Cintaku Berakhir Di Pesantren

Cintaku Berakhir Di Pesantren
Extra Part 10


__ADS_3

Raihan mendatangi kampus Rika, sepertinya ia butuh berbicara terlebih dahulu dengan gadis itu sebelum menemui Nadya. Raihan yakin jika Rika pasti tahu banyak hal tentang Nadya.


"Assalamualaikum," Raihan memilih duduk di samping Rika.


"Waalaikumsalam," Rika hanya tersenyum, ia begitu deg-degan bertemu dengan Raihan.


"Apa aku mengganggu?" Rika hanya menggeleng.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan, tapi apakah bisa kita mencari tempat yang sedikit sepi. Ini bersifat privasi," Ujar Raihan.


Tanpa berbicara Rika berjalan meninggalkan Raihan, ia kembali menoleh ke arah Raihan ketika menyadari jika lelaki itu tidak mengikutinya.


"Kenapa masih diam di situ?" Tanya Rika.


"Kamu main pergi aja, aku kira kamu tidak mau berbicara dengan ku," Raihan kini berjalan mendekati Rika.


Tanpa membalas ucapan Raihan, Rika melanjutkan langkahnya menuju taman belakang fakultasnya. Di sana jarang mahasiswa yang nongkrong. Raihan hanya memperhatikan langkah Rika. Ia mengikuti gadis itu sambil sesekali menoleh kiri kanan. Sepi hanya itu yang ia pikirkan.


Rika kini berbalik dan menatap lelaki itu seolah mempertanyakan alasannya menemui dirinya. Raihan hanya tersenyum, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah mengapa ia gugup, tatapan dingin Rika seolah membuatnya ciut.


"Ada apa?" Rika bertanya tanpa ekspresi.


"Hmm aku ingin membicarakan sesuatu, eh ini," Raihan terlihat gugup, ia kembali menatap Rika sebelum melanjutkan ucapannya. "Ini berkaitan dengan Nadya dan Andika," kata itu akhirnya terucap juga. Ekspresi wajah Rika sontak berubah, yang td datar langsung menegang mendengar ucapan Raihan.


"Apa maksud kamu? Ada apa dengan mereka?" Rika mencoba setenang mungkin. Ia tidak ingin memperlihatkan kegugupannya, ia khawatir ini akan membawa sebuah masalah.


"Jangan berpura-pura, aku tahu kamu pasti paham dengan ucapanku barusan. Kamu tahu sesuatu tentang mereka," kini Raihan terlihat tegas.


Rika menatap Raihan dengan tatapan sulit dipahami, ia bingung harus menjawab apa. Haruskah ia berbicara? Apakah ia punya hak untuk bersuara? Rika masih terdiam, ia bingung akan mengatakan apa.

__ADS_1


"Kenapa malah diam ?" Raihan tanpa sengaja mendekati Rika dan memegang kedua pundaknya. Rika semakin bingung harus mengatakan apa.


"Sepertinya itu bukan hakku untuk membicarakan hal itu, biarkan Nadya sendiri yang menjawabnya," jawab Rika.


"Aku akan mempertanyakannya secara langsung kepada Nadya, tapi sebelumnya ceritakan yang kau tahu," pinta Raihan.


"Tidak, tidak perlu mendengar cerita orang lain jika kamu sanggup mempertanyakan langsung pada orangnya, cerita dari orang lain hanya akan menjadi berbeda," ujar Rika.


Raihan terdiam, ia masih menatap wanita di hadapannya itu. Rika menunggu Raihan membalas ucapannya, tetapi lelaki itu malah terdiam dan menatapnya.


Lebih baik ia pergi, ia tidak bisa terlalu lama berada di hadapan lelaki itu. " Kalau begitu saya permisi, Assalamualaikum," ujarnya lalu berjalan menjauh. Raihan tersentak "Waalaikumsalam," ia menatap kepergian Rika dalam dia.


Raihan kini berjalan menuju mobilnya, ia harus menemui Nadya dan membicarakan hal ini dengannya. Semua masalah harus terselesaikan dengan baik sebelum hari H.


Di tempat berbeda


Matanya kini mengarah ke kumpulan para santri yang sedang bersenda gurau, senyumannya yang manis kini menghiasi wajah tampannya. Dilangkahkannya kakinya menghampiri para santri.


"Assalamualaikum," ujarnya sambil duduk di samping seorang santri.


" Waalaikumsalam," serentak para santri itu menjawab salam dari Andika.


"Kalian tampak begitu asyik, sedang membicarakan perihal apa?" tanya Andika.


"Ini tentang kawan Doni, katanya dia ingin menikahi seorang wanita, tetapi ia bingung karena ternyata wanita itu tidak suci lagi," ujar Arman, salah satu santri.


