
Devan dan Amira pun pulang ke rumah sampai di rumah mereka di kejutkan dengan yang ada di dalam rumah dua adik mereka dan bersama wanita yang mereka cintai.
satu Evan dan sang istri juga Ivan dan Naura terlihat perut Naura yang mulai membesar sudah memasuki usia sembilan bulan dan tinggal menunggu hari untuk melahirkan setelah itu mereka akan menikah dan sah menjadi pasangan suami istri.
" sudah lama kalian " sapa Amira dan mereka saling berpelukan.
" sudah kak "
" kenapa tak langsung masuk bibi ada di rumah kok"
" kalau begitu kita masuk" ajak Devan pada adik dan adik iparnya.
mata Evan terus menatap pada Amira dan Evan melihat itu rasa cemburunya mulai merasuk tak rela jika Amira dilihat oleh orang lain meski itu adalah adik nya sendiri dan lagi Evan pernah menyukai Amira di masa lalu .
" Hem ... tolong kondisi kan mata mu dia kakak ipar mu sekarang " ucap Devan sambil melirik ke arah Evan.
" huh ... ternyata kau takut juga jika istri mu di ambil orang tapi kau malah mencoba selingkuh" sindir Evan pada sang kakak.
mendapat sindiran itu Devan diam saja. dan justru malah mendekat pada Amira .
mereka makan malam bersama tanpa orang tua mereka . mungkin sekarang sedang mengulang bulan madu mereka semasa muda dulu saat anak anak mereka belum ada.
" kalian menginap saja di sini ya kan jarang jarang juga banyak kok kamar kosong " pinta Amira namun di jawab candaan oleh Evan.
" nginep di sini apa gak ganggu kamu bikin anak"
" Evan ..." dengan kesal Amira melempar bantal ke wajah Evan namun berhasil di tangkap .
" ngeselin banget sih dari dulu hingga kini sama aja "
" Karina anak kamu ga ikut " tanya Amira
" enggak kak dia ada di kanda sama papa mama "
" kamu kenapa bisa sih suka sama manusia aneh itu"
dikatai Amira Evan pun menyela .
" manusia aneh kamu kali yang aneh mau nikah sama CEO tua "
merasa paling tua meski tak di sebut namanya Devan pun mendekat pada Evan .
" kamu bilang apa tadi CEO tua tapi tampan aku sama kamu buktinya kamu di tolak sama Amira dan itu enam tahun lamanya".
semua tertawa mendengar ucapan Devan tersebut .malam pun kian larut Naura pun pamit ke kamar duluan .
__ADS_1
" Naura kamu tidur di kamar bawah aja ya nanti kalau ada apa apa biar cepat jadi ga turun tangga"
"iya kak "
" Van kamu tidur di kamar sebelahnya ya kan belum sah "
" iya kak Amira tenang aja aku juga tidur duluan ngantuk kadang Naura juga ga bisa tidur"
sebelum ke kamar Ivan mengantar Naura ke kamar nya lebih dulu dan iapun segera tidur di kamar sebelah kamar Naura.
di ruang tengah tinggal lah Evan Devan Amira dan Karina yang masih melihat acara tv.
" Van kamu ga nambah anak lagi"
" enggak kak dua anak cukup lagian juga udah dapat cowok dan cewek" Karina yang menjawab.
" iya mas dua aja mas cukup usaha nya yang giat mas biar kakak ipar cepat isi"
" tumben ngomong nya bener" Amira menjawab dengan menatap Evan.
" kita udah jadi keluarga damai Napa sih mir"
" gimana ya...?"
" gimana bisa akur orang kaya tom & Jerry gitu" ucap Karina sambil melihat Evan sang suami.
" iya iya tapi tua nya gak usah di bawa bawa Napa"
" tadi kamu juga ngatain suamiku tua"
Evan diam dan garuk-garuk kepalanya .rasa kantuk pun menerpa mereka Evan dan sang istri pun segera masuk kamar untuk berangkat ke alam mimpi .
sedang Devan dan Amira pun sama .
" sayang ..." panggil Devan .
" apa mas aku ganti baju dulu ya" Amira pun segera ke ruang ganti dan berganti baju tidur kemudian keluar ia melepaskan jas juga sepatu yang masih di kenakan oleh Devan .
tak lupa juga dasi dan melepaskan baju Devan menaruh di keranjang baju kotor itu .dan menyuruh Devan untuk berganti baju Devan pun menurut saja akan perintah dari Amira itu.
tak berapa lama ia pun keluar dari ruang ganti.
" mau langsung tidur"
"terus mau ngapain mas mau lanjut kerjaan kantor"
__ADS_1
" enggak kebetulan tadi udah selesai semua begadang juga ga apa"
" ih ... begadang "
" besok kan weekend aku libur ya sekali kali tak apa kan?"
Amira pun mendekat pada Devan dan memeluk tubuhnya .ia merasakan kehangatan pada tubuh Devan apa lagi tubuh nya yang mungil itu.
" sayang ..."
" Hem.." Amira tak menjawab justru dia naik ke pangkuan Devan .
" kamu mau anak berapa ?"
" 5 ya" sambil memperlihatkan lima jari pada Devan .
" yang benar saja 5 apa kamu sanggup "
" kenapa tidak justru kamu sanggup gak menafkahi mereka"
mendengar kata nafkah Devan terdiam sejenak dan membeli punggung Amira juga tak terasa air mata itu terjatuh begitu saja tanpa permisi ia mengalir.
selama ini ia juga belum benar memberi nafkah pada Amira apa lagi dulu dia sama sekali tak memberi hingga Amira masih saja berjualan brownies dan membuka toko kue.
ia juga kerap menyiksa dirinya juga tak segan melukainya kadang Devan berpikir jika saja yang menjadi istrinya bukan Amira apa yang akan terjadi masih adakah wanita yang mau menerima dirinya apa adanya tanpa pamrih dan juga ikhlas.
beruntung pelaku itu cepat tertangkap ia juga tak menyangka jika sang paman berani berbuat itu membuat Devan depresi berkepanjangan dan mungkin karena terlalu tinggi dosis yang di konsumsi hasil ****** nya ada sedikit masalah dan dia juga menjalani menjadi vegetarian demi kesehatan dirinya.
merasa ada sesuatu yang basah Amira pun mencoba memperhatikan wajah sang suami.
" mas kamu nangis kenapa"
"aku sangat kejam dan keji pada mu tapi kamu tetap bertahan sampai sekarang juga aku masih belum bisa memberi mu nafkah dengan baik"
" mas sudahlah jangan pikirin itu lagi ya ,yang aku pinta dan aku mau mas jangan pernah pergi dari aku atau pun meninggalkan diri ku "
" untuk anak cukup satu dulu ya aku belum siap kita punya anak banyak "
"sebenarnya tak harus lima mas tapi ya berapa pun tuhan kasih tetap aku syukuri"
" iya sayang terimakasih kau sudah hadir dalam hidup ku juga menjaga aku"
Amira pun mengangguk kan kepalanya Devan pun tersenyum pada nya lalu mengecup lembut bibir Amira itu .
dia tak ingin jadi pria bodoh yang hendak membuang berlian yang sudah ada di genggam tangan nya dan mengganti dengan sampah.
__ADS_1
lama bermain di sana Devan turun ke leher dan membuat tanda indah di sana juga membawa ke alam surga yang indah dan melakukan aktivitas yang begitu nikmat hingga mereka terlelap dalam pelukan karena lelah yang mendera.