Cintaku Berakhir Di Pesantren

Cintaku Berakhir Di Pesantren
Percobaan Pembunuhan


__ADS_3

"Jadi apa yang selama ini kamu lakukan untuk putri kita? Penyakit yang telah lama ia derita, kamu sebagai ibunya tidak mengetahuinya," Mentari hanya bisa menahan Isak tangisnya. Tangan kanannya menutup mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar.


"Mulai sekarang, aku yang akan mengambil alih hak asuh Ainun, aku akan merawatnya dengan sebaik mungkin," lanjut Azka.


"Tidak, aku tidak akan merelakan putri ku jatuh ke tanganmu," tolak Mentari dengan tegas.


"Apalagi yang ingin kamu lakukan Tari? Apa kamu ingin melihat putri kita mati digerogoti oleh penyakitnya itu?" bentak Azka.


"Bisakah Anda berbicara dengan sopan? Anda tidak perlu membentak Mentari, ini tidak sepenuhnya kesalahannya semata, Anda juga ikut andil dalam masalah ini," Yusuf mencoba membela Mentari.


"Ini juga salahku? Apa yang aku lakukan? semua ini kesalahan Mentari," Azka tersenyum mengejek kepada Yusuf.


"Apa yang Anda lakukan? Anda mempertanyakan itu kepada saya? coba Anda tanyakan sendiri kepada diri Anda sendiri, apa yang telah Anda lakukan," Azka mengepalkan tangannya mendengar ucapan Yusuf.


"Jika Anda mau bertanggung jawab terhadap kehamilan Mentari saat itu, semua ini tidak akan terjadi, mungkin kalian bisa merawat Ainun bersama-sama," lanjut Yusuf.


Kini Azka hanya bisa terdiam mendengar ucapan Yusuf. Ia tidak bisa memungkiri jika apa yang diucapkan Yusuf itu salah.


Mentari yang berada di antara kedua lelaki itu hanya terdiam mendengar percakapan kedua orang tersebut. Isak tangisnya kini mulai berkurang, rasa penyesalan yang mendalam terhadap apa yang telah terjadi pada putrinya itu membuatnya tidak mampu berucap.


"Sekarang bukan saatnya kita saling menyalahkan, yang mesti kita lakukan saat ini adalah mencari jalan keluarnya,"


"Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah melakukan tindakan operasi," kini Azka mulai menormalkan nada bicaranya.


"Baiklah, lakukan sebaik mungkin untuk putrimu," ucap Yusuf penuh penekanan.


"Tentu, aku akan melakukan tugasku sebagai dokter dan ayah sebaik mungkin," jawab Azka dengan mantap.


"Aku akan mengurus semua berkas administrasinya, bagaimana pun, aku yang tercatat sebagai ayahnya," Azka hanya bisa mengangguk.


Ia tidak bisa menolak hal tersebut, karena sesuai prosedur yang ada, Yusuf yang bertanggung jawab atas Ainun. Apalagi ia tidak mungkin bisa mengatakan bahwa Ainun adalah putri kandungnya.


***


Mentari melangkah menuju parkiran, ia berjalan seorang diri. Entah kenapa ia merasa seseorang sedang mengikuti langkah kakinya. Sesekali ia menoleh ke belakang, tetapi tidak seorang pun yang ia lihat.


Mentari mempercepat langkah kakinya, ia memeluk tas yang dipegangnya. Rasa takut telah menyelimuti seluruh tubuh Mentari. Ia melihat sesosok lelaki berjalan mengikutinya, rasa takutnya semakin besar.


Ketika lelaki itu mempercepat langkah kakinya, seseorang tiba-tiba memanggil nama Mentari. Setelah melihat orang yang memanggilnya, Mentari bernafas lega. Ia melihat Dika melambaikan tangan kepadanya.


Dika menyadari jika seseorang yang berdiri tidak jauh dari Mentari, sedang membuntuti Mentari. Ia pun melangkah secepat mungkin ke arah Mentari.

__ADS_1


Lelaki itu melihat Dika sedang menuju ke arahnya, dengan langkah cepat ia berbalik dan lari meninggalkan Mentari. Andika mencoba mengejarnya, tidak dapat menggapai orang tersebut.


"Sepertinya orang itu berniat mencelakakan Kak Tari," ujar Dika setelah ia kembali ke tempat Mentari.


"Iya, untung kamu ada di sini. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika kamu tidak ada," Ujar Mentari.


"Oya, Kak Tari sedang apa di sini? Dan Kak Tari kemana saja selama ini?" mereka pun duduk di sebuah bangku.


"Ceritanya sangat panjang, kakak tidak bisa bercerita panjang lebar kepadamu saat ini, kakak harus kembali ke rumah sakit," ujar Mentari.


"Siapa yang sakit? Apa kakak baik-baik saja?" Dika terlihat cemas.


"Suatu hari aku akan menceritakan semuanya kepadamu, tidak untuk saat ini."