"Kenapa bingung? Ketika kita mencintai seseorang karena Allah, baik buruknya harus kita terima termasuk masa lalunya. Pernikahan bukan hanya sekedar penyelesaian masalah syahwat, tetapi juga menjalankan ibadah. Bukankah pernikahan itu adalah menyempurnakan ibadah? Seorang imam yang baik, ia tidak akan menengok ke belakang para makmunnya, tugasnya hanya mendidik dan mengarahkannya menjadi sosok yang lebih baik," Semua terdiam mendengar ucapan Andika, mereka tidak menyangka lelaki yang baru-baru ini bergabung dengan mereka bisa sedewasa itu. Pemikiran yang sungguh sangat indah.


"Setiap manusia memiliki kisahnya di masa lalunya sendiri, kita yang berada di masa kini, hanya bisa menjaganya, mengarahkannya dan mendampinginya. Tidak perlu kita hakimi, karena kita tidak pernah tahu bagaimana posisi kita di mata Allah, apakah kita lebih baik daripadanya atau malah kita lebih buruk ?" Lagi-lagi ucapan Andika mampu membuat para santri berdecak kagum.

__ADS_1


"Sepertinya Abang sudah bisa menjadi seorang imam dalam rumah tangga Abang kelak," ujar Arman sambil menepuk bahu Andika. Andika hanya tersenyum. Benarkah ? Apakah bekalnya sudah ada untuk membina rumah tangga ? Ah pikirannya kini tertuju pada sosok seseorang yang sampai saat ini dirindukannya. Entah bagaimana kabarnya. "Aamin,"ujarnya.


Mereka pun melanjutkan percakapan tentang hakekat kehidupan ini, kehidupan yang hanya bersifat fana. Andika bersyukur bisa dipertemukan dengan orang seperti mereka, banyak hal yang ia telah dapat padahal belum sampai seminggu kedatangannya.


Adzan Ashar dikumandangkan, Andika dan para santri kini bersiap-siap ke musollah. Mereka terlebih dahulu mengambil air wudhu, Andika ditunjuk untuk menjadi muadzin.


"Allahu akbar, Allahu akbar (diucapkan 2 kali),


Asyhadu Allaa ilaaha illa Allah (diucapkan 2 kali), Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (diucapkan 2 kali), Hayya ‘alash shalaah (diucapkan 2 kali), Hayya ‘alal falaah (diucapkan 2 kali), Allahu akbar Allahu akbar (diucapkan 1 kali), Laa ilaaha illa Allah (diucapkan 1 kali)," Suara merdu nan indah dari bibir Andika terdengar di penjuru pesantren. Ia sendiri tidak menyangka suaranya terdengar indah.


Setelah menjalankan sholat azhar berjamaah, Andika kini berdiam diri sejenak, pikirannya kini melayang ke kehidupan sehari-harinya selama ini. Ternyata telah jauh ia melangkah, ia sampai hampir lupa cara kembali. Tetapi untung saja karena sakit hati yang ia rasakannya membuatnya kini belajar mencari jalan pulang. Dia bersyukur di tengah rasa sakit itu, ia bertemu dengan orang yang tepat, mengajaknya memilih jalan yang tepat.


Andika menatap langit-langit musollah, ia mengucap sejuta rasa syukur. Kini ia menyerahkan jalan hidupnya pada takdir Allah, ia yakin Allah SWT tidak akan pernah tidur, ialah dzat yang maha besar dan maha cinta. Tuhan semesta alam, sang pemilik hati. Andika yakin, suatu hari ia akan menemukan cintanya, cinta yang diciptakan untuknya, seorang gadis yang akan selalu mendampinginya kelak.


Di tengah lamunannya, seseorang menghampirinya. Dipegangnya pundak Andika yang sontak membuat lelaki itu menoleh dan tersenyum ketika menyadari siapa yang memegang pundaknya.


"Abi," ujarnya sambil mencium punggung tangan Kiayai Lukman. Iya, orang yang mendatanginya itu adalah Kiayai Lukman, ayah dari gadis yang dicintainya.


"Ada apa nak ? Apakah masih ada yang mengganggu pikiranmu?" Andika hanya tersenyum mendengar pertanyaan Kiayai Lukman.


"Aku hanya mengingat kehidupanku dulu Bi, ternyata aku telah berjalan terlalu jauh," ujarnya sambil menunduk. Kiayai Lukman tersenyum, ia bisa melihat sebuah penyesalan di kedua mata Andika.


"Setiap rangkaian cerita itu pasti ada penyesalan, di situlah kita bisa ambil maknanya arti sebuah kehidupan. Terlalu menyesali hanya akan membuat kita lupa untuk bersiap memperbaiki. Penyesalah tanpa adanya tindakan hanya akan membuatmu lebih bertambah menyesal nak, bangkitlah. Jalan kamu sekarang sudah tepat, jalani penuh keikhlasan. Masalah akhirnya kelak, biarkan Allah yang menjawabnya," Andika kini menatap Kiayai Lukman, ia kini semakin bertekat untuk membenahi dirinya menjadi orang yang lebih baik.


~Bersambung~


Maaf ya telat update karena kesibukan di dunia nyata🙏


Terima kasih atas dukungannya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya 😊

__ADS_1


__ADS_2