
kala itu menjelang malam tepat pukul tujuh seorang gadis berlari ditengah derasnya hujan yang turun di jalanan yang mulai tergenangi oleh air angin pun berhembus sayu menyapa tubuh gadis itu hingga ke tulang tak ia rasakan yg ada hanya satu didalam benaknya ia ingin segera pulang dan sampai di rumah hatinya yg gundah menerima kabar dari sang ibu tentang sang ayah usai menerjang hujan walau belum berhenti sampailah dia di rumah dan betapa terkejutnya ia melihat tubuh dingin lebih dingin dari sebuah es yg membeku wajah yang tersenyum pucat berselimutkan kain putih pada tubuh nya disitulah tangis Amira pecah
"ayah ...."
teriakan Amira membuat sang ibu menoleh kearah pintu dan ia pun menghampiri sang putri semata wayangnya dan memeluknya
" Mira ,ikhlas kan ayah ,Allah lebih sayang ayah mu ".
meski pun terlihat ikhlas serta tegar namun hati sang ibu belum rela bahkan tidak rela dengan kepergian sang suami yang begitu mendadak .para tetangga dan pelayat mulai berdatangan silih berganti untuk mengucapkan belasungkawa usai disolatkan jenasah mulai diangkat dan menuju peristirahatan terakhirnya hujan yang masih turun walau sudah tidak deras jalanan lumpur yang becek tetap mereka pengiring jenasah lalui sesampai di pemakaman jenazah dikuburkan pengantar yang lain sudah pulang ke rumah masing - masing kini yang tertinggal hanya sang ibu dan amira
"ayah ... kenapa pergi begitu cepat bahkan tanpa pamit " ucap Mira disela tangisnya
"Mira jangan menangis lagi ayah sudah tenang di sana" tangan ibu sambil memegang pundak Mira
" ibu ,apa yang ibu sembunyikan dari aku !!!"
" Mira apa maksud kamu??"
"jangan pura - pura ibu aku tau semuanya "
deg ...
jantung sang ibu tak karuan mendengar perkataan amira dengan gugup sang ibu menjawab.
" semuanya..."
__ADS_1
" iya ibu,kenapa i.." belum sempat diselesaikan ibu sudah menjawabnya .
" kita bicara di rumah ibu akan jelaskan sama kamu lagi pula ini pemakaman kita pulang sekarang ya "
" baik lah ibu " Mira pun menurut namun ia lebih curiga lagi dengan gelagat aneh pada sang ibu namun ia hanya diam menyimpan semua pertanyaan hingga sampai ke rumah . namun alangkah terkejutnya mereka berdua yang baru saja sampai didepan rumah mereka banyak pria setelan jas serta berderet beberapa mobil mewah dan seseorang yang sepertinya pernah amira lihat namun entah dimana dia melihatnya salah satu dari pria berjas itu masuk kedalam dan berkata kepada tuannya
" tuan nyonya ,,ibu sofia dan anaknya sudah kembali dari pemakaman " ucap pria berjas itu
" baik aku akan keluar menemui mereka "
tanpa basa basi pria itu keluar dari dalam rumah bersama sang istri lalu menyapa Amira dan ibunya
" selamat malam nyonya Wiranata "
" sebelumnya saya minta maaf bila lancang membicarakan ini disaat yang tidak tepat tapi saya perlu berbicara sekarang a...."
" langsung saja pada poin nya saja tuan "
" baiklah bahwa setelah satu tahun tuan Wiranata meninggal maka putri anda Amira ismanova harus menikah dengan anak saya d..."
" maaf tuan tapi jika anak saya menolak"
" tidak ada penolakan karena itu isi perjanjian tuan Wiranata dengan Adiyaksa grup ,bukan saya memaksa tapi itu keputusan dan amanat dari mendiang suami anda nyonya Wiranata
ibu Amira hanya diam tak berkutik ia belum bisa menjelaskan pada sang anak tentang ada apa sebenarnya yg terjadi Amira yang sedari tadi hanya diam mendengarkan mulai bicara
__ADS_1
" tuan maaf saya tidak mau ,lagi pula saya juga tidak mengenal dan tidak mencintai anak anda "
" Amira suka tidak suka mau tidak mau kamu harus mau !!!"
" saya tetap tidak mau "
" baik ,kalau begitu semua aset ayah kamu rumah ini beserta beberapa saham yang ada di perusahaan saya mutlak milik saya "
" apa".…!!!!
hanya itu yg bisa diucap oleh Amira tanpa terasa bulir bening jatuh perlahan membuat sembab mata indah dengan bulu mata yang lentik itu sedari tadi nyonya Adiyaksa hanya diam ia terus memperhatikan Amira sepertinya ia tak asing dengan wajah itu bahkan sepertinya mengenalnya ia pun tanpa ragu mendekat dan bertanya apakah dia tidak salah orang ,ya waktu itu nyonya Adiyaksa memerlukan donor darah dan di rumah sakit tak ada golongan darah yang cocok karena stok darah habis ,Amira yang kebetulan di rumah sakit mendengar jika ada yang membutuhkan darah dan golongan darah itupun sama dengan dirinya yaitu golongan darah B maka ia pun menawarkan diri untuk diperiksa ,dokter akhirnya memeriksa dan ternyata cocok .dia juga bersih dari penyakit dan sehat sehari hari Amira membuka toko kue meski begitu ia masih suka berjualan keliling juga dan pelanggan tetap nya adalah nyonya Adiyaksa atau Atalia
"Mira ,ini kamu masih ingat saya " menunjuk wajah
Mira pun sama terkejutnya ia tak menyadari ia pun berucap
" nyonya jadi anda istri tuan Adiyaksa "
" iya Mira ,maaf .."
" maaf untuk apa nyonya "
" karena tak memberi tau siapa saya sebenarnya ,Mira anak yang sering saya ceritakan itu yang akan menjadi suami kamu dia adalah Devan dirgantara "
"Apa.....!!!!!TidAk ......!!!!!!! dalam hati Amira menjerit tak karuan kenapa pria menyebalkan angkuh sombong cuek dan sok berkuasa itu astaga tak bisa dibayangkan apa jadinya bila Meraka menikah dan tinggal satu atap .
__ADS_1