soal nya proyek ini di kejar kejar terus,kalau kayak gini malah memperlambat pengerjaan,dan nggak akan selesai tepat waktu." ucap Izal semakin khawatir
"Kalau masalah itu nggak usah kamu fikir kan Zal,biar para petinggi PT yg ngurusin itu semua." ucap ku
"Ya sudah mas kalau gitu,trus rencana mas Tristan gimana,mau pulang kampung lagi apa menunggu di sini." ucap Izal
"Sepertinya besok mas mau pulang kampung dulu Zal,sampai proyek ini di buka kembali." ucap ku sambil menggaruk kepala ku yg tidak gatal
"Tapi sebelum mas pulang,aku mau ketemu mas Tristan dulu,mau ngomongin masalah Nisa,aku merasa ada yg aneh akhir akhir ini dari Nisa kepada mas Tristan." ucap Izal
"Kok kamu malah curigaan gitu Zal sama Nisa,dia itu adik kita lho." ucap ku
***Next time
Terima kasih karena sudah setia membaca cerita ini,maaf kemarin tidak up karena ada urusan mendadak dan nggak sempet nulis,sebagai ganti nya saya Doble up hari ini***
__ADS_1