Cintaku Berakhir Di Pesantren

Cintaku Berakhir Di Pesantren
Terungkapnya Rahasia Nabila


__ADS_3

Siang itu Rika dan Nadia mulai mengikuti Nabila. Keduanya mulai penasaran dengan rencana Nabila. Mereka memperhatikan gerak gerik Nabila yang terlihat mencurigakan. Ada sesuatu yang sedang disembunyikan Nabila.


Nabila berjalan sambil sesekali menoleh ke belakang, ia merasa seseorang sedang mengikuti langkah kakinya. Ia pun mempercepat langkah kakinya, lalu lari bersembunyi di balik sebuah mobil yang sedang terparkir di pinggir jalan.


Nadia yang ingin keluar dan mengikuti Nabila terpaksa menghentikan langkahnya. Tangannya dipegang oleh Rika, "Sebaiknya kita jangan mengikuti dia dulu, saya rasa ia sedang bersembunyi dan ingin menjebak kita, sepertinya ia menyadari keberadaan kita," ucap Rika sambil menarik tangan Nadia.


"Jadi apa rencana kita? Apakah kita harus berdiam diri menunggu ia melakukan hal buruk lagi??" tanya Nadia sambil menahan emosinya.


"Sabarlah, sebaiknya kita pikirkan terlebih dahulu, ayo kita masuk ke kafe itu," usul Rika.


Walaupun Nadia merasa kecewa karena tidak bisa membongkar kebusukan Nabila, ia tetap berjalan mengikuti langkah Rika memasuki sebuah kafe.


"Jadi apa rencana kamu?" tanya Nadia setelah memesan minuman kesukaannya.


"Bagaimana kalau kita hubungi Kak Nabila, tanyakan dia sedang dimana dan ajak ketemu," usul Rika.


Nadia hanya mengangguk lalu mengeluarkan benda berbentuk pipih itu dari dalam tasnya. Ia lalu mencari nama Nabila dan tak lama kemudian panggilannya pun tersambung.


"Halo, Assalamualaikum dek," Ucap Nabila di seberang.


"Waalaikum salam kak, kakak di mana? aku mau bertemu dengan kakak," ujar Nadia mencoba menahan nada bicaranya agar terdengar biasa-biasa saja.


"Saya ada di rumah teman kakak, ada hal yang harus saya urus. Nanti kalau selesai kakak akan menemui kamu. Sekarang kamu di mana?" tanya Nabila.


"Saya dan Rika lagi di luar kak, kalau begitu nanti kakak kabari Nadia kalau urusan kakak selesai," ujar Nadia. Lalu ia mematikan teleponnya setelah mengucapkan salam.


"Kenapa kamu tidak tanyakan apa yang sedang dia urus?" tanya Rika.


"Nantilah kita tanyakan langsung sambil kita lihat ekspresi wajahnya jika menjawab pertanyaan kita," ucap Nadia lalu meneguk minuman yang sudah dipesannya tadi. Rika hanya mengangguk membenarkan ucapan Nadia.


Setelah sekian lama menunggu, akhirnya sosok yang dinantikan sedari tadi pun kini menampakkan wajahnya. Wajah yang terlihat cantik dengan balutan kudung syar'inya. Ia memasuki kafe tempatnya bertemu dengan dua orang yang sedari tadi menunggunya. Nadia dan Rika yang melihat kedatangan Nabila tersenyum dan melambaikan tangannya sambil memanggil nama Nabila.


"Kak sini kak," teriak Nadia sambil melambaikan tangan.


Nabila menoleh ke arah sumber suara, setelah dilihatnya sosok yang dicarinya, ia pun melambaikan tangannya sambil tersenyum.


"Maaf ya, kalian pasti sudah lelah menunggu kakak," ujar Nabila sambil duduk di samping Rika.


"Tidak kok kak, tadi kami habis jalan-jalan baru kesini, dan ini juga belum lama kami duduk di sini," jawab Rika. Nadia hanya tersenyum walau dalam hati ia telah menyumpah serapahi wanita yang berada di hadapannya itu. Entah kenapa, semenjak mengetahui watak asli Nabila, ia sangat muak dan membenci Nabila. Ia sangat menyesal, selama ini, ia sangat mempercayai wanita itu.


"Oya, kalian ada perlu apa mengajak kakak bertemu di sini ?" tanya Nabila setelah memesan minuman kesukaannya.


