Cinta Tulus Untuk Tuan Muda Impoten

Cinta Tulus Untuk Tuan Muda Impoten
18


__ADS_3

Ivan dan Amira serta Devan keluar kamar hampir bersamaan namun Ivan turun tangga lebih dulu dia melewati meja makan Amira pun memanggilnya


" Ivan kamu gak sarapan dulu kalau mau kerja"


" aku cuti kak 1 minggu "


" makan lah dulu lagi pula juga sudah siap makanannya" ajak Devan pada adiknya itu


" ga usah kak aku ada janji sama teman "


" ya sudah kalau gitu"


Amira dan Devan menuju meja makan untuk memulai sarapan mereka namun Ivan yang tadi sudah diambang pintu kembali masuk ke dalam rumah dan menuju ruang makan .


Devan dan Amira yang melihat bingung tadi katanya gak mau sarapan kenapa sekarang dia balik .namun Ivan balik ke dalam rumah bukan untuk sarapan namun untuk meminta izin pada yang punya rumah untuk tinggal di sana sementara waktu hingga keadaan membaik .


" kok balik lagi ada yang ketinggalan?" tanya Devan


" kak aku mau minta izin boleh"


" izin apa pak polisi kayaknya serius "


" aku ingin tinggal di sini sementara waktu apa boleh"


" emang kenapa lagian di rumah juga ada mama sama papa"


" aku ..aku..." Ivan bingung menjelaskan pada Devan dan Amira


" apa ada masalah kamu sama mama " tanya Amira sambil menyelidiki"


Ivan pun masih diam seperti nya kakak iparnya itu tau sesuatu .


" iya ,aku sama mama lagi kurang akur sebenarnya"


"ada masalah apa"?"


" mas jangan dipaksa mungkin Ivan butuh waktu untuk menjelaskan semua "


" oke kamu boleh tinggal disini jangan takut atau ragu kalau ada apa-apa bilang aja"


" iya mas ,kak terima kasih "


setelah itu Ivan langsung berlari keluar dan menuju garasi mengambil motor yang sering di titipkan di rumah Devan kekakuan Ivan membuat Amira serta Devan geleng geleng kepala.


" sayang kamu jadi ke rumah ibu"


" jadi mas ,mau ikut"


" ya aku antar "


" ga ke kantor?"


" enggak mati sore aja sekalian ketemu sama klien"


" oh ... ya udah ,berangkat sekarang "


" oke "


Amira dan Devan pun berangkat ke rumah ibu Amira sesampainya di rumah Amira keadaan masih sama seperti dulu tak ada yang berubah karena sang ibu hanya tinggal sendiri dan di temani 2 orang pembantu dan dua satpam serta 1 sopir itu pun Devan yang menempatkan mereka di sana .


" assalamualaikum ...." ucap salam Amira sambil mengetuk pintu


" ibu ....Bu ...ibu... " ucap Devan


lama tak ada sahutan mereka menunggu di luar


cukup lama di sana akhirnya pintu pun dibuka


bukan sang ibu yang membuka melainkan sang pembantu ...


" tuan nyonya ..."


" ibu kemana"


" ibu sedang di belakang rumah menanam bunga "


" oh ...pantas saja tidak di jawab salam ku tadi"


" mari masuk biar ibu saya panggilkan "


mereka pun masuk ke dalam rumah dan sang ibu sudah selesai dengan aktifitasnya

__ADS_1


" ibu " sapa Amira ketika melihat sang ibu yang sudah lama tak di jumpai ya ia pun memeluknya untuk melepaskan rindu dan Devan pun menyalami sang mertua.


" ibu apa bagaimana kabar mu " tanya Devan pada ibu mertuanya


" baik nak kalian berdua bagaimana ?, apa Amira sudah hamil"


" belum bu kami masih usaha "


Amira hanya diam menunduk tak mau menjawab .


" kalian sudah makan ?"


