
bibi dan tuan Adiyaksa mencari ke setiap penjuru rumah . sementara yang di kamar Devan sudah bangun terlebih dahulu dan baru saja selesai mandi dia hanya menggunakan celana pendek tanpa menggunakan baju handuk menggantung di lehernya serta rambut yang masih basah karena dia baru saja habis keramas Amira yang baru bangun membuka mata begitu kaget melihat Devan tanpa baju ia pun berteriak dan hampir saja jatuh dari tempat tidur namun buru buru Devan menangkap tubuh Amira jadi tak terjatuh .
"a.....!!!!?" jerit Amira
"kamu kenapa sayang"
" kenapa gak pakai baju sih mas"
" tadi habis mandi rambut ku belum kering"
" kamu cepat mandi sana"
" udah tadi"
" kapan ...?"
"tadi mas Devan masih tidur subuh tadi aku udah bangun mas aku bangun kan ga bangun"
" oh ...ya udah"
mendengar teriakan dari arah kamar Devan mama dan Ifan langsung menuju kamar Devan dan kebetulan pintu kamar tak terkunci jadi tanpa perlu gedor gedor mama dan Ivan langsung masuk ke dalam kamar sementara yang di kamar pun sama terkejutnya.
" Devan ....!!!!!" teriak mama
" ma sabar dulu aduh Ivan jadi malu ganggu mereka"
"kamu diam aja "
" kakak ipar maaf ya"
plak tamparan mendarat di pipi Devan
" ma kenapa nampar aku"
" masih nanya kenapa lagi itu belum seberapa , kamu apakan istri kamu??"
"ya aku peluk lah tadi mau ku cium keburu mama ma si adik Ifan datang jadi ya gak jadi"
" Ifan tutup mata kamu"
" emangnya kenapa ma Ivan mesti tutup mata "
" udah nurut aja"
Ivan pun menurut apa yang di perintahkan oleh sang mama
" Amira buka baju kamu"
" apa buka baju ,ga mau ma"
" mama ni aneh aneh aja kenapa juga harus buka baju istri ku"
mama diam saja ia segera mendekat pada Amira dan menyikap baju betapa terkejutnya bahwa di sekujur tubuh punggung dan tangan begitu banyak luka dan sayatan ada yang sudah mulai memudar ada pula yang masih jelas terlihat
" Amira kenapa kamu ga bilang sama mama dan lebih memilih diam apa Devan mengancam kamu?"
" enggak kok ma mas Devan ga mengancam"
" jangan tutupi kesalahan suami mu mama sudah tau sayang bibi Metha mengatakan semuanya "
" apa bibi Metha" Amira terkejut kenapa bibi Metha mengatakan pada sang mertua pantas saja mama langsung marah marah
__ADS_1
" Devan kamu harus tanggung jawab perbuatan kamu ga bisa ditolerir"
" emang salah Devan apa"
" masih nanya salah mu apa dasar anak kurang ajar ,Ivan seret kakak kamu ke kantor polisi sekarang juga"
" apa ma kantor polisi ,ma jangan " pinta Amira pada sang mama
" Ivan bawa kakak kamu"
Ivan diam saja karena tak menurut sang mama langsung membawa Devan keluar dari kamar dan tanpa mengenakan baju hanya memakai celana pendek saja
" ma lepasin Devan"
Amira dan Ivan mengikuti dari belakang
" ma lepasin mas Devan jangan bawa ke kantor polisi"
" biar saja Amira biar dia jera"
tuan Adiyaksa dan bibi Metha yang mendengar ribut ribut segera menghampiri di ruang keluarga
" ma lepasin Devan " pinta papa
"ga akan biar anak ini masuk penjara"
" ma kita selesaikan ini baik baik lanjutan cerita bibi tadi masih ada mama baru dengar separuh belum versi lengkap"
" papa kenapa sih selalu saja memanjakan Devan dari kecil sampai dia tua"
" tua an juga mama " ucap Devan
" diam mama ga suruh kamu ngomong"
" maaf nyonya saya menyela tuan besar benar cerita saya tadi belum selesai jadi nyonya belum mendengar penutup nya"
" bela terus anak papa itu"
" ma papa ga beda bedain kasih sayang antara Devan Evan serta Ivan semua sama hanya saja dari kecil Devan berbeda dari yang lain dia sering sakit sakit an bahkan hampir meregang nyawa dan usia 20 Thun ia dinyatakan impoten tak dapat sembuh menikah 2 x gagal semua bisnis di incar agar bangkrut dan ada orang yang menginginkan Devan gila ,ma?? jelas papa panjang lebar kepada mama
" nyonya Amira saya minta maaf, nyonya besar ini 3 buku diary Nyonya Amira biar nyonya tidak salah paham"
