Cintaku Berakhir Di Pesantren

Cintaku Berakhir Di Pesantren
Menerima Perjodohan


__ADS_3

Hari ini ada yang berbeda, Laura terlihat lesuh. Ia banyak melamun, entah apa yang sedang dipikirnya. Mentari dan Monika mendekatinya dan sontak membuatnya terkaget.


“ Kamu kenap sih Ra ? Kamu masih memikirkan perjodohan itu ?”Laura menoleh menatap Monika dan menggangguk sebagai jawaban pertanyaan Monika.


“ Kamu sudah bertemu dengan laki-laki itu ?” lagi-lagi Laura hanya mengangguk. Membuat Monika hanya bisa menarik napas lalu membuangnya dengan kasar.


“ Dari wajahmu, pasti cowok itu jelek ya ? Bukan selera kamu kan ?” tebak Monika. Kini Laura tak lagi mengangguk, melainkan kini ia menggeleng.


“ Dia tampan kok, dari postur tubuhnya juga menarik,” ujar Laura dengan lesuh. Ia menoleh menatap kedua sahabatnya secara bergantian, terlihat dari wajahnya keduanya seakan bertanya lalu apa yang membuatmu lesuh begitu.


“ Masalahnya cowok itu punya pacar, dan aku tidak mungkin merusak hubungan mereka,” Mentari memeluk Laura yang malah mebuat perasaan Laura semakin merasa bersalah.


Maafkan aku Ra, aku tidak mungkin menerima perjodohan ini, aku sangat mencintai Mentari, gumang Rio yang memperhatikan ketiganya dari kejauhan.


“ Monika, kata mama aku, kamu dan Radit itu dijodohkan, apa benar begitu ?”


Mentari terkejut dengan pertanyaan Laura. Monika yang ditanya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tertawa.


“ Kenapa kalian menerima perjodohan itu ?” tanya Laura.


“ Awalnya aku menolaknya karena aku mencintai orang lain, tetapi setelah ku pikir tidak ada salahnya aku menerima perjodohan itu, toh Radit adalah orang yang ku kenal baik, walaupun terkadang tingkahnya menyebalkan tetapi sebenarnya dia lelaki yang baik dan sangat penyayang. Jadinya aku terima, dan ternyata dia juga menerimanya, setelah itu kami mencoba saling mengenal dan kami tidak pernah menyesali perjodohan itu,” Monika berbicara dengan senyum yang merekah, nampak jika saat ini sangat bahagia.


“ Oya, karena kalian sudah tahu tentang perjodohan itu, maka aku akan bilang kepada kalian jika kami akan menikah setelah lulus nanti,” lanjut Monika.


“ Wah selamat ya nik, kamu pasti bahagia banget. Aku jadi kepikiran dengan hubunganku dengan Rio, apakah kelak kami juga akan berakhir di pelaminan seperti kalian ?” ujar Mentari, ada rasa sakit yang hinggap di dada Laura.


***


“ Kamu kenapa bro ?” Radit menghampiri Rio yang berdiri memandang tiga gadis yang sedang berbicara di pinggir lapangan Futsall.


“ Kamu ada masalah dengan Mentari ?” kini Azka yang bertanya sambil memegang pundak Rio.


“ Kami tidak ada masalah kok,” ujar Rio meyakinkan kedua sahabatnya itu.


“Oya Dit, aku dengar kamu akan menikah setelah lulus nanti, dan katanya kamu dan Monika itu dijodohkan, benarkah ?” Rio beralih menatap Radit.


“ Ternyata beritanya cepat juga tersebar ya. Rencananya memang seperti itu, nikah muda asyik bro, bisa mesra-mesraan tanpa takut dosa,” setelah mengatakan itu, Radit tertawa sendiri dengan ucapannya.


“ Jahat banget loe, kenapa nggak pernah cerita ?” Azka yang kesal dengan sahabatnya itu pun langsung menjitak kening Radit.


“ Bukannya tidak mau bilang, kami hanya ingin mencari waktu yang pas, rencananya sih setelah undangannya selesai baru kami mau ngomong, tapi malah ketahuan duluan,” ujar Radit sambil tertawa.


“ Kenapa kamu menerima perjodohan itu Dit ? Apa karena kamu sudah menyukai Monika jadi kamu menerimanya ?” pertanyaan Rio terdengar penuh selidik.

