Cinta Tulus Untuk Tuan Muda Impoten

Cinta Tulus Untuk Tuan Muda Impoten
05


__ADS_3

jarum jam menunjuk kan pukul satu siang ia segera bergegas bersiap untuk bertemu dengan Ivan Ani pergi di antar oleh supir pribadi nya yang sudah sejak lama ikut dengan diri nya sesampai nya di cafe Ivan belum datang Amira pun masuk ke dalam cafe dan memesan tepat terlebih dahulu." Van aku sudah sampai ada di meja nomor 09" tulis Amira dalam pesan singkatnya kepada Ivan .beberapa menit menunggu Ivan pun datang .


" kakak ipar maaf lama menunggu"


" gak apa apa Van"


" udah pesen makanan belum aku lapar tadi belum sempat makan "


" belum " jawab Amira


"kita pesen dulu y kak," Ivan pun memanggil pelayan dan memesan makanan


" jadi apa yang bisa aku bantu "


"ini tentang obat yang sering di konsumsi kakak kamu "terang Amira ia menyerahkan percakapan antara orang pengirim obat dan orang yang memberi kan obat tak lupa ia juga memberikan foto mobil yang plat nomor nya di tutup sebagian .


" orang itu selalu datang tepat tengah malam dan dia mematikan CC tv yang ada di penjuru rumah jadi aksi nya tidak ketahuan "


" jadi menurut kakak ada yang ingin membuat mas Devan gila "


" iya seperti nya begitu ,apa dia punya musuh"


" aku juga kurang tau karena aku sibuk sama tugas aku di kepolisian kak juga kadang aku di tugaskan ke luar kota "


" maka dari itu Van kakak minta sama kamu selidiki orang ini "


" baik Ivan akan coba selidiki dan minta bantuan tim "


" seminggu ini kakak mu gak mengonsumsi obat itu aku menggantinya dengan vitamin "


" adakah perubahan" tanya Ivan


" iya jauh lebih baik dan dia tak anarkis atau pun ngamuk "


" kak kebetulan aku bawa ini " menyerahkan barang tersebut pada Amira


" ini apa Ivan "


" ini kamera pengintai kakak letak kan di tempat dimana dia mengganti obat mas Devan dan yang satu nya letak kan di dekat biasa dia membuka topeng nya "


"baik lah ,untuk obat yang ada di brangkas sudah aku ganti dengan vitamin dan bentuk yang sama "


" makasih ya kak ,tolong jaga mas Devan apa pun yang terjadi jangan pernah pergi dari mas Devan dia butuh kakak ipar hanya dia belum sadar "


Amira hanya diam dan tersenyum entah lah dia bisa bertahan atau tidak meski dia menyimpan dan memendam cinta untuk Devan


" oh ...ya aku juga sudah tanyakan pada apotik dan dokter yang biasa menangani kakak kamu tentang obat ini obat ini tidak beredar di pasaran dan dokter juga tidak pernah meresepkan obat ini "


" baik kak akan aku selidiki terimakasih untuk semuanya "


" sama sama ,karena sudah sore aku balik duluan ya Van "


" oh ... ya hati hati ya kak ,apa perlu di antar"


" gak usah tadi di antar sopir"


Amira pun meninggalkan cafe dan bergegas pulang ke ke rumah ia entah mengapa merasa leleh untuk hari ini dan tak ingin melakukan apa pun .


sementara itu di kantor Devan melakukan hal yang konyol dan juga mungkin gila ia memanggil sang sekretaris .


" dik ... dik ....Diki...Diki "


kemana anak itu di panggil gak menyahut omel Devan tak berapa lama Diki pun datang

__ADS_1


" ada bos ..."


" kemana aja sih dari tadi kagak menyahut "


" ada apa ..kangen sama aku ".


" amit .amit " Devan melempar bolpoin ke arah Diki


" tadi ada berkas yang mesti di periksa sekalian ni mau lapor proyek yang kemarin gagal dan berhenti mereka mau kerja sama lagi dan semu lancar lancar aja gak ada kendala "


" kok bisa gitu " Devan bingung


" sepertinya ada Dewi penyelamat "


" ya ....mungkin saja,tapi ya sudah ada yang lebih penting "


" Lo maug kasih tugas apa??"


" gue minta 3 cewek penghibur sore ini juga Lo Dateng kan kita ketemu di hotel mawar "


sontak saja pernyataan Devan bagaikan Diki di sambar petir! di siang hari


" Lo gila mabok apa kerasukan setan sih"


" gue waras " teriak Devan pada Diki


" ya kalau waras di rumah ada istri mu bisa buat tes bos !!!"


" ogah gue gak mau "


" di ambil orang baru tau rasa"


" udah Lo cari aja "


pintu di ketuk


" bos ."


" bawa masuk saja " sahut Devan dari dalam kamar mandi karena dia baru saja selesai mandi


" ngapain loe di sini sana pergi " hardik nya pada Diki


" gak usah ngusir gitu bos ini juga mau pergi"


Diki pun pergi tapi sebelum itu ...