"Ada hal yang ingin kami ceritakan kepada kakak, ini berkaitan dengan kak Tari," jawab Nadia.


"Ada apa dengan gadis itu? hmm maksud kakak ada apa denganya? Apakah terjadi sesuatu kepadanya?" tanya Nabila dengan gugup.

__ADS_1


Rika dan Nadia saling berpandangan, kemudian menatap wajah gugup Nabila. Mereka sudah bisa menebak jika sesuatu telah dilakukan oleh wanita itu terhadap Mentari.


"Tidak ada apa-apa kok kak, kami hanya ingin mengatakan kalau kami sangat muak dengan sikapnya, aku ingin sekali mengusirnya secepatnya dari Bang Yusuf," jawab Nadia.


"Apa kakak punya ide agar kita bisa menyingkirkan Mentari dari kehidupan Bang Yusuf?" Nadia mencoba menguji Nabila. Ia memandangi perubahan raut wajah Nabila. Wajah yang terlihat gugup seketika menjadi cerah. Perubahan itu langsung dapat terlihat jelas.


"Tentu, kakak punya ide," jawab Nabila dengan semangat.


Sepertinya aku sekarang punya teman, aku tidak perlu menutupi semuanya dari Nadia, dia bisa aku hasut untuk membantuku menyingkirkan Mentari. Ucap Nabila dalam hati.


Sepertinya sekarang umpanku telah termakan dengan lahapnya. Pikir Nadia dalam hati sambil tersenyum penuh arti.


Ternyata gampang juga membuka kedok kak Nabila. Ujar Rika dalam hati.


"Kakak punya ide apa? Ayo kita jalankan," ujar Rika dengan semangat sambil tersenyum ke arah Nadia. Sambil menyalakan rekaman video di hpnya.


"Kakak punya ide, sebenarnya sih kakak sudah mencobanya, tapi sayangnya gagal, tapi tak apalah kalau kita coba lagi," cerita Nabila dengan semangat tanpa rasa khawatir lagi.


"Pernah mencobanya? Apa yang kakak telah lakukan terhadap Mentari?" Tanya Rika penuh selidik.


"Hmm, menyuruh seseorang mencelakai Mentari. Tapi sayangnya, ia selamat karena seseorang," ujar Nabila.


"Apa? Kenapa kakak tega melakukan hal itu kepada Mentari?" teriak Nadia, ia tidak habis pikir. Apa yang ada di kepala wanita di depannya itu. Rika yang takut jika rencana yang mereka jalankan itu gagal kemudian mengingatkan Nadia, dia memegang tangan Nadia seolah mengatakan tahan ucapan dan ekspresi wajahmu. Nadia yang menyadari sikapnya pun langsung merubah ekspresi wajahnya.


"Tentu saja hanya cara ini saja yang mampu membuat Mentari menjauh bahkan ia tidak akan pernah lagi muncul di hadapan kita," jawab Nabila dengan seringai liciknya.


"Apa kakak tidak takut dipenjara? Sebaiknya kita cari cara lain," usul Rika.


"Penjara? hahahaha penjara hanya untuk orang tak berduit, tapi tidak untuk kakak. Ayah kakak adalah pengusaha sukses di kota ini, ia akan mudah menghilangkan jejak kejahatan kita," ujar Nabila. Ia tanpa sengaja telah membeberkan jati dirinya.


Walaupun aku menceritakan siapa aku sebenarnya kepada kedua gadis ***** ini, mereka pasti tidak akan mengetahui tujuanku mendekati mereka dan Yusuf. Mereka pasti tidak mengetahui permasalahan Ayahku dengan Ayah dan kakaknya. pikir Nabila dalam hati.


Ternyata terlalu banyak hal yang ditutupinya selama ini. Pikir Nadia


Tertawalah, sebentar lagi kebohonganmu selama ini akan terungkap. Ujar Rika


"Pasti kalian bingung, sebenarnya Ayahku seorang pengusaha terkenal, tapi Ayahku ingin jika aku mempermantap ilmu agamaku sehingga aku masuk ke pesantren. Dan aku menutupi semuanya karena aku ingin seseorang berteman denganku dengan tulus," Bohong Nabila.


Entah kenapa saya tidak percaya mendengar ceritanya. Pikir Rika


"Oh seperti itu, hmm kalau begitu saya setuju dengan ide kakak," ujar Nadia.


