Cinta Tulus Untuk Tuan Muda Impoten

Cinta Tulus Untuk Tuan Muda Impoten
30


__ADS_3

ya mobil yang Ivan Kendari di lengkapi dengan sirine namun boleh di gunakan hanya dalam keadaan darurat saja .


mama dan papa satu mobil mengikuti Ivan Diki pun sama ia meninggal kan Devan sendiri dia mengejar Ivan menuju rumah sakit.


Devan yang sendiri justru mulai panik ada apa dengan istri nya tadi ia menendang pada bagian perut nya ia pun menuju garis mengambil mobil kemudian menyusul ke rumah sakit juga .


" Naura sakit "


" kakak sabar dan tahan ya sebentar lagi kita sampai"


" Naura kayaknya aku ga sanggup "


" kakak Jangan bicara begitu kakak harus kuat ya "


tangan Amira terlepas begitu saja dari tangan Naura .


" kak ..kak ..kak Amira yah pingsan aak cepat aak cepat "


" kenapa ?"


" kak Amira pingsan "


" apa"


Ivan pun melajukan kendaraannya dan sampai di rumah sakit langsung menggendong Amira di temani Naura.


Ivan lebih dulu sampai di sana .


" dokter ... dokter ... dokter ...." teriak Ivan dokter dan suster pun langsung menghampiri Ivan .


" tuan kenapa kembali ke rumah sakit"


" kakak saya pendarahan lagi dok dan ini dia pingsan"


dokter membawa Amira langsung ke ruang operasi .


" kalian tunggu diluar"


" baik dok "


" aak gimana ini kak Amira baik baik saja kan"


" tenanglah kak Amira pasti baik baik saja jangan terlalu stres nanti akan berpengaruh pada bayi kita "


melihat Ivan menenangkan Naura dan perhatian Ivan mama dan papa terhenti lalu mendekat pada mereka .


" Ivan dimana Naura " papa bertanya


" di dalam pa ,ma dokter sedang mengurusnya"


" memang Amira sakit apa Van kenapa ga pernah bilang "

__ADS_1


"bukan ma kak Amira itu hamil 2 bulan dia juga baru tau dan kandungan nya itu lemah jadi rawan keguguran tadinya kita datang untuk memberi tau keluarga dan minta restu kalian tapi malah kaya gini yang di dapatkan ."


" jadi dia hamil ,apa Devan tau"


"kayaknya sih belum tau ma dan tadi seperti nya kaki mas Devan kena ke perut kak Amira "


" Devan dasar anak tak tau diri kurang ajar sudah dapat istri yang baik ini malah mengejar Kanaya "


" ma tenang lah nanti sakit lagi asam lambung mama kita doakan saja yang terbaik buat Amira semoga tak terjadi apa-apa".


2 jam berlalu dan dokter pun keluar bersamaan dengan datangnya Devan .


" keluarga ibu Amira " sapa sang dokter


" kami keluarganya dok , bagaimana keadaan nya " tanya mama.


" kami sudah berusaha tapi Tuhan berkehendak lain"


" maksudnya bagaimana dokter" tanya Ivan .


" pendarahannya berhasil berhenti namun kami tidak dapat mempertahankan kandungan nya karena sangat lemah dengan kata lain ibu Amira keguguran"


" apa keguguran dok "


" iya tuan ,apa anda suaminya harap bersabar tuan mungkin Tuhan belum mempercayakan kepada anda ,pasien koma sekarang dia ada di ruang ICU ,saya permisi "


" mohon maaf untuk keluarga yang ingin masuk ke dalam ruangan silahkan memakai baju warna hijau ini kemudian hanya 1 orang tidak boleh lebih " jelas sang suster .


" baik suster terimakasih " ucap papa .


" dasar brengsek kau " Ivan melayangkan pukul an pada Devan hingga bibir itu mengeluarkan darah .