__ADS_1


“ Saya menerimanya karena tidak bisa menolak permintaan ayah saya, walaupun saat itu saya mencintai cewek lain. Tapi sayangnya Monika yang menolak perjodohan itu, katanya sih dia mencintai seseorang, dan entah kenapa dua hari setelah dia menolak perjodohan itu, dia malah mengubah jawabannya, ia menerima perjodohan ini. Setelah itu kami bertemu berdua, kami sepakat untuk saling mengenal lebih baik, dan iya sekarang kalian bisa lihat, kami tidak pernah menyesali perjodohan ini, malahan seperti berkah untuk kami,” Radit mengakhiri ceritanya, lalu berdiri,


“ Ayo kita hampiri para gadis itu, aku merindukan jodoh dari papaku itu,” ujar Radit sambil berjalan, Azka dan Rio mengikutinya dari belakang.


***


“ Kamu kenapa Ra ?” tanya Radit ketika dia sudah berdiri di hadapan ketiganya.


“ Dia lagi pusing mikirin perjodohannya, dia mau nolak taopi nggak bisa, mau nerima takut nyakitin kekasih cowok itu,” Monika berujar menceritakan perasaan sahabatnya itu.


“ Ra menghadapi sebuah perjodohan itu memang rumit dan bikin kita serba salah, kalau aku sih sebaiknya kamu jalani aja, karena biasanya pilihan kedua orang tua itu terbaik, walaupun terkadang caranya yang salah, sudah banyak loh pasangan yang karena dijodohkan hidup bahagia meski awalnya terpaksa,” Radit mencoba menasehati sahabatnya itu, ia bisa memahami perasaan sahabatnya.


“ Kamu sudah ketemu cowok itu Ra ?” kini Azka yang bertanya, diangguki Laura.


“Bagaimana orangnya ? Kalau menurut kamu baik, kenapa nggak mencoba menjalaninya saja, kalian mencoba saling mengenal dulu, mengenai kekasihnya itu, cepat atau lambat ia akan menerima semuanya, jangan sampai loe nyesal karena nolak perjodohan kalian,” ujar Azka, ia tidak mau jika Laura akan menyesali penolakan perjodohannya seperti yang ia rasakan sekarang ini.


“ Aku bukan yang egois seperti itu Ka, aku nggak mungkin menyakiti cewek itu,” ujar Laura sambil melirik Rio. Rio hanya terdiam mendengarkan percakapan teman-temannya.


“ Siapa sih cowok itu? Dia seumuran kita atau lebih dewasa daripada kita ? aku pengen banget ketemu dengannya,” ujar Radit kesal.


“ Untuk apa kamu mau menemui lelaki itu Dit ?” kini Rio mulai angkat bicara, ada yang aneh dengan nada bicaranya.


“ Mau kenalanlah, aku mau menceritakan kelebihan sahabatku ini,” sambil mendekati Laura,


“ Aku mau membuka matanya, dia nggak boleh egois, kalau memang ia mau menolak perjodohan itu, dia harus pertegas, tapi kalau ia tidak bisa menolak, maka ia juga harus tegas memutuskan hubungannya dengan pacarnya itu, lagian kan mereka baru pacaran, belum nikah. Jadi nggak ada salahnya memutuskan dengan baik-baikkan,” ujar Radit dengan menggebu-gebu. Ia juga jengkel dengan laki-laki itu.


“ Yang dikatakan Rio benar Dit, lelaki itu punya alasan kenapa ia tidak bisa memutuskan pacarnya, perjuangannya mendapat gadis itu sangat sulit, dia pernah cerita ke aku. Dia pasti sama halnya denganku yang dilema, serba salah jadinya,” Rio menatap Laura, gadis itu sangat pengertian, dia gadis yang baik, pikir Rio.


“Sudahlah, lupakan perjodohan itu, aku pusing jika memikirkannya,” ujar Laura sambil tersenyum getir.


“ Andaikan cowok itu tau kamu perempuan seperti apa Ra, ia akan menyesal melepasmu,” ujar Mentari menepuk bahu Laura.


“ Kalau kamu merasa aku cewek baik, maka kalian juga harus tau jika kekasih lelaki itu pun jau lebih baik, terlalu banyak yang ia sudah lewati, ia adalah gadis yang sangat menarik Tar,” ujar Laura menatap Mentari. Mentari langsung memeluk Laura, Monika pun ikut memeluk Laura.


“ Laura kamu gadis yang baik, kamu juga berhak bahagia tanpa memikirkan perasaan orang lain,” ujar Azka menatap Laura. Laura hanya tersenyum.