"Aku harus pergi, jika kamu ingin menemuiku, datanglah di pondok pesantren ini," ujar Mentari sambil menyerahkan brosur tentang pondok pesantren milik keluarga Yusuf.


"Baiklah kak, kalau begitu sebaiknya Dika mengantar kakak, Dika khawatir jika orang itu akan datang kembali lagi untuk mencelakai kakak,"


Mentari menerima tawaran Dika, keduanya pun meninggalkan taman itu menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Mentari menceritakan tentang Ainun yang sedang dirawat di rumah sakit.


***


"Apa? Menyingkirkan seorang wanita saja kamu gagal? Dasar tidak becus." teriak Nabila setelah menerima telepon dari orang suruhannya.


"Aku tidak mau tahu, bagaimana pun caranya, kamu harus melenyapkan wanita itu," Lanjut Nabila lalu menutup panggilannya.


Setelah mematikan teleponnya, Nabila melemparkan handphonenya ke atas kasurnya. Ia tidak bisa menerima kegagalan orang suruhannya itu, ingin rasanya ia sendiri yang melakukan tindakan tersebut.


"Jika orang itu tidak bisa menyingkirkan Mentari, maka aku sendiri yang akan menyingkirkannya dengan tanganku sendiri," Nabila tersenyum licik sambil melihat pantulan wajahnya di dalam cermin.


Ia berjalan mendekati meja riasnya, ia tertawa dengan lantang. Tiba-tiba ia mengambil sebuah gelas yang berada di atas meja itu lalu melemparkannya.


Bagaikan orang kesetanan, ia berteriak sambil melemparkan semua yang ada di hadapannya. Suara kegaduhan di dalam kamar Nabila membuat Nadia dan Rika berlari menuju kamar Nabila.


Tok tok tok...


Nadia mengetuk pintu kamar Nabila, ia merasa khawatir jika kejadian 3 tahun lalu terulang kembali. Kejadian dimana Nabila menyakiti dirinya sendiri.


"Kak Nabila, buka pintunya," pinta Nadia.


Setelah beberapa kali berteriak, pintu kamar itu pun terbuka. Nabila terlihat kacau, Nadia yang melihat keadaan Nabila merasa khawatir. Sedangkan Rika hanya menatap heran kepada Nabila.

__ADS_1


"Apa yang terjadi kak? Kenapa kakak terlihat kacau seperti ini?" tanya Nadia dengan cemas.


"Tari, dia yang telah membuat aku seperti ini," ujar Nabila sambil memeluk Nadia.


Apalagi yang direncanakan Nabila? Kenapa ia menyalahkan Mentari. Batin Rika sambil menatap tidak suka kepada Nabila.


"Apa yang dilakukan Mentari kepada kakak? Ceritakan kepadaku kak," ujar Nadia setelah mendudukkan Nabila di atas ranjangnya.


"Dia menyuruhku pergi dari sini, katanya aku yang telah membongkar kebohongannya selama ini," ucapnya sambil terisak.


Pandai sekali ia mengarang cerita. Pikir Rika.


"Dasar perempuan tidak tahu malu, seharusnya ia yang pergi dari sini," ujar Nadia dengan penuh tekanan.


"Aku akan bicarakan ini kepada Abi, kakak tenang saja," Nabila mengangguk sambil tersenyum licik.


Ia telah berhasil membuat Nadia semakin tidak menyukai Mentari. Rika yang melihat ekspresi wajah Nabila mencoba menebak apa yang akan dilakukan gadis itu lagi.


Setelah memastikan Nabila tenang, Nadia dan Rika berpamitan untuk keluar dari kamar Nabila.


"Sebaiknya kamu bicara terlebih dahulu dengan Mentari, jangan langsung menghakiminya seperti itu," usul Rika.


"Apa? Apa kamu tidak mempercayai ucapan Kak Nabila? Bukankah dia sudah lama di sini, dia tidak mungkin membohongi kita," ujar Nadia.


"Bukankah kata Abi, kita harus tabayun terlebih dahulu sebelum mempercayai suatu hal, kita tidak boleh hanya mendengarkan sebelah pihak saja,"


"Baiklah, kita akan membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan Mentari,"


Rika tersenyum bahagia mendengar ucapan Nadia. Setidaknya Nadia harus mendengarkan cerita dari Mentari. Rika sangat yakin jika Mentari tidak mungkin melakukan hal tersebut.


Aku harus mengikuti Nabila, sepertinya ia sedang merencanakan sesuatu. Atau jangan-jangan orang yang ingin ia singkirkan itu adalah Mentari. Pikir Rika.


"Kalau begitu sebaiknya kita istirahat, besok kita bicarakan hal ini kepada Mentari," ujar Rika.


"Iya, istirahatlah," ujar Nadia dengan senyum.


Mereka berdua kembali ke kamar masing-masing. Rika mulai menyusun strategi untuk membongkar rahasia Nabila. Ia bertekad untuk membuka kedok kebohongan Nabila. Ia tidak bisa membiarkan Nabila mencelakai Mentari.


***


Jangan lupa like dan comentnya 🙏

__ADS_1


__ADS_2