Cintaku Berakhir Di Pesantren

Cintaku Berakhir Di Pesantren
Extra Part 2


__ADS_3

~Happy reading~


"Kamu kenapa Nad ? Semenjak pulang dari butik kamu jadi lebih pendiam," Rika mendekati Sang sahabat yang lagi duduk di bawah pohon mangga yang terdapat di perkarangan pesantren.


"Aku bertemu lagi dengannya Rik, aku nggak tahu dengan perasaanku ini. Kenapa masih saja mencintai lelaki itu? Sudah berapa lama aku berusaha membencinya tetapi tidak bisa. Apakah sesakit ini ketika kita mencintai tetapi tak mampu memilikinya?" Setetes air mata jatuh membasahi pipi Nadia.


Rika memilih duduk di samping Nadia, dielusnya jilbab yang menutupi kepala sang sahabatnya. "Jangan pernah mencoba melawannya, Biarkan perasaan itu mengalir apa adanya. Semakin kamu mencoba melepasnya semakin kuat ia mengikat dan menarikmu,"


Nadia menoleh menatap manik mata Rika, gadis yang senantiasa selalu bersabar menemaninya sejak kecil. Sahabatnya itu selalu saja bisa ia andalkan. Ia tersenyum dan mengangguk membenarkan ucapan Rika, ia bisa merasakan hal itu, semakin ia ingin menjauhi lelaki itu, semakin sulit ia berjauhan. Sepertinya semesta tidak menginginkannya untuk berjauhan dengan lelaki itu.


"Daripada bergalau ria di sini, lebih baik kita masuk dan menemani Ummi menyusun seserahan yang akan bang Yusuf bawa ke kediaman Neneknya Ainun," Nadia hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Ia lalu berjalan mengikuti langkah Rika yang telah lebih dulu pergi.


Keduanya masuk dan mata mereka berbinar menatap seserahan yang akan dibawa keluarganya di hari pernikahan Yusuf, kakak Nadia.



Seperangkat Alat sholat




Ini adalah seserahan wajib untuk umat Muslim karena menjadi simbol bahwa tumpuan utama keluarga ini nantinya adalah agama. Ini juga menjadi simbol bahwa pernikahan antara calon mempelai berpegang teguh pada nilai agama. Isi dari seserahan ini biasanya adalah sajadah, mukena, Al Quran, dan tasbih. Dengan seserahan ini, kedua mempelai diharapkan selalu menegakkan sholat dan menjadi lambang agar calon mempelai selalu mengingat sang pencipta.



Perhiasan




Perhiasan adalah simbol agar calon mempelai wanita selalu bercahaya sepanjang hidupnya.


Dengan pernak-pernik ini calon mempelai wanita diharapkan akan selalu bersinar dalam kehidupan dan tidak mengecewakan keluarganya.


Perhiasan untuk seserahan dapat berupa kalung, cincin, anting, liontin, atau gelang. Jumlah perhiasan tersebut dapat disesuaikan dengan kemampuan mempelai pria. Perhiasan ini harus berkilau agar pesan tersampaikan misalnya dari emas atau jika mampu dapat berupa berlian.



Busana wanita



__ADS_1


Satu set busana wanita merupakan harapan agar kedua mempelai dapat menyimpan rahasia rumah tangga dengan baik. Untuk pernikahan adat Jawa menggunakan busana putri berupa kain jarik dengan berbagai motif batik dan bahan kebaya.



Alat Make up




Make up atau peralatan rias dimaksudkan agar calon mempelai wanita nantinya selalu menjaga penampilannya di depan suami. Selain itu, seserahan juga bermakna pengantin pria siap untuk menyediakan perawatan tubuh dan juga make up untuk calon istrinya.



Sepasang cincin pernikahan




Barang hantaran ini akan membuat ikatan hubungan cinta abadi. Biasanya cincin nikah akan diberikan sepasang atau set di mana satu untuk pengantin wanita dan satu untuk pengantin pria. Biasanya bagi calon mempelai muslim, cincin untuk pria tidak berupa emas.





Hantaran berisi selop, sandal, atau sepatu memiliki makna agar kedua mempelai selalu sejalan mengarungi bahtera rumah tangga.



Tas




Tas juga dapat dijadikan untuk barang seserahan. Ini berarti calon mempelai pria diharapkan dapat membiayai keperluan istrinya.


" Masya Allah cantik banget Ummi, aku mau satu dong Ummi," ujar Nadia sambil melihat sepasang sandal yang akan dijadikan seserahan pernikahan Yusuf, sang kakak.