" dan lagi dari dulu sampai sekarang mama paling keras pada Devan "
buku diary pun dibaca ,Devan pun mengambil buku yang di baca sang mama yang sudah selesai dan di buku yang terakhir mama begitu terkejut bercampur senang Karena Amira dan Devan sudah satu kamar dan tak ada penyiksaan lagi serta Amira benar benar mencintai Devan apa adanya bukan karena yang lain serta perasaan itu muncul saat Devan masih mengalami depresi,
Devan pun terdiam membaca semua isi diary Amira betapa kejam dirinya sudah dapat istri cantik baik hati serta menerima dirinya apa adanya dia malah menyianyiakan begitu saja Devan yang lama diam ia pun berbicara
" Ivan kalau mau menangkap aku tangkap saja aku siap masuk bui"
semua orang terkejut akan pernyataan Devan yang meminta Ivan menangkap nya
" kak Devan aku ga bisa"
" kamu polisi jangan lemah cuma gara gara aku kakak kamu"
" iya aku memang melakukan kekerasan baik antara sadar atau tak sadar pada istri aku "
" mas aku udah maaf kan kamu ,itu kan pengaruh obat aku memaklumi nya mas jangan dipenjara"
" kamu kenapa mau sama aku dan masih bertahan aku gak baik buat kamu"
__ADS_1
" mas jangan bilang kaya gitu aku ..aku ...aku mencintai kamu "
" nah mama dengar sendiri kan masih mau menjebloskan Devan ke penjara" timpal papa
" iya ma lagian mas Devan udah mengaku salah dan dia ngamuk kan bukan kemauan mas Devan tapi obat itu" jelas Ivan
" ok ,mama gak jadi masukin kamu ke bui dan maafkan kamu Devan dan jangan ulangi lagi "
" terimakasih mama" memeluk sang mama
semua orang lega namun Devan masih bingung tentang obat yang mereka bilang tentang obat itu dia belum tau ..
"kalian tadi bilang obat membuat aku ngamuk maksudnya obat apa ya, toh aku selama ini minum obat baik baik saja"
" Ivan coba kamu jelaskan sama kakak kamu"
pinta papa pada Ivan
" jadi gini mas Devan ,papa sama Mama kan meresepkan obat buat mas yang maaf impoten tapi ternyata ada orang yang menyalagunakan obat itu di tukar dengan obat terlarang dan tidak beredar di pasaran"
" ya obat itu masih rutin aku konsumsi"
" iya tapi sama kakak ipar di ganti dan setelah diganti ternyata mas lebih baik dan ga ngamuk lagi "
" di ganti Amira kan dia cuma menyiapkan saja"
" iya mas itu obat diganti dengan vitamin bukan obat buat sakitnya mas"
" kok aku bisa ga tau ya"
" ya ga lah orang kamu cuma kerja ngamuk menyiksa istri mana tau ada penyusup dan Menganti obat kamu" sindir mama
" sayang terimakasih karena kamu penjahat itu tertangkap" ucap Devan pada Amira sambil membelai kepalanya dan mendekat disampingnya
"iya mas , sekarang mas udah sembuh dan gak ngamuk lagi" jawab Amira sambil tersenyum
" emang mas udah tau siapa dalang dibalik semua itu? tanya Ivan
" aku udah tau Andreas keponakan aku sendiri dan Arya Prasetya rekan bisnis papa dan aku juga ,aku ingin membongkar kelakuan mereka hanya saja aku tak punya bukti"
" lalu tau dari mana mereka pelakunya kakak ipar yang bilang kah "
" bukan tapi Diki ,dia waktu itu pulang dari sini dan melihat Amira mengikuti seseorang lalu aku minta untuk menyelidiki nya dan ternyata malah istri aku sendiri yang menangkapnya"
Amira yang sejak tadi diam akhirnya bicara
" em ... boleh aku bertanya"
" tentu saja sayang kamu mau tanya apa"
"kenapa semua bilang kalo mas Devan itu impoten"
semua diam dan selama ini Amira memang tidak tau kalau Devan itu impoten ia mendengar orang berbicara tentang sang suami jika impoten namun Amira tak menggubris hal itu hanya menganggapnya angin lalu saja .
" sayang kamu belum tau kalau Devan itu impoten" jawab sang mama
" emang itu bener ya ,aku pikir cuma isu "
" iya sayang Devan memang sakit ,jadi tolong kamu sabar ya?" jelas papa
" papa mama gak bohong kan ??"
__ADS_1
" kamu bisa tanyakan sendiri pada suami mu "
" sayang sebenarnya aku itu......"