
Andika melakukan penerbangan ke kota Jombang, ia sudah menghubungi temannya yang ada di sana. Anto, seorang pengajar di salah satu pondok pesantren di Jombang. Andika ingin belajar ilmu agama, sudah jauh ia melangkah, dan kini ia ingin kembali.
Andika yakin, suatu hari ia akan menemukan wanita yang soleha untuk mendampinginnya kelak. Bagas yang baru mengetahui jika Andika akan meninggalkan Jakarta, ia langsung bergegas menuju bandara. Beberapa kali ia menghubungi sahabatnya itu. Tidak ada jawaban.
"Aku harus menghubungi Namira, siapa tahu ia mengetahui tujuan Andika," Gumang Bagas.
Bagas langsung melakukan panggilan, tidak butuh waktu lama seorang di seberang sana mengangkatnya dengan ketus.
📱Halo Ra
📲 Kenapa ?
📱Apa kamu tahu kemana Andika pergi?
📲 Pergi ? Andika? Kemana?
📱Sudahlah, ternyata kamu juga tidak tahu
Bagas langsung mematikan panggilannya sepihak, ia bingung harus menghubungi siapa. Tidak berapa lama mobilnya memasuki area bandara dan langsung memarkirnya.
Bagas langsung masuk dan mencari sosok yang sedari tadi ia cari. Tidak berapa lama telponnya berdering. Bagas melihat siapa yang menelponnya.
"Gadis Gila," Gumang Bagas membaca nama kontak yang tertera di layar hpnya. Bagas mengabaikan telepon dari Namira. Ia melanjutkan mencari Andika tapi nihil, sahabatnya itu tidak ada dalam kerumunan orang-orang di dalam bandara.
Hampir dua jam Bagas mencari Andika, tetapi tidak kunjung melihat sosok yang ia cari. Dengan lesuh Bagas kembali ke mobilnya, ia mengarahkan mobilnya menuju sebuah tempat nongkrong bareng Andika.
Bagas berjalan ke sebuah danau, itu tempat favoritnya bersama Andika. Mereka biasa menghabiskan waktu bersama di sana. Bagas menatap danau itu sambil mengingat kebersamaannya dengan Andika, ada rasa kehilangan yang ia rasakan.
Buk...
Bagas terjatuh, tiba-tiba seseorang memukulnya dari samping. Bagas terlonjak kaget melihat siapa yang memukulnya.
"Kenapa Gas ? Kenapa kamu tidak pernah cerita ke aku jika Andika menyukai Nadya ?" teriak Raihan. Ada rasa sakit dan kecewa ketika ia tahu jika ia dan Andika menyukai wanita yang sama.
"Raihan," Gumang Bagas sambil menyeka darah di bibirnya.
__ADS_1
"Kenapa kalian membuatku seperti orang bodoh? Aku seperti orang jahat yang tega memberi luka tak bersayat pada sahabatku sendiri hingga ia memilih pergi, kenapa Gas ? Kenapa?" Air matanya kini jatuh, ia bagaikan gadis yang kecewa karena dikhianati. Raihan tidak peduli pada setiap mata yang menatapnya aneh, mungkin bagi mereka Raihan itu lelaki lemah.
"Han, aku....." Bagas tertegun menatap Raihan.
"Apa Nadya tahu ? Apa Nadya mencintai Andika? Katakan Han, aku tidak bisa terus-terusan berada dalam situasi seperti ini, tidak tahu apa-apa," Raihan menyeka air matanya dengan kasar.
"Ahhhhhh aku bingung Han, aku tidak tahu harus bagaimana. Di satu sisi kamu sahabatku, di sisi lain Andika juga sahabatku. Aku bingung harus bersikap bagaimana. Maafkan aku," Bagas menyugar rambutnya dengan kasar. Ia benar-benar dibuat frustasi oleh kisah cinta kedua sahabatnya itu.
"Dimana dia sekarang?" Kini Raihan mulai tenang, ia berdiri dan melempar kerikil ke dalam danau.
"Aku juga tidak tahu, bahkan kedua orang tuanya juga tidak tahu," Bagas memilih berdiri di samping Raihan sambil menatap hamparan danau.
"Jombang, dia ada di Jombang," Bagas dan Raihan menoleh dan menatap seorang gadis di belakang mereka.
"Namira," Gumang keduanya setelah melihat siapa yang menyela pembicaraan mereka.
"Kenapa kamu kesini?" Bagas lagi-lagi berkata kasar, ia tambah tidak menyukai gadis itu. Tadi di saat ia menelpon, Namira seolah tidak tahu keberadaan Andika dan apa sekarang gadis itu ternyata tahu.
"Maafkan aku, tadi aku kaget saat kamu menghubungiku, aku masih mencerna ucapan kamu," Namira memilih duduk di atas batu besar. "Sebelum Andika pergi, ia menghubungiku. Ia pamit dan meminta maaf, ia memutuskan hubungan kami," Namira menatap sendu danau di hadapannya. Air matanya jatuh membasahi pipinya. Bagas tertegun, baru kali ini ia melihat sisi lain seorang Namira.
"Aku seolah menutup mata akan cinta mereka, aku sungguh wanita yang egois," Tanpa Bagas sadari, ia melangkah mendekati Namira. Bagas menarik Namira kedalam pelukannya. Pecah sudah tangisan Namira, ia begitu rapuh.