" sudah Bu ,makanlah dulu kami akan menunggu "


" baik kalian istirahat saja dulu "


sang ibu menuju dapur lalu ke meja makan untuk memulai makan sementara Devan dan Amira menunggu Amira pun menuju kamar dimana dia dibesarkan dan kamar penuh kenangan masa kecil dan remaja .ia pun membuka pintu dan masih sama tak ada yang berubah serta foto dirinya saat kecil dan remaja serta seprei yang tak berganti namun tetap seperti baru Devan pun masuk ke dalam kamar pula dan memeluk Amira dari belakang


" inikah kamar mu dulu "


" iya mas ,cuma sederhana dan tak semegah punya mas "


" tak apa sepertinya nyaman ,kamu suka tidur di bawah "


" iya dari pada di atas ranjang lebih nyaman saja"


" baiklah akan ku coba nyaman atau tidak "


Devan pun mendekat ke arah kasur dan mencoba rebahan di sana


" nyaman juga ternyata , kamu sini "


Amira pun mendekat dan ikut berbaring di dekat Devan sedang Devan tak menyia-nyiakan kesempatan itu ia segera berbalik dan mendaratkan bibirnya ke bibir Amira hal itu membuat Amira terkejut namun melawan pun tak ada arti toh juga Devan suaminya juga sudah berlebel halal lama dan asyik ******* bibir istrinya nafas Amira yang mulai kesulitan memukul dada Devan dengan keras membuat Devan pun merasakan hal tersebut dan melepaskan ciumannya.


" kenapa...?"


" kira kira dong mas mana pintu di biara kan terbuka lagi "


" maaf tadi lupa nutup "


" kalau ada yang lihat gimana coba"


" ya biar saja kita kan halal"


" iya ...iya gak lagi deh"


" dasar kelamaan impoten jadi nafsu nya gede "


jawab Amira sambil tertawa


" biar saja impoten aku juga udah ketemu sama obatnya"


" o..ya dimana , untung juga udah jinak gak ngamuk lagi jadi aku aman "


" obatnya itu kamu ,dan aku udah ketemu sama pawangnya jadi ya jinak" ucap Devan sambil menggoda sang istri


" dasar ya " giliran Amira yang mencubit lengan Devan


" a... sakit sayang"


" rasain"


" kalian di sini rupanya" sapa sang ibu yang membuat mereka berdua menoleh ke arah sumber suara


" ibu ,sudah selesai"


" sudah Mira ,Oya ... ini ibu buatkan gorengan kebetulan pisang di belakang tadi sudah matang dan ini ada es teh manis "


" wah kebetulan sekali pas cuaca lagi panas" tanpa menunggu Devan Amira langsung mengambil pisang goreng tersebut tanpa memperdulikan Devan yang ada di dekatnya.


" nak Devan ayo di cicipi maaf ibu tidak tau makanan kesukaan kamu berbeda seperti yang biasa di hidangkan di rumah kamu"


" tidak Bu yang di rumah juga Mira yang menyiapkan semua "


" baguslah jika Mira melakukan tugasnya ,Mira sisakan untuk suami mu ,jangan di habiskan"


Mira pun berhenti makan dan menoleh pada Devan sambil senyum . kemudian dia mengambil pisang goreng yang utuh dan ...


" coba buka mulut nya" pinta Amira Devan pun menurut dan satu gigitan Devan pun memakannya


" enak Bu ,ibu gak makan "

__ADS_1


" kalian makan saja itu di dapur masih ada , bagaimana kabar tuan dan nyonya Adiyaksa "


" beliau baik Bu ,baru pulang dari luar negeri"


" apa ada yang sakit keluarga Evan di sana"


" tidak Bu hanya berkunjung saja lama tak ke sana sekalian menengok cucu" terang Devan


" ibu " Amira menyela


" ada apa Mira ?"


"aku ingin ..."


" ingin apa ...?"


" aku ingin menanyakan tentang pernikahan dadakan ku dengan mas Devan "


ibu tersenyum" kamu masih ingat hal itu "


"tolong Bu aku hanya ingin kejelasan dan apa alasannya"


" memang ayah mu tidak bilang dulu"


" ayah cuma bilang aku akan dijodohkan dengan anak teman ayah tapi dia sedang sakit hanya itu"


" mungkin sudah saatnya kamu tau Mira , jadi begini ....