“ Azka, bisa kah aku memelukmu ?” tanpa menunggu jawaban Azka, Laura langsung memeluk Azka. Azka kemudian membalas pelukan Laura.


“ Laura, apakah kamu tidak ingin memelukku juga ?” tanya Radit sambil merentangkan kedua tangannya.


“ Tentu aku ingin memelukmu juga, kalian berdua sudah seperti kakak laki-laki bagiku,” ujar Laura dan beralih memeluk Radit. Azka pun berbalik dan memeluk Radit dan Laura.


Apakah gadis itu yang akan aku lepaskan ? batin Rio melihat Laura yang sedang berada dalam pelukan kedua sahabatnya itu. Monika dan Mentari tanpa mereka sadari, mereka sudah mulai terisak dalam tangis.

__ADS_1


***


Hari ini Rio dan Laura janjian bertemu, mereka akan membahas sikap apa yang akan mereka ambil terhadap masalah perjodohan itu. Ketika Rio memasuki salah satu Cafe yang menjadi tempat pertemuan mereka, ia melihat gadis yang dijodohkan dengannya itu sedang tersenyum manis. Entah apa dipikirkan gadis itu, pikir Rio.


“ Kamu sudah lama menunggu ya Ra, maaf ya, aku tadi ada urusan mendadak,” Rio menarik salah satu kursi di hadapan Laura dan duduk.


“ Aku baru juga sampai kok,” senyum manis di wajah Laura masih setia menghiasi wajahnya.


“ Kamu mau bicara apa Rio ?” lanjut Laura setelah memesan makanan.


“ Kita makan dulu ya, aku lapar banget, setelah makan baru kita bicarakan,” ujar Rio. Tidak lama seorang pelayan datang membawakan makanan mereka.


“ Setelah aku pikr-pikir, aku akan menerima perjodohan kita Ra,” ujar Rio setelah menghabiskan makananya.


Prurrrr... uhuk uhuk uhuk.. karena kaget, Laura pun terbatuk karena tanpa sengaja ia tersedak.


“ Kamu nggak apa-apa kan Ra ?” dengan sigap Rio mengelap mulut Laura, tanpa sengaja tatapan mata mereka bertemu, sontak semburat merah menghiasi kedua pipi Laura.


“ Tapi bagaimana hubungan kamu dengan Mentari ?” tanya Laura setelah ia sudah mulai tenang.


“ Aku akan membicarakannya dengan Mentari, tapi berikan aku waktu, dan soal pernikahan kita, aku akan meminta agar kita menikah setelah kita selesai kuliah,” ujar Rio dengan mantap. Ada ketegasan dari nada bicaranya.


“ Kamu setuju kan ?” Rio menatap Laura dengan penuh harap.


“ Terserah kamu saja, saya hanya mengikuti keputusan kamu, karena untuk menolak pernikahan itu, aku tak mampu,” ujar Laura dengan jujur. Ia sudah pasra dengan perjodohannya.


***


Flashback


“ Tar kalau kamu jadi kekasih cowok itu, apakah kamu akan membenciku jika aku menerima perjodohan itu ?” tanya Laura, ketika ia dan Mentari sedang duduk di taman sekolah.


“ Kenapa mesti membencimu, kamu kan melakukannya karena terpaksa, bukan karena ingin menghacurkan hubunganku, jadi bukan salah mu, aku pun akan melakukan hal yang sama ketika ada di posisimu,” ujar Mentari dengan mantap. Jawaban Mentari bagaikan angin segar bagi Laura.


“Tapi untungnya bukan aku gadis itu ya, walaupun mungkin aku akan menerima hal itu, tetapi aku nggak tau apakah aku siap berpisah dengan Rio,” ujar Mentari kemudian.


“ Berarti aku tetap akan menyakiti hati gadis itu dong,” ujar Laura sambil mendesah dengan kesal.


“ Iya tentu keputusan itu akan menyakitinya, tapi saya yakin jika dia orang bijak, ia tidak akan marah padamu, karena cepat atau lambat ia akan menerimanya, suatu hari nanti ia akan bertemu dengan lelaki lain yang memang diciptakan untuknya,” kini Laura kembali tersenyum, dan berharap kelak Mentari akan menemukan lelaki yang lebih baik daripada Rio.


Flash on


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan coment nya ya 🙏


Terima kasih telah mampir di novel ku 🙏


__ADS_2