
Pagi ini Mentari terjaga dari tidurnya, matanya mulai terbuka. Sinar matahari yang masuk dalam kamarnya langsung menerpa wajahnya. Ia melihat sekelilingnya, tidak ada satupun orang yang terlihat. Tidak lama kemudian seseorang masuk ke dalam kamar itu dan menghampirinya.
"Pagi Tar, gimana keadaan kamu? pasti kamu sangat kelelahan setelah perjalanan jauh semalam". Sonia berjalan dengan membawa nampan berisi makanan.
" Pagi juga, iya semalam tidur ku nyenyak sekali, mungkin karena kelelahan," Mentari tersenyum sambil mengambil sepiring nasi yang berada di atas nampan.
Mentari merasa bahagia karena ia bisa menikmati makanan Indonesia di Kota London ini, ia merasa beruntung bertemu dengan Sonia.
"Setelah ini apa rencana kamu?" Sonia memilih duduk di samping Mentari.
"Aku akan mencari pekerjaan, aku harus berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupku," Mentari berbicara sambil mengunyah makanannya.
"Kalau kamu mau, kamu kerja di tempatku saja, kerjanya gampang dengan gaji yang besar,"
"Emang kerja apa ?"
"Nanti malam kami ikut saja, dandan yang cantik, dijamin kamu akan suka,"
Sebaiknya aku setuju saja, toh aku butuh uang, aku harus mulai bisa hidup sendiri, aku butuh kerjaan. Batin Mentari.
"Baiklah,"
Setelah menghabiskan makanannya, Mentari berniat membawa piring bekas makannya itu ke dapur, tetapi Sonia melarangnya.
" Sini saya yang bawa piring itu, dan saya harap kamu jangan keluar-keluar dari kamar ini ya,"
Mentari hanya mengangguk, sebenarnya ia ingin bertanya, kenapa ia tidak boleh keluar dari kamar, tetapi ia urungkan, ia takut hal itu akan membuat Sonia marah. Ia lebih memilih menuruti perintah Sonia.
Sonia keluar dan meninggalkan Mentari yang masih berkutat dengan pemikirannya saat ini, ia sangat penasaran tentang alasan ia tidak boleh keluar dari kamar ini.
***
"Jadi perempuan itu mau bekerja denganmu?"
"Iya, dia bersedia. Sepertinya ia sangat membutuhkan uang,"
" Tapi bagaimana dengan penampilannya yang memakai penutup kepala itu? Tidak mungkin kan dia bekerja dengan memakai pakaian seperti itu,"
" Tenang saja, itu urusan Madem, tugas kita hanya membawa gadis itu, selebihnya itu tugas Madem,"
Sonia tersenyum penuh arti kepada Andre, ia sangat bahagia karena mendapat mangsa baru untuk dibawa ke hadapan Madem Mika untuk dijadikan wanita penghibur.
***
Malam itu setelah mendandani Mentari, Sonia membawa Mentari ke sebuah Bar yang terlihat mewah. Mentari mulai merasa gelisah dan takut setelah melihat tempat yang ia akan datangi itu.
" Kita mau ngapain di sini ? aku takut Son,"
"Kamu diam saja, kamu cukup ikuti saya saja,"
__ADS_1
Semua mata mengarah ke arah mereka berdua setelah memasuki bar itu. Semua merasa heran melihat gadis berjilbab memasuki area yang sangat tidak pantas dimasuki itu.
Mentari merasa tambah risih dengan tatapan penuh selidik orang-orang yang ada di dalam bar tersebut. Mentari hanya bisa berjalan sambil menunduk mengikuti langkah kaki Sonia menuju sebuah ruangan khusus.
"Kamu tunggu saya di sini, kamu jangan kemana-mana,"
"Kamu jangan tinggalkan aku sendiri di sini, aku takut,"
Sonia tidak mempedulikan ucapan Mentari, ia tetap melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu.
" Mana gadis itu ?"
"Dia ada di luar Madem, silahkan menemuinya, saya jamin Madem pasti akan suka, dia sangat cantik,"
"Baiklah, ini bayaran kamu, ayo kita menemui gadis itu,"
Keduanya keluar dari ruangan itu dan menemui Mentari. Madem Mika tersenyum manis kepada Mentari, ia mendekati Mentari dan memperhatikannya dengan seksama.
Mentari merasa risih dengan tatapan mata Madem Mika yang terlihat tajam dan menakutkan. Tubuhnya yang besar menambah aura yang sangat menakutkan itu.
"Bawa dia ke ruang makeup, dandani serta ganti bajunya," Madem Mika berujar sambil melirik Sonia.
"Ayo ikut saya," Sonia menarik Mentari dengan kasar, yang membuat Mentari meringis kesakitan.
"Aku tidak mau, aku mohon biarkan aku pergi," Mentari menangkupkan dua tangannya memohon kepada Sonia.
Ketika mereka telah memasuki sebuah ruangan kecil yang sempit, tampak dua orang perempuan menghampiri mereka. Salah satunya mendekati Mentari.
Setelah melihat Mentari sedikit tenang, Sonia meninggalkan Mentari. Setelah Mentari duduk di meja hias, seseorang membuka paksa jilbab yang ia kenakan. Mentari mencoba melepaskan diri tetapi ia tidak sanggup karena tenaganya semakin lemah.