"Aku egois Gas, aku jahat. Mereka saling mencintai tapi aku malah membuat mereka saling menjauh," Bagas semakin mengeratkan pelukannya. Ada rasa sakit melihat Namira seperti ini.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Raihan kini duduk di samping Bagas yang masih setia memeluk Namira. Raihan tersenyum melihat keduanya, sekarang mereka seperti sepasang kekasih yang saling menguatkan padahal kemarin-kemarin bagaikan Tom dan Spike. Selalu saja bertengkar gara-gara Jerry.
"Seharusnya pertanyaan itu untukmu, apa yang akan kamu lakukan setelah mengetahui semua ini ?" Kini Bagas menoleh ke arah Raihan.
Raihan menghela nafas secara berat, ia bingung harus bagaimana. Ia mencintai Nadya tapi ia tidak bisa egois. "Aku tidak tahu, aku mencintai Nadya," Ujarnya menatap Bagas.
Namira melepaskan pelukannya pada Bagas, ia menoleh ke arah Raihan. "Pikirkan baik-baik Han, jangan sampai kamu menyesal seperti aku," ujarnya. Bagas bisa melihat penyesalan di mata Namira.
"Aku tahu, aku hanya masih bingung harus bagaimana mengatakan kepada kedua orang tuaku dan juga Nadya," Ujar Raihan yang kembali fokus memperhatikan danau.
"Aku akan membantumu berbicara dengan Nadya, biar bagaimana pun aku berhutang penjelasan kepadanya. Banyak hal yang harus aku katakan pada Nadya," Kini Namira mulai tenang dan tersenyum. Bebanya sedikit menghilang.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan berusaha berbicara dengan kedua orang tuaku setelah kita berbicara dengan Nadya." Raihan berdiri, dia rasa sudah cukup pembicaraan mereka. "Aku pamit dulu, hubungi aku ketika kamu sudah siap untuk berbicara dengan Nadya," lanjutnya. Namira hanya mengangguk dan tersenyum.
Raihan berjalan menjauh dari keduanya, baru beberapa langkah ia menghentikan langkahnya. Ia kembali menoleh "Kalian itu seperti sepasang kekasih yang saling menguatkan, kalian serasi," setelah mengatakan itu Raihan berlari meninggalkan keduanya, takut mendapat amukan dari Bagas. Raihan tertawa keras ketika mendengar Bagas meneriakinya.
Sepeninggal Raihan, Bagas dan Namira salah tingkah. Mereka baru sadar atas apa yang mereka lakukan. Bagas menggaruk tengkuknya, sedangkan Namira hanya membuang mukanya yang sudah memerah menahan malunya.
"Aku harus pulang," Ujar Namira tanpa menatap Bagas.
"Iya ?" Bagas tersentak kaget.
"Aku mau pulang," Namira mengulang kembali ucapannya.
"Aku antar kamu pulang," Ajak Bagas, Namira hanya mengangguk. Entah mengapa ia merasa Bagas berbeda dengan Bagas yang ia kenal, ia mengira lelaki itu cuek dan dingin ternyata ia bisa bersikap sehangat tadi.
Keduanya berjalan beriringan, tiba-tiba sebuah motor hampir menyambar Bagas. Namira sontak menarik lelaki itu, karena tidak siap Bagas terjatuh. Bagas mengenai tubuh Namira, mereka jatuh bersama karena Namira tidak bisa menjaga keseimbangannya.
Bagas menatap wajah Namira yang sedang menutup matanya, ia memindahkan rambut yang menutupi wajah Namira. Namira sontak membuka matanya dan tanpa sadar kedua manik mata mereka saling beradu, saling menyelami. Ada perasaan yang aneh, Namira merasa berbeda ketika menatap mata Andika. Sekarang jantungnya berpacu dua kali lipat. Sedangkan Bagas masih setia menatap mata Namira, entah mengapa mata itu begitu teduh.
Kini manik mata Bagas melihat bibir mungil Namira, tanpa permisi ia mendekatkan wajahnya lalu dikecupnya bibir itu. Namira melotot, ia tidak menolak. Entah mengapa ia malah menikmati ciuman itu lalu membalasnya. Mereka benar-benar lupa dengan situasi saat itu, untung saja di jalanan kebetulan sepi.
Setelah merasa mereka kehabisan oksigen, Bagas melepas ciumannya. Ditatapnya wajah Namira yang merona, Bagas hanya tersenyum lalu menyentuh dengan lembut bibir Namira.
"Mulai sekarang bibir ini milikku," Ujar Bagas tanpa sadar.
"Apa ?" Namira bingung dengan kalimat ambigu Bagas.
Bagas lantas berdiri, ia menarik Namira. Bagas berjalan di depan Namira dan naik di mobilnya. Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka suara. Namira masih memikirkan ucapan Bagas sedangkan Bagas ia merutuki dirinya, kenapa dengan mudahnya ia mengklaim sesuatu menjadi miliknya.
~Bersambung~
Maaf ya telat up nya 🙏
Lagi sibuk di dunia nyata😀
Jangan lupa like, komentar dan votenya,🤗
__ADS_1