Cintaku Berakhir Di Pesantren

Cintaku Berakhir Di Pesantren
Extra Part 4


__ADS_3

~Happy reading~


"Assalamualaikum," Nadia mencium pipi Ainun lalu memilih duduk di samping Ainun. Hari ini adalah sarapan pertama mereka setelah pernikahan Yusuf.


"Waalaikum salam," Jawab semuanya.


Ummi Kalsum menatap sang putrinya yang hanya mengambil roti sebagai sarapannya. "Tumben sayang sarapan pakai roti ?".


"Udah telat Ummi, aku ada konsultasi skripsi hari ini. Nanti makan di kampus aja," Nadia memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya.


"Ummi siapkan kamu bekal ya nak," Ummi Kalsum hendak berdiri mengambilkan kotak nasi untuk Nadia.


"Nggak perlu Ummi, aku udah telat. Ini udah mau berangkat," Nadia meminum susu yang baru saja dituangkan di dalam gelasnya.


Nadia menyalami Ummi, Abi, Yusuf dan Mentari lalu kembali mencium Ainun. Ia mengucap salam dan berpamitan. Ojek pesanannya telah datang.


***


Nadia berlari menuju ruangan dosen pembimbingnya, ada rasa khawatir jika dosen tersebut tidak ada ruangannya. Pasalnya hari ini dosen tersebut harus memberi kuliah di kampus pasca sarjana.


Nadia mengatur deru nafasnya sebelum mengetuk pintu yang berada di hadapannya itu.


"Assalamualaikum, maaf bu apakah Prof. Zubair ada di dalam ruangannya ?" tanya Nadia setelah masuk di ruangan Dekan. Ia mempertanyakan keberadaan dosen pembimbingnya kepada staff yang tidak jauh dari pintu.


"Waalaikum salam, apa kamu yang bernama Nadia Safira ?" Bukannya menjawab, Staff tersebut malah memberi pertanyaan.


"Iya bu," jawab Nadia dengan seulas senyum yang menghiasi wajahnya.


Baru saja staff itu ingin menjawab, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan masuk. Senyum yang menghiasi wajah cantik Nadia seolah sirna setelah melihat siapa yang masuk.


"Apa kamu yang bernama Andika Pratama ?" Staff itu beralih bertanya kepada Andika.


Iya, orang yang baru saja masuk itu adalah Andika. Sosok yang sangat ingin dihindari Nadia.


"Iya bu," jawab Andika sambil melirik gadis di sampingnya.


"Pak Prof berpesan, kalian disuruh ke kampus Pasca Sarjana saja menemuinya. Dari tadi ia menunggu kalian, lain kali jangan telat, syukur saja pak Prof masih mau menerima skripsi kalian," ujar staff itu sambil merapikan berkas di atas mejanya.


"Kalau begitu kami pamit dulu bu," ujar Andika, matanya melirik Nadia seolah mengisyaratkan gadis itu mengikutinya keluar.

__ADS_1


Nadia juga ikut berpamitan, ia mengambil handphonenya untuk memesan ojek online. Nadia hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar setelah melihat posisi para pengojek online yang tidak satupun berada dekat dengan lokasinya sekarang.


Nadia berjalan menuju gerbang kampus, sempat ada ojek mangkal di sana. Langkah kakinya terhenti ketika sebuah motor tiba-tiba berhenti di hadapannya.


"Ayo naik, daripada semakin telat. Lagian tujuan kita sama, jadi lebih baik kita bareng ke sana." Andika menawarkan tumpangan kepada Nadia, kapan lagi bisa berboncengan dengan gadis jutek itu, pikirnya.


Tanpa menjawab Nadia langsung naik, demi Skripsinya ia harus membuang egonya jauh-jauh. Nadia memilih duduk agak di belakang, ia tidak ingin ada sentuhan di antara mereka. Andika hanya tersenyum di balik helmnya.


"Apa kamu mau jatuh ? Pegangan dong, entar kamu jatuh jadi pusat perhatian orang lagi," ujarnya dengan senyum liciknya. Dalam hati ia berharap Nadia mau memeluknya.


