Cintaku Berakhir Di Pesantren

Cintaku Berakhir Di Pesantren
Ekstra Part 12


__ADS_3

Andika dan Nadia masih terdiam dengan mata yang saling menatap satu sama lain. Keduanya bisa menyadari jika, mereka masih saling mendamba. Nadia lalu mengalihkan pandangannya, ia mencoba tetap bersikap biasa saja walaupun kini jantungnya sedang bekerja dua kali lipat, begitu pun dengan Andika. Dia tidak bisa memungkiri, di hatinya Nadia masih bertengger dengan indah.


Keempat pasang mata yang sejak tadi menatap tingkah mereka hanya bisa menggelengkan kepala. Mereka merasa lucu melihat tingkah dua orang yang berada tidak jauh dari tempat mereka.


"Sepertinya kita harus turun tangan," ujar Rika dengan senyum penuh arti. Bagas, Raihan dan Namira hanya bisa menatap bingung, mereka masih belum mengerti apa yang akan dilakukan Rika.


"Kamu punya rencana?" tanya Namira. Mereka sudah semakin akrab.


Rika hanya mengangguk sambil tersenyum. Bagas dan Raihan hanya terdiam, keduanya tidak tahu harus berbuat apa.


Rika memanggil Andika yang kebetulan lewat di hadapan mereka. Andika terkejut melihat Rika yang berdiri bersama kedua sahabatnya dan juga..


Namirah.. ujar Andika. Ia cukup heran, sejak kapan mereka kenal dan akrab seperti itu.


Rika pun mendekati Andika dan sekali lagi memanggilnya. Andika pun tersadar dan menoleh kembali kepada Rika.


"Andika, bisakah kita berbicara? Ada hal penting yang ingin kami bicarakan. Ini berkaitan dengan Nadia." ujar Rika. Andika terdiam, ia menoleh ke arah Raihan. Seolah mengerti tatapan Andika, Raihan pun mendekati Andika.


"Ngk usah menatapku seperti itu, sekarang aku dan Nadia sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi." Andika terkejut dengan penuturan Raihan. Raihan hanya tersenyum melihat ekspresi keterkejutan Andika.


"Kamu juga tidak perlu mengbohongi kami lagi. kami tahu bagaimana perasaan kamu kepada Nadia. Jika kamu serius, kami akan membantu kamu meyakinkan Nadia dan mau menerimamu," Lanjut Raihan. Andika pun salah tingkah. Ia benar-benar malu kepada Raihan. Dia merasa tidak enak, tapi ia tidak bisa mengelak lagi. Andika hanya bisa terdiam menunggu ucapan Raihan lagi. Tapi ternyata sebelum Raihan berbicara kembali, Rika sudah memotong ucapan Raihan.


"Sebaiknya kita menjalankan rencana ku, kita harus mempersiapkan banyak hal. Malam ini juga, kamu harus bergerak cepat melamar Nadia. Karena rencananya, besok dia akan ke Madinah. Dan entah kapan ia akan kembali, jadi kita harus mencegah kepergiannya jika kamu yakin ingin bersamanya," Andika langsung menegang. Apa ia sanggup tidak bertemu lagi dengan wanita yang sangat ia cintai itu, baru berapa lama ia tidak bertemu, ia sudah tersiksa apalagi jika ia tidak akan bertemu lagi dengan gadis itu.


"Lalu apa rencanamu? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tahu harus bagaimana lagi dengan Nadia. Aku yakin dia tidak akan menerimaku," ujar Andika dengan putus asa.


"Sejak kapan kamu jadi orang pesimis begini Dik? Kamu pasti tahu perasaan Nadia kepadamu, kamu pasti bisa melihat arti tatapannya tadi saat kalian tak sengaja bertemu," ujar Bagas mendekati Andika sambil terus menggenggam tangan Namirah. Andika yang melihatnya pun menatap keduanya dengan tanda tanya. Sepertinya ada banyak hal yang telah ia lewatkan.


"Kamu ngk perlu memikirkan hal yang lain, nanti aku dan Raihan akan menceritakan semua yang terjadi selama kamu tidak ada. Yang penting sekarang kita harus menyusun rencana untuk malam ini," Lanjut Bagas, ia paham betul arti tatapan Andika.

__ADS_1


Rika pun menceritakan rencananya, ia sih tidak yakin tapi tak ada salahnya mencoba trik yang dilakukan aktor favoritnya di FTV kesukaannya. Rika pun tersenyum dengan rencananya itu, mungkin sedikit salah sih, tapi tidak ada lagi yang muncul di benaknya selain itu.


Andika awalnya menolak, ia tidak tegah kepada Nadia, tapi ia juga tidak punya pilihan lain. Ia yakin Nadia nanti akan mengerti jika dijelaskan. Ia akhirnya menerima rencana Rika.


Rika mengambil handphone nya, ia lalu menekan panggilan terhadap kontak atas nama Nadia. Ketiganya pun menatap Rika.


"Halo Assalamualaikum," ujar Nadia di sebarang sana.


"Wa'alaikum salam Nad, aku menelpon mu hanya ingin memberi kabar. Aku harap kamu jangan kaget ya," Ujar Rika sambil menahan tawanya.


"Iya Rik, ada apa? kabar apa sih? jangan bikin aku takut," ujar Nadia dengan cemas.


"Andika Nad, Andika," ujar Rika. Ia sengaja membuat suaranya seolah bergetar seakan ia seperti habis menangis.


