
mereka pun sampai di rumah Devan Ivan duduk di sofa ruang tamu .
"tunggu sebentar biar aku siapkan untuk Ivan dan bayinya" Amira pun membersihkan kamar juga menata dan tak lupa memberi bok untuk tempat tidur bayi .
" Van biar mama gendong" mama meminta sang cucu untuk di gendong nya namun Ivan diam tak menjawab.
Ivan justru berdiri dan menuju kamar yang akan digunakan tidur yang sedang dibersihkan oleh Amira ia juga lewat begitu saja didepan sang mama melihat itu mama pun sedih dulu dia anak yang paling menurut tapi kini semua terganti dengan Ivan yang begitu marah pada dirinya serta menyalakan atas kematian Naura.
" pa , Ivan seperti nya membenci mama" mulai menangis dan begitu sedih dengan hal itu dada mama terasa sakit.
" mama kenapa ??" tanya papa .
" gak tau pa dada mama sakit" tak lama setelah mengucapkan itu mama pingsan.
" mama " ucap Devan juga Evan berbarengan.
" kita bawa ke rumah sakit" Evan pun menggendong mama menuju mobil di ikuti oleh papa juga Karina masuk dalam satu mobil.
" kak " panggil Ivan .
" iya Van , sudah selesai kok aku tidur kan bayi nya di bok dan kamu mandilah dulu "
" baiklah "
Ivan pun segera menuju kamar mandi lalu mandi membersihkan diri. usai itu ia berganti baju dan segera mendekat melihat bayi mungil itu ia juga belum memberikan nama pada anaknya itu.
" kasih nama siapa ya " Ivan bicara sendiri.
" Van kamu makan dulu ya dari kemarin kamu belum makan "
"iya kak taruh saja di meja "
" em ngomong ngomong siapa namanya"
" aku juga sedang mikirin kak"
hening sejenak ....
" hilya Aqila dirgantara "
" wah nama yang bagus panggilan nya siapa ?"
"hilya , kak aku mau tidur tolong bibi meta untuk stand by di sini ya siapa tau hilya bangun pipis atau minta susu"
" iya kamu tenang saja"
Amira pun segera memanggil bibi Metha agar tidur di kamar sebelah Ivan . malam menjelang suasana hening juga sepi usai tahlilan untuk Naura mama dan papa pun pulang ke rumah Ivan seperti nya masih marah dengan dirinya.sedang Evan dan Karina pulang ke rumah Ivan yang sempat di tinggali oleh Naura juga Ivan .
__ADS_1
Amira juga Devan pun menuju kamar.
" sayang ..."
"ya..."
"kamu udah selesai belum datang bulannya "
" udah kenapa "
" aku mau itu..."
"apa ..?
" apa perlu tiap minta aku ajari"
" apa sih bener ga ngerti "
Devan pun mendekap tubuh Amira dan menatap wajah itu dengan intens terbayang dimana dia dulu suka sekali menyiksa dan menyakiti Amira bahkan hal gila yang dia lakukan adalah mencoba berselingkuh dan menghilangkan calon anaknya dan juga hampir saja Amira meregang nyawa pula tapi Tuhan masih sayang pada Devan hingga dia bisa bersama Amira lagi bahkan kini dia ada didepannya menemani dan selalu ada untuk dirinya.
Devan mendekap erat tubuh Amira dan tanpa permisi mencium bibir Amira yang menjadi candu untuk nya menyesap setiap inci kenikmatan yang tak terhingga terasa tiada Tara .tangan nakal Devan merambah ke mana mana menambah sensasi berbeda untuk Amira keduanya terlarut dalam surga dunia hingga kelelahan dan terlelap dalam pelukan.
malam yang larut dan dingin yang merasuk menusuk tulang Ivan tun terbangun mendengar tangis hilya ia segera membuat kan susu dan menggendong nya kini dia harus siaga menjadi ayah juga sekaligus ibu untuk putri semata wayangnya.
mungkin ini memang takdir terbaik untuk dia juga Naura yang menitipkan putri cantik ini pada dia .
Ivan masih saja belum berdamai dengan sang mama hatinya selalu kesal ia sebenarnya mencoba belajar dari Devan namun ia belum bisa ia selalu dia tak menyapa sang mama dan hilya sang putri juga jarang bertemu jika pun bertemu dia selalu lengket degan Ivan.
pagi itu Amira merasakan kram pada perut nya dan kepala nya sangat pusing ia memanggil Devan yang sedang mandi namun Devan tak kunjung menyahut hingga Amira pun pingsan dan Devan tak tau.
" Amira ... kamu kenapa tidur di situ sayang "
tiada jawaban ....
" sayang Amira ... Amira Amira bangun "
Devan pun langsung menggendong Amira lalu membawa ke mobil menuju rumah sakit Ivan yang melihat itu pun mengejar Devan hingga masuk mobil .
" mas kenapa kak Amira "
" gak tau tadi pingsan di kamar aku pikir dia tadi tidur kamu tolong bawa mobilnya cepat "
" iya mas "
" Van hilya gimana ?"
"tadi masih sama bibi Metha nanti kalau nyari aku pulang"
__ADS_1
mereka menuju rumah sakit dan sampai di sana Amira langsung masuk ke ruang perawatan mereka berdua menunggu di luar karena tak di izinkan masuk oleh dokter.
" Van aku boleh tanya sesuatu"
"apa kak "
"tentang mama "
Ivan diam ingin rasanya pergi saat itu juga dari hadapan Devan ia begitu malas meladeni pertanyaan itu.
" oke mas ngerti kamu perasaannya gimana aku cuma mau kasih tau kamu mama sakit leukimia setiap hari dia hanya menangis memikirkan kamu dan mengucap maaf sebelum terlambat temui beliau dan maafkan segala kesalahan dia "
dokter pun datang dan mendekat mereka
" diantara kalian siapa suami ibu Amira"
"saya dok bagaimana keadaan istri saya"
" istri anda baik baik saja hanya mengalami keram pada perut juga kecapean dan usahakan jangan sampai capek karena berpengaruh pada perkembangan janin nya"
"apa dok janin apa istri saya hamil"
" iya tuan istri anda hamil 4 bulan anda belum tau "
"belum dok dan lagi dia juga tak bilang apa apa "
" karena sekarang sudah tau jadi tolong dijaga dan selamat anda sebentar lagi menjadi ayah saya permisi "
" silahkan terimakasih dokter"
" mas ... Alhamdulillah selamat ya akhirnya penantian itu datang juga pesan aku jaga baik baik kak Amira itu sering keram perut kejadian dulu juga begitu "
" iya Van aku akan lebih hati hati dan ini penantian ku selama ini aku akan jadi seorang ayah"
" iya selamat ya mas ,aku pulang dulu ya hilya mencari aku "
" ya sudah pulang lah dulu "
Devan pun langsung menuju kamar perawatan Amira, Amira masih tertidur namun sudah lebih baik .Devan pun mencium kening Amira dan betapa senangnya dia jika akan memiliki anak dulu dia sangat sedih jika mengingat ada orang yang mencela bahwa dirinya tak akan pernah bisa punya anak apa lagi dia pria impoten namun Tuhan berkata lain ia sebuah dan sekarang sang istri sudah 4 bulan entah Amira tau atau tidak tentang kehamilan ini .
" mas ... dimana aku "
"eh ...jangan bangun dulu kamu di rumah sakit tadi kamu pingsan"
"iya kepala aku juga pusing "
" sayang terimakasih ya sebentar lagi kita akan jadi orang tua"
__ADS_1