"Langsung jalan aja kok susah banget sih, lagian jalannya pelan aja," Jawab Nadia dengan ketus.


"Eh, aku cuman nyuruh kamu berpegangan bukan memelukku jadi apa salahnya. Lagian demi keamanan kamu juga. Ya udah kalau nggak mau," Andika langsung menggas motornya secara tiba-tiba membuat Nadia hampir jatuh dan secara reflex ia memegang kemeja Andika. Sebuah senyum lebar menghiasi wajah tampan Andika di balik helm.


Selama perjalanan tidak ada pembicaraan di antara keduanya, mereka bingung harus membicarakan apa. Lagian keduanya juga sedang berjuang mengatur detak jantungnya yang kali ini berkerja dua kali lipat. Tanpa terasa motor Andika telah memasuki area kampus Pasca Sarjana, keduanya langsung bergegas mencari ruangan perkuliahan Prof. Zubair.


"Assalamualaikum Prof, maaf kami datang terlambat Prof," ujar Andika, sebagai lelaki agak aneh rasanya jika Nadia yang berbicara mewakili mereka.


"Waalaikum salam, saya mengerti anak muda sekarang pasti ngambil kesempatan kencan terlebih dahulu baru ngurus yang lain," Ujar Prof. Zubair sambil tertawa. Semua mahasiswa Pasca Sarjana yang di dominasi Bapak-bapak itu tertawa.


"Maaf Prof kami tidak dari kencan, tadi saya agak telat bangun Prof," ujar Nadia menjelaskan alasan dia telat, dia tidak ingin timbul gosip tentang mereka. Apalagi lelaki yang ada di sampingnya itu terkenal sebagai Sang Player Sejati.


"Hahahaha, padahal kalian itu cocok loh. Kalau kamu pacaran dengannya, kamu pasti merubah Andika menjadi lelaki yang lebih baik. Tidak ada lagi alasannya berpetualang mencari cinta. Iyakan Dika ?" Tatapan Prof. Zubair kini beralih ke arah Andika, sang ponakannya yang ia sudah paham betul sepak terjangnya di dunia percintaan.


"Hahahaha, baiklah saya percaya pada kalian. Simpan di situ saja, saya akan mempelajarinya terlebih dahulu. Besok kalian ambil di ruangan saya, dan saya harap kalian tidak telat lagi," Kini Prof. Zubair berbicara dengan tegas.


Andika dan Nadia lalu berpamitan pulang, mereka langsung bergegas beranjak dari ruangan tersebut.


"Ayo naik, bentar lagi hujan. Aku akan mengantarkanmu," ajak Andika. Ia tidak mungkin meninggalkan Nadia sendiri.


"Tidak perlu, terima kasih atas ajakannya. Lebih baik aku mencari ojek yang mangkal di depan," tolak Nadia dengan lembut. Baru kali ini ia berbicara dengan lembut dengan lelaki itu. Buatnya kali ini, tidak ada alasan baginya untuk berbicara ketus.


"Kamu tuh keras kepala sekali, aku bilang naik. Lagian kamu nggak liat, sebentar lagi hujan, langit telah gelap," Nadia memperhatikan langit yang memang nampak gelap, ia berpikir sejenak. Tidak ada salahnya ia naik, toh sepertinya akan sulit mendapatkan ojek di cuaca seperti ini.


Andika tersenyum puas setelah Nadia naik di motor, ia tidak langsung menjalankan motornya. Seolah paham maksud Andika, Nadia langsung memegang kemeja lelaki itu. Andika langsung menjalankan motornya.


Baru beberapa saat, tiba-tiba motornya terhenti. "****, kenapa malah habis di saat seperti ini sih," umpat Andika, setelah menyadari bensinnya habis.


"Ada apa ?" Tanya Nadia, setelah turun dari motor.

__ADS_1


"Maafkan aku Safira, sepertinya aku tidak bisa mengantarkanmu. Bensin aku habis, dan sebentar lagi hujan. Sebaiknya kamu naik taxi saja."