"Kenapa Andika? Andika kenapa Rik? kamu bicara jangan sepotong-potong dong Rik," ujar Nadia sambil menatap sekelilingnya, ia mencari sosok lelaki yang telah lama ia rindukan itu.


Andika juga langsung bergegas menuju klinik, ia benar-benar merasa bodoh mengikuti rencana yang dibuat Rika. Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah tidak memiliki pilihan lain.


***


Nadia berlari sambil menangis, ia pun melihat Rika, Raihan, Namirah dan Bagas. Ia menghampiri Rika dan menanyakan keberadaan Andika. Rika hanya menunjuk ke dalam ruangan tanpa menatap Nadia. Ia tidak sanggup melihat keadaan Nadia.


Dengan tangan gemetaran Nadia memutar gagang pintu, ia pun terlihat bingung dengan ruangan ia buka. Seperti tidak siapa-siapa, ia kembali menoleh ke arah keempat orang yang ada di depan ruangan itu. Tapi ia kaget, keempatnya telah menghilang. Ia pun merasa seperti ada yang salah, apakah ia sedang dikerjai atau bagaimana.


Nadia pun mencoba masuk, dan menatap sosok yang terbaring di ranjang. Entah mengapa perasaannya malah menjadi aneh, ia merasa sedang dikerjai.


"Andika, Dika, apakah itu kamu? Eh jangan bikin aku takut. Jangan mengerjaiku dong," ujar Nadia sambil mendekati ranjang itu. Ketika ia sudah dekat, ia baru ingin menyentuh orang itu, tiba-tiba pintu terbuka. Ia menoleh dan menampilkan sosok laki-laki yang telah membuatnya terlihat kacau karena khawatir.


Dika.. Gumang Nadia. Andika tersenyum lalu mendekati Nadia. Nadia yang ingin marah dan memaki Andika pun tidak jadi. Entah mengapa saat menatap Andika, lidahnya terasa keluh. Ia tidak bisa mengatakan apapun. Ia masih fokus menatap Andika,tanpa ia sadari Andika sudah berdiri sangat dekat. Tiba-tiba Andika berlutut yang membuatnya tersadar.

__ADS_1


"Nad, maaf telah membuat kamu khawatir. Maafkan aku karena berbohong kepadamu. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, aku bingung harus bagaimana. Aku tidak ingin kamu pergi, aku tidak sanggup berpisah jauh darimu," Nadia menatap Andika bingung, dahinya berkerut.


"Tapi Dik.."


"Aku mohon Nad, jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu. Sungguh aku mencintaimu. Aku tidak akan melepaskan kamu lagi, kali ini aku akan memintamu menjadi istriku. Maaf jika aku langsung to do point, sejujurnya aku tidak tahu cara merangkai kata agar terlihat romantis dan maaf juga aku terlihat tergesa-gesa ingin melamarmu. Sejujurnya aku tidak ada persiapan, kalau kamu mau aku akan melamarmu dengan sesuatu yang indah, tapi untuk kali ini, aku hanya bisa memberikan ini," sambil mengeluarkan sebuah liontin yang sudah lama ia beli tapi tidak pernah ia berikan kepada Nadia.


Nadia sungguh tidak sanggup berkata-kata lagi, ia kaget akan dilamar secepat ini dengan cara seperti ini. Tapi meski tidak ada kesan romantis, tapi melihat tatapan Andika, ia yakin jika laki-laki di hadapannya itu serius. Tanpa ia sadari, air matanya telah jatuh membasahi wajahnya. Ia bingung harus mengatakan apa. Sejujurnya ia sangat bahagia mendengar ucapan Andika, tapi ia bingung bagaimana dengan keluarganya, apakah akan merestui mereka.


Di saat Nadia masih bergelut dengan pemikirannya, keluarganya datang bersama keluarga Andika dan juga keempat orang yang sepertinya yang bekerjasama dengan Andika. Nadia menatap umminya. Umminya mengangguk, ia pun tersenyum dan kembali menatap Andika.


"Bismillahirrahmanirrahim aku menerima lamaran ini," ujar Nadia sambil menunduk. Andika yang mendengar itu pun langsung berdiri, ingin rasanya ia memeluk Nadia, tetapi ia sadar jika wanita yang akan dinikahinya itu tidak seperti mantan-mantannya yang bisa disentuh meski hanya sekedar pelukan. Ia langsung memasangkan liontin tersebut kepada Nadia.


Semua orang yang berada di ruangan itu pun bertepuk tangan dan menghampiri keduanya. Mereka memberi selamat kepada keduanya.


Andika pun teringat sesuatu, ia langsung menoleh dan bertanya pada Nadia.


"Sayang, sebentar malam aku ingin mengajakmu makan malam, aku ingin melamarmu dengan sesuatu yang indah. Dan aku juga minta kepadamu, aku ingin kamu membatalkan kepergianmu ke Madinah," ujar Andika, yang membuat Nadia semakin bingung. Sedangkan Rika yang mendengar itu pun berniat kabur. Tapi tidak jadi karena lengannya ditarik oleh Nadia.


"Sepertinya Rika harus menjelaskan banyak hal kepada kita. Aku tahu ini semua pasti akal-akalan kamu kan??" ujar Nadia sambil menatap Rika. Rika hanya bisa tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Semua yang melihat itupun tertawa, karena mereka sudah tahu jika Rika hanya membohongi Andika jika Nadia akan pergi.




Ahhh akhirnya selesai,, maaf ya kalo ceritanya masih kurang seru, maklum masih amatiran😂



Terima kasih atas dukungannya 🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2