"Baguslah, Oya sekarang kakak harus pergi, besok kita akan membicarakan rencana kita," ujar Nabila sambil berdiri.


"Baiklah kak," jawab Nadia dan Rika serentak.

__ADS_1


****


Nadia dan Rika mempercepat langkah kakinya menuju sebuah ruangan. Setelah Nabila meninggalkan mereka, mereka langsung bergegas menuju perusahaan Yusuf. Ia harus menceritakan dan memperlihatkan rekaman yang ia ambil tadi kepada Yusuf. Mereka berharap Yusuf bisa menyelesaikan masalah ini, dan membuat wanita itu tidak menggangu Mentari lagi.


Sesampai di depan ruangan Yusuf, Nadia mengetuk pintu dan masuk setelan dipersilahkan. Yusuf hanya tersenyum ketika melihat siapa yang datang lalu kembali memeriksa berkas yang bertumpukan di atas mejanya. Dahi Nadia berkerut melihat tingkah sang kakak yang terlihat tidak seperti biasanya.


"Kenapa kakak tidak menyapa kami? Apakah berkas-berkas itu lebih menarik daripada kedatangan kami di sini?" tanya Nadia sambil berpura-pura marah. Ia tahu, jika sekarang sang kakak sedang tidak bisa baik-baik.


"Maafkan Abang, Abang lagi banyak kerjaan dan pikiran," jawab Yusuf sambil menatap sang adik.


"Apakah Abang akan tetap berkata seperti itu setelah melihat dan mendengar berita yang kami bawa?" tanya Nadia sambil duduk di hadapan Yusuf.


"Berita? Berita apa yang kalian bawa?" tanya Yusuf dengan heran.


"Ini kakak dengarkan sendiri, itu video percakapan kami dengan kak Nabila," ujar Nadia sambil menyerahkan hp Rika.


"Untuk apa Abang mendengar percakapan kalian? Sebaiknya kalian jangan ganggu Abang." Ujar Yusuf.


"Ini berkaitan dengan kak Tari, Abang harus mendengarkan video itu," kini Rika mulai membujuk Yusuf. Dahi Yusuf berkerut, ia merasa aneh dan penasaran dengan video tersebut. Tanpa berbicara, ia mengambil hp itu lalu memutar video tersebut. Betapa terkejutnya ia setelah mendengar video tersebut. Yusuf mengepalkan tangannya di bawah Meja menahan emosinya.


"Kita harus melaporkan semua ini kepada pihak kepolisian, ia harus dihukum," ujar Yusuf dengan penuh emosi.


"Jangan kak, apa kakak lupa, apa yang diucapkan kak Nabila? Ayahnya sangat gampang menutupi kejahatannya." cegah Rika


"Lalu apa rencana kalian?" tanya Yusuf.


Rika pun menceritakan rencana yang ia telah susun bersama Nadia. Yusuf yang mendengarnya sesekali menganggakkukan kepalanya membenarkan ucapan Rika. Ia selalu percaya dengan adik sepupunya ini, Rika seorang gadis cerdas yang sempat bercita-cita menjadi seorang pengacara, namun gagal karena Ayahnya tidak ingin putri satu-satunya mengikuti jejaknya, baginya pekerjaan itu sangat beresiko.


"Baiklah, kakak setuju," ujar Yusuf setelah mendengar penjelasan Rika.


"Iya setelah masalah ini berakhir, Abang akan hidup bahagia bersama kak Tari," ujar Nadia sambil tersenyum. Seketika wajah Yusuf berubah.


"Abang tidak bisa bersama Tari, sekarang ia sudah kembali dengan Ayah putrinya," ujar Yusuf dengan lemah.


"Apa?" teriak Nadia dan Rika serentak.


"Sudahlah, Abang bisa menerima semuanya, inilah yang terbaik untuk kami, dan semua ini dilakukan Tari demi keselamatan putrinya," jelas Yusuf dengan sedih.


"Maksud Abang apa?" tanya Nadia.


"Sudahlah, suatu hari nanti Abang akan ceritakan, tapi tidak untuk saat ini," Nadia hanya mengangguk. Walaupun penasaran, tetapi ia tidak ingin memaksa Yusuf untuk bercerita.


***


Terima kasih telah membaca 🙏

__ADS_1


__ADS_2