Amira pun mengubah posisinya dan mendekat pada sang ibu mulai mendengarkan penjelasan dari ibunya .


" saat itu ayah mu bingung mencari sebuah pekerjaan dan dia bertemu dengan kakek Adiputra dia adalah ayah dari tuan Adiyaksa dia mau menerima ayah mu bekerja di perusahaan nya langsung di tempatkan di bagian keuangan dengan syarat mau mencarikan donor darah untuk sang putra dengan golongan darah B ayah mu menawarkan diri karena golongan daranya B setelah diperiksa dokter dan cocok maka transfusi pun dilakukan .


ayah mu pun bekerja di perusahaan Adiyaksa grup gajinya lumayan hingga bisa menamatkan sekolah mu mencapai kejayaan tuan Adiputra sakit sakit an dan akhirnya meninggal . posisi pimpinan pun digantikan oleh tuan Adiyaksa yang kemudian meminta ayah mu menjadi sekertaris serta asisten pribadi dia bertanya apakah ayah memiliki anak perempuan ayah pun menjawab" aku hanya memiliki 1 orang anak dia perempuan bernama Amira Ismanova"


tuan Adiyaksa meminta untuk di jodohkan dengan anaknya yang bernama Devan dirgantara .


" maaf ya ibu ke kamar sebentar"


" iya ibu"


ibu pun pergi ke kamar nya mengambil suatu map yang entah apa isi di dalamnya


tak berapa lama ibu pun kembali dengan sebuah map di dalamnya .


" ibu apa itu .."tanya Amira


" ini adalah surat perjanjian yang di tanda tangani oleh ayah mu dan mertua mu di atas materai bahwa ayah mu bersedia menjodohkan kalian suka tidak suka dan mau tidak mau harus terlaksana pernikahan itu walau pun kalian tidak saling mencintai tapi sepertinya ..." ibu menggantung ucapannya membuat Devan dan Amira penasaran


" seperti nya apa Bu ?" Devan pun ingin tau


" Mira jatuh cinta duluan sama kamu Devan sampai sampai dia tidak mau melepaskan kamu meski kamu menyiksa dan menyakiti dia"


" ibu sok tau, tau dari mana ? ucap Amira sambil menatap ibunya


" ibu aku minta maaf , sudah menyakiti Amira dan membuat dia menderita ,tapi izin kan aku untuk memperbaiki semua" Devan meminta maaf atas kelakuannya pada Amira yang tidak memperlakukan dengan baik


" nak Devan ibu sudah memaafkan lagian itu bukan keinginan mu tapi pengaruh obat"


" dari mana ibu tau "


" diary mira,dan Mira diary kamu tertinggal waktu kamu ke sini dan ini tidak mungkin bohong di situ juga banyak foto suami mu dan ungkapan cinta mu"


" Bu boleh ku lihat " pinta Devan


ibu pun memberikan diary Mira ke Devan dan Devan pun menerimanya ..namun Mira malu malu dan melarang Devan untuk membacanya.


" ibu jangan berikan "


" kenapa memang ...?" tanya Devan


" jangan mas gak usah "


namun Devan berhasil mendapat buku itu dan membacanya Amira hanya diam saja pasrah saja jika nanti Devan menyindirnya .


" baiklah ibu lanjutkan ceritanya "


mereka pun mendengar kan kembali lanjutan cerita dari sang ibu .


" waktu itu pula nak Devan mengamuk dan melukai dirinya sendiri serta kehilangan banyak darah saat itu ayah mu ingin mendonorkan darah tapi ia di beri tugas ke 3 kota untuk mengurusi cabang baru dan itu diluar kota semua waktu itu Nyonya Adiyaksa menangis di depan rumah sakit bingung karena tak ada pendonor dan Mira melihat lalu menghampiri dan bertanya mertua mu bilang membutuhkan darah golongan B untuk sang anak ,golongan darah kalian sama lalu hasil dari dokter menunjukkan kecocokan dan donor darah segera dilakukan ."......


buat yang baca jangan lupa ya like komen kasih bunga kopi atau yang lainnya vote juga ya

__ADS_1


terimakasih buat kalian semua .


__ADS_2