"Mau sayang ?" Tanya Ummi Kalsum dengan wajah penuh arti, Nadia mengangguk dengan tatapan masih tertuju pada seserahan tersebut.


"Nikah sayang, calon suamimu akan membawakan untukmu," mendengar ucapan umminya, Nadia hanya bisa mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Nikah ? Bagaimana mau nikah jika pacar aja nggak punya," Ujarnya lalu memilih duduk di bangku yang kosong.


"Siapa bilang nikah itu mesti dengan pacar ? Nikah itu dengan Jodoh kita nak, kelak jika sudah waktunya dipertemukan maka kamu pasti akan menikah," Ummi Kalsum mendekati putrinya itu, ia bisa melihat jika di mata anak gadisnya itu ada sebuah kebimbangan.


"Apa kamu ada masalah sayang ?" Dielusnya jilbab sang putri dengan penuh rasa sayang.


"Tidak ada kok Ummi, aku baik-baik saja kok," elaknya. Nadia mencoba menutupi kegugupannya.


"Sayang kamu jangan pernah mencoba membohongi Ummi, Ummi yang telah melahirkan dan membesarkanmu. Ummi sangat tahu tentang dirimu, jadi katakanlah," Ummi Kalsum mencoba untuk mempertanyakan kegundahan putrinya.


"Aku malu Ummi," mendengar jawaban sang putri Ummi Kalsum hanya tersenyum, ia tidak bisa memaksa Nadia untuk bercerita. Ia paham betul gadis seusia putrinya itu memiliki tingkat rasa malu yang tinggi. Ia yakin putrinya sudah dewasa, Nadia pasti akan bisa menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya.


"Ya sudah, kamu tidak perlu bercerita sayang jika hatimu belum sanggup. Ummi harap apapun yang kamu lakukan maka pikirkanlah dampak yang akan timbul, jangan pernah mengambil keputusan secara gegabah sayang. Ummi yakin Nadia anak yang Ummi yang cerdas, yang mampu membedakan yang haq dan batil." Nadia hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia bersyukur Umminya bukan tipe orang tua yang suka memaksakan kehendak, ia belum bisa menceritakan masalah percintaan yang dihadapinya. Ia lebih memilih untuk bercerita dengan Rika.


Setelah berbincang-bincang di ruang tengah, Nadia memilih masuk ke dalam kamar. Waktu magrib akan tibah, ia memilih membersihkan badannya terlebih dahulu lalu bersiap-siap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Muslim.


***


Rembulan malam telah menyapa bumi ini, dengan cahayanya yang senantiasa menerangi alam ini. Nadia kembali mengambil buku kecil di tasnya, lalu mengambil Pena. Saatnya menuangkan Isi hatinya dalam buku tersebut.


Dear deary...


Hari ini aku bertemu lagi dengannya setelah beberapa minggu ini tak bertemu, aku sengaja menghindari jalan yang biasa dilaluinya di kampus agar tak berjumpa dengannya. Namun sayangnya hari ini kami malah dipertemukan kembali, ah sepertinya semesta tak mengisinkan aku menghindarinya.


Ahh.. Wajahnya yang tampan selalu saja menarik perhatianku. Jantungku masih saja berdetak dengan kencangnya jika menatap manik mata indah itu.


Tuhan izinkan aku bisa menghilangkan rasa ini, rasa yang selalu *membuatku sesak dan menjadi gadis bodoh. Rasa ini sungguh sangat menyakitkan, rasa yang tak akan mampu aku ungkapkan padanya. Hanya buku ini yang menjadi saksi betapa kucinta dia.


Sungguh menyakitkan jika harus mencinta tetapi tak mampu memilikinya. Melihatnya bersama para kekasihnya membuat dadaku terasa sesak, sungguh rasa ini menyiksaku. Aku telah mencoba melupakannya namun aku tak sanggup, hatiku masih terus mendambanya. Entah apa yang harus Ku lakukan lagi.


Sakit, sungguh sakit mencinta dalam diam, ingin memilikinya namun raga ini tak mampu mengucapkannya. Berbicara dengannya hanya ada amarah dan amarah. Pertengkaran tak bisa kuhindari, selalu saja ingin Ku lampiaskan rasa kesalku yang tak mampu memilikinya.


Sakit.... 😭😭


Tertanda


Cinta Safira


~ Happy reading ~


Terima kasih telah membaca novel baruku ya, ini novel kesekian yang aku tulis, semoga kali ini bisa konsisten up nya 😇🙏


Jangan lupa like dan komentar nya 😉


Masukkan dalam favorit ya 😉🙏

__ADS_1


__ADS_2