Cinta Tulus Untuk Tuan Muda Impoten

Cinta Tulus Untuk Tuan Muda Impoten
37


__ADS_3

" kami keluarga nya dok "


"dan saya suaminya"


dokter pun mendekat dengan wajah yang sedikit muram.


" dok bagaimana bayi nya juga ibunya apa sehat" mama bertanya pada sang dokter.


" untuk bayi nya dia sehat dan..."


" laki atau perempuan dok " ucap Ivan yang penasaran pasalnya setiap USG Ivan tak pernah menanyakan tentang jenis kelamin nya ya biar jadi kejutan saja.


" bayi nya perempuan anda suami ibu Naura "


" iya saya suaminya dok "


" anda yang sabar tuan "


"maksud dokter apa ..?"


dokter itu menepuk pundak Ivan beberapa kali ia juga sepertinya kecewa.


" maaf dengan berat hati harus saya katakan ini"


semua orang tegang menunggu jawaban yang akan di berikan oleh dokter itu apakah kabar buruk atau kabar baik yang membuat tak sabar menanti kan jawaban sang dokter .


" kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun Tuhan berkehendak lain kami tidak bisa menolong ibu Naura"


Ivan berteriak histeris mendengar hal itu .juga semua yang ada di sana menangis juga terkejut akan hal itu dan tak percaya .


" tidak ...Naura kenapa kamu pergi meninggalkan aku juga anak kita "


" sabar lah tuan ini mungkin yang terbaik untuk dia anda harus bangga tuan di melahirkan bayi perempuan yang cantik"


suster menyerahkan bayi itu pada Ivan ,Ivan pun menatap bayi itu dengan tatapan iba.


" sayang kau harus kuat ya papa akan merawat mu meski tanpa mama mu kak Amira"


Amira yang di panggil oleh Ivan pun mendekat dengan berlinang air mata pula .


" Ivan kamu yang sabar ya?"


" iya kak tolong gendong anak ku aku akan kedalam".

__ADS_1


Ivan pun masuk ke dalam kamar dimana Naura terbaring dengan begitu pucat tubuhnya pun dingin sedingin es tak bergerak sedikitpun ia senyum dan begitu tenang seakan memang ini yang dia inginkan.


Ivan pun mendekati tubuh kaku Naura .


" cinta kenapa kamu tega meninggalkan kita anak kita perempuan apa sudah tidak sakit sekarang apa kamu bahagia kenapa begitu cepat kau pergi sebentar lagi aku harusnya memasangkan cincin pernikahan kita aku sudah menyiapkannya cinta".


Ivan berucap sambil menangis tanpa henti di depan jasad Naura .


amarahnya semaikan menjadi kala melihat sang mama dia menghampiri.


" ma , ini kan yang mama mau "


" maksud mu apa '


"mama tak menginginkan Naura bersama ku sekarang dia pergi untuk selamanya meninggalkan aku"


" itu tidak benar Ivan bukan kah mama merestui kalian"


" tapi ma dari awal mama tak merestuinya bahkan mama mendatangi dia untuk meninggalkan aku dan itu sudah dalam keadaan hamil ma"


Ivan maju mendekati sang mama dan ..


hendak memukulnya namun kedua kakak Ivan memegang Ivan dan menahan.


" kak kamu ga mengerti andai jadi aku dan bagaimana rasanya di tinggalkan istri mu untuk selamanya".


" iya aku tau Ivan tapi mau bagaimana lagi kematian seseorang tak ada yang bisa mencegah dan tau" Devan berucap ia juga merasakan hampir kehilangan sang istri dan sang calon anak nya ia pasti merasakan yang Ivan rasakan.


mama yang melihat itu menangis begitu sakit dia memang tak merestui di awal namun lambat waktu ia pun luluh hatinya dan merestui mereka sedang kan takdir berkata lain.


tuhan lebih menyayangi Naura dan mengambil dia jenazah Naura pun di bawa ke rumah Ivan yang sudah di tempati dengan Naura sepanjang itu pula Ivan menangis tiada henti


sampai di rumah duka jenazah di mandikan dan Ivan sendiri yang memandikan kemudian di kafani dan di solat kan kemudian dibawa ke tempat peristirahatan terakhir.


Ivan diam namun air itu terus mengalir tak terbendung.


usai di semayamkan .dalam pusara Ivan masih tinggal di sana sendiri memeluk batu nisan Naura .


betapa takdir begitu kejam pada dirinya baru saja dia merasakan cinta pertama ia harus kehilangan dia dalam sekejap mata .


" Naura ...." Ivan berteriak dan menangis tanpa henti.


" tuhan kenapa .... kenapa kau ambil dia dari ku begitu cepat ini tidak adil"

__ADS_1


bayi itu pun menangis seperti merasakan apa yang sedang Ivan rasakan ia menangis dengan keras di beri susu pun tidak mau .


" sayang itu kenapa kok magis terus bayinya"


Devan bertanya pada Amira dan mencoba untuk menggendong bayi itu siapa tau dia akan diam.namun masih saja tetap menangis.


" aku juga gak tau udah di kasih susu juga gak mau diam"


" mungkin pup atau ngompol kak"


" enggak kok "


" bawa aja deh ke Ivan sapa tau dia diam kan dia ayahnya." Evan memberi saran.


Devan pun segera kembali ke pemakaman disusul yang lain pula.mereka melihat Ivan begitu meratapi kepergian Naura dan tak bisa merelakan.


" Ivan .." Devan mendekati Ivan


" ini bayinya dari tadi nangis terus udah di kasih susu tapi masih nangis"


" coba kamu gendong Van ,siapa tau dia diam" Evan pun menepuk pundak Ivan.


mendengar tangis bayi itu Ivan mulai iba Betapa dia masih sangat kecil tak mengerti apa apa namun sudah harus dihadapkan dengan keadaan hidupnya yang sangat pahit.


disaat dia memerlukan kehangatan seorang ibu namun tak dia dapatkan.ivan pun berdiri dan menggendong anaknya yang masih bayi itu .


lembut dan hangat dekapan Ivan membuat bayi itu tenang ia juga berhenti menangis dan mau menyusu pada botol susu .


" Ivan jangan putus asa menangis dan meratapi apa yang terjadi boleh saja namun jangan berlebihan memang begini kehidupan semua yang bernyawa pasti akan mati dan kita tidak tau kapan itu terjadi dibalik ini pasti Tuhan memberikan hal terindah yang akan kamu dapatkan" papa memberi nasehat pada Ivan dan juga pada anak anaknya yang lain.


" Van pulang ke rumah kakak aja ya biar kamu ga sendirian juga biar aku rawat keponakan aku yang cantik ini" Amira memohon pada Ivan dengan memandangi bayi mungil yang antik itu.


" iya kak " Ivan menjawab singkat.


" rumah mu biar aku dan Karina yang menempati sekalian membersihkan ' Evan meminta persetujuan dari Ivan.


" iya kak tunggal lah di sana aku tak apa dan tolong ubah semua desain dan cat warna agar aku tak teringat kenangan itu"


" baiklah tenang saja Minggu depan Raka dan Rania juga datang untuk liburan".


"sekarang kita pulang" ajak Devan pada semua orang Ivan pun mengikuti mereka. ia ikut pada mobil Devan dan si bayi pun sudah terlelap.


berkali kali Ivan mencium pipi bayi itu degan penuh cinta dan sayang meski sebagian hatinya di bawa pergi sang pencuri hati.

__ADS_1


( sayang kamu sumber kekuatan ku karena kamu aku hidup)


__ADS_2