"Tidak, aku akan menemanimu di sini. Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendiri," Nadia menolak permintaan Andika.


Entah ia sadar atau tidak, ucapannya membuat perasaan Andika menghangat. Baru kali ini, ada gadis yang ia temani relah menemaninya di saat seperti ini. Jika itu gadis lain maka ia akan dengan senang hati meninggalkan Andika. Tapi berbeda dengan Nadia, ia malah tetap menemani Andika.


"Sebaiknya kita cari tempat berteduh sambil menunggu Bagas, tadi aku sudah menghubunginya membawakanku sebotol bensin," Ajak Andika, tanpa bersuara Nadia mengikuti langkah lelaki di hadapannya itu.


Tidak beberapa lama, hujan turun dengan derasnya. Untung saja di tempat mereka berhenti ada sebuah bangunan kosong, mereka bisa berteduh di depan bangunan itu.


Andika menatap Nadia yang mulai kedinginan, dengan pelan ia membuka jaket yang menutupi tubuhnya itu lalu memasangkannya ke Nadia. Nadia tersentak dengan perlakuan manis Andika, ia menoleh dan manik matanya kembali bertemu dengan mata indah Andika. Keduanya terdiam dengan posisi dan jarak semakin dekat itu.


Andika tanpa sadar menatap bibir ranum Nadia, bibir yang telah membuatnya sulit memejamkan mata. Ingin rasanya ia kembali mengecupnya, tapi akal sehatnya masih berfungsi. Andika tidak ingin Nadia menganggapnya pria brengsek. Walaupun kenyataannya memang seperti itu.


Karena tidak ingin khilaf, Andika langsung memundurkan badannya. Keduanya langsung memperbaiki posisi mereka, entah mengapa jantung keduanya kembali bekerja dua kali lipat.


Aduh jantungku, tidak bisa diajak kompromi dulu sih. Batin Nadia. Ia mencoba menormalkan detak jantungnya.


Apa-apaan ini, jika sedekat ini dengannya jantungku selalu sesak. Ah bisa-bisa aku kena serangan jantung lama-lama di dekatnya. Pikir Andika. Ia langsung memilih berdiri agak jauh dari Nadia. Mereka kembali terdiam, tidak satupun yang mau membuka suara.


Tidak berapa lama, hujan redah dan Bagas datang membawa bensin.


"Kencannya jadi kacau ya bro ?" Goda Bagas ketika menyerahkan sebotol bensin kepada Andika.


"Kami tidak kencan, tadi kami dari bertemu dengan Prof. Zubair konsultasi skripsi. Karena buru-buru tadi, saya tidak memperhatikan bensin motorku dan berakhirlah seperti ini," Jelas Andika. Bagas hanya bisa menertawai sahabatnya itu, matanya kini beralih menatap gadis manis yang ada di dekatnya.


Cantik. Gumang Bagas yang masih bisa didengarkan oleh kedua orang di dekatnya itu.


"Eh, awas kalau kamu macam-macam dengannya," tanpa sadar Andika membentak Bagas.


"Woi, santai bro. Aku cuman mengagumi mahluk ciptaan Allah, aku tidak tertarik kok merebut milik orang lain apalagi sahabatku sendiri," seloroh Bagas sambil cengengesan. Semburat merah langsung menghiasi wajah cantik Nadia.


Andika tersadar dengan ucapannya, ia langsung menjelaskan maksudnya.


"Dia bukan milikku, aku cuman tidak ingin kamu berurusan dengan gadis dingin dan jutek kayak dia. Kamu pasti akan menyesal," Ujar Andika yang tanpa ia sadari telah menyakiti Nadia.


Bagas hanya terdiam, ia tahu jika di antara kedua orang di dekatnya itu saling mencintai tapi mereka tidak menyadari hal itu atau mereka berusaha menutupinya. Sepertinya ia harus melakukan sesuatu hal demi sang sahabat. Senyum penuh arti kini menghiasi wajah tampannya.


~Bersambung~

__ADS_1


Terima telah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak. Komentar, like dan vote nya ya🙏


Yuk dukung author😊


__ADS_2