" bos "


" hem..."


" kalau ada apa apa tanggung sendiri ya "


Devan diam saja


Devan pun meminta ke 3 wanita itu merayu nya satu persatu untuk membangkitkan hasrat *** nya serta membangun kan adik kecil nya namun yang terjadi aroma parfum membuat Devan jijik dan pusing ia bukan menikmati tapi malah terbayang bibir ranum Amira serta tubuh ramping Amira dan aroma mawar yang menenangkan ke tiga wanita itu tak ada yang berhasil membangkitkan gairah hasrat Devan ia pun mengusir ke tiganya dan memberi cek .Devan bingung dia bisa dengan Amira tapi tidak dengan yang lain .mungkin kah Amira datang sebagai obat penyelamat nya secara halal ia bingung sendiri akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah .sesampainya di rumah bukan kamar pribadinya namun gudang belakang tempat di mana Amira tinggal di sana .sesampainya di sana


" cukup asri tempat ini " gumam Devan


ia segera masuk tanpa mengetuk pintu ia berjalan perlahan takut mengagetkan Amira yang sedang berbaring di kasur dengan pelan Devan ikut merebahkan diri di kasur dan tanpa aba aba langsung memeluk Amira dari belakang.apa yang di lakukan Devan membuat Amira kaget dan berteriak.


" a.......!¡!!!!!!!"


"sit.... diam lah nanti membangunkan orang" sambil membekap mulut Amira dengan tangan

__ADS_1


" tuan ada apa ??? kenapa kesini??"


" apa tidak boleh ini kan masih bagian rumah ku ,ingat kamu di sini hanya numpang"


" tenang saja tuan setelah 3 tahun saya akan pergi dari sini "


" aku membatalkan kontrak itu"


" apa maksud tuan "


" bukan kah kamu mulai jatuh cinta dengan saya "


" bukan kah Anda ...." Amira diam tak melanjutkan kalimatnya


" kenapa diam ??"


" apa tujuan anda kemari tuan "


" ingin mencium mu"


" apa...."


Amira bangkit berdiri untuk menghindari akan apa yang Devan mau namun tangan Devan kalah cepat dan menangkap tangan Amira membuat nya jatuh kedalam pelukan Devan Amira diam ia diam diam menikmati aroma wangi tubuh Devan dan menatap matanya Devan pun melakukan hal yang sama meski malam kian larut namun tak mereka hiraukan Devan berbisik ke telinga Amira


" tolong saya"


" tuan anda kenapa "


" bangkit kan hasrat saya" menggenggam erat jilbab Amira hingga ia kesakitan


" tuan saya tidak mau "


" Amira ...." untuk pertama kali nya Devan memanggil namanya


" saya impoten "


" tapi waktu pagi itu t...."


belum sempat melanjutkan kalimatnya Devan sudah menyatukan bibir mereka bibir ranum yang selalu terbayang dan ingin dilumatnya begitu lembut perlakuan Devan meski baru pertama kali Amira membiarkan nya mencoba menikmati hal yang pertama baginya tangan Devan mulai bergerilya menembus baju Amira kancing yang didepan memudahkan Devan membuka dan nampak lah 2 bukit kembar yang kenyal padat dan berisi serta ditengahnya ada tanda pink ia pun ******* menghisap bukit itu sementara Amira mencoba menahan dengan menutup mulutnya agar suara aneh tak terdengar dan benar saja hasrat Devan mulai memuncak sang adik pun Bagun namun saat hendak menyentuh aset berharga Amira tangan Devan di pegang oleh Amira


" tuan jangan sentuh "


" kenapa bukan nya kamu menikmatinya"


" jangan belum saat nya"


" belum saat nya kamu istri saya jadi kewajiban kamu melayani saya"


" sejak kapan tuan anggap saya istri"


" sudah lah ..." Devan mencoba menarik celana Amira dan ia berteriak


" saya sedang HAID"


seketika Devan menghentikan aktivitas nya entah mengapa Devan kemana mana selalu membawa pisau kecil dan s....... Amira terkena goresan pisau tersebut serta plak .... tamparan mendarat di pipi Amira .hanya air mata yang mengalir mewakili perasaan nya saat ini dan apa yang dia rasa


" kenapa tidak bilang dari tadi" marah Devan


Amira masih saja tetep diam Devan meninggalkan nya begitu saja dengan perasaan marah dan kesal dia membanting pintu dengan begitu keras nya .


" astagfirullah ...." ucap Amira


Devan pun masuk kamar lalu menuju kamar mandi untuk menetralisir rasa yang terlanjur tak tertuntaskan .Amira mengobati luka nya dan mengompres pipinya agar tak memerah dengan es batu sementara Devan masih berkecamuk dengan pikiran dan perasaan nya hingga dia tak mampu terlelap hingga fajar tiba .

__ADS_1


__ADS_2