Mentari hanya bisa menangis melihat tubuhnya yang sudah polos setelah pakaiannya dibuka dengan paksa. Kedua perempuan itu memakaikan pakaian yang sangat seksi ke tubuh Mentari.
"Pasti Madem akan senang melihatmu, kamu sangat cantik dan seksi," ucap salah satunya setelah selesai mendandani Mentari.
"Iya tubuhnya juga sangat mulus, jika ia beruntung, ia bisa menjadi seorang aktris terkenal," ujar perempuan satunya.
Mentari yang menjadi objek pembicaraan kedua perempuan itu hanya bisa menangis tersedu-sedu melihat penampilannya yang memperlihatkan auratnya.
Meskipun ia hanya memakai jilbab ketika keluar rumah, tetapi ia masih menjaga pakaiannya jika di dalam rumah. Baru kali ini ia memakai pakaian yang mengekspos tubuh mulusnya.
"Ayo kita panggil Madem, pasti dia akan sangat senang," keduanya pergi meninggalkan Mentari sendiri dalam ruangan itu.
Mentari yang melihat kepergian keduanya mencoba memutar otak untuk berpikir bagaimana caranya ia bisa kabur meninggalkan tempat jahanam ini.
Setelah sekian lama berkutat dengan pemikirannya, Mentari melihat sebuah jendela yang terbuka, ia mendekati jendela itu. Betapa bahagianya ia saat melihat gang kecil. Ia berpikir bisa kabur melalui gang itu.
Mentari pun tidak membuang-buang waktu, ia langsung merangkak menaiki jendela itu, dan berhasil keluar. Ia berlari menelusuri gang kecil itu. Dan sepertinya nasib baik berpihak pada Mentari, gang itu ternyata mengarah ke jalanan besar.
Setelah sampai di jalanan besar itu, Mentari mencoba menghentikan beberapa mobil, tetapi tidak satupun yang ingin memberikan tumpangan padanya. Sampai ia melihat sebuah mobil berhenti di hadapannya.
__ADS_1
"Bisakah kamu memberikan aku tumpangan? Seseorang ingin membunuhku," Mentari berbicara sambil sesekali menoleh ke belakang.
"Apakah kamu orang Indonesia?" Pemuda itu bertanya dengan penuh selidik.
"Iya, aku orang Indonesia, nanti aku jelaskan, ku mohon bawa aku pergi dari sini," Tanpa mendengar jawaban pemuda itu, Mentari langsung naik ke mobil itu.
"Aku Yusuf," Yusuf mencoba memperkenalkan dirinya.
"Aku Mentari," Mentari masih saja tetap waspada, sesekali ia menoleh ke belakang.
Untung saja ia cepat mendapatkan tumpangan, Madem Mika dan beberapa pengawalnya telah berada di ujung gang yang ia lewati tadi.
Setelah mobil itu melaju cukup jauh dari gang itu, Mentari baru bisa bernafas lega. Setidaknya ia bisa kabur dari orang-orang jahat itu.
"Kamu tinggal di mana ? aku akan mengantarmu pulang,"
"Aku tidak memiliki rumah di sini, bisakah aku tinggal di tempatmu?"
"Maaf, aku harus ke bandara malam ini, aku harus balik ke Indonesia,"
"Benarkah? Bisakah aku ikut bersamamu? ku mohon, aku tidak bisa tinggal di Negara ini lagi, aku harus pergi,"
"Tapi aku hanya punya satu tiket, kalau kamu mau, kamu bisa mengambilnya, saya bisa pulang besok,"
"Benarkah? Terima kasih ya, aku sangat beruntung bisa bertemu dengan orang sepertimu,"
"Berterimakasihlah pada Allah, Allah yang telah menolongmu melalui aku,"
"Kalau begitu bisakah aku meminta alamatmu di Jakarta? Besok aku akan pergi menemui mu,"
"Ini kartu namaku, kamu bisa menghubungi nomor itu jika kamu butuh sesuatu,"
"Sekali lagi, terima kasih banyak, iya satu lagi, aku butuh uang, untuk makan dan menyewa penginapan jika sampai di Jakarta,"
"Kenapa? bukankah kamu orang Jakarta? kenapa kamu tidak langsung balik ke rumah kamu?"
"Ceritanya sangat panjang, intinya sekarang aku kabur, dan aku tidak mau bertemu dengan siapapun di masa laluku,"
"Kalau begitu, sebaiknya kamu ke alamat itu, itu pondok pesantren milik orang tuaku, kamu bisa tinggal di sana,"
"Tidak perlu, aku akan mencari penginapan,"
"Sudahlah, tempat itu sangat aman untukmu, aku akan menghubungi orang tuaku, dan memberitahunya kalau kamu akan tinggal di sana,"
Mentari hanya bisa menerima ajakan Yusuf, ia tidak bisa menolak, karena ia menyadari jika ia sangat membutuhkan tempat tinggal untuk sementara, dan pondok pesantren adalah tempat yang baik untuknya saat ini.
***
Jangan lupa like dan comentnya ya 🙏
__ADS_1