" ayah macam apa kau ini ha ... anak mu sendiri kau bunuh kau tidak tau istri mu hamil itu alasan basi tuan muda impoten dan kau sibuk dengan mantan kekasih mu itu dimana hati nurani mu".


semua cacian keluar begitu saja untuk Devan dan Devan pun hanya diam saja kini dia baru sadar akan kesalahannya .


" apa sudah selesai mengurus perceraian nya lihatlah atas tindakan apa yang kau lakukan dia koma dan kau jangan sekali kali masuk untuk melihat nya" .


Ivan melayangkan pukulan lagi .


" Ivan cukup nak ,jaga emosi mu"


" pa laki laki kaya dia harus diberi pelajaran biar tau bagaimana rasanya sakit"


memegang kerah baju Devan lalu hendak memukulnya lagi Naura berteriak.


" aak ... sakit tolong perut ku sakit."


mendengar Naura berteriak Ivan melepaskan Devan dan menuju Naura.


" kenapa "

__ADS_1


" perut ku sakit bisa antar aku keluar sebentar"


" baiklah ayo "


Ivan pun membawa Naura pergi dari sana.


" ma masih ga direstui Ivan dan Naura"


mama hanya diam saja tak memberi Jawaban.


" Devan inikah yang ingin kamu dapatkan dari pernikahan mu dan Amira .jika kamu bercerai dan menikah dengan Kanaya kamu bukan anak mama dan kamu bukan bagian dari dirgantara semua aset kamu termasuk perusahaan yang kamu pegang akan dialihkan atas nama papa sekarang semua terserah pada mu "


" papa juga gak tau lagi harus gimana Van mama mu benar kamu memang yang paling sulit diatur ."


" pa kita keluar dulu cari makan ya mama lapar dari tadi sore belum makan."


"ayo ma " ajak papa.


Devan diam betapa hancur hatinya kini anak yang ia damba kini hilang karena dirinya dan istrinya pun koma juga karena dirinya .


semua orang membenci serta mencaci nya tak ada lagi yang mempercayai dia datang ke Kanaya adalah tempat yang salah.


Diki pun hendak beranjak pergi dari sana ..


" kau juga akan pergi "


" tuan saya akan membatalkan kerja sama perusahaan degan Kanaya dengan persetujuan atau tidak nya dari anda"


" baiklah lakukan yang terbaik "


" baik tuan saya permisi "


' tunggu Diki apa dokumen..."


" tenang tuan semua sudah saya persiapkan dan anda tinggal terima beres saja".


Diki pun pergi menuju tempat Kanaya untuk membatalkan semua kerjasama yang sudah di sepakati sementara Devan menangis tanpa henti di depan pintu ICU dimana sang istri terbaring lemah apa lagi jika ia bangun dan tau bahwa anak yang dia kandung sudah tidak ada.


Devan sudah memakai pakaian warna hijau lengkap ia hendak masuk ke dalam namun baru memegang gagang pintu tangan nya di pegang oleh seseorang dan itu adalah Ivan.


" jangan coba coba masuk pergi dari sini"


" Ivan tapi dia istri ku"


" setelah dalam keadaan begini baru kau sebut istri kemarin kemana udah puas selingkuh nya "Ivan ku mohon biarkan aku masuk "


" tidak pergi dari sini atau aku panggil polisi dan menyeret mu ke penjara kenapa dia cepat pergi"


Ivan tak memberi kesempatan pada Devan untuk masuk ia pun degan tegas mengusir Devan .


Devan sendiri tak ada jalan lain ia pun memilih pergi ia menunggu di luar dan sesekali melihat keruangan sang istri meski dari jauh .

__ADS_1


malam menjelang hujan datang mengguyur degan deras nya Devan duduk di emperan rumah sakit tangis nya kini tiada arti nasi telah menjadi bubur jika sang istri bangun entah apa yang harus di katakan pada Amira masih kah Amira akan memaafkan dirinya yang hina ini .


terpaan angin yang dingin tak dihiraukan Devan ia kini malah bingung harus bagaimana keluarga nya pun membiarkan dia bagai tak peduli entah dia masih ada atau sudah mati